The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
32. Minefields ; The other side



Wajah pucat itu mengerutkan dahinya, anak yang jauh lebih muda di hadapannya ini menyapanya seolah kenal. Bahkan mengetahui namanya.


"Kau siapa?" Tanyanya dengan nada datar. 


"Edvard Dagfinn Lounn, iblis reinkarnasi Raja keempat." Ujar Edvard.


Senyuman itu mulai memudar begitu tubuhnya terpental jauh hanya dengan tatapan mata dari Alf, jadi seperti itukah kekuatan Raja kedua? 


Dengan kekuatan itu, tubuh Edvard tidak memiliki satupun luka. Raja kekaisaran kedua bangsa iblis serta reinkarnasi raja iblis keempat, Mike.


Mungkin Edvard memiliki tingkatan level kekuatan yang berbeda di setiap penampilannya, tapi Alf bukanlah orang yang mudah dikalahkan. 


"Heh, kekuatanmu boleh juga. Pantas saja dulu kau bisa menjadi Raja iblis kedua, Alf." Kekeh Edvard. 


Seperti dugaannya, laki-laki yang bahkan terlihat jauh lebih tua darinya ini hanya diam dengan wajah yang heran. "Raja iblis kedua? Aku? Aku ini vampir, bukan iblis apalagi raja." Ujarnya. 


Netra merah, tatapan kosong dan tidak tercium aura apapun darinya. "Kau mayat hidup?" Tanya Edvard. 


"Tidak, aku hidup. Hanya saja jantungku berada di orang lain yang saat ini memerintahku." Ujarnya. 


Sebuah fakta yang tidak bisa dipercaya, dengan kepintaran otaknya itu. Mungkin Edvard mengerti apa yang dimaksud dari ucapan Alf, tapi ini adalah sebuah kebenaran yang bohong. "Apa? Jangan berbohong padaku, kakak." Tekan Edvard. 


Tidak menampakkan raut wajah terkejut, Alf di hadapan Edvard saat ni sudah seperti boneka yang di kendalikan dengan tali atau bisa disebut boneka marionette.


"Kakak? Aku tidak memiliki adik laki-laki, aku memiliki adik perempuan dan dia sudah mati karenaku." 


"Kalau begitu bagaimana jika aku bilang, akulah adik perempuanmu." Atmosfer yang dingin sedikit menarik perhatian beberapa vampire padanya. 


Perempuan, katanya. Meski memiliki bobot tinggi di bawah rata-rata, tetap saja ia laki-laki bahkan tidak terlihat seorang perempuan dari sisi manapun. "Kau laki-laki, jangan menentang fakta." Alf menggeram. 


Mungkin memang benar dirinya lah yang membunuh adik perempuannya, tapi ia sungguh tidak terima jika ada satu orang pun yang mengaku adiknya.


"Baiklah, aku bukan adikmu. Dan aku mati bukan dibunuh oleh kakakku." Seru Edvard melancarkan serangan padanya. 


Darah melawan es, siapa yang akan menang? 


Memang tidak banyak iblis yang menggunakan darah sebagai kekuatan, dan itu mengancam nyawa. Tapi Edvard adalah iblis yang memiliki banyak sekali kekuatan hanya dengan penglihatannya, dengan kata lain, Edvard meniru. 


Pijakan yang sebelumnya adalah tanah, kini berubah menjadi darah. Mata yang seperti monster itu menyala dengan getaran pada tanah.


"Sebenarnya aku malas mengerahkan kekuatanku, tapi sepertinya kau bukanlah lawan yang lemah." Geram Alf. 


"Oh baguslah, aku tersanjung meski sedikit." Kekeh Edvard keras. 


Getaran itu kian menguat, bersamaan dengan keluarnya beberapa air dari langit yang berwarna merah, Beberapa bukit kecil yang terbuat dari es mulai tercipta.


"Es dan Darah, siapa yang akan menang? Tidak ada yang tahu, mari kita buat eksperimen!" Seru Edvard. 


Mungkin es sangat menguntungkan untuk berlindung dan bertahan, juga menguntungkan untuk menyerang. Tapi es memiliki satu kelemahan, tidak bisa menyerang melalui sela terkecil. 


Contohnya, darah dalam tubuhnya.


Tidak lama, laki-laki itu terjatuh dengan lutut yang menopang tubuhnya.


Darah mulai mengalir deras keluar dari mulutnya. "Lihat, darah yang menang." Kekeh Edvard.


"Ini baru pemanasan, bocah!" Seru Alf. 


Seruan yang membuat Edvard diam. Tidak, dia sudah terdiam sejak orang yang ia panggil dengan sebutan kakak itu muntah darah.


"Kurasa kau terlalu meremehkanku, bocah!" Geram Alf sembari mengeluarkan beberapa tombak es. 


Dengan ujung yang tajam, bisa kapan saja menusuk tubuh Edvard hingga mati. Namun melawan laki-laki ini, menyerah bukanlah cara yang bagus. Meski ia tidak berniat membunuh kakaknya itu. 


Jika es bisa membuat senjata, maka darah bisa membuat penjerat. "Harusnya kau mengetahui kelemahan dari kekuatan elemenmu, Alf."


"Menyerang dengan ceroboh bukan seperti kakakku." gumam Edvard. 




Mau sampai kapan seperti ini? Sherly terus-menerus mengayunkan bilah pedangnya sampai mengenai salah satu lengan Dylan.



"Sepertinya sang Dewi perang semakin melemah, lihat! Dirimu sudah kelelahan." Kekeh Dylan. 



"Sudah kuduga! Kau hanyalah sampah tanpa pelayan bodohmu itu." Kekeh Dylan keras.



Benar. Tanpa iblis di sisinya, Sherly hanyalah orang lemah. Saat ini dirinya belum juga menggunakan kekuatan Rafael.



"Vampir lemah sepertimu tidak akan bisa mengalahkan no-"



"Rafael, diamlah." Sela Sherly dengan nafas yang terengah-engah.



Beberapa noda darah terdapat di baju zirah dan wajahnya. Tangannya tidak bisa menggenggam lebih dari ini.



Namun, ia juga tidak bisa kalah dengan salah satu bangsa yang sangat ia benci. "Hei, kegigihanmu mengingatkanku pada ayahmu." Bisik Dylan.



Detak jantungnya berpacu lebih cepat dua kali lipat. Ia memang membenci seluruh anggota keluarga Frydenlund, terkecuali Conan.



Menurutnya, Frydenlund itu sampah.



Tapi, orang dari bangsa yang di bencinya melibatkan ayahnya dalam pertarungannya dengan gadis ini. "Apa? Kau marah? Baguslah, cepat serang aku!" Kekeh Dylan.



Vampir gila. Tidak, semua Vampir itu gila. Tapi baru kali ini Sherly tidak menolak perintah lawannya.



Terlanjur tersulut emosi, Sherly mengangkat tinggi bilah pedang itu. Bersamaan dengan berubahnya netra matanya, tubuh Dylan terhempas.



Jika tidak mengerahkan kekuatan, Dylan sudah mati dengan tubuh yang terbelah dua.




"Frydenlund itu sampah. Tapi terlalu berharga untuk diucapkan olehmu." Ujar Sherly pelan.



Beberapa bercak darah keluar dari akses bicaranya. "Heh, kau menghina keluargamu sendiri." Kekeh Dylan.



"Kenapa? Memang benar, Frydenlund itu sa-"



"Kalau sampah, kenapa kau menjadi kepala keluarga Frydenlund?" Sela Dylan.



Serangan yang ingin di luncurkan itu terhenti di bawah air hujan yang turun dengan derasnya.



Jika bertanya kenapa, ia juga tidak tahu jawabannya. Tapi jika bertanya apa yang membuatnya seperti ini.



Ia akan menjawab, ini karena kedua orang tuanya. "Kau terlalu banyak bicara." Ujar Sherly, sedikit menggeram.



Beberapa kenangan buruk terbelit di benaknya, itu membuat memundurkan langkahnya perlahan.



Semua kenangan masa dimana ia tidak ingin mengingatnya, masa dimana dirinya berusia 6 tahun.



Itulah masa-masa dimana ia membenci dirinya lahir dalam keluarga Frydenlund.



"*Nona, sudah pukul 6 pagi. Tuan besar meminta nona bersiap untuk latihan menembak*."



*Pelayan itu berkata dengan sopan meski tahu gadis kecil itu kelelahan. Anak yang ceria itu sepertinya telah tenggelam dalam ambisi orang tuanya*.



*Hanya ada kekosongan dalam diri Sherly. "Baik, aku akan bersiap." Tatapan mata aquamarinenya benar-benar hampa*.



*Usia dimana anak kecil bermain dengan teman, pergi berjalan ke taman hiburan*.



*Tapi tidak dengannya yang menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk mengabdi pada Ratu*.



"*Ayah." Panggil Sherly*.



*Tidak hanya dirinya, sang kakak sulung pun berada dalam genggaman sang ayah*.



"*Kau lama, seorang ksatria tidak boleh terlambat." Sang ayah berucap dengan nada tinggi*.



*Ksatria? Sherly hanya menginginkan kehidupan normal. "Aku tidak ingin menjadi ksatria, ayah*."



"*Itu membo*-"



*Belum sempat gadis kecil itu menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan mendarat di pipinya dengan tubuh yang terjatuh*.



*Bukan pukulan dari kepalan tangan yang ia terima, melainkan dari tongkat rotan yang selalu dibawa ayahnya*.



"*Ayah!" Seru sang kakak*.



"*Kau membelanya*?"



"*Kau membela seseorang yang gagal*?"



*pukulan berasal dari rotan itu membekas di pipinya, tubuhnya terlalu lemah untuk berada di medan perang. "Aku bukan orang gagal." Gumam Sherly*.



"Sampah, semuanya sampah." Geram Sherly.



Tersulutnya emosi Sherly bersamaan dengan berbedanya hawa keberadaannya. Dylan cukup terkejut merasakan tekanan yang berbeda dari Sherly.



"Ya, sampah." Bisik Dylan.



To be continued...