The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
08. Devil face angel



"Kemana laki-laki bernama Evander?" Gertak salah satu Vampir berambut biru. Tidak hanya Vampir rendahan yang mengepung kediaman Frydenlund, pemimpin medan perang. Tapi juga Vampir bangsawan pun ikut serta dalam pengepungan ini. 


"Ada apa Tuan mencariku?" Kekeh Evander dengan Conan yang memasang raut datar di sampingnya.  


Senyuman dari Evander dan tatapan tajam dari Conan membuat para Vampir bangsawan berpeluh melihat kedua orang yang sama menyeramkannya, seolah mereka akan menghadapi para monster tak terkalahkan. 


"Ada apa para Vampir bangsawan datang ke kediamanku? Terlebih lagi kau, Gavin Frydenlund." Sentak Conan. Sama kejutnya, ekspresi Gavin saat bertemu Conan ataupun Sherly tidak pernah berubah. Tetap terkejut dengan kedua mata yang melebar. 


Senyuman sinis itu tidak pudar dari wajah tampannya, langkah kakinya mulai mendekati Gavin yang berada di tengah-tengah para Vampir bangsawan. "Kenapa kau bersekutu pada bangsa yang sudah membantai keluarga kita, kakak?" Bisik Conan. 


"Kau tahu motto keluarga kita? Seorang pengkhianat akan di hukum mati, itulah motto keluarga kita kalau kau lupa, Gavin Frydenlund." tutur Conan sinis. 


Terlihat sebuah pedang anggar yang di pajang di sebuah rak kaca dengan pelindungnya, anak itu berceletuk. "Kak Gavin, bagaimana jika kita duel anggar?" Anak itu berjalan kearah rak kaca itu. 


Tertulis nama milik 'Gavin' dan dirinya. Sebuah pedang anggar yang diberikan oleh kepala keluarga Frydenlund terdahulu, yaitu Chris Frydenlund. "Sudah lama kan, Gavin Frydenlund?" Celetuknya dengan tangan yang melempar pedang milik kakak sulungnya itu. 


"Hei, bocah!" Seru Margareth. 


"Biarkan saja mereka mengenang masa lalu, Margareth. Urusan kita hanya pada pelayan keluarga Frydenlund, Evander Geino Ignitius." Sela Seveth. 


"Oh, ternyata aku cukup terkenal di kalangan para Vampir, apa karena aku berhasil membuat Raja kalian takut?" Kekehnya. 


"Hei, Evander. Lebih serius lah." Tegur Conan dengan lirikan mata tajamnya itu. Sedangkan Gavin menatap sang adik bungsunya dengan tatapan sulit diartikan. 


Mata aquamarine itu melirik mata merah sang kakak sulung yang mengacungkan pedang anggarnya. "Ada apa dengan tatapanmu itu, kak Gavin?" Celetuk Conan.


"Apa kau kasihan denganku? Kau tau, aku membenci itu." Lanjutnya dengan senyuman kekosongan. Kedua iris mata itu terbuka lebar, tangannya menggenggam pedang anggarnya itu. 


"Conan, aku tahu jika aku bersikap pengkhianat. Tapi tolong, inilah hidupku. Aku harus seperti ini." Ujar Gavin. 


Anak laki-laki itu tidak menjawab, ia hanya terdiam sembari mengayunkan anggarnya kesana dan kemari secara tidak beraturan.


"Sebaiknya kita mulai duel kita, kak Gavin. Setelah aku menang, kalian semua harus pergi dari sini secepatnya. Begitu aku kalah darinya, selanjutnya terserah dengan kalian." Ujarnya serius. 


Raut wajah datar dan iris mata yang menunjukkan kehampaan itu memandang lurus ke depan tanpa menolehkan kepalanya. "Jangan kira kau adiknya, Gavin akan mengalah darimu, bocah." hardik Lucas. 


"Yang meminta dia mengalah dariku itu siapa, pembunuh." Ketus Conan disertai lirikan tajam.


Mata aquamarine yang melirik tajam itu membuat para vampire bangsawan berkeringat dingin, tatapan dingin yang melebihi siapapun bahkan sang Raja Vampir pun kalah. 


Inilah anggota keluarga pemimpin medan perang bangsa Manusia, Frydenlund. "Apa-apaan lirikannya itu, auranya melebihi Yang Mulia Ega." Ujar Margareth pelan. 


"Jika anggota termudanya saja seperti ini, aku tidak tahu bagaimana kepala keluarga terdahulu Frydenlund. Atau bahkan tetua keluarga Frydenlund." Sahut Seveth. 




Mendengar suara berisik dari kamar tidurnya itu, seorang gadis cantik terbangun dari tidur lelapnya dan disambut dengan sapaan khas milik pelayan wanitanya, yaitu Kaylie dan Lynelle. "Nona sudah bangun, sebaiknya Anda-" 



"Kemana Evander dan bocah berisik itu? Aku terbangun karena suara berisik yang datang entah darimana." Ujarnya dengan suara parau. Kedua mata itu saling menatap satu sama lain mendengar alasan Sherly terbangun. 



"Evander lagi bertarung-" 



Ucapan itu terpotong oleh suara bilah pedang yang saling terbentur satu sama lain, kedua mata itu terbuka lebar. Baru saja ingin melangkah bangkit dari ranjang, kedua pelayan wanita itu menghalangi dengan alasan yang cukup klasik. 



"Maaf atas kelancangan kami, nona. Tapi ini perintah tuan Frydenlund agar tidak membiarkan nona terjaga dari istirahatnya." Ujar Kaylie dengan sebutir peluh di dahinya. 



"Aku kepala keluarga Frydenlund, tidak akan membiarkan prajurit bertarung di medan perang tanpa komandannya. **Camkan itu**, Kaylie." Tegas Sherly berusaha keras untuk berjalan. 



Melihat gadis itu kesulitan berjalan dengan luka di tubuhnya, kedua pelayan wanita itu tersenyum dan menopang tubuhnya. "Kau anak kecil yang keras kepala." Madam Lynelle terkekeh kecil. 



"Menyerahlah. Manusia tidak akan menyamai tenaga seorang Vampir, Conan Frydenlund." Tegas Gavin. 



Laki-laki berambut hitam itu menjaga jarak dengan nafas yang terengah-engah serta butir keringat yang mengalir dari dahinya.



"Conan mungkin tidak memiliki banyak tenaga, tapi apa kau yakin jika manusia tidak akan menyamai tenaga seorang Vampir?" Celetuk seseorang. 




Sepasang mata merah menatap seorang gadis dengan tubuh yang penuh luka dan tubuh yang di topang oleh kedua pelayan wanitanya. "Kau yakin akan melawan kami dengan tubuh yang penuh luka?" Kekeh Lucas. 



"Tanpa aku turun tangan pun, kalian sudah kalah." Ketusnya dengan tatapan intimidasi. 



"Conan, kau-"



"Dia bagianku, jangan mengacau!" Geram Conan. Auranya jauh berbeda dari sebelumnya. 



Kali pertama, Sherly melihat kekejaman dari balik iris mata aquamarine milik saudara kembarnya ini. Inikah sisi lain dari Conan. "Baik, dia kuserahkan padamu." Final Sherly. 



"Evander, bereskan sisanya." Ujar Sherly pelan. 



"Baik, Nona." 



Seringaian yang muncul dari balik wajah tampan Evander itu sedikit membuat para Vampir bangsawan itu ragu. Mata merah seolah ingin memangsa, serta auranya yang membuat mereka takut. 



Iris mata penuh kelelahan itu memandang saudara kembarnya yang sedang berduel anggar dengan salah satu Vampir bangsawan berambut hitam. "Rasanya laki-laki yang rambut hitam itu terasa tidak asing." gumam Sherly. 



"Sudah lelah, huh?" Sarkas Conan. Entah kenapa udara di sekitar anak itu berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. 



Keluarga Frydenlund itu iblis, monster, bagaimana bisa manusia bisa mengimbangi cara bermain seorang Vampir.



"Conan, kau saudara kembarnya Sherly. Katakan kenapa dia tidak mengingatku sebagai kakak laki-laki satu-satunya." Bisik Gavin ketika kedua bilah pedang itu saling berdekatan. 



Laki-laki itu tersenyum ke arah kakak laki-laki nya yang kini berada di hadapannya. "Beraninya malaikat berwajah dua sepertimu berbicara tentang kakak perempuanku." Kekeh Conan kecil.



"Conan, kau..." Seru Gavin. 



Terkejut, rasa pertama kali Sherly tunjukkan pada saat Gavin menghempaskan pedang anggar yang di genggam oleh saudara kembarnya, Conan Frydenlund. "Ah, ternyata sesayang itu kau pada Sherly?" Kekeh Conan. 



"Aku dengar kau cukup kuat, mau melawanku? Tuan Vampir." Tawar Sherly sembari meraih pedang anggar milik Conan yang terjatuh. 



Laki-laki itu tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Sherly. "Apa yang kau lakukan?" Gertak Conan. 



"Orang yang terluka sebaiknya istirahat!" Seru Conan. Mata yang semula berwarna *aquamarine* itu kini berubah menjadi merah. 



"Memangnya siapa kau memerintahku, Conan Frydenlund. Kau memang adikku, tapi bukan berarti kau bisa memerintahku." Geram Sherly. 



Bersambung...