
Evander, pria yang semula duduk di sebelah Dylan. Kini secara tiba-tiba sudah berada di belakang wanita tua itu. "Anda kenal dengan mereka, Madam Jennifer?" Tanya Evander.
"Ya, dia adalah..."
"Hei, Vampir rendahan! Cepat bunuh wanita tua itu." Titah Seseorang berambut merah.
"Baik, Tuan Thomas." Ujarnya begitu patuh.
Sekejap mata Vampir rendahan yang di perintahkan oleh Thomas itu menggenggam erat kedua pundak Madam Jennifer.
Lalu, kedua taringnya ia tancapkan pada permukaan lehernya yang terlihat tiada pertahanan. "Akh!" Teriak Madam Jennifer.
Melihat ruang tamu rumah kediaman Frydenlund begitu berantakan, kaca jendela pecah dan berantakan, darah bercucuran membuat urat di keningnya terlihat.
"Hei, kalian para Vampir sialan tidak tahu sopan santun. Ruang tamu dan seluruh ruangan di mansion ini aku yang bersihkan, sialan." Geramnya. Tangannya terus menerus membersihkan noda darah yang mengotori seragamnya.
Kakinya melangkah cepat berguna membunuh semua Vampir rendahan hanya dalam sekejap mata. "Wah wah aku malah membuat ruang tamu seperti ruang eksekusi." Kekehnya geli.
Tangannya yang penuh darah itu ia bersihkan dengan sapu tangan miliknya yang berada di saku celananya, tidak lupa senyuman miring masih ia ukir di wajahnya itu. "Pelayan gila." Umpat Wanita berambut coklat.
"Hati-hati dalam ucapanmu, Margareth. Dia bukan hanya pelayan Sherly. Aku yakin itu." Peringat Gavin.
Wanita itu berdecak kesal dengan kedua taring yang bermunculan bersamaan dengan mata merahnya yang menyala. "Adikmu itu selalu membuat sulit bangsa Vampir dan iblis, kau tahu? Andai saat peperangan itu sang Raja memerintah untuk menjadikannya bahan eksperimen, semua hal ini tidak akan terjadi-"
Tangan yang di selimuti dengan sarung tangan berwarna hitam itu menampar keras wanita berambut coklat yang sedang bersandar di plafon. "Jaga kata-katamu, Margareth." Geram Gavin.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Gavin Frydenlund." Ujarnya sembari menepis kasar tangan yang menyentuh pipinya.
Sedangkan Evander hanya diam menyaksikan satu kubu yang bertengkar, hanya karena salah satunya mantan bangsa manusia. "Jadi kau keluarga Nona Sherly?" Tanya Evander begitu bosan dengan pertengkaran mereka berdua.
"Dulu, tapi sekarang tidak. Aku Vampir, sedangkan dia Manusia. Vampir, Iblis dan Manusia bermusuhan." Ujarnya singkat.
Di balik mata merahnya itu, Evander mengetahui jika ada kesedihan di balik mata merahnya itu. Dan di lubuk hatinya, ia masih menganggap Sherly sebagai keluarga satu-satunya. Tapi Evander tidak mengetahui apa alasan ia berkata demikian.
"Bangsa Vampir, Iblis dan Manusia tidak pintar berbohong rupanya." Kekehnya kecil.
"Apa kau bilang-"
"Apa yang kau lakukan di atas sana, Evander Geino Ignitius?" Seru seorang gadis dengan lantangnya.
Mata merah milik Gavin Frydenlund itu membulat seketika, suara lantang sang adiknya begitu membuat kenangan akhirnya muncul dalam benaknya. Suara yang begitu lantang. Suara yang dulu ia dengar begitu lucu dan imut, kini berubah begitu lantang dan tegas.
Sherly Frydenlund, anak bungsu keluarga Frydenlund. Pemimpin medan perang, kini sudah berubah menjadi dewasa diusia yang begitu muda.
Evander, pria berseragam serba formal itu turun dan membungkukkan tubuhnya dengan hormatnya. Seragam yang ia gunakan selalu rapi dan bersih, kini berantakan dan penuh noda darah.
"Ada apa dengan pakaianmu, Evander? Berantakan sekali, apa kau kesulitan melawan mereka?" Sarkas Sherly.
Diam dan menatap tidak suka kearah gadis yang sedang menyeringai padanya. "Tentu tidak, Nona. Ini darah dari Madam Jennifer dan juga para Vampir rendahan itu." Ujarnya sopan.
Madam Jennifer, istri kedua dari ayahnya itu yang menjaganya dirumah ini meski memiliki niat terselubungi. Niat jahat untuk mengambil alih semua harta warisan dari keluarga Frydenlund. "Ah, wanita itu mati? Bukankah itu lebih baik, Evander." Kekeh Sherly geli.
Tatapan kejut dari semua yang berada di ruangan itu membuat mata aquamarine itu menatap satu persatu dari mereka dan bertanya, "Ada apa dengan tatapan kalian?" Tegasnya.
"Bukankah kalian membunuh dengan lebih keji? Jadi tidak usah kaget." Lanjutnya dengan tatapan tajamnya.
"Kalian orang yang sama saat peperangan beberapa tahun lalu, dan saat ini kalian membuat kekediamanku menjadi penuh darah?" Tanyanya dengan suara keras.
"Gadis kecil, yang membuat ruang tamumu penuh darah itu pelayan gilamu itu sendiri. Kenapa menyalahkan kami yang sedari tadi kami duduk di atas plafon rumahmu ini." Sahut seorang pria berambut biru.
Diam, gadis kecil itu terdiam dengan kedua pipi yang memerah. "Maaf membuatmu salah paham. Nona." Kekehnya tertahan.
"Evander." Panggil Sherly.
Mata aquamarine itu terus menerus menatap keadaan yang semakin lama semakin memanas, terlebih lagi pelayannya yang mulai kelelahan dan terluka karena menghadapi tiga Vampir bangsawan sekaligus.
Dengan luka di tubuhnya ini, ia hanya akan menjadi beban bagi pelayannya itu. Tentu ini adalah salah satu rencana untuk menjebak para Vampir bangsawan itu. "Sherly, kau kah itu?" Celetuk seseorang.
Langkah yang mundur itu tidak membuat Gavin berhenti mendekatinya, sampai pada akhirnya sang adik menarik keluar pedang kesayangannya itu. Pedang dengan bilah pedang berwarna hitam. "Apa-apaan kau, Vampir?" Geramnya.
"Kini sudah tamat kau, pelayan gila." Seru Margareth. Seringain muncul di wajahnya meski tengah di ambang kematian oleh para Vampir bangsawan itu.
"Ternyata kau masih bisa sombong di tengah kematianmu, hei pelayan." Kekeh Seveth.
"Kau tidak mengenaliku?" Tangan Gavin terulur untuk menyentuh kepala Sherly, namun tangannya menepis kasar. "Jangan sentuh aku dengan tanganmu itu, tidak sudi aku di sentuh oleh makhluk seperti kalian." Geramnya.
Rasa sakit yang pertama kali Gavin rasakan setelah hidup selama belasan tahun sebagai Vampir, sakit hati ketika adik kesayangannya ini berbicara padanya begitu keras dan ketus.
Bilah pedangnya itu ia arahkan ke telapak tangannya sehingga membiarkan darah merahnya terus menerus mengalir dan membuat sebuah simbol di lantai beralas karpet merah itu. "Evander, lakukan semaumu." Titah Sherly seketika mata aquamarinenya berubah menjadi merah darah.
"Baik, *Young Lady*." Kekeh Evander. Kata panggilan yang di ucapkan oleh Evander secara tidak sengaja, mengingatkan Sherly pada masa lalu.
"Sheryl, kau-" Ucapan Gavin terpotong karena tubuh Sherly yang sudah tidak kuat berdiri. Tubuh penuh perban dan luka itu terjatuh duduk dengan tangan yang memegang pedang untuk menumpunya berdiri.
Sebuah hembusan angin yang kuat menarik perhatian Gavin, Evander yang tengah terbaring dengan luka-lukanya yang ia dapatkan dari para Vampir bangsawan itu menciptakan angin berwarna merah dengan cabikkan-cabikkan untuk lawannya.
"Hati-hati, angin itu berbahaya-" Gavin yang melihat temannya sedang dalam bahaya, ia pun berniat untuk menghampirinya. Namun, tubuhnya terhenti dan diam di tepi tangga karena bilah pedang adiknya itu berhasil menembus tubuhnya.
"Kau mau kemana? Kita masih ada urusan penting, Tuan Vampir." ujar Sherly.
"Gavin!" Seru Ethan, pria berambut biru.
"Ironis sekali di tikam dari belakang oleh adiknya sendiri." Kekeh Evander.
"Kau!" Ethan dengan cerobohnya maju tanpa memerdulikan angin yang tengah mencabik-cabiknya dengan kasar. Tak peduli berapa banyak luka yang ia dapat, hanya satu yang ia inginkan, memukul wajah pelayan gila itu.
"Ethan, jangan ceroboh!" Seru Lucas.
Darah terus mengalir deras dari perut Gavin, tangannya pun meraba bilah pedang pemberian keluarga Frydenlund turun temurun. Hatinya sakit, "Kau sungguh tidak mengenaliku, Sherly?" Ujarnya dengan senyuman itu.
Bersambung...