The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
05. Vampire or human?



"Ada apa dengan matamu, Nona Sherly Frydenlund?" Tanya Chole dengan seringaian yang menghiasi wajahnya itu. 


Benar, bahkan dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi pada matanya ini. Memerah tapi tiada satupun garis yang menunjukkan simbol kontraknya dengan Evander, melainkan hanya merah darah yang menyala. 


Seperti para Vampir dan iblis itu. 


Di belakang mereka, seorang pria dengan rambut hitam memandangi gadis berambut brunette itu dengan tatapan iba. Satu-satunya seseorang yang berharga baginya kini mendapatkan sebuah pengkhianatan besar dari para bangsawan. 


"Bagaimana dengan adikmu, Gavin?" Celetuk seorang pria berambut abu-abu. "Ah, kasian sekali." Kekehnya tertahan. 


Namun Gavin tidak menyerangnya kali ini, ia juga merasa kasihan terhadap sang adiknya itu. Adik yang sangat ia sayangi harus mendapat semua ini dan menanggung sendiri. "Eh, kau tidak marah?" Tanya Dylan heran. 


"Tidak, kau benar. Sherly benar-benar kasihan." Senyumnya tipis. "Kalau kau kasihan, kenapa tidak menolongnya?" Tanya Dylan. 


"Aku sudah tidak diakui olehnya, Dylan. Dia tidak mengingatku sebagai kakaknya,melainkan sebagai Vampir yang membantai seseorang di dekatnya." Kekehnya sinis. 


Tak akan kubiarkan kau mendekat.


Entah siapa yang membatin itu, tapi yang pasti saat ini Sherly berjuang keras melawan rasa ragunya ketika melawan seseorang yang dulu adalah teman masa kecilnya. "Chloe, aku tidak tahu mengapa kau melakukan ini semua. Tapi siapapun yang menghina keluargaku, akan mati." Ujarnya sembari menarik sarung tangannya dan menggores jarinya. 


"Hal gila apa yang kau lakukan? Melukai diri sendiri?" Kekeh Chloe. 


Sherly terkejut ketika darahnya itu sama sekali tidak membentuk sebuah simbol kontraknya di lantai beralas karpet merah itu, melainkan dirinya merasakan nafsu membunuh yang besar. "Apa ini Evander?" bisik Sherly tidak mengerti. 


Tubuh gadis itu tidak bisa di kendalikan, rasa sakit yang teramat sakit ini menyelimuti kulit Sherly. "Evander!" Panggil Sherly.


"Gavin, adikmu..."



Pria itu berlarian kesana dan kemari hanya untuk menghindari serangan dari prajurit keluarga Gvrilltenn, memang tidak seahli prajurit keluarga Frydenlund. Tapi bagaimana juga keluarga Gvrilltenn adalah keluarga kriminal. 



"Bocah sialan ini lincah sekali!" Umpat salah satu pria dengan pisau di tangannya. "Tangkap dia hidup-hidup, akan kujadikan dia budakku." Titah Chloe. 



"Aih aih, Nona Gvrilltenn. Saya seorang pelayan bukan budak, tolong pahami perbedaannnya." Kekeh Evander.



"Dan lagipula kau ini tidak enak, tidak seperti Nona Sherly." Bisiknya. 



"Ini membosankan, bagaimana jika kalian kubunuh?" Kekehnya bersamaan dengan keluarnya angin merah di sekitar kakinya. 



Ia pun melompat keluar dari angin merah itu dan membawa tubuh Sherly yang tidak sadarkan diri itu. "Selamat tinggal, Nona Gvrilltenn." Seru Evander. 



Pria itu berjalan menghampiri kereta kuda milik keluarga Frydenlund. "Evander, Nona kenapa?" Tanya George cemas.



"George, kau...suka sama Nona Sherly?" Pertanyaan random dari Evander tepat membuat sang panglima perang tersipu malu.



Namun belum sempat menjawab, Evander melewatinya dan berbisik. "Lebih baik ambil rasa sukamu itu, karena nona Sherly hanya memikirkan balas dendam."



Sebagai pelayan setianya, ia menaruh tubuh yang tidak sadarkan diri itu di ranjang kamarnya. "Evander aku-" panggilan itu terhenti ketika sepasang mata hijaunya memergoki Evander yang tengah mengusap kepala Sherly dengan tatapan melembut.


Mendengar suara sang panglima perang, tangan yang sebelumnya berada di kepala Sherly, ia tarik kembali. "Ah, kalau Nona sudah siuman suruh dia ke-"


Belum sempat melanjutkan ucapannya itu, tubuh Sherly memberontak diatas ranjang masih dengan mata merah dan taringnya itu.


"Nona!" Seru George. "George, ambilkan air dan suruh Kaylie kesini!" Titah Evander.


Pria berpakaian hitam dengan sebuah lencana bintang emas itu berlari keluar. Sedangkan Sherly terus menarik-narik lengan Evander. "Da,darah..." gumam Sherly.


"Darah! Aku butuh darah, E...vander." ujarnya terbata-bata.


Dengan mata merah yang terbuka lebar itu, Evander menarik kembali tangannya. "Nona, sadarlah!" Seru Evander.


"Apa yang kau lakukan, Evander? Darah! Aku butuh darah." Lirihnya seolah kesakitan.


Kedua tangan yang pucat itu memegang bagian dadanya yang sakit, seperti di mangsa oleh ribuan hewan. "Evander Geino Ignitius!" Panggil Sherly.


Karena terlalu lama menunggu, Sherly menarik kerah seragam itu dan membukanya secara kasar.


Dalam sekejap, taring itu tertancap di jenjang leher milik Evander. "Nona!" Rintih Evander.


Nyeri, itulah yang dirasakan saat darahnya diserap oleh seorang gadis yang menjalin kontrak dengannya.


"Evander! Aku sudah membawa- Evander, kau.." Ujar Georger terkejut melihat pemandangan di depan matanya ini.


Tidak dengan Kaylie yang tersipu malu melihatnya, terlihat jelas sirat merah di kedua pipinya.


Rasa kecewa dan sedih itu menggumpal, nampan yang berisikan air serta handuk kecil itu di berikan ke Kaylie. Sedangkan George pergi begitu saja dengan rasa sedih serta kecewanya.


"Evander, aku sudah membawakan airnya." Ujar Kaylie.


"Nona!" Ujar Evander berusaha melepaskan gigitannya itu. "Tidak apa, Evander. Lanjutkan saja." Kekeh Kaylie sembari menutup pintu.


"Kaylie! Kau salah paham!" Seru Evander.


Gigitan itu berhasil ia lepaskan, namun mata merah itu tidak juga kembali kemata sebelumnya yang begitu meneduhkan meski terlihat kejam dan dingin.


"Kurang..." gumamnya. "Omong-omong, Evander. Darahmu terasa berbeda, sebenarnya kau itu...apa?" Ujarnya dengan mata sayunya.


Merasa Sherly tidak puas dan mulai mendekat, Evander bangkit dan memundurkan langkahnya. "Nona, saya mohon jangan seperti ini."


"Ini demi kebaikanmu." Lanjutnya. "Ini bukan demi kebaikanku, Evander. Ini sangat menyiksaku." Ujar Sherly.


Pria bermata merah itu berdecih dan menggores lengannya sehingga darah miliknya itu mengalir deras.


Hal yang di takutkan oleh Evander bukanlah kematian karena kehabisan darah, melainkan. "Jika terjadi apa-apa, kendalikan dirimu, Nona Sherly Frydenlund." Tegas Evander.


Kedua taring itu menancap sempurna di lengan pucat Evander, seperti terasa terlahir kembali, mata gadis itu berubah menjadi teduh.


"Eh? Apa-apaan ini? Kenapa kau berantakan sekali, Evander." Ujar Sherly ketika sadar pakaian pelayannya itu berantakan.


Helaan nafas terdengar sama di telinganya. "Maaf, Nona. Tadi ada sedikit masalah, jadi pakaian saya berantakan." Elaknya sembari menyembunyikan luka gigitan di lehernya.


"Nona, ada kepala keluarga Gvrilltenn di halaman depan. Beliau ingin menemui Nona." Ujar George dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Ah, baiklah." Ujarnya ceria dan meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa dengan tatapanmu itu, George?" Tanya Evander. 


"Kau sudah tahu bahwa aku menyukai Nona Sherly, tapi kenapa kau malah bermesraan dengannya." Ujarnya pelan.


"Kau salah paham, meski aku menjelaskan kau tidak akan mengerti masalahnya, George." Finalnya sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan George yang terdiam mematung.


"Karena masalah antaraku dan Nona bukanlah masalah yang dimengerti oleh cara berpikir manusia, kau pasti tidak akan mengerti, George." 


Bersambung...