
"Apa yang kau maksud? Aku baik-"
Lagi-lagi gadis itu tidak sempat mengakhiri ucapannya, karena sedari tadi Evander menyelanya terus-menerus. "Yang terkena dampak kekuatanku akan sakit bahkah tewas, Nona sakit." Sela Evander.
Kalimat akhir yang menjadi penghujung pembicaraan itu cukup membuat kedua mata gadis itu terbuka lebar, punggung yang lebar dan bergerak seirama dengan tarikan nafas itu membuat kedua orang itu berkeringat.
"Evander, masih marah?" Tanya Conan.
Evander yang merupakan salah satu bangsawan bangsa iblis dan mantan sang Raja Kekaisaran ketiga, siapa sangka di balik semua senyuman yang terus menerus ia ciptakan terdapat beberapa luka yang tidak boleh tersentuh siapapun.
Luka yang sangat dalam, teramat dalam sampai-sampai Sherly ragu untuk menyentuhnya. "Dia pantas untuk marah, Conan."
"Karena luka yang dibuat oleh pengkhianat tidak akan sembuh, meskipun orang tersebut meninggal." Ujar Sherly sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Conan dan George yang termenung.
Sebuah kata tabu yang tidak sengaja terucap begitu saja oleh saudara kembarnya membuatnya beberapa kata muncul di dalam benaknya, sebuah kata yang diucapkan oleh pengkhianat di dalam keluarganya. "Sherly." gumamnya.
Sesuai perintah Evander, gadis itu menapakkan kaki kanannya di ambang pintu ruang perpustakaannya yang sudah lama tidak terpakai. Salah satu ruang kesukaannya jika sedang ingin menyendiri, terlihat jelas seorang laki-laki yang berdiri tegak dengan sebuah buku kecil di tangan kanannya.
"Evander." Panggil Sherly.
Laki-laki yang di sinari sinar bulan purnama itu menoleh secara perlahan seolah memperlihatkan ketampanan. Benar apa yang dipikirkan olehnya, laki-laki yang berada di hadapannya ini memasang tatapan kosong setelah selesai pertarungan dengan Jade.
"Selamat malam, Nona. Maaf memanggil malam-malam begini." Ujarnya.
Evander yang saat ini membungkukkan tubuhnya terasa sangat asing dengan mata yang menunjukkan kekosongannya itu. "Nona, kau berubah." Ujar Evander pelan.
Berubah yang dimaksud Evander dengan berubah yang dipikirkan oleh Sherly memiliki arti kata yang berbeda, Sherly mengira jika dirinya berubah dari sebelumnya. Namun Evander mengatakan hal yang sebaliknya, Sherly berubah menjadi. "Kau vampir, Nona." Bisik Evander.
"Kekuatanku tidak mungkin bisa di tahan oleh seorang manusia, dan karena kau sedang terluka. Sisi vampire mengambil alih tubuhmu jika nyawamu sedang dalam bahaya atau terancam." Ujar Evander dengan sangat rinci.
Memang benar apa yang dikatakan olehnya itu, tangannya yang semula mulus dan bersih itu kini memiliki kuku yang tajam. "Aku sudah menduga, makanya sebelumnya-"
Segelas cairan berwarna merah yang berada di dalam gelas yang di genggam Evander, cairan merah yang terasa tidak asing di indra penciumannya. "Aku sudah menyiapkan darah untuk Nona." Sambung Evander.
"Tapi aku sudah tidak-"
"Kau akan mati jika tidak meminum ini." Selanya. Entah sudah berapa kali laki-laki itu menyela pembicaraannya, dan gadis itu memasang raut wajah masam. "Evander, kau mau mati? Beraninya menyelaku sedari tadi." Sherly berbisik.
Hening menyingsing. Tiada satupun yang bersuara sejak Sherly menggeram kesal karena laki-laki di hadapannya ini. "Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud membuat nona kesal, tapi ini demi kebaikan nona." Ujar Evander melembut.
"Itu karena keinginan sisi vampir mu untuk hidup." Sahut Evander.
Baru saja tangannya itu meraih segelas cairan berwarna merah, lagi-lagi suara Conan menginterupsi telinganya. "Sherly! Kau dimana?" Serunya.
Sampai ketika tangan Conan meraih knop pintu ruang perpustakaan secara perlahan, sedangkan Sherly hanya mematung dengan tangan yang memegang gelas berisikan darah yang diduga darah Evander. "Kenapa kau takut?"
"Vampir itu salah satu makhluk yang membantai keluargaku, Conan membencinya." Kekehnya.
Lagi-lagi, Evander menggenggam tangan Sherly dan pergi dari ruangan gelap ini. Sedetik, jika telat sedetik saja. Conan akan mengetahui bahwa saudara kembarnya itu salah satu dari makhluk yang membantai keluarganya, Vampir.
"Kukira ada suara tadi disini, jangan-jangan..." Butir-butir keringat mengalir dari dahinya sampai ketika ia berlari dengan raut wajah suramnya.
Entah kapan, debaran jantung Sherly kian menjadi lebih cepat dari biasanya ketika dirinya sedang bersama Evander. Terlebih lagi Evander yang disinari cahaya bulan malam benar-benar sangat tampan.
"Nona, kau pucat. Lebih baik cepat minum darah itu, atau kau akan mati." Bisik Evander.
Gadis itu menenggak semua cairan yang berada di dalam cangkir itu, sampai ketika salah satu orang yang melintasi halamannya terkejut dengan wajah ketakutan. "Sherly ... Nona Sherly." Gumamnya tidak jelas.
"Nona Sherly, kau .... ternyata kau adalah vampir?" Ujarnya dengan terbata-bata.
Ucapan yang terbata-bata itu cukup mengundang sekumpulan warga datang ke halaman kediaman Frydenlund, bahkan seorang Ratu yang memimpin negaranya. Ratu Mariella Rodriguez.
Seorang gadis yang berkisar 25 tahun itu jalan dengan anggun dan elegan ke hadapan Sherly yang saat ini tengah mematung dengan wujud Vampir nya, seorang ajudan laki-laki di balik gadis berstatus sang Ratu itu memandang datar Evander yang mendekap erat tubuh Sherly.
"Tidak kusangka, penjaga warga Kekaisaran kini menjadi salah satu bangsa yang menjadi ancaman bagi umat manusia, yaitu Vampir. Sherly Frydenlund, aku sebagai seorang Ratu yang memimpin negara ini akan menghapus nama keluarga Frydenlund dan aku menyatakan bahwa Frydenlund sudah tamat." Ujar Sang Ratu.
Sherly yang biasanya bijaksana dan berani, saat ini ia hanyalah gadis Vampir yang terlihat takut mendengar nama keluarganya dihapus oleh sang Ratu. Keluarga yang selalu menjadi pelindungi warga kekaisaran dari ancaman Iblis dan Vampir, keluarga Frydenlund.
"Jika kau tidak terima, datang dan bersujud lah padaku, Nona Frydenlund." Titah Sang Ratu.
Kenapa? Kenapa perlakuan semua orang berbeda terhadap keluarganya? Kenapa ini hanya terjadi pada keluarganya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. "Untuk apa Nona Sherly bersujud di hadapan makhluk kotor sepertimu?" Ketus Evander.
"Benar! Sherly Frydenlund tidak perlu bersujud pada anda, Yang Mulia Ratu!" Seru seorang laki-laki.
Conan Frydenlund, saudara kembar Sherly Frydenlund. Ia berlari dari dalam kediamannya yang berjarak cukup jauh hanya untuk menentang hal ini. "Kau,"
"Conan Frydenlund, anak bungsu keluarga Frydenlund. Ada hak apa kau melarang perintahku, anak muda." Ujar sang Ratu melembut.
Wajah cantik dan senyuman manis serta rambutnya yang pirang membuat dirinya seolah bidadari yang turun dari langit untuk memimpin sebuah bangsa. "Karena aku tidak ingin harga diri kakakku ternodai hanya karena dirinya menjadi salah satu orang yang mengancam manusia." Ujar Conan serius.
Nada serius, tatapan tajam dan raut wajah datar. Conan menunjukkan semua itu untuk gadis yang terdiam mematung di dekapan Evander. "Harga diri Nona Frydenlund sudah ternodai dengan dirinya sendiri yang menjadi Vampir, anak muda." Kekeh Sang Ratu.
"Memangnya kau siapa seolah mengetahui semua hal tentang Sherly bahkan tentang harga dirinya." Tekan Conan.
"Aku Sang Ratu, dia itu bawahanku." Sahut sang Ratu.
Bersambung...