The Winter Stories

The Winter Stories
12 Tahun Kemudian



-Tory POV-


12 tahun kemudian-


Rerumputan di belakangku mulai membeku. Aku memaksakan berlari beberapa jauh lagi, menunggu saat yang paling tepat untuk menyerang. Begitu yakin aku berdri di posisi yang tepat, aku berpuntir dan berbalik.


kena kau.


Aku menyalakan granat kecil yang ku sediakan dalam saku celanaku, lalu ku lemparkan menuju rerumputan  yang tertutupi oleh es. Es itu menguap ketika bersentuhan dengan api. Korek api ku di desain khusus oleh putri pengendali api untukku, gunanya untuk membantuku saat berlatih bersama Dessy, yang seharusnya lemah terhadap api.


“kau lengah” ujar seseorang. Lalu terlihat tangan yang melayang hendak melayangkan tinjunya padaku.


Tidak kali ini..


Alih-alih menghindar, aku menarik tangan tersebut, dan menghentakkannya keluar dari portal persembunyian. Namun gara-gara perbuatanku tersebut, aku sendiri malah terhuyung-huyung. Akibatnya, Dessy jatuh sambil menindihku. Ketika aku berusaha bebas, Dessy mengambil belati dari sakunya, dan menodongkannya di leherku.


“ kau lupa tidak bisa melukai ku dengan api.. Menyerahlah, kau sudah kalah..” bisiknya.


Aku tertawa kecil dan mendorong sedikit lebih keras pisau kecil yang ku sembunyikan sejak tadi pada bagian diafragma Dessy. “masih belum” ujarku. 


“setidaknya kita seri” ujarnya. Ia menarik belatinya dan menyarungkannya kembali. Yah.. meskipun tidak menang, setidaknya usahaku  mengundang tawa kecil Dessy. Dan tentu saja tiap kali melihatnya, aku seperti tersihir. Bagiku, ia begitu memikat, begitu polos. Membuatku ingin selalu menjahilinya. Seperti sekarang.  Alih-alih membiarkannya pergi, aku malah menariknya kembali. 


Wajahnya kini begitu dekat dengan ku. Matanya yang sejernih kristal tidak nampak terkejut. Dengan tenang ia membalas tatapan jahil ku. Oh tidak.. kalau seperti ini terus bisa-bisa jadi aku yang risih. Untuk itu, aku memutuskan untuk memulai pembicaraan. 


“kau tidak terkejut. Wow..” ujarku kalem. 


“tentu saja. Aku sudah bersama mu sejak usia 6 tahun. Aku bodoh kalau tidak bisa menebakmu. Benarkan?” 


“ oh ya? Jadi menurutmu aku akan melakukan apa?” 


Sesaat, wajahnya terlihat curiga.  Ketika aku menyadari bahwa ia akan segera memberontak untuk melepaskan diri, aku semakin mengeratkan lengan ku padanya, dan memajukan wajahku untuk mencium pipinya. Namun aku terlalu meremehkan Dessy. Ia melakukan hal yang tidak ku duga, yaitu mengambil pisau kecil lainnya yang ku sembunyikan di  balik pakaianku. Dengan cepat ia menaruh pisau di atas urat nadi di leherku. Gerakannya cepat sekali sampai-sampai aku baru menyadari ada sebuah pisau mengancam leherku saat ku rasakan benda itu di kulitku.. 


“jangan berani-berani” ujarnya mengancam. 


Aku menatapnya lagi. Tentu saja aku tidak takut akan ancamannya. Alih-alih gentar, justru adrenalin ku yang berpacu. Oke, aku tahu. Pada taraf ini aku memang tidak sopan. Dalam satu gerakan cepat, aku malah mengecup dahi gadis itu. Seketika wajahnya berubah memerah. 


“Toorrrryy!” erangnya. Ia melempar pisau di tangannya ke sembarang arah, lalu mulai memukul ku dengan tangan kosong. Melihatnya salah tingkah begini aku malah semakin terpingkal-pingkal. 


“dasar kau ini” ujarnya semakin kesal. Ia lalu menarik rambutku. 


“Aaawwwwww lepaskan Dess.. aku minta maaf! Aku minta maaff!”


“maaf katamu? Membuat ku geli saja!”


“Dess,... mak---“


“Kakakkk!!!!” tiba-tiba terdengar suara nyaring anak kecil.


Dessy menoleh demi melihat orang yang memanggilnya. Saat itulah, dengan mudah  aku melepaskan diri dan mendorong tubuh Dessy. Dessy berusaha bangkit, tapi aku cepat-cepat menguncinya agar tidak bisa melawan lagi. Aku mengambil pisau di rumput, lalu dengan gaya keren, aku menodongkan belati di leher seksi milik Dessy.


Aku tersenyum puas. “kau mungkin punya kekuatan super, tapi kau tetaplah seorang wanita, aku ini laki-laki, kalau kita bertanding dengan tenaga seperti ini, kau tidak akan mampu.” Ujarku sambil menatapnya pongah.


Dessy membuang tatapannya dariku. “cihh.. lagi-lagi kau merendahkan perempuan. Memangnya perempuan tidak mampu bersaing dengan laki-laki?” ujarnya.


“mau bagaimana lagi? itu satu-satunya hal yang bisa ku banggakan dari diriku sendiri, mengingat aku dikerumuni oleh gadis-gadis cantik dengan kekuatan super yang bahkan mampu melumpuhkan ku kurang dari 2 detik! Tentu saja aku tidak akan cemburu”


Untuk beberapa waktu, kami bertukar pandang. Di bawahku, Dessy masih tersengal-sengal, dan keringat mulai membanjir di dahinya. Meski begitu, ia tetap terlihat sangat cantik. Matanya yang berwarna biru lautan nampak sangat indah di terpa sinar matahari. Warna rambutnya yang kontras dengan rerumputan, dan ikatan rambutnya yang semula rapih kini nampak acak-acakan... Aku terkadang masih terkagum-kagum melihat betapa anak ini tumbuh semakin dewasa.


“lihat apa kau?” bentak Dessy.


“wah.. sifat jelekmu langsung keluar begitu aku mengalahkanmu.”


Dessy mengernyit tidak suka. Uh-oh.. astagaa, dia cantik sekali! Ia lalu meniup poninya yang menutupi pandangannya, dan satu gerakan darinya sungguh.. 


 “kakakkkkkk!” panggilan tersebut menghentakkanku kembali dari khayalanku. Aku menoleh pada anak kecil yang memanggil Dessy.  Memanfaatkan peganganku yang mulai mengendor, Dessy kemudian melepaskan diri dan menyingkirkan ku dari pandangannya. Begitu terbebas dari ku, ia berlari menyambut anak kecil yang sedari tadi memanggilnya. Ketika tangannya berhasil menggapai tubuh bocah tersebut, Dessy menggendongnya sambil berputar.


Aku menyaksikannya sambil mengernyit. 


“tidakkah bocah itu sudah terlalu tua untuk hal semacam itu?” ujarku.


“ayolah~ dia kakakmu, bukan ibumu~ kalau mau di peluk, pergi sana, ke ibu atau ayah mu” ujarku sambil menancapkan pisau ke rerumputan. Melihat hal itu, si bocah mundur selangkah, dan bersembunyi di balik tubuh December.


“Toryy! Jangan kasar! Kau membuatnya takut!”


“biarkan saja, siapa suruh mengganggu latihan?”


“ck..  sikap mu makin kekanakan saja. Kau kenapa sih? Salah makan? Stress?”


“aku tidak makan sesuatu yang aneh,.. tapi yaa, aku  memang stress! Stress karena bocah ini selalu menganggu kita di saat.. di saat-saat penting!”


“heii~ memang sudah waktunya istirahat! Kau tidak lihat jam raksasa di sana? Lagipula, saat penting apa maksudmu? Saat aku mengalahkanmu?”


“aaah~ intinya, aku tidak suka kalau bocah ini terus-terusan datang dan memecah konsentrasiku! Anak kecil di larang berkeliaran di tempat----“


Omonganku terputus ketika menyadari ada sesuatu yang berubah. Awan nampak lebih  gelap dari biasanya. Hmm kalau sudah seperti ini,...


Terdengar ledakan guntur yang membahana, disusul cahaya kilat yang dapat membutakan mata ketika kau melihatnya langsung. Secepat kilat menyambar, ketika kami membuka mata, berdirilah seorang wanita dengan baju tempur. Jejaknya meninggalkan asap dan membakar rerumputan. 


“Kak Shidaaa!” si bocah refleks berlari menghambur menuju sosok wanita yang muncul dari dalam asap tersebut.


“Aprilll! Hati-hati!!!” Dessy  memperingati.


“ooh haruskahh kau selalu membuat petir ketika kau datang kemari, dasar pamer. Membuat kaget  saja!” omelku.


Shida menyipitkan matanya. “kau ini memang pencemburu tingkat berat.. aku sejak tadi memperhatikan kalian dari atas sana”


“wah.. kalau begitu, kau pastilah dewi MENJENGKELKAN yang di puja semua orang”


Shida mengernyit, lalu menjawab “sepertinya kau  perlu bertemu dengan teman ku di sesi konseling militer minggu depan. Siapa tahu penyakit cemburu mu bisa sembuh. Ngomong-ngomong bocah, tidak sopan melakukan hal seperti tadi pada seorang gadis. Kau tidak boleh melakukannya semena-mena. Meski aku tahu kalian dekat, dan kau hanya bermaksud bercanda”


“melakukan aapa?” tanya April.


Wajah Dessy memerah. Ia berusaha keras untuk menghindari kontak mata denganku. 


 “siapa bilang aku cemburu? Akukan, hanya menegurmu untuk tidak datang dengan petir supaya kami tidak kaget!”


“memangnya, kau kaget?” tanya Dessy yang sedari  tadi biasa saja.


“aku juga kageet! Tapi tidak terlalu, kok”


“cih.. anak kecil saja masih lebih berani dari pada  kau!” Shida mengejekku.


“tutup mulutmu, Senter”


“dari tadi yang  terus mengoceh itu kau! Aduuhh.. seandainya kau bukan putra satu-satunya Ketua Dewan, sudah ku hanguskan kau dari tadi”


Untunglah dari kejauhan, aku dapat melihat Eve datang bersama Tuan Leo. Di tangan Tuan Leo,  ia menggenggam secangkir minuman. “oke. Mari kita akhiri pertengkaran kalian di sini, sebelum seseorang benar-benar di masak menjadi telur” Eve menengahi kami.


Dessy memungut busur dan anak panahnya yang bereserakan di sekitarnya. “oh iya, tumben kalian datang berdua. Ada apa?”


Lalu Eve bertukar pandang dengan Shida.“ Dewan menginginkan mu di garis depan secepatnya. Jadi, kami mempercepat ujian mu. Tidak apa-apakan?”


Untuk beberapa lama, hanya keheningan yang menggantung di udara.


“ohh iya? Kapan ujiannya?” Dessy berusaha nampak antusias, namun aku tahu di hatinya tidak demikian. “besok. Kau harus bersiap. Malam ini, Ketua Dewan akan datang bersama beberapa panglima perang.” Ujar Tuan Leo sambil menyeruput minumannya.


Kali ini, aku yang bicara. “besok? Kenapa buru-buru sekali? Seharusnya hal seperti ini di bicarakan dulu dengan Dessy. Dia bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa, dia memiliki hak atas dirinya sendiri. Para Dewan tidak boleh terus-terusan seperti ini”


“soal itu,,, tanyakan pada ayah mu sendiri.” Shida menatap mataku.  


Sial.


Tuan Leo menatap kami dengan tatapan serius. “tindakan ayahmu ada dasarnya, Tory. Lord Hyno berhasil menguasai setengah dari wilayah utara. Dewan sedang berusaha agar Lord tidak menguasai kota Aletta, pusat kerajaannya dulu. Karena jika hal tersebut terjadi, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk”


Jangan heran jika kami sangat mengkhawatirkan hal itu terjadi, karena istana tersebut menyimpan kekuatan tersendiri, dan akan memberi kekuatan bagi pemiliknya.


Dengan kata lain, kebangkitan sang Ratu Kegelapan.[]