
"Ini aku, teman masa kecilmu." Ujar Dylan pelan.
"Adam De Laurent, anak kedua dari keluarga Laurent." Lanjutnya
Kedua mata Sherly membulat dengan mulut yang terbuka. Dylan yang seorang Vampir bangsawan ini teman masa kecilnya.
"Itu mustahil, Adam adalah manusia. Sedangkan kau-"
"Adam adalah Vampir, dan dia berkhianat."
Perlahan Dylan menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sherly yang sedang terduduk lemah. "Dia berkhianat padamu." Lanjutnya.
Tersirat rasa bersalah, Sherly tercengang melihat dan mendengar fakta satu ini. "Adam kau...Vampir?" Gumam Sherly tidak percaya.
"Sorry, Sherly. I betrayed you." Dylan melirih.
"A...dam." Entah sampai kapan Sherly akan bergumam dengan kondisi Dylan yang liar seperti binatang buas.
"Sherly, maaf." Ujarnya untuk kesekian kalinya.
Namun usai berucap maaf, Dylan menancapkan kedua taringnya pada batang leher Sherly.
Dengan kehilangan banyak darah, ditambah dihisapnya darah oleh Dylan. "Adam!" Seru Sherly.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Sherly!" Gertak Dylan.
"Hei, berhenti atau kubunuh." Bisik seseorang dengan tangan yang menempel di tengkuk Dylan.
Terasa dengan kuku yang tajam yang menusuk tengkuk Dylan. "Sherly, bagaimana dengan tawaranku?" Tanyanya.
"Kutolak, Rafael. Aku akan menyelamatkan Evander." Ujar Sherly sembari mengatur nafas.
Mendengar nama yang entah kenapa membuat dirinya kesal. "Evander, katamu?" Geram Rafael.
"Ya, aku menolakmu. Aku bisa mati sebelum menyelamatkan Evander." Ujar Sherly dengan nafas yang tidak teratur.
Kedua kakinya berusaha bangkit meski salah satu kakinya mengalami patah tulang.
"Manusia tidak pernah menyerah, Dylan." Sherly berucap dengan lantangnya, namun tidak dapat menutupi bahwa dirinya merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Kau manusia paling bodoh yang pernah kutemui, Sherly." Geram Dylan.
Menjadi kuatnya Dylan tidak membuat Sherly gentar, dirinya memegang penuh atas hak kedamaian manusia yang berada di bawah lindungannya.
"Ya, bukan kau saja yang berucap seperti itu." Kekeh Sherly sembari menghunuskan pedangnya.
Rafael terdiam dengan aura amarah yang tersirat di netra mata merahnya, Evander, nama yang sangat ia tidak sukai.
"Rival abadiku, Evander?" Gumam Rafael.
"Dylan, kau harus mati. Ini tugasku!" Ujar Sherly.
Dan entah kenapa nada suara itu terdengar melirih di beberapa kata. "Kau terlalu unjuk-"
Lengan kanannya terjatuh begitu saja, bilah pedang Sherly berhasil menebas lengan kanan Dylan tanpa disadari olehnya. "What just happened?" Gumam Dylan.
"Selanjutnya, kepalamu, Dylan- tidak- Adam." Ujar Sherly dengan kepala yang menunduk.
Sedetik, kepala itu terangkat dengan air mata yang mengalir di kedua netra Sherly. "Rest in peace, my little friend." Ujar Sherly pelan.
Conan terus membunuh siapapun yang berada di depan matanya, sehingga nafasnya tidak teratur.
Beberapa kali netra aquamarinenya melirik dan mencari keberadaan saudara kembarnya itu. "George! Dimana Sherly?" Suara seruan yang terdengar nada lelah.
Vampir melawan manusia? Tidak sebanding dengan tenaga manusia biasa, tidak peduli meski adanya 2 iblis kuat dan penyihir di pihak Sherly.
"Nona sepertinya berada di suatu tempat!" Sahut George.
"Conan, kau harus menyelamatkan Sherly. Atau dia akan mati." Celetuk seseorang.
Lagi-lagi suara yang terus memberitahu dan menginterupsi tubuhnya. "Keenan?" Gumam Conan.
Jika Conan bertanya-tanya dimana Keenan, ia sedang beristirahat di suatu tempat yang gelap. Kekuatannya terkuras sangat banyak, dirinya bertugas melindungi dan menyerang.
Sudah seharusnya dirinya kelelahan. Ditambah para pasukan Vampir ini begitu kuat, setara dengan iblis.
"Sepertinya kita datang terlambat ya, Conan." Seru seseorang.
Di gelapnya malam, rambut perak dan mata biru itu menyala seolah menyinari beberapa tempat yang gelap.
"Ask! Vegard!" Seru Conan tidak percaya.
"Aku tidak disebut?" Bisik seorang gadis di belakangnya.
Sentak Conan langsung melangkah mundur sembari mengayunkan bilah pedangnya sehingga ujung pedang itu mengenai lengan gadis itu.
"Kurang ajar kau, Manusia." Ujarnya.
"Kau siapa?" Geram Conan.
Gadis yang memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, bahkan ia tidak menyadarinya.
"Tenanglah, Conan. Dia pihak kami, namanya Athalla Nilvs Halvdan. Adik dari sahabat dekat Evander." Ujar Ask.
"Kaisar iblis?"
"Ya, dia kaisar kedelapan sebelum masa kepemimpinan Vegard." Sahut Ask.
Senyuman dari gadis berambut perak benar-benar membuat Conan membeku. Disamping itu, Vegard menatapnya tidak suka.
"Kita harus cepat, para Vampir itu mulai bangkit." Elak Vegard.
Netra itu melirik beberapa vampir yang diserang olehnya mulai bangkit dengan kedua taringnya yang keluar dari garis bibirnya.
"Bersiaplah. Sebisa mungkin untuk menghindari beberapa gigitan mereka." Interupsi Ask.
"Aku harus ikut juga?" Gumam Athalla.
"Mereka berdua saja sudah bisa menghabiskan Vampir itu." Ujar Athalla sembari mengerjapkan matanya berkali-kali.
Edvard berkali-kali memercikan darahnya pada sekitar sekumpulan Vampir itu untuk membakar tubuhnya, namun tidak ada gunanya.
"Sia-sia saja, Bocah iblis." Celetuk Alf.
"Kau menyerang mereka yang sudah dimodifikasi, kekuatanmu itu tidak akan bisa membunuh mereka." Lanjutnya.
Alf bangkit dari keadaan lemahnya, kakinya melangkah melindungi Edvard di belakang punggungnya yang penuh luka.
"Apa ini?" Bisik Edvard.
"Jangan sia-siakan tenagamu untuk membunuh mereka, Edvard. Lakukan yang harus kau lakukan." Ujar Alf tanpa menoleh.
Beberapa saat Edvard terdiam dengan ucapan itu, beberapa kenangan muncul dalam benaknya.
"Jangan sia-siakan tenagamu, Ralen. Larilah, jangan sampai mereka menangkapmu."
"Kakak." Gumam Edvard.
Alf menoleh sejenak sebelum kaki Edvard benar-benar pergi. "Terima kasih telah bertarung denganku, itu pertarungan yang mengagumkan."
"Hiduplah, bocah kecil."
Senyuman yang dilihat beberapa tahun lalu disaat dirinya belum bereinkarnasi, Alf yang merupakan kakak laki-lakinya mengukir senyum itu disaat kediamannya di serbu oleh Vampir.
"*I'll kill you Vampir*." Geram Edvard dengan air mata yang menurun.
Peperangan antara manusia dan Vampir masih berlanjut meski sudah beberapa hari berlangsung, bahkan sang Dewi perang pun sudah terlalu lelah untuk melanjutkannya.
Iblis baru yang bernama Edvard itu menatap tuannya dengan perasaan aneh, perasaan ingin menolong namun tidak juga.
Di sisi lain, ia ingin menyelamatkan Raja ketiga, namun di satu sisi, ia tidak bisa membiarkan Sherly mati.
"Sherly. Kau pergi saja." Ujar Edvard.
Dengan tubuh penuh luka dan nafas tercekat itu sudah dipastikan bahwa Sherly sudah berada di batasannya.
Di dalam gua yang gelap dan dingin, ada setetes butir keringat yang jatuh dari Conan.
Laki-laki itu berusaha melawan semua Vampir yang ingin masuk ke dalam gua untuk membunuh Sherly. Namun ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, tidak peduli apa yang akan terjadi padanya.
"Siapa yang menapakkan kakinya melewati garis, akan kubunuh." Ujar Conan dengan nafas terengah-engah.
Mungkin saat ini pihak Sherly bisa dikatakan kalah, tenaga Vampir memang luar biasa. Namun manusia memiliki batasan, batasan itulah yang membuat Sherly lemah.
Gadis itu tidak bisa melebihi batasannya. Ia sudah lebih lemah dari dirinya yang sebelumnya. "Sherly, kau harus lari. Jika tidak kau akan mati disini." Ujar Edvard.
Pening rasanya. Ingin sekali Sherly tidur dengan tenang tanpa beban apapun. Yah, benar. Ini semua akan berakhir.
"Itu tidak perlu, Edvard. Aku komandan mereka, tidak seharusnya seorang komandan lari." Ujar Sherly.
Meski kedua mata itu terpejam karena senyumannya, aura lelahnya tidak tertutupi. Mata lelah serta luka yang parah itu membuat Sherly mengatur nafas. "Tolong pinjamkan kekuatanmu, Rafael." Kekeh Sherly.
"Tidak boleh!" Gertak Edvard.
Kedua mata lelah itu terbuka lebar. "Kau kelelahan! Kau bisa mati, bodoh." Seru Edvard.
Tetes demi tetes air mata itu turun. "Kau tidak boleh mati, gadis bodoh!" Seru Edvard.
"Kau harus hidup menyelamatkan Evander!"
Sebuah lingkaran sihir terukir perlahan di bawah kaki Sherly, namun seruan dan geraman dari luar gua membuat Sherly terkejut.
Conan datang berlari dengan luka di tubuhnya, melihat itu api amarah mulai memuncak. "Vampir sialan!" Seru Sherly.
Edvard dengan cepat mendorong tubuh Conan untuk masuk ke dalam lingkaran sihir. Namun tidak dengannya. "Bodoh, apa yang kau lakukan?!" Seru Conan.
Perlahan tubuhnya mulai menghilang dan itu mengukir senyuman pertama kali yang di lihat oleh mereka berdua.
Edvard mengukir senyuman tipis dengan kedua mata terpejam. Sesaat Sherly merasakan perasaan bersyukur dari iblis yang lahir dari dirinya.
"Tolong jaga Sherly, Conan Frydenlund." Ucap Edvard terakhir kali.
"Dan tolong selamatkan Evander." Lanjutnya
Conan merasa dejà vu untuk kejadian kali ini, sebelumnya ia juga pernah di selamatkan oleh Keenan dengan mendorong dirinya ke portal.
Sebelum mereka berdua menghilang, sekumpulan Vampir bangsawan mulai menyerbu secara bersamaan, dengan kekuatan batasan, Edvard tidak akan selamat.
Ia sudah menggunakan semua kekuatannya hari lalu. "Edvard." Gumam Sherly.
Peperangan yang mengambil banyak orang terdekat, entah George, Edvard atau bahkan pasukannya.
Yah, mungkin inilah bagian akhir kehidupan sang dewi perang. "Kau pergi saja. Kau akan mati jika bersamaku." Ujar Sherly.
Bersambung...