
Geraman rendah Evander membuat Rey menarik Sherly untuk mendekat kearahnya sembari berbisik kecil padanya. Melihat pemandangan yang begitu menjijikan baginya, ia pun mengayunkan pedangnya ke sembarang arah.
"Kau mengabaikanku?" Tanya Evander.
Senyuman yang tertera di wajah pucat Sherly itu kian melebar dengan mata yang terpejam, memang langka jika ingin melihat Sherly tersenyum. Tapi saat ini senyuman itu sama sekali tidak berharga dengan ketidaksadarannya. "Tuan Rouselle bilang aku harus membunuhmu supaya Yang Mulia Raja Abian bisa tenang." Ujarnya.
Dengan senyuman manis itu, perkataan Sherly menjadi menyakitkan baginya. "Kau pikir aku akn tinggal dia setelah apa yang kau lakukan padanya, Penyihir sialan." Ujar Evander.
"Tuan Rouselle bilang, tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Tugasku hanya membunuhmu." Sahut Sherly.
Nada datar dan pandangan kosong serta wajah yang pucat, laki-laki dihadapannya benar-benar bisa memancing api amarahnya. "Kau menjadikannya bonekamu?" Tutur Evander. "Yah, mau boneka atau pelindung itu sama sekali tidak berpengaruh padaku." gumamnya.
"Singkatnya, aku lebih kuat dari bonekamu itu." Bisik Evander. Seperti biasa, ia sudah berada di belakang lawannya dengan bilah pedang yang mulai mendekat batang leher Rey.
"Memang fakta bahwa kau lebih kuat dari Sherly, tapi kekuatan itu masih bisa." Ujar Rey.
Tidak menunggu lama, tubuhnya itu tidak bisa bergerak menurut perintahnya. Bahkan pedang yang terbuat dari kabut darahnya mulai menghilang, inilah kelemahannya. Sherly adalah kekuatan dan kelemahannya saat ini.
"Ini perintah, berlutut!" Titah Sherly.
Dengan satu kalimat sederhana, tubuh Evander menurutinya untuk berlutut di hadapan Sherly yang saat ini adalah boneka dari musuhnya. "Jadi ini maksudnya kekuatan itu masih bisa?" Tekan Evander dengan peluh di keningnya.
"Kau takut padaku ya sampai-sampai memanfaatkan kekuatan dari perjanjianku?" Kekeh Evander sembari berusaha keras untuk bangkit.
"Berlutut!" Titah Sherly.
Lagi-lagi tubuhnya itu bergerak tanpa keinginannya, yang ia cemaskan bukanlah hal ini. Tapi serangan yang selanjutnya mungkin akan di lepas oleh Rey. "Sherly." Panggil Rey.
Entahlah di belakang sana Rey berbisik apa dan memerintahkan untuk apa, ia hanya fokus pada perlindungan tubuhnya. Meski ras penyihir tidak bisa membunuhnya, tapi ia tidak bisa membuat Sherly dalam bahaya.
"Evander Geino Ignitius, sudah berakhir." Ujar Rey.
Serangan yang besar darinya melesat dengan cepat kearah Evander yang masih berlutut, namun siapa sangka serangan terbesar miliknya itu sirna di tengah perjalanan. "Kau itu terlalu besar kepala ya, bocah." Geram Evander.
Tubuh itu bangkit dengan mata merahnya yang menyala seolah memerintahkan laki-laki itu untuk berlutut padanya. "Yah, selama ini ras penyihir memang membuatku repot. Sampai-sampai aku harus membuka segel kekuatan yang diberikan oleh ayahku untuk menyegel kekuatanku." Decit Evander.
"Berbanggalah." Evander tersenyum lebar seperti pembunuh berantai.
"Berlutut!" Titah Sherly. Satu kata itu cukup membuat tubuh Evander menjadi kaku dan terdiam, namun sama sekali tidak berlutut.
Melihat tidak ada pergerakan apapun dari Evander usai Sherly mengucapkan sebuah kata perintah, Rey berkeringat dingin. "Kenapa kekuatan perjanjian darah itu tidak bekerja?" Seru Rey.
"Itu kekuatanku, rahasiaku dan hanya aku yang tahu solusinya. Kenapa kau yang marah disini? Harusnya aku yang marah, Penyihir sialan." Geram Evander.
Evander saat ini mungkin tidak bisa menahan amarahnya yang sedang memuncak, namun melihat tatapan mata kosong gadis itu. Entah kenapa amarahnya sedikit lebih reda dari sebelumnya. Tatapan mata yang sebelumnya tajam kini hanya tatapan kosong.
Ia berhenti menyerang. Diam menatap gadis itu, lalu beralih pada pria di belakangnya. "Aku ada tawaran, kau tinggalkan Sherly dan aku bebaskan kau dari ajalmu saat ini." Tawar Evander.
Mungkin memang kemungkinan kecil bisa menang dari mantan Raja kekaisaran ketiga, tapi tawaran itu benar-benar meremehkannya. "Kau pikir aku akan terima?" Seru Rey.
"Tentu kau akan terima. Kau itu menyukai Sherly, bukan? Keenan Rauntbent." Kekeh Evander.
Kedua mata laki-laki itu terbuka lebar, satu pertanyaan tercipta di dalam benaknya itu. Bagaimana bisa laki-laki mengerikan jni mengetahui identitas aslinya? "Kenapa kau bisa tahu?" Gumam Rey.
Bukankah sudah cukup? Evander terus menerus menyerangnya dengan perasaan terpaksa, sedangkan Rey membalas serangan itu dengan gigihnya meskipun tidak terhitung berapa banyak luka yang ia dapatkan.
Hal itulah yang membuat Evander harus menahan perasaan belas kasihannya saat ini, bagaimana pun juga Rey saat ini telah membuat Sherly menjadi boneka. "Kenapa kau hanya bertahan?" Celetuk Rey setelah menyerang Evander secara membabi buta.
Bertahan dari serangan musuh lebih melelahkan daripada menyerang musuh yang lincah, ini benar-benar menguras kekuatannya. "Apa hubungannya denganmu?" Ujar Evander sembari mengatur napasnya.
"Berhentilah berpura-pura, kita harus bertarung secara adil dan melihat siapa pemilik sah Sherly Frydenlund-"
Suara patah tulang yang terdengar samar namun jelas, siapa sangka Evander yang sebelumnya berada tepat jauh di depan sana. Kini sudah berada di depan matanya hanya dengan jarak beberapa meter saja. "Budak iblis sepertimu tidak pantas menyebut nama Sherly." Bisik Evander.
Pedang yang semula di pakai Evander perlahan menghilang dan tergantikan oleh tangannya yang mulai dilapisi oleh kabut berwarna merah itu. Perlahan kabut itu mulai mengeras seperti batu.
Seruan Evander membuat Sherly menghalanginya untuk menyerang Rey, entah karena perintah Rey ataupun dengan niatan gadis itu sendiri. "Apa-apaan kau? Minggir." Ujar Evander.
"Jangan ... bunuh, Evander." Ujar Sherly dengan nada pelan yang terbata-bata. Sepertinya gadis ini berusaha keras melawan pengaruh yang diberikan Rey Rouselle padanya.
Rahang mantan raja kekaisaran itu mulai mengeras, namun hal itu hanya sementara sebelum pada akhirnya ia menampilkan senyuman dengan tatapan sendu pada Sherly.
Dengan perasaan sangat amat terpaksa, Evander membuat Sherly yang merupakan tuannya itu tidak sadarkan diri untuk kali pertama karenanya. "Kirim Sherly ke ruang tidurnya dengan sihir teleportmu." Titah Evander.
"Persetan dengan perintahmu, aku tidak-"
Kalimat itu disela oleh bisikan Evander yang sedikit terdengar nada sedih? "Aku akan menyerahkan diri pada Abian, bagaimana?" Tawar Evander.
Sial, dirinya begitu nekat hanya untuk seorang manusia biasa yang bahkan tidak ia kenal lama. Tapi entah kenapa dirinya begitu tidak menginginkan gadis itu mati dengan mudahnya. "Sihir teleportasi mu, cepatlah!" Titah Evander.
"Jangan bilang kau tidak bisa memakai sihir teleport?" Kekeh Evander terdengar sedikit mengejek. "Iblis sialan! Aku bisa!" Seru Rey tidak terima.
"Kalau bisa cepatlah- ah satu lagi, buatlah Sherly dan yang berada di mansion Frydenlund melupakanku. Mungkin ini akan menjadi akhir dari ceritaku pada mereka." Ujar Evander dan entah kenapa Rey merasakan perasaan tidak rela dalam diri iblis itu.
"Kau yakin? Membuatnya lupa ingatan tentangmu? Kau tidak waras ya?" Seru Rey.
"Aku akan mati di tangan Abian, mungkin. Untuk apa mereka mengingatku?" Kekeh Evander. Sebuah nada tertawa yang sama sekali tidak mengandung lelucon di dalamnya.
Dengan terpaksa, Rey menuruti semua perintah Evander. Mungkin Abian, raja dari para iblis itu akan senang dan memujinya jika ia berhasil menangkap salah satu raja kekaisaran.
Terlebih lagi kekaisaran ketiga setelah Raja Alf Alvishemdall, Raja kekaisaran kedua setelah Aciel Geino Ignitius. "Baiklah, semoga kau tidak menyesal dengan perkataanmu. Kuberitahu saja, mantra lupa ingatan ini sama sekali tidak ada mantra pembaliknya." Sahut Rey.
Seketika Evander sedikit menjauh dari Rey yang sedang membaca mantra sihir teleport, mungkin untuk terakhir kalinya ia menatap wajah cantik Sherly. "Hidup bahagialah, Sherly." Gumam Evander.
Tidak menunggu waktu lama, tubuh yang terbaring dengan gaun tidur itu menghilang dengan perlahan serta menghilangnya ingatan yang berupa kenangan yang mereka lalui bersama selama 6 tahun lamanya.
Namun kenangan dan ingatan itu sirna pada benak dan hati Sherly. "Yah, kenangan selama 6 tahun tidak ada harganya dengan hidupku yang sudah bertahun-tahun lamanya." kekeh Evander kecil.
Tapi, kenapa hatinya terasa sakit? "Sial, bahkan air mataku jatuh?" Bisik Evander.
6 tahun lamanya kenangan itu tercipta, meski Evander mengucapkan hal yang sebaliknya. Tapi hatinya tetap merasa betapa berharganya kenangan Sherly itu, bahkan iblis kejam tidak berperasaan sepertinya memiliki hati yang hangat.
"Sialan."
Bersambung...