
Rambut perak dan baju lapis baja yang ia kenakan sehari-hari membuatnya terlihat cantik, tegas dan tangguh. Tapi saat ini, kesannya ia seperti gadis biasa. Membuatku ingin melindunginya.
“kenapa rambut perak mu tiba-tiba berubah cokelat? Kau jadi mengingatkan ku pada sosokmu saat masih kecil dulu.”
“aku menggunakan rambut palsu.”
“dari mana kau mendapatkan benda itu?”
“dari Ibuku. Tidak hanya aku, Eve, April, dan Shida juga. Mereka sedang di dalam, sibuk menikmati pesta.”
“terus, kenapa kau di sini? dandananmu sudah sempurna, orang-orang tidak akan mengenalimu”
“aku tadi sudah. Rasanya menyenangkan sekali. Aku berdansa dengan Tuan Leo, juga para gadis lainnya. Kau percaya? Para gadis yang biasanya tidak ramah itu jadi menyenangkan sekalii! ” ujarnya sambil mengguncang-guncang lengan ku.
“kau sepertinya senang sekali.”
“tentu saja! Untuk pertama kalinya, aku mendapat kesempatan untuk hidup normal layaknya gadis lain. Bercanda, dansa sama-sama, tertawa dan membuat gaduh orang sekitar...”
“ kau tidak berdansa dengan pria lain?”
“soal itu, aku...”
Dan seperti mengerti apa yang hendak ia katakan, aku melanjutkan “...takut berdansa dengan pria lain?”
Dessy sedikit terbelalak. Matanya mmenatap lurus padaku. “bagaimana dengan Eve?” tanyaku lagi.
“dia berbaur dengan sangat baik. Sementara Shida sepertinya hanya tertarik pada satu orang pria, yaitu panglima yang ku kalahkan sebelumnya, Daniel.”
“oh.. benarkah?” wow. Sulit membayangkan si nenek pengacau itu jatuh cinta pada laki-laki tampan seperti Daniel. Lebih sulit lagi membayangkan ada orang yang menyukai nenek pengacau itu.
“iya. Sepertinya mereka sudah dekat sejak lama. Ngomong-ngomong, kau tidak masuk? Kenapa kau di luar? Aku tadi mencari mu, lho.”
“aku hanya merasa bosan di dalam. Tadi aku juga mencarimu. Tapi karena kau tidak ada, jadi aku jalan-jalan sendiri ke luar.”
“aku mungkin sedang merombak penampilan. Lagipula, kau tadi asyik sekali berdansa dengan gadis-gadis di keliling mu”
“ aku masih lebih baik dari pada kau, yang hanya berdansa dengan orang tua. Dasar payah. Malam mu belum sesempurna malam ku”
“iya sih... Tapi,, meskipun kurang satu hal, aku tetap bahagia. Malam ini adalah malam yang paling sempurna!!”
Baru kali ini aku melihatnya seaktif ini. Dessy yang biasanya, kalau sedang senang, hanya bersenandung kecil sambil menggerak-gerakkan kepalanya dengan lucu. Beda lagi kalau bersamaku. Yah.. maksudku, sejauh ini aku adalah satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Tapi malam ini rupanya berbeda. Ia berputar-putar di tempatnya, sambil bertepuk tangan. Meskipun dalam hati aku merasa selera humor Dessy sedikit menyimpang, tapi aku juga turut bahagia melihat senyum lebar di bibirnya.
“mau ku beri tahu sebuah rahasia tidak?” tanyaku.
Raut wajahnya yang semula senang kini berubah.“rahasia apa? Cepat beri tahu aku!”
“kau tahu tidak, setiap gadis punya fantasi yang hampir sama?”
“maksud mu khayalan?”
“hm.. kau benar. Kau tahu tidak, kenapa gadis-gadis tadi mengerumuni ku?”
Dessy mendenngus sekaligus memutar bola matanya. Ketika ia bersuara, nadanya terdengar mencemooh. “karena kau terlihat bagus?”tanyanya.
“oohh tentu saja. Aku tahu tentang hal itu. Tapi tidak hanya itu. Kau tahu, lebih dari pada itu, aku ini seorang pangeran.” Aku menatap wajahnya, sambil berusaha terlihat gagah berani.
Dessy menyahut bosan. “yah. Aku tahu.”
Melihat reaksinya, aku sedikit mengernyitkan dahiku. “semua gadis memimpikan mereka datang ke sebuah pesta dansa, dan berdansa romantis dengan seorang Pangeran, lalu keduanya jatuh cinta”
Mendengar banyolanku, dahi Dessy semakin berkerut. Ia menyentuh bibirnya dengan jarinya. “...kenapa harus seorang pangeran? Apa seorang pria baik-baik saja tidak cukup?”
“memangnya aku bukan pria baik-baik?”
“menurutmu?” tanyanya balik.
“soal itu, kau tanyakan saja pada mereka”
“ck. Jadi hubungannya dengan mu apa?”
“kau tadi belum berdansa, kan?”
“dengan pria muda? Iya.”
“aku ragu bahwa kau pernah memiliki sebuah fantasi atau tidak, tetapi, aku akan membantu mu mewujudkan malam yang sempurna bagi seorang putri”
Mata Dessy berbinar-binar. Sebongkah senyum terlukis di wajahnya cantiknya yang bersinar. “apa.. kau.. ingin..”
Ia kemudian memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri untuk tidak gugup dan senang di saat bersamaan. Perlahan, ia mengatur pernapasan. “ingin.. kita..” tapi entah kenapa bicaranya masih juga tergagap.
“kau tahu aku tidak perlu kata-kata untuk membuatku memahami mu” ujarku.
Aku memberinya isyarat untuk berhenti bicara. Alunan musik yang terdengar dari aula mengalir lembut. Suasana, tempat dan waktunya sangat pas untuk dansa romantis bersama orang yang kau cintai. Aku menatap tepat pada kedua mata Dessy yang jernih. Yah.. dalam kasusku, orang ini bahkan lebih dari standar orang yang kau cintai.. soalnya, dialah hidup matiku.
“musiknya terdengar sampai ke sini” aku memberinya tatapan jahil. Dan ia membalas hanya dengan senyum. Dengan mantap aku melangkah mendekat sehingga jarak di antara kami menipis. Di hadapannya, aku mengenakan topengku.
“saat ke pesta dansa, orang menggunakan topeng. Kau harus mengenakan ini kembali” ujar ku sambil menarik lembut topeng di tangan Dessy yang sama sekali tidak protes seperti biasanya. Lalu, aku memasangkan topeng cantik yang menutupi setengah wajahnya itu. Meski pada dasarnya ia hanya diam dan tidak bereaksi, aku sempat melihat mata milik Dessy yang terlihat indah itu berbinar-binar.
Aku membungkukkan tubuh layaknya seorang pria ksatria, lalu menggenggam tangannya lembut. Lalu perlahan, aku mencium punggung tangannya yang nampak sangat rapuh sekaligus lembut itu.
“malam ini, aku bukan seorang sahabat bagimu. Izinkanlah aku lebih dari sekedar teman, dan menjadi seorang pria untukmu, hanya untuk malam ini...”
Alunan musik mengalir lembut dalam kesunyian sesaat yang menjadi jeda di antara kami. Untuk sesaat, kami hanya dapat menatap mata satu sama lain. Ada sesuatu yang lain bergejolak dalam diriku. Hatiku terasa berdesir ketika menatap mata Dessy. Dan aku tahu, Dessy juga merasakan hal yang sama. Rambut cokelatnya memantulkan sinar rembulan, entah sejak kapan, aku menyadari tatapan Dessy selalu berhasil meneduhkan ku.
Sambil menatap mata sejernih kristal milik Dessy, aku berujar mantap. “..Dan sebagai seorang pria, bisakah aku mengajakmu berdansa dengan ku?”
Ketika sekali lagi tarikan senyum di bibirnya terlukis, tidak ada kata-kata yang tepat untuk mengeskpresikan apa yang ku rasakan.
Senang? Lebih dari itu.
Hentakan rasa hangat berdesir di dadaku, lalu aku menggenggam tangannya lebih erat. “aku tidak percaya aku mendengar ini darimu. Ini semua terasa sangat.. nyata. Aku begitu bahagia, dan kurasa, sepertinya air mataku sudah tidak dapat ku tahan lagi. Maaf, aku merusak suasana” aku menyadari ada tetesan air mata yang turun di balik topengnya. Namun di matanya, tidak nampak kesedihan seperti biasanya. Ia tertawa kecil lalu mengusap air matanya menggunakan tangannya yang bebas.
Mungkin kelihatannya adegan ini sedikit berlebihan. Untuk orang luar, mereka jelas tidak akan mengerti. Tapi bagiku, yang sudah memahami jiwa seorang putri dan segala lika-likunya, sangat sulit menerima perlakuan tulus dan normal. Meskipun Dessy adalah gadis cantik (sangat cantik menurutku), dia jarang di perlakukan sebagai gadis normal. Tahukan, karena dia punya kekuatan super, jadi dia malahan lebih sering tersingkirkan di banding gadis-gadis normal. Tidak ada lelaki lain yang pernah berani melakukan hal-hal seperti ini padanya. Sebagian karena hanya sedikit pria muda yang pernah di temuinya, sebagian lainnya juga karena takut padaku dan Tuan Leo.
“maukah kau berdansa dengan ku?”
“tentu saja. Aku bersedia” ujarnya kemudian.
Maka aku berdiri di hadapannya, dan meletakkan tanganku di pinggangnya. Sebelah tangannya ia taruh di pundakku, dan yang satunya lagi menggenggam tanganku.
Sambil menyeimbangkan langkah dengan musik yang mengalun, sesekali kami tertawa di sela-sela dansa kami. “aku tidak percaya sedang berdansa dengan siapa” ujar Dessy.
“dari tadi kau hanya mengatakan ‘aku tidak percaya itu, tidak percaya ini..tidak adakah hal lain yang ingin kau katakan selain itu?”
“malam ini sungguh malam yang tidak dapat ku percaya.”
“kau mengatakan itu lagi. Tidak bisakah kau percaya bahwa kita sedang berdansa?”
“kalau tidak, memangnya kita sedang apa?” December menatapku geli. Bahkan dalam situasi yang seharusnya romantis ini, kami masih berdebat.
“sudah, jangan bicara lagi. Malam seperti ini sulit untuk datang dua kali” ujarku seraya menyentuh wajahnya agar menatapku. Hanya menatapku.
Ketika musik berhenti, aku menahan tubuh Dessy untuk berdiri lebih dekat denganku hingga hampir tdak ada spasi di antara kami. Mata kami kembali saling menatap satu sama lain, lalu keheningan yang terasa kikuk mengambil alih.
“musiknya sudah berhenti” Ujar Dessy, masih berada dalam pelukanku.
“iya” jawabku singkat.
“anu.. bisa kau lepaskan aku sekarang?”
“tentu saja bisa.. Tapi nanti saja.”
“eh? Maksudmu?”
Aku merapihkan sedikit rambut Dessy. Meski aku tahu rambut yang sedang aku elus-elus itu palsu. Karena sanggulnya semakin kendor, dalam benakku muncul dorongan untuk melepaskan sanggulnya dan membiarkan rambut aslinya jatuh terurai. Namun melihatnya seperti ini benar-benar mewujudkan visiku tentang bagaimana ia tumbuh dewasa tanpa menjadi seorang putri. Seperti December yang dulu.
Mungkin Dessy sendiri juga kaget mendengar pertanyaan ku yang tiba-tiba. Sehingga refleks ia mundur ke belakang. “eh, anu.. tidaa-------aaaaa~~~k!”
Sialnya, kami berdua lupa karena terlalu asik berdansa, dan tepat di bawah kami ini ada sebuah danau.
Ketika Dessy kehilangan keseimbangan dan kehilangan pijakan, tidak sengaja ia menarikku sehingga aku juga ikut terjatuh. Kami berdua jatuh berguling-guling di atas tanah sebelum tubuh kami jatuh menuju danau. Beberapa detik sebelum tubuh kami mendarat di danau, Dessy menjulurkan tangannya dan membekukan air di sekitar kami.
Oohh.. syukurlah.
Ku fikir, kami akan basah malam itu.
Tubuh ku tepat di bawah Dessy. Jadi, aku bisa merasakan gerakannya. Tiba-tiba, ku sadari tubuh Dessy berguncang-guncang hebat. Aku sempat panik, lalu mengangkat wajahnya untuk mengecek apa yang terjadi. Namun sesaat kemudian, terdengar suara tawa nyaring yang renyah di udara.
“huhhh.. kau tertawa ternyata. Ku fikir kau menangis. Aku sempat panik tadi”
“hahahahahhahahahahahah” Dessy belum juga berhenti tertawa.
“hei. Kau sudah gila, ya? Tertawa terus dari tadi”
Dessy masih saja asyik tertawa. “kau ini,.. jatuh malah senang” ujarku bingung.
“kau tahu tidak, malam ini kita sedang sial sekali. Kita tadi sedang dansa, tapi sekarang kita sudah jatuh berguling dan tiduran di atas es. Apa ini pertanda kita tidak boleh melakukan hal-hal seperti tadi?” akhirnya ia mulai duduk dan berceloteh.
“kau tertawa untuk sarkasme.. memangnya yang tadi itu tidak boleh? ... Kita bukannya tidak boleh, hanya saja tadi kau yang tergelincir. Kau merusak suasana”
“oh iya ya?” setelah mengatakan itu, ia tertawa lagi.
“apa kau yakin kepala mu tidak terbentur tadi?sepertinya saraf tertawamu rusak.”
“hei, aku hanya ingin menunjukkan seberapa bahagianya aku malam ini.”
“oh.. jadi ini adalah pelampiasan mu karena dulu kau selalu menyembunyikan kegembiraan mu selama ini?”
“memangnya kau tidak senang?”
“tentu saja aku senang. Apalagi melihat mu senyummu secerah ini. Tapi masalahnya tawa mu semakin lama semakin mencurigakan”
Wajah Dessy mendadak berubah tegang. “maksudmu mu mencurigakan itu, apa?” tubuhnya kini condong kebelakang, menghindariku yang mendekatinya. Oke, saatnya melanjutkan aksi romantis.
Aku mencondongkan wajah pada Dessy, dan tiddak melepas kontak mata dengannnya. “kenapa kau bisa sampai tergelincir? Kau juga tadi kelihatannya kaget sekali saat ku tegur karena menatapku dengan cara aneh... ada apa?”
“tidak ada apa-apa. Aku tadi..ah sudahlah lupakan saja”
“enak saja kau menyuruhku melupakan ini semaumu.”
“terserah. Sekarang lepaskan tangan besarmu darikuuu!”
“kenapa? Kau kedinginan? Tapi kaukan, tahan dingin” aku menggenggam satu tangannya yang mash bebas, menahannya untuk tidak beranjak.
“ck.. lepaskan tanganmu! Kalau tidak,--“
“kalau tidak bagaimana?”
“lepaskan aku! Dasar kau Pangeran bodoh!”
“apa kau bilang?”
Aku semakin menariknya mendekat. Dan ketika wajahnya sudah berada dalam jangkauan ku, aku mengecup keningnya.
Hahahaha...
Sudah ku duga reaksi Dessy akan terlihat lucu sekali. Ia refleks langsung memaksa duduk. Dengan ekspresi kaget bercampur malu, ia memolototiku. “apa yang baru saja kau lakukan?” tanyanya.
“kau tidak tahu? Yang barusan itu ciuman”
Dessy melepaskan tangannya yang menahan Es agar tidak mencair, dan menggunakannya untuk memukuliku.
“aww.. hei.. akukan bukannya melakukan dosa besar terhadapmu. Memangnya kau tidak pernah di cium di dahi ya?”
“tentu saja pernah!” jawabnya.
“oh, ya? Oleh Siapa? Tuan Leo? Ayahmu? Dave? Ibumu? HAHHH?! Baiklah, Dasar gadis desa.”
“heh, aku bukan gadis desa!!”
Melihatnya ingin memukulku sekuat Tenaga seperti itu, aku berusaha menghindar dengan berbaring lagi di atas Esnya.
“memangnya kau pernah di cium?”
Pertanyaan Dessy membuatku terdiam sebentar karena kaget. “aku belum pernah di cium gadis lain selain kau. Lagi pula, apa kau tahu artinya orang mencium keningmu?”
“aku tidak mau membahas ini lagi” ujarnya sambil mengalihkan pandangan.
“oh, yeah?? Kau yakin tidak mau melakukannya lagi? Bagaimana kalau kali ini langsung di bibir?”
“.... aku benci kau” ujarnya.
“tapi kenapa wajahmu merah begitu. Hey, Des.. Jangan-jangan kau suka aku..”
“dasar sok tahu”
“ wajahmu memerah! Kau benar-benar suka aku? Wah apa ini artinya kita benar-benar saling suka?” aku mencubit pipinya yang kini semakin memerah. Dessy menatapku jengkel. Ia lalu berdiri, dan menatapku sinis sambil berkata, “ah.. sudah ku bilang, percuma aku menemui mu. Sudahlah.. aku pergi du—“
Ucapannya terhenti seketika ketika ia menyadari ada sesuatu yang ganjil pada Esnya. Es nya semakin menipis karena air danau memiliki perbedaan suhu dengan es. Tanpa bantuan Dessy, Es nya tidak akan bertahan.
Ketika ia baru saja hendak menguatkannya kembali, rupanya sudah terlambat. Aku sendiri ketika menyadari Es ini mulai retak, langsung panik. Namun karena terlalu panik, aku hanya mematung, berharap semoga dengan tidak bergeraknya aku dapat membuat Esnya tidak jadi retak.
Namun peruntungan ku tidak pernah semujur itu.
Hanya hitungan detik setelah mendengar suara retakan tadi, tubuh kami sudah tercebur di danau.
Dessy masih lebih beruntung daripada aku. Ketika esnya retak tadi, dia sudah berdiri, sehingga bajunya hanya basah sampai di atas lutut. Sedangkan aku, yang tadi tiduran langsung basah di seluruh badan.
“aaarrgghh! Sial! Kenapa bisa begini?”
“hahahahahaha!”
“Des, kau sengaja, ya? Hah? Heii berhenti menertawakan ku. Rasakan ini!” aku tidak terima basah kuyup sendirian. Jadi, aku menyiraminya air. Tapi ia selalu membekukannya tepat sebelum air itu mengenainya.
“curaaang!” mendengar suara ku yang tidak terima, dia langsung berlari keluar dari danau.
Terlalu fokus berlari, ia tidak menyadari bahwa rambut palsunya telah terjatuh di genangan danau. “hei, tunggu Des! Rambut palsu mu jatuh!!!”
Sambil tertawa, aku memungutinya, lalu mengenakannya di kepalaku. “hei, coba lihat aku!”
Ketika Dessy menoleh, ia langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai roboh ke tanah. “hahahah,... berhenti. Kau membuat perutku sakitt. Hahahah..”
Tapi aku tidak berhenti. Aku mulai menari dengan gaya konyol dan aneh, yang membuatnya semakin heboh tertawa. Aku kemudian menghampirinya, dan melemparinya dengan rambut palsu setengah basah itu, tepat di wajahnya.
“coba bekukan ini!” ujarku.
Dessy berusaha menangkap wig yang ku lemparkan.“well, usaha yang lucu, tapi tolol” komentarnya
Wig jatuh ke rerumputan di sebelahnya, ia lalu memungut rambut palsu itu. “kau cocok dengan rambut palsu ini” ujarnya. Ia memasangkan kembali rambut itu di kepalaku, sebelum aku protes.
BBAAAAMMMM!!!
Terdengar suara ledakan yang sontak membekukan kami berdua. Sebuah ledakan telah mengguncang perpustakaan. Bunyi alarm peringatan mulai terdengar, di ikuti dengan api yang dengan cepat menjalar dan melalap bagian belakang bangunan. Bahkan dari kejauhan, kami dapat mendengar teriakan panik warga di aula perpustakaan.
Lalu kilat, dan petir mulai menyambar di langit. Gemuruh guntur mengguncangkan gedung, dan seluruh taman. Angin kencang bertiup, dan menghentakkan jendela-jendela. Ini pertanda badai.
Perpustakaan sedang di serang[].