
"Sherly?" Celetuk Conan.
Perbincangan antara Rafael dan Sherly yang baru saja terhenti karena nada celetuk Conan, tubuh Sherly menegang dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Satu pertanyaan terlintas, Conan tidak mungkin mendengarnya, bukan? "Apa?"
"Kenapa belum bersiap juga?" Rengek Conan.
Rengekan ini lah yang mungkin akan dirindukan oleh Sherly, bagaimanapun beban yang ia tanggung di pundak akan terlepas begitu saatnya tiba.
Dan saat itulah nyawanya berakhir sebagai dewi perang dan komandan. "Berisik." Ketus Sherly.
Perginya gadis itu membuat langkah kaki Conan mendekati Rafael. "Apa maksudmu?" Geram Conan.
Laki-laki itu dibuat salah paham dengan senyuman miring di wajah Rafael, seketika api amarah itu memuncak karena tidak mendapat balasan dari Rafael.
"Sialan, aku berbicara denganmu." Geram Conan sembari menarik kerah pakaian Rafael.
Tersenyum. Rafael hanya tersenyum melihat bagaimana marahnya saudara kembar dari tuannya saat ini. "Rahasiaku dengan Sherly." Bisik Rafael.
Pria itu hendak pergi, namun tangan Conan menahannya pergi. Mendengar pembicaraan mereka yang mencurigakan, tentu ia akan meminta penjelasan.
Dan pria ini tidak memberitahunya. "Apa-apaan kau?" Conan mendesis.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun padamu." Kekeh Rafael.
"El." Ketus Sherly.
Gadis yang sebelumnya terlihat lemah, kini dengan baju zirahnya gadis itu terlihat lebih kuat.
Namun, tidak bisa menutupi bahwa Sherly saat ini tidak bisa bergerak cepat. "Sherly!" Seru Conan.
"Apa yang kau bicarakan pada adikku?" Nada suara yang berbeda dari sebelumnya, nada suara yang dingin dan tatapan yang menusuk.
Sebelumnya, gadis ini tidak berdaya. Bahkan untuk bangkit saja terlihat susah payah.
"Aku tidak berbicara apapun pada adikmu itu, tenang saja." Kekeh Rafael.
Melihat kepergian iblis itu, Conan meraih pundak saudara kembarnya. "What do you mean, Miss Frydenlund?"
"Miss Frydenlund? Kata panggilan yang begitu asing. Lebih baik kita mulai latihannya, lusa sudah perang." Elak Sherly.
Ia tidak mungkin memberitahu saudara kembarnya yang overprotektif itu, ia saja masih tidak yakin dengan tawaran Rafael.
"Darimana sih kau dapat iblis tingkat tinggi seperti dia? Sikapnya saja kurang ajar, tidak seperti Evander."
Conan terus menggerutu, namun Sherly yang sebelumnya tidak tertarik menjadi menghentikan langkahnya.
Ketika mendengar nama yang tidak asing di telinganya. "Evander itu siapa?" Tanya Sherly.
Di taman belakang kediaman Frydenlund, kedua kakak beradik Frydenlund tengah mengayunkan pedangnya sehingga benturan itu menggema.
Laki-laki itu tidak memusatkan perhatiannya pada lawannya, meski latihan, mereka harus sungguh-sungguh.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Sherly?" Conan bergumam.
Mengingat apa yang baru saja Sherly tanyakan sesaat sebelum latihan dimulai, ia bertanya tentang Evander.
Orang yang sangat dekat bahkan sudah seperti adik kakak itu melupakannya begitu saja. Dan lagi, kehadiran Evander saat ini jarang sekali dilihatnya.
"Hei, Sherly." Ujar Conan pelan.
Kedua saudara itu saling menjaga jarak sembari menunggu apa yang akan diucapkan Conan selanjutnya.
"Kau perlu diobati." ujar Conan.
Kedua mata Sherly melebar, sekejap bilah pedangnya itu terayun dengan cepat di depan mata Conan.
Sesuai dugaannya, ada sesuatu yang terjadi pada gadis ini. Sejak kedatangan Edvard dan Keenan, Evander tidak lagi menunjukkan kehadirannya.
Terlebih lagi Sherly mendapatkan iblis yang bernama Rafael. "Apa begitu sikapmu terhadap kakakmu?"
"Kau berbeda. Apa yang iblis itu lakukan padamu?" Bisik Conan terdengar kesal.
Sekuat tenaga laki-laki itu mendorong mundur Sherly, gadis itu memang tidak dalam kondisi prima.
Tapi, mendorongnya untuk mundur beberapa langkah saja sudah membuat Conan lelah. Gadis ini bukan gadis biasa. "Iblis? Rafael atau Edvard?"
"Rafael." Nada datar yang diselingi kuda-kuda.
"Dia tidak melakukan apapun, dia membantuku." Sahut Sherly.
Serangan Sherly terhentikan karena mendengar nada kekehan dari laki-laki di sebrangnya. "*You look like Gavin, Sherly*."
"Jika kita berseteru, siapa yang akan menang?" Conan berceletuk membuat suasana taman menjadi tegang.
Gadis itu tercengang dengan pertanyaan yang sama sekali tidak diduganya. "Bukan apa-apa, lupakan." Ujar Conan pelan.
Bukan karena alasan lain, melainkan anehnya sikap Sherly. "Keenan. Apa dia tahu tentang ini?" Gumamnya.
"Kau Conan Frydenlund, bukan?" Celetuk seseorang.
Laki-laki yang menundukkan kepalanya dengan api amarah yang membawa serta tangan yang menggenggam pedang dengan eratnya, itu mendongkak.
Seorang laki-laki dan perempuan dengan rambut putih dan mata biru, seperti albino. "Ya, aku Conan Frydenlund, saudara kembar Sherly Frydenlund. Kenapa?" Sahut Conan.
Dengan mudahnya, Conan menerima ajakan mereka untuk berbicara di tempat lain. Laki-laki itu tidak mengetahui jika ada iblis yang bermata biru.
Namun sesaat sebelum Conan menyetujui ajakan itu, Sherly menghampirinya dengan ayunan pedang mengarah ke dua orang itu.
Dengan santainya, laki-laki berambut putih itu menahannya dengan membuat kristal. "Mau apa kau dengan adikku?" Tekan Sherly.
Rafael tidak lagi dalam wujud manusianya, menurutnya, itu memakan banyak energi. "Kau Ask dan Vegard, bukan?" ujar Rafael.
"Ask dan Vegard? Siapa mereka?" Tanya Sherly.
"Kekaisaran keenam dan kesembilan terdahulu." Sahut Rafael.
Kedua Raja terdahulu itu cukup terkejut dengan penampakan salah satu iblis legendaris. "Bagaimana bisa iblis legendaris seperti Tuan Ignitius bisa di sini?"
Binatang kecil bertanduk itu hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi tajamnya. "Ada urusan apa kalian mendatangi bangsa manusia?"
"Maafkan kedatangan saya dan kakak saya secara tiba-tiba, Nona Frydenlund. Tapi kau harus ikut dengan kami jika ingin mengetahui bagaimana kabar Evander." Ujar Vegard, perempuan dengan rambut putih sebahu dan mata birunya.
Lagi-lagi nama yang asing namun tidak asing didengar kembali diucapkan, sebenarnya siapa laki-laki bernama Evander.
"Evander? Aku tidak mengenalnya, lagipula aku tidak peduli dengan keadaannya." Ujar Sherly.
Punggung kecil yang dilapisi baju zirah itu pergi meninggalkan adiknya dengan kedua orang asing. "Evander dimana?" Tanya Conan.
Kedua kakak beradik itu saling menatap dengan tatapan bingung, Sherly lah yang memegang penuh kekuatan Evander. Namun kenapa laki-laki ini yang begitu antusias terhadap kabar Evader.
"Saat ini Evander di tahan Raja Iblis, Abian. Entah apa yang bisa membuatnya sampai tertangkap Abian, mungkin dia telah lelah hidup." Ujar Ask.
Kedua mata Conan membulat, laki-laki yang mengajarkannya cara berpedang itu ditahan oleh raja bangsa Iblis. "Lalu bagaimana kabarnya?"
Hening.
Tidak ada satupun balasan yang menjawab pertanyaannya, bukannya tidak ingin memberitahu. Tapi kedua bersaudara itu lebih tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
"Dia...diambang kematian." Ujar Ask setelah sekian lama terdiam.
"Kau berbohong? Evander itu kuat. Bagaimana bisa dia sedang berada di ambang kematian?!" Seru Conan tidak percaya.
Kedua bersaudara itu jelas tidak mempercayai apa yang diucapkan Abian kala itu, tapi memang benar, Evander tengah berada di ambang kematiannya.
Bisa saja Evander melepaskan dirinya dengan membuka segel kekuatan ayahnya. Tapi itu sama saja dengan sia-sia, Sherly yang merupakan tuannya sudah tidak mengenal dirinya.
"Kau tahu dari siapa?" Geram Conan.
"Ada teman kita yang bernama Athalla, adik dari sahabat dekat Evander yang bernama Mike. Dia yang berkunjung ke dalam ruang eksekusi." Sahut Vegard.
"Kudengar Evander dulu Raja yang memimpin bangsa iblis, apa itu benar?"
"Benar. Kita juga dulu memimpin bangsa iblis, sesudah Evander. Tapi bangsa Iblis berada di dalam genggaman Abian."
Laki-laki berambut putih itu tersenyum dengan angin yang menerpa rambutnya itu. "Kita yang mantan kekaisaran sekarang hanyalah iblis biasa, memberontak itu saja mati." Ujar Vegard.
Entah kenapa terdengar melirih. "Lalu? Apa kalian yakin Evander takut sama Abian?"
Bersambung...