The Winter Stories

The Winter Stories
Lord Meus #2



-EVE’s POV-


Seandainya Tuan Leo masih hidup, ia jelas akan menjadi ahli pengobatan korban peperangan. Dasar dewan bodoh. Aku sampai tidak menyangka bahwa mereka adalah pemimpin kami.


Untung saja Tuan Leo telah membuatkan kami cukup banyak minuman ajaib buatannya sebelum ia wafat. Seandainya tidak, tidak mungkin aku bisa berdiri bertarung bersama rekan-rekanku.


April kini sedang di sibukkan dengan pasukan musuh yang mengejarnya. Begitu pula Tory. Sedangkan aku dan Shida sedang sibuk bertarung melawan Meus, musuh lama kami. Yah.. kami tidak mungkin lupa. Pembantaian yang ia lakukan pada keluarga dan teman terdekat kami, benar-benar menyisakan trauma dan derita terhebat yang pernah kami rasakan.


“percuma. Kau tidak bisa mengalahkan ku. Bahkan jika aku mati di sini, pada akhirnya aku akan kembali di bangkitkan oleh pasukanku. Seperti inilah kehebatan dari sihir keabadian. Kalian makhluk rendah dan sok suci tidak akan mengerti.”


“kami tidak peduli kau bisa bangkit lagi atau tidak. Karena ketika saat kau bangkit kembali, kami akan di sana, mendatangimu lalu membunuhmu, dan akan kami pastikan penderitaan yang kau dapatkan semakin sakit dari hari-kehari.”


“dengan cara apa kalian akan membunuhku? Sedangkan kalian  saja sudah tidak sanggup. Bergabunglah dengan ku sebelum terlambat. Aku bisa merasakan kejayaan sebentar lagi. Salah satu dari kalian pada akhirnya akan berkhianat. Jadi.. yang mana yang akan kalian pilih,  di khianati atau mengkhianati?”


Salah satu dari kalian akan berkhianat.


“tidak ada gunanya kau berbicara tentang hal itu. Aku tidak peduli jika ada di antara kami yang berkhianat. Karena aku yakin, bahkan jika seandainya aku mati di bunuh pun, aku tahu bahwa rekan seperjuangan ku akan menghentikan salah satu dari kami. Satu hal yang membedakan kita, akan datang seseorang yang akan selalu memanggil kami ke arah yang benar. Tidak seperti mu”


“... ha! Munafik sekali! Kau tidak tahu, apa yang akan terjadi kedepannya. Yang pasti, kau akan menghadapi derita yang jauh lebih menyeramkan di banding saat aku membantai keluargamu. Memangnya sampai kapan kau bisa berpura-pura bahagia bersama pria itu? Cepat atau lambat, dia akan mati. Dan sampai pada saat itu, akan ku pastikan bahwa ketika saat itu tiba, kau melihat kematiannya langsung.”


Baik Shida maupun Daniel berusaha keras untuk tiidak saling menatap satu sama lain.. Shida kemudian mengepalkan tangannya. “.. masalahnya, aku tidak akan membiarkan hal itu”


“sudah ku bilang, berlagak sok kuat tidak akan berguna. Menyerahlah sekarang. Lalu setidaknya aku akan membiarkan pria yang kau cintai agar tetap hidup. Bagaimana?”


Mata Shida kini segelap awan badai. Tiba-tiba udara terasa bergetar. “jangan bercanda”


“teruskanlah! Ikuti kemarahanmu, putri penguasa petir. Lihat aku! ingatlah malam ketika aku membunuh seluruh orang di desa mu. Kau tahu, adik kecil mu itu menangis sambil menatap langit, memohon agar kau segera datang menyelamatkan desa. Ketika aku menghunuskan pedangku tepat ke jantungnya, kau tahu apa yang ia lakukan? ia terus memanggil namamu, kakaknya yang lemah dan bodoh, sehingga lebih mementingkan perintah dewan!”


Kini langit semakin berwarna merah keunguan. Petir mulai menyambar, dan  sejauh mata kami memandang, hanya ada awan badai. Angin mulai bertiup. 


Pertarungan di sekitar kami terhenti. Kekuatan Shida berhasil menyihir setiap pasang mata. Musuh maupun rekan kami, semuanya merasakan betapa hebatnya emosi Shida yang berkecamuk. Instingku tak henti-hentinya menjerit Bahayaa! 


Namun aku tahu tidak ada yan bis aku lakukan untuk mencegah Shida dari kemarahannya. “akan ku pastikan kau meminta maaf padanya langsung!”


Lalu petir besar menyambar seluruh medan pertempuran.


“BBUUMMM!!!!”


Setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama Shida, aku telah menyaksikannya membuat petir besar berkali-kali. Namun saat ini, inilah petir terdahsyat yang pernah ku saksikan. Hanya melihat dan berdiri di sana membuat lututku hampir saja melemas, namun aku menyadari inilah saat yang tepat untuk menyerang Meus. Maka, aku juga menyulurkan apiku, tepat ke arah pria biadab itu [].


***


-TORY’s POV-


Wah.. aku masih tidak percaya yang barusan terjadi.


Pakaianku berbau gosong, seperti habis di panggang.


Juga rasa aneh menggelitik di punggung dan jari-jariku ini...


Apa aku baru saja tersambar petir?


Di seberangku, Eve dengan susah payah berdiri. Ia menggunakan batu besar di dekatnya untuk berdiri. Nafasnya memburu, di ikuti matanya yang menyorot liar. Aku segera menghampirinya.


“apa yang terjadi?” tanyaku bingung.


“Meus... apa yang terjadi padanya? Apa dia mati?” Eve malah bertanya balik.


“aku tidak tahu. Satu-satunya yang terfikir ketika melihat cahaya menyilaukan tadi adalah menutup mata, dan menunduk.”


“bagaimana dengan Shida?”


Shida tidak bergeming dari posisinya sejak tadi. “aku.. baik-baik saja” Ujarnya dengan payah. Meski begitu, aura di sekelilingnya begitu kuat, begitu perkasa. Lalu aku menyadari bahwa dia memercikkan listrik keunguan. Aku membopong Eve mendekati Shida. Ketika sampai di hadapan masing-masing, baik Eve maupun Shida keduanya terdiam. Seperti berbicara dalam diam.


“kerja mu hebat. Kau mengalahkan dia” Eve melemparkan senyum pada Shida di hadapannya.


Seketika saat itu air mata Shida tumpah.


Eve menggapai Shida yang kini nampak sangat sedih. Ia menangis sambil terisak hebat dalam pelukan Eve. “pria terkutuk itu, membunuh keluarga kita. Akhirnya kita bisa membuatnya meminta maaf langsung. Adikku... keluarga dan teman-teman ku, seluruh penduduk desa... mereka yang tidak bersalah atas apa-apa. Mereka hanya kurang beruntung memiliki aku dalam kehidupan mereka.”


Oke, ku tarik ucapan ku tadi tentang aku siap mendengar Shida berkeluh kesah.  Melihatnya menanis meraung-raung seperti itu, mau tidak mau aku ikut merasa sedih. 


“aku tahu.. tapi.. bayang-bayang adikku jadi terngiang kembali. Kenangan masa lalu kami. Eve, terimakasih karena telah menjadi partner yang baik untukku. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padaku tanpa bantuan mu”


Begitu Shida mulai nampak tenang, langit malam kini terasa lebih cerah, meskipun petir-petir kecil masih menyambar di atas. Aku masih takjub akan kekuatan masing-masing Putri ketika mereka sedang berada dalam tingkat emosi yang tertinggi mereka. Dessy yang menciptakan hujan salju di hampir seluruh bagian negeri, April yang menciptakan tornado, dan Shida yang menghanguskan seluruh dataran pertempuran kami. hanya Eve yang nampaknya sejauh ini mampu mengatur emosinya dengan sangat baik.


“Lord Meus, baru pertama kali aku mendengar nama itu” ujarku.


“sekedar info buat mu, pangeran kecil.. yang menculik mu dan ibumu 20 tahun yang lalu itu adalah pria itu, Meus. “ Shida menjawab pertanyaanku.


Apa?


“kenapa baru bilang sekarang? Seandainya aku tahu, aku pasti akan membantu kalian membunuh ******** itu”


“untuk apa?” tanyanya dengan wajah heran dan kaget.


“aku harus membalas dendam ibuku padanya”


“yah.. balas dendamlah padanya ketika ia bangkit kembali. Kau mungkin bisa memohon pada ayahnya untuk menghidupkannya untuk membalas dendam ibumu.”


Aku menengokkan kepala mencari sosok Lord Meus tadi. Tapi percuma, sejak tadi aku memang sudah tidak melihatnya. “kau tidak akan menemukan tubuhnya. Selain terkena sambaran petir Shida, ia juga menerima api ku.” Eve menepuk-nepuk bahunya yang mungkin terasa pegal.


“kau bilang dia bisa di bangkitkan kembali?”


“ya. Percuma membunuhnya seperti itu. Mungkin sekitar setahun kemudian, kau akan bertemu dengannya lagi. Jadi tidak usah sedih, bung. Entah kau yang akan menghajarnya, atau kau yang akan di hajarnya, pokoknya kau akan tetap masih punya banyak waktu untuk bertemu dengannya.”


“tidak jadi deh kalau begitu. Semoga saja kami tidak bertemu.”


Seluruh pasukan kami sedang istirahat sambil tetap bersiaga. Orang-orang dari tenda medis cepat-cepat meng-evakuasi pasukan kami yang butuh pertolongan pertama. Eve dan Shida menolak untuk kembali ke Tenda Medis. Mereka lebih memilih menikmati saat-saat tenang dan tetap berjaga di medan pertempuran.


Bukan maksudku menyabotase, tapi kalau di suruh memilih, jelas aku memilih istirahat sambil tiduran di tenda medis dengan dalih memulihkan tenaga. Mirisnya, para tenaga medis itu bahkan tidak melihatku. Mereka semua mengabaikan ku yang meminta segelas air.  Tatapan mereka seperti mengatakan “Tuan Tory tidak mengalami luka berat, jadi silahkan kembali nanti saat kau sudah memiliki luka yang lebih berat”


Kasihan sekali.


Sementara mereka semua sibuk, aku mengambil setumpuk salju di bawah kakiku. Butiran putih salju tersebut terasa berkilau dan entah mengapa aku merasa kehangatan dari salju-salju tersebut. Rasanya seperti sedang menggenggam tangan Dessy.


Sialan. Aku jadi kangen Dessy.


“apa yang kau lakukan? Tidakkah itu kotor?” April menatapku heran


“tentu saja tidak. Aku sedang ingin merasakan kehadiran Dessy. Kau mau coba?”


“merasakan kehadiran kakakku? Dengan cara apa?”


“ambil saljunya, lalu kau hirup, dan bayangkan Dessy. Maka kau akan merasa bahwa saljunya merespons, dan berubah menjadi hangat. Cobalah.. aku tidak bohong. Ini salju ajaib”


“kau berhalusinasi”


“sudah,, coba saja bocaahh!”


April terpaksa memejamkan matanya, sambil menghirup dalam-dalam aroma dari salju yang ia ambil dari bawah kakinya juga. Beberapa detik kemudian, tetap tidak ada yang terjadi, tapi jelas sekali bahwa ia semakin tenang.


“ck.. kau bodoh. Yang itukan hanya imajinasi mu. Tidak ada yang terjadi, ah..”


 “Hei.. dengar ya. Jika saja semua ini berakhir sesuai rencana, kami akan tinggal dan menjaga perpustakaan Tuan Leo, tinggal disana, menikah, punya anak, dan hidup bahagia. Menyenangkan bukan?”


“ APAA? Kalian.. akan MENIKAH?”


“tentu saja. Aku akan menikahi kakakmu. Dia juga sudah setuju. Tinggal menunggu rencana kami selanjutnya. Hei apa yang—“


April memelukku.


“April... kau tidak jatuh cinta padaku juga, kan?”


“tentu saja tidak, bodoh! Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada orang bodoh dan konyol seperti mu? Aku butuh seseorang yang dewasa, dan mau menerima kemanjaan ku, tidak seperti kau yang malahan sebaliknya, bermanja-manjaan dengan kakakku.”


Kami menghabiskan waktu bersama membahas kehidupan kami nanti jika saja seandainya semua ini berakhir sesuai rencana. April bilang bahwa ia akan berkelana melihat-lihat dunia. Dia bilang ingin mencari orang seperti Daniel, yang selalu menyayangi Shida apa adanya.


Aku menyadari bahwa betapa ia kini tumbuh menjadi lebih dewasa sekarang. Usianya sekitaran 12 tahun, tapi gaya berpakaiannya sama persis dengan kakaknya, juga pembawaannya tidak jauh berbeda dengan putri lainnya yang lebih tua.


Semoga kau bisa bertemu dengan orang kepercayaan mu itu secepatnya, April. Aku turut bahagia atas kebahagiaanmu. Jadi, jangan pernah berfikir bahwa kami tidak menyayangimu lagi[].