The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
27. Minefields: The feud of the two nations



Setetes darah itu terus menetes mengotori lantai tak beralas, nafas tidak teratur dan juga rasa sakit yang tiada tara. Evander merasakan itu setiap saat, waktu, menit bahkan detik.


Abian sang Raja iblis tidak memberinya jeda sedikitpun, kapapun ia menyiksa dengan keji sampai suatu hari kekuatan Evander melemah. 


"Kekuatan penyembuhanmu kemana? Hilang?" Kekeh Abian. 


Sayatan, cambukkan, inikah yang Sherly rasakan saat diculik oleh mantan kekasihnya. Rasanya begitu sakit, namun kenapa gadis manusia itu dapat menahannya.


"Itu karena aku menghargai siksaanmu, nanti jika kupakai kekuatan penyembuhku kasian usahamu." Bisik Evander. 


Pukulan beruntun yang tertuju tepat di pipi kiri Evander, laki-laki yang memimpin bangsa iblis saat ini tidak memberi ampun untuk Evander.


"Seorang mantan Raja kekaisaran seperti ini penampilannya? Begitu kotor." Abian mendesis. 


"You are dirtier, bastard." Kekeh Evander.


Perlahan kepala itu menunduk, suasana menjadi hening dan suram sampai ketika laki-laki itu memutuskan untuk pergi dari ruangan beraroma darah ini.


Memang benar adanya jika Evander memiliki kekuatan penyembuh, tapi jika berlama-lama seperti ini, ia akan mati di tangan Abian. 


Bahkan saat ini kekuatan itu mulai menyembuhkan dengan lambat, luka yang di ciptakan Abian setiap harinya bertambah semakin banyak.


Jika memilih mati seperti ini, ia akan lebih tersanjung jika di bakar hidup-hidup. "Sialan." umpat Evander.


Perlahan kepala itu mendongkak. "Gadis itu..."



Suara bising mengusik indra pendengaran seorang gadis yang tengah tertidur lelah di atas ranjangnya.



Dengan perasaan lelah, Sherly memaksakan membuka matanya.



Edvard, Rafael, Conan, George, Lynelle bahkan Kaylie tengah berkumpul di sofa, entah apa yang di bicarakan.



"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" Geram Sherly.



Mendengar suara lelah itu, mereka semua berlarian kearah gadis yang menatap mereka dengan tatapan lelah. "Nona, ada surat!" Ujar George. 



Sebuah surat yang tidak terlihat mewah dan cantik, sudah dipastikan bukan bangsawan lainlah yang mengirimkan surat ini padanya.



Bahkan tidak ada simbol keluarga bangsawan pada suratnya, melainkan simbol hewan. "Bangsa Vampir?" Tanya Sherly. 



Nadanya terdengar lelah, seperti yang diucapkan Conan, Sherly tidak sadarkan diri usai perang terhadap Fox yang menyebut dirinya Necromancer, penyihir tingkat satu.



Dan itu ada benarnya, jujur ini adalah pertama kali Sherly terlihat sangat lelah. "Bangsa sialan!" Seru Sherly usai membaca surat itu. 



"Nona?" Gumam mereka. 



"Mereka mengajak perang antar kedua bangsa." Ujar Sherly. 



Dengan keadaannya yang seperti ini? Sudah jelas itu mustahil. Sherly di buat lelah oleh Necromancer hari lalu, dan kini bangsa itu mengajaknya untuk perang. "Apa?" Seru George. 



Sebagai panglima perang, tentu ia akan terkejut. Bukan hanya Sherly yang terlihat lelah, tapi juga George dan Conan. "George, besok kumpulkan pasukan. Kita akan melakukan latihan keras." Titah Sherly. 



"Tapi keadaan anda..." 



"Jangan meremehkanku hanya karena aku kelelahan." Desis Sherly.



"Kalian jika ingin latihan, latihanlah." Ujar Sherly. 



"Baik, Nona!" Seru mereka bertiga.



Punggung kecil dan pundak yang menanggung beban berat itu tersandar begitu saja di punggung ranjang, gadis dengan wajah lelah itu tersenyum tipis. "Bisakah kalian pergi? Aku lelah." Ujar Sherly pelan. 



Bohong jika Sherly tidak rindu pada keluarganya, menanggung beban seberat itu tentu ia akan merasa putus asa.




Jujur, ia lelah dan ingin sekali menangis. Namun saat ini, disaat terpuruknya ia merasa hampa dan kosong.



Di dalam benak pikirannya selalu saja ada seseorang yang menemaninya disaat terpuruknya, namun ia tidak tahu siapa itu. 



Kepala itu mendongkak dengan kedua mata biru yang menatap langit-langit kamarnya sembari menghela nafas lelah. "Kapan ini berakhir?" Gumamnya. 



Kakinya itu memijak lantai yang dingin, tangan lemahnya meraih mantel. Kakinya mulai melangkah keluar dari ruang tidurnya, koridor yang gelap dan hening tidak membuat gadis lemah itu gentar. 



Bunyi gemerincik air yang menetes dan ranting yang bertubrukan membuat suasana menjadi lebih sunyi.



Gadis dengan mantel itu mendudukkan dirinya di kursi dengan tubuh yang menatap kolam.



"3 hari, apa aku bisa lebih kuat dalam 3 hari?" gumamnya. 



Ketakutan saat di alam bawah sadar itu membuat tubuhnya semakin lemah, selama ini ia berpikir ia tidak memiliki kelemahan apapun.



Tapi begitu diserang oleh Fox, ia diselimuti rasa takut. "Kau punyaku." Celetuk seseorang. 



"Kau punyaku, kenapa harus takut?" Lanjutnya. 



Seorang pria dengan rambut hitam dan mata merahnya duduk di samping gadis dengan mantel itu.



"Kau siapa? Seingatku, aku tidak memiliki kenalan dengan rambut hitam dan mata merah." Ujar Sherly. 



"Aku Rafael, iblismu." Rafael menghela. 



"Rafael? Bukankah iblis itu tidak berwujud?" Tanyanya. Sherly saat ini terlihat seperti orang bodoh yang tidak mengingat apapun. 



Dan itu salah satu hal yang dibenci Rafael, seorang tuan dari iblis sepertinya terlihat seperti orang bodoh dan lemah. Itu sama saja seperti meremehkannya. "Memakai wujud orang lain adalah hal kecil bagiku." 



Suasana hening, tidak mendapat balasan apapun dari Sherly. Gadis itu tengah menatap bulan. "Kau ingin kuat dalam 3 hari?" Tanya Rafael. 



Pagi-pagi dimana matahari belum juga terbit, pasukan Frydenlund tengah berlatih keras untuk perang dengan bangsa Vampire lusa nanti.


Hanya latihan 2 hari tanpa henti untuk perang. Kemungkinan perang ini akan memakan banyak korban seperti perang yang menyebabkan Sherly sekarat.


"Sherly, kau masih terlihat kurang sehat. Lebih baik istirahat saja." Ujar Conan.


Sherly memang tidak ikut latihan dan hanya menonton, tapi tubuhnya yang tertutup mantel itu sudah dipastikan melemah.


Kondisi Sherly ini sangat mencemaskan para penghuni kediaman Frydenlund. "Aku baik-baik saja, Conan."


"Lagipula lusa kita sudah berperang, tidak ada waktu lagi." Ujar Sherly.


Nada suara, tatapan mata, gerakan lambat, apakah gadis yang berbicara dengannya ini benar-benar Sherly. Sherly yang biasanya bersikap tegas dan kuat.


"Kalau begitu bersiaplah, aku akan latihan bersamamu." Ujar Conan.


Perginya Conan membuat Sherly berusaha keras untuk bangkit dari kursi. Tubuhnya melemah sejak berlawanan dengan Fox.


Bahkan untuk berdiri saja ia diharuskan mengerahkan seluruh tenaganya. "Kau akan kuat jika menerima tawaranku kemarin malam, Nona Sherly." Ujar Rafael.


Tawaran yang diberikan Rafael memang menggiurkan, tapi dengan tubuh yang lemah, tidak mungkin itu terjadi. "Apa kau mau membunuhku, El?" Tekan Sherly.


Kedua mata merahnya itu menatap Sherly, mata merah yang menyala. "Mengapa kamu berbicara seperti itu? Aku adalah iblismu, sudah seharusnya kita menjalin kontrak darah." Bisik Rafael.


Bisikan yang membuat langkah lunglai Sherly terhenti sejenak. "Iblis? Aku sendiri adalah sosok iblis itu." gumam Sherly.


Tubuh lemah itu berbalik memandang pria di belakangnya dengan tubuh sedikit lebih tinggi darinya.


"Jika kita tidak menjalin kontrak darah, kau akan mati. Apa kau siap, Nona?" Senyuman yang entah apa artinya, tapi yang pasti Rafael bukanlah orang yang jahat ataupun baik.


"Seorang Ksatria harus siap mati kapanpun dan dimanapun." ujar Sherly.


Bersambung...