The Winter Stories

The Winter Stories
Markas Utama



-APRIL’s POV-


Waaah.. jadi ini yang di sebut sebagai ‘markas?


Pekarangan dan lapangan terbukanya bahkan lebih luas dari rumah Tuan Leo.


Waahh.. keren sekaliiii.......


Markas Utama terdiri dari benteng raksasa dengan gerbang setinggi 20 meter. begitu masuk, kudapati benteng ini terdiri dari kompleks barak-barak, tenda komando, gedung kesehatan dan berbagai senjata besar seperti meriam. ku tebak ada lebih banyak hal luar biasa lainnya disini, namun aku bekum sempat berkeliling.


Kakak Dave dulu pernah mengatakan, tidak sembarang orang yang di izinkan untuk masuk ke markas utama. Bahkan jika ia juga tentara sekalipun. Dulu, Dave pernah mengatakan bahwa banyak teman-temannya yang cemburu dan iri karena Dave jadi perhatian instruktur karena ayah kami yang kebetulan seorang Dewan negeri, jadi Dave bisa datang ke markas sesekali. Padahal Dave mencapai posisinya tanpa bantuan dari ayah. Ayah saja dulu tidak tahu bahwa Dave ikut tes di akademi militer. Yaa.. harap maklum, ayah kami sangat sibuk.


Meskipun sibuk, ayahku bukan ayah yang buruk.


Buktinya, selama di perjalanan, ia selalu menyempatkan diri untuk memperhatikan aku sesering mungkin. Ia memang bukan yang terbaik, tetapi bagiku, ayah bisa memerhatikan sebentar saja sudah sebuah kesyukuran.


Rombongan kami tiba tepat setelah matahari tenggelam di hari kedua. Ketika sampai, ke-12 dewan di pimpin oleh ayah pangeran Tory berkumpul untuk mengadakan rapat darurat. Tapi tidak hanya para dewan, akan tetapi para putri juga di izinkan untuk ikut. Bersama, kami menentukan jadwal latihan ku.


Jadi, berdasarkan keputusan rapat, aku akan di bebaskan dari perang selama 6 bulan. Tapi bukan untuk berdiam saja, untuk berlatih dengan keras demi mengejar ketinggalan dari para putri lain. Aku harus cepat menguasai kemampuanku. Latihan ku akan di mulai besok pagi hingga 6 bulan kemudian.


Sepertinya, ini malam terakhir untukku bersantai.


Untungnya Para Dewan dan panglima yang tinggal memberi kami jamuan makan malam yang baik. Untuk pertama kalinya aku duduk makan dengan pasukan sebanyak ini. Aku jadi gugup. Apalagi ketika Eve sedang berpidato. Aku makin gugup saja. Padahal, bukan aku yang pidato.


Aku mengerling pada kakakku, si Putri Es.


Matanya masih sedikit bengkak gara-gara menangis karena tidak tega membiarkan Tuan Leo sendirian. Dan sepertinya ia sudah semakin dekat dengan pangeran Tory. Begitu pula dengan kak Shida yang asyik bercerita dengan Panglima ketiga. Aku jadi iri.


Mereka punya teman cowok yang selalu ada di samping mereka. Nah aku? Satu-satunya yang sedang berada di sampingku adalah Kak Eve, yang sepertinya bernasib sama dengan ku.


“Shida memang akrab dengan seluruh Panglima. Apalagi Daniel.” Ujar Eve.


“kak Eve sendiri tidak punya laki-laki yang dekat dengan kakak?”


“dia sudah pergi. Dan aku merasa aku tidak perlu untuk repot-repot membuka hati untuk pria selama perang sialan ini masih berlangsung”


“oh. Maafkan aku. Aku tidak tahu”


“sudahlah.. aku tidak keberatan untuk mengungkitnya sedikit. Kaukan, bukan orang asing”


“kalau boleh tahu siapa namanya?”


“namanya sama dengan kakak tertua mu, Dave. Ia seorang tentara biasa. Usianya hanya terpaut 3 tahun dariku saat itu, jadi d banding menyebutnya sebagai pria, bagi sebagian besar oag yang tidak mengenal dia, dia hanyalah seorang bocah yang terpaksa masuk militer karena menjadi yatim piatu. 


Dan kalau kau bertanya hubungan apa yang di jalin anak usia 10 dan 13 tahun? Apa kami berpacaran seperti orang dewasa kebanyakan? Jawabannya tentu tidak. Hubungan ku lebih mirip hubungan Dessy dan Tory. Kami sahabat dekat, tapi kami benar-benar menyukai satu sama lain. Meskipun bukan orang dengan pangkat yang tinggi, tapi kemampuannya tidak kalah dengan panglima. Ia adalah orang yang diam, dan nampak sangat gentle. Aku sendiri suka pribadi yang hebat tapi sengaja untuk tidak mencolok. Hubungan kami berlangsung selama dua tahun, lalu kemudian ia di temukan tewas setelah berhasil menyusup ke markas utama pasukan kegelapan untuk menyelamatkan Istri ketua dewan dan puteranya yang di culik oleh pasukan kegelapan.”


“hei.. suara mu besar sekali. Tolong kau jaga sedikit. Lagipula, akukan sudah memberi tahumu sebelumnya, kenapa kaget begitu? Kau jadi mirip Tory”


“maaf. aku terbawa suasana”


“... Dave mati sebagai pahlawan. Ia banyak membantuku selama kami saling.. mengenal dan dekat. ”


Segera setelah makan malam selesai, kami kembali menuju kamar masing-masing. Karena takut membiarkan ku tidur sendiri, Eve memintaku untuk tidur di kamarnya. Jadi kalau ada sesuatu yang mecurigakan, Eve bisa melindungiku.


“kau tidak merasa keberatan aku paksa untuk bermalam di sini?” tanya Eve apadaku.


“tidak. Aku Cuma mau melihat pemandangan malamnya saja”


“kau rindu ibumu ya?”


“....” aku tidak menjawab. Aku bingung harus menjawab atau tidak. Kalau ku jawab, yang pasti aku akan malu. Aku sudah sebesar ini, masih saja merindukan ibu.


“tidak perlu malu. Justru perasaan halus seperti itu yang memanusiakan putri seperti kita. Jika saja hal itu tidak ada, itu berarti kita bukanlah manusia”


“...iya. aku.. rindu  ibuku” aku mengakui kemudian.


“kemarilah.. aku memang bukan kakak kandungmu, aku hanya orang asing, tapi aku juga seorang manusia. Setiap manusia pasti memiliki kehangatan tersendiri.”


“kehangatan tersendiri? Maksud kak Eve?” aku menghampirinya yang sedang duduk di atas kasur. Sambil tesenyum manis, Eve menjawab, “aku juga tidak tahu maksud dari kata-kata itu. Itu adalah kata-kata yang paling sering di gunakan oleh Dave dulu. Dan aku tidak pandai dalam menilai diri sendiri, jadi menurutku kehangatan khususku adalah ini”


Eve mengambil tangan ku, dan meletakkan tanganku di atas tangannya.


“Lihat ini...”


Tiba-tiba, sebuah kobaran api muncul dari telapak tanganku. Wow.. bagaimana bisa? Ini.. ajaib.. Aku tidak mempunyai kekuatan api, dan bahkan api ini tidak terlalu menyengat kulit ku. Hanya kehangatan yang menyentuh hingga ke lubuk hatiku. Lalu kobaran api kecil tersebut mulai membentuk seperti kuda dengan pangeran gagah yang menungganginya, berputar-putar di atas telapak tanganku.


“wow.. seperti sihir”


Eve tertawa kecil.. “ini adalah Dave saat pertempuran kami yang terakhir kali. Waktu itu dia yang membantuku menyusup ke markas utama. Hahahh rupanya, itu adalah hari terakhir aku melihatnya.”


Sebenarnya, aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi pada akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya “apa kakak sedih? Kakak merindukannya bukan?”


“tentu saja aku merindukannya. Tapi tidak perlu bersedih hati. Karena, aku memilikinya di ingatan dan hatiku. Figurnya akan selalu terabadikan di ingatan ku selama api ini masih bersamaku. Jadi.. April.. aku tahu apa yang kau fikirkan saat kau menyaksikan Shida dan Dessy bersama seorang pria. Ketahuilah, suatu saat nanti, kau akan menemukan pria mu sendiri.. kau mengerti?


Aku hanya mengagguk. 


“baiklah, ayo kita tidur. Kita semua butuh stamina yang cukup untuk besok”[]