The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
01. Capturing the Goddess of War



"Nona Sherly!" Seru Panglima prajurit tanpa mengetuk pintu ruang kerja gadis itu. Tidak lama pun, ia mendapatkan tatapan tajam dari gadis cantik itu. "Panglima, sudah kubilang berapa kali untuk mengetuk pintu terlebih dahulu." Ketus gadis itu. 


"Mohon maaf, Nona Sherly." Ujar panglima itu sembari membungkuk hormat. Mata hijau itu melirik pria yang berdiri tegak di samping kursi gadis bernama Sherly itu. "Ini surat dari Raja Vampir, Nona Sherly."


"Raja Vampir? Ada apa Tuan Dryas Ega Elenion mengirimiku surat." Kekeh gadis itu dengan tangan yang membuka surat dari seorang Raja Vampir. 


____________________


Kepada Nona Sherly Frydenlund, Saya Raja Vampir era baru yang bernama Dryas Ega Elenion meminta anda datang ke kerajaan Vampir untuk menikmati makan malam bersama Saya sebagai tanda terimakasih karena sudah menyelamatkan kejayaan bangsa Vampir terdahulu.


Saya menanti kunjungan Anda, Nona Sherly Frydenlund. 


____________________


Gadis itu menutup kembali surat yang dicorak indah hanya untuk sekali baca, benar-benar seorang Raja Vampir. "Raja memintaku untuk berkunjung ke kerajaannya hanya untuk makan malam." Ujarnya sembari tersenyum tipis. 


"Evander Geino Ignitius, siapkan kendaraan sekarang juga." Titah gadis itu. 


"Baik, Nona Sherly." Ujarnya disertai kekehan kecil. Mata aquamarine itu terus menerus menatap punggung lebar pelayannya itu, lalu teralih menatap mata Panglima perang yang masih berdiri tegak di hadapannya. 


"George, kau boleh pergi. Aku dan Evander akan segera datang ke kerajaan Vampir." Ujarnya secara lembut. "tidak, Nona. Saya sebagai Panglima perang akan terus mendampingi Anda sampai detik terakhir Saya hidup, Nona Sherly." Hormatnya. 


Melihat keteguhan tersirat di dalam mata hijaunya itu membuat Sherly menghela nafas pelan, lalu berkata. "Baiklah, tapi sampai disana kau harus bersandiwara." Bisiknya dengan senyuman tipis di wajah cantiknya itu. 


"Baik, Nona Sherly." Sahutnya setelah sekian lama terdiam kaget. 




Sambutan dan sanjungan yang di berikan oleh bangsa Vampir membuat Sherly berdecih dengan tatapan mata yang seperti beberapa tahun yang lalu, dimana para Vampir melanggar kontrak yang sudah di buatnya.



"Sebuah kehormatan bagi Saya sebagai Raja Vampir di datangkan oleh Nona Sherly Frydenlund yang di beri julukan sebagai Dewi perang." Ujar laki-laki berambut abu-abu itu sembari membungkukkan tubuhnya. 



Tentu seorang Raja tidaklah sendirian, ada dua orang laki-laki bermata merah yang mendampingi di belakangnya. Salah satunya adalah Vampir bangsawan yang telah membantai semua prajurit dan hampir menewaskan dirinya. 



"Ah Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia Ega." Sahut Sherly sopan. 



"Mari kita segera ke ruang makan, Nona Dewi perang." Ajak Dryas dengan kekehan kecil. 



Tanpa ragu, gadis berambut panjang itu menyetujuinya. Berjalan melangkah masuk ke dalam dunia yang penuh kegelapan dan tidak belas kasihan, dunia para bangsa Vampir. "Dylan, Lucas, kalian bisa kembali ke pos kalian masing-masing." Titah Dryas. 



"Baik, Yang Mulia Ega." Hormatnya sebelum pada akhirnya pergi. 



Namun saat melewati gadis berambut brunette itu, salah satu dari mereka berdua berbisik, "Setelah sekian lama sejak perang itu, akhirnya kita bertemu lagi, Nona Sherly." Bisiknya. Tentu membuat Sherly terkejut. 



"Ada apa, Nona Sherly?" Tanya Evander. 



Lirikan mata merah darinya membuat kedua Vampire itu menyeringai seolah meledek gadis yang diberi julukan sebagai dewi perang yang memerangi beberapa wilayah. "Evander." Panggil Sherly pelan. 



Laki-laki yang memiliki tubuh semampai itu menatap iris mata aquamarine majikannya itu, lalu tersenyum seolah mengerti apa yang dimaksud oleh gadis cantik itu. "Sesuai yang diperintahkan Nona Sherly, Saya tidak akan mengecewakan Anda." Bisiknya. 



Tanpa disadari George atau bahkan Dryas Sang Raja Vampir yang memimpin jalan menuju ruang makan itu. Evander, pelayan setia dari sang Dewi Perang itu meninggalkan mereka demi menjalankan apa yang diperintahkan majikannya. 



Tapi laki-laki berambut abu-abu itu menuntun bukan ke ruang makan, melainkan ke ruang bawah tanah. "Ah maaf, sepertinya ingatanku kacau." Kekehnya sebelum pada akhirnya mendorong Sherly dan George ke penjara bawah tanah. 



"Sialan kau!" Seru George. 



"Hm? Kemana pelayanmu yang satu lagi?" Ujar Dryas ketika mengetahui jika laki-laki bertubuh tinggi itu tidak ada. "Nona Dewi perang, katakan dimana pelayanmu itu?" Ujarnya sembari menodongkan sebuah pisau. 



Setelah laki-laki itu menyalakan sebuah lampu di ruangan bawah tanah yang diperkirakan sebagai penjara kematian atau bisa disebut, ruang eksekusi. "Ah maksudmu Evander? Dia pergi meninggalkanku, ah benar-benar jahat." Ujarnya pura-pura histeris. 



Tali yang bertekstur kasar itu melayang dan mendarat di pipinya sehingga tubuh itu terlempar ke dinding. "Nona Sherly!" Seru George.



"Brengsek kau!" Umpat George. Hendak maju untuk menyerang, seruan dari gadis yang terluka itu membuat tubuh laki-laki itu terdiam.



"George, hentikan! Kau gila menyerang Raja Vampir hanya dengan tangan kosong!" Seru Sherly.



"Ah, kalian keras kepala." Eluh Dryas. "hei, pasung mereka!" Titahnya absolut.



"Baik, Yang Mulia Ega." Kedua prajurit Vampir itu dengan patuh memasung mereka seolah ingin di eksekusi.



Tubuh Sherly terus menerus di cambuk, begitu juga George. Sehingga darah yang berasal dari Sherly mengalir dan jatuh ke tanah secara sia-sia.



"Lihatlah, inikah kekuatan Sang Dewi Perang? Terlihat lemah." Kekehnya geli.



Kekehan, hinaan, bisikkan, kritikan yang menghiasi gendang telinga Sherly membuatnya tersenyum miring.



Cambuk, cambuk dan cambuk, hanya itu yang dilakukan oleh Dryas dengan brutalnya. "Kau,"



"Tidak kenal sakit rupanya, bahkan Panglima perangmu pun sudah tidak sadarkan diri di sampingmu itu." Decak Dryas.



Darah yang berjatuhan akibat cambukan Dryas itu membentuk sebuah simbol kontraknya dengan Evander, simbol yang melambangkan perjanjian mereka.




"Atas perjanjian darahku, Evander Geino Ignitius, kemarilah." Ujarnya pelan.



Mata yang sedari tadi berwarna aquamarine itu berubah menjadi merah dengan simbol merah di kedua matanya. "Mata itu..."



"Kau Vampire?" Tanya Dryas. 



"Ahahaha, maaf Yang Mulia." Kekeh Sherly.



"Saya bukan Vampir, Saya hanya manusia biasa yang terikat sebuah perjanjian." Lanjutnya.



Dan tidak lama, pintu jeruji di ruang eksekusi terbuka dengan mudahnya dan menampakkan laki-laki berambut coklat yang berdiri di depan tubuh Sherly.



"Maaf, Yang Mulia Ega. Sepertinya Saya adalah tamu yang tidak sopan." Ujarnya tenang.



Senyuman miring terukir di wajah tampan dan menyeramkannya itu. "Tapi para bangsa Vampir itu sama sekali tidak kuat, menurut saya."



"Apa katamu?" Geramnya.



Mata merah yang menyala di tengah ruangan yang minim cahaya itu membuat Dryas memundurkan langkahnya.



"Ada apa Yang Mulia? Apa kau takut?" Bisiknya.



Dibalik sikap dan tindakan yang Evander lakukan, ada seseorang yang menyeringai di belakangnya. Seorang gadis dengan mata merah dan simbol perjanjian di kedua matanya, Sherly Frydenlund.



"Sudahlah, Evander. Kemari dan lepaskan borgol ini." Titah Sherly.



"Baik, Nona Sherly." Ujar Evander membalikkan tubuhnya yang memiliki banyak celah.



Sang Raja Vampir itu pun dengan gegabahnya menyerang dari belakang tanpa tahu konsekuensinya.



Suara tulang yang patah akibat serangan Evander membuat para prajurit Vampir terkesan padanya. "Inikah kekuatan Raja Vampir? Terlihat lemah." Kekeh Evander membalikkan ucapannya.



"Manusia sialan, kubu kotor."



Kepala yang mencoba mendongkak menatap mata merah Evander itu tertahan oleh kaki jenjang milik Evander.



"Mohon maaf, Yang Mulia Ega. Saya sebagai pelayan Nona Sherly tidak terima Anda menjelek-jelekkannya."



Tubuh semampai itu menyamai tinggi tubuhnya dengan Dryas yang tersungkur akibat serangan dadakan Evander.



"Jika ada perintah Nona Sherly untuk memusnahkan yang mulia, Saya yakin Anda sudah mati sedari tadi dengan Saya." Bisiknya dengan tatapan tajam.



"Evander, kau mengabaikan perintahku." Ujar Sherly.



Kepala itu menoleh dengan senyuman manis sehingga kedua mata merah nan tajam itu terpejam. "Mohon maaf, Nona Sherly." Ujarnya.



"Cih, kaum kotor dan lemah seperti kalian harusnya musnah setelah peperangan beberapa tahun lalu."



Terus menerus Evander menginjak kepala Dryas sehingga tanah yang ia pijak retak karena injakan yang berada di atas kepala Dryas.



"Mohon beri perintah, Nona." Ujarnya tenang. Melihat kaki jenjang milik Evander itu menetap di kepala sang Raja vampir membuat Sherly menghela nafasnya.



"Turunkan kakimu, Evander Geino Ignitius. Dia pemimpin bangsa Vampir, jangan membunuhnya." Titah Sherly.



"Yang mulia Ega beruntung mendapatkan kebaikan hati Nona Sherly, jika tidak..." laki-laki itu menggantung ucapannya dengan kaki yang ia turunkan dari kepalanya.



Berjalan menghampiri gadis muda yang di pasung itu. "Mohon maaf, Nona Sherly." Bisiknya dengan kedua tangan yang melepaskan pasungan di tangan dan kaki Sherly.



"Lepaskan George!" Titahnya. "baik, Nona."



Melihat Evander, pelayan setianya berjalan kearah panglima perangnya. Kakinya melangkah mendekat kearah pemimpin Vampir era ini.



"Kau tidak memiliki hak untuk membunuhku, Yang Mulia Ega." Bisiknya.



"Karena aku adalah Sang Dewi Perang, Dewi Perang tidak mati dengan mudahnya." Kekehnya sinis.



Bersambung...