The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
07. Hidden mystery



Langkah pria itu berhenti ketika Damian berseru di hadapannya, pria itu membalikkan tubuhnya dengan gadis yang penuh luka yang berada di dekapannya itu. Mata merah itu melirik tajam kepala keluarga Gvrilltenn. 


"Bersyukurlah kau, Damian Gvrilltenn. Kau mendapatkan kemurahan hatiku karena Nona Sherly tidak memerintahku untuk membunuhmu hanya karena kau adalah mantan kekasihnya dulu, tapi sampai kau melukainya lagi..."


"Kau tidak akan kulepaskan begitu saja, meski Nona melarangku." Langkah kaki yang meninggalkannya di ruang eksekusi yang gelap dan penuh darah di tangan dan pakaiannya. 


"Memangnya siapa kau?" Seru Damian sembari belari menyusul Evander yang masih dengan raut wajah marahnya. 


"Siapa saya itu tidaklah penting, Tuan Gvrilltenn."


"Aku hanya seorang iblis yang datang di antara para malaikat berwajah dua, Tuan Gvrilltenn." Lanjutnya sembari membungkukkan tubuhnya, lalu pergi tanpa menoleh lagi.


Untuk kedua kalinya, Damian Gvrilltenn ditinggalkan dalam keheningan dan kehampaan kehidupan oleh Sherly Frydenlund. 


"Apakah kau terlalu lemah dengan yang namanya Cinta, Nona Sherly." gumamnya dengan mata merahnya yang memandangi wajah cantik yang di penuh luka sayatan dan darah yang terus menerus keluar. 




Evander terus berdiri di depan pintu kamar gadis yang baru saja ia selamatkan, wajahnya tidak terhindar dari aura keamarah yang tinggi. Sampai pada akhirnya, pintu bercorak emas di warna merah itu terbuka dan menampilkan seorang wanita tua dengan nampan di tangannya. 



"Ah, apa Nona sudah sadar?" Tanya Evander. 



"Belum. Seperti biasa ya, Evander. Kau begitu mengkhawatirkan Nona Sherly." Kekeh wanita tua itu. 



Kepala itu menunduk, mata merah itu menatap ujung sepatunya yang menapak di karpet merah itu. "Tentu saja, Nona sangat berarti bagiku, Madam Lynelle." Ujarnya dengan senyuman tipis. 



"Syukurlah, dengan adanya kau setidaknya Nona banyak bicara daripada sebelumnya. Apalagi sebelum adanya kau, nona selalu mengurung diri di dalam kamar." Wanita tua itu mengeluarkan cairan bening dari iris mata abu-abunya. 



"Waktu itu dia masih kecil, sudah pasti trauma dengan kejadian pembantaian itu. Tapi dengan keberadaanmu sepertinya trauma itu perlahan menghilang, terimakasih, Evander." Ujarnya sembari terkekeh kecil. 



Wanita tua itu perlahan pergi dengan kotak obat dan sebuah nampan yang berisi air untuk membersihkan darah gadis cantik itu. "Pergi dan temanilah dia, Evander." Ujar wanita tua itu. 



Kaki jenjang itu perlahan melangkah memasukki ruangan yang hening dan tenang, inikah kamar yang memuat semua memori kenangan buruk dari gadis cantik bernama Sherly Frydenlund. "Eh, Nona sudah siuman?" Tanya Evander kaget. 



"Ah, baru saja aku sadar. Terimakasih, Evander. Dan maaf, merepotkan." Ujarnya pelan. 



Mata merah dari gadis  itu memandang keluar jendela dimana pemandangan hutan dan halamannya terlihat jelas, sampai pada akhirnya suara seruan dan langkah kaki mendekat. "Yo, Sherly! Lama tidak berjumpa." Seru seorang laki-laki.



"Untuk seorang bangsawan kau tidak memiliki tata krama dan etika bangsawan ya, Conan." Ujar Sherly. 



"Maaf, Tuan. Tapi Nona sedang terluka, seba-" Baru saja Evander ingin memisahkan kedua orang yang sedang berdekapan itu, mata merahnya melihat betapa bahagianya Sherly bertemu dengan laki-laki bernama Conan itu.



"Tidak apa, Evander. Dia itu adik kembarku, namanya Conan Frydenlund." Sela Sherly. 



"Dia siapa? Tampan sih, tapi lebih tampanan aku kan, Sherly?" Ujarnya sembari mengedipkan sebelah mata *aquamarine*-nya itu. 



"Apa?" Tanya Evander tidak terima. Meski laki-laki bermata *aquamarine* seperti Sherly, ia sungguh tidak terima dengan ucapannya itu. "Tapi kenapa adik Nona tidak tinggal disini?" 



"Karena Sherly tidak ingin aku berada dalam lingkup kegelapan, keluarga Frydenlund penuh dengan kegelapan. Dan entah kenapa kakakku yang cantik ini membiarkan aku dikelilingi malaikat." Kekeh Conan sinis. Entah kenapa sifat dan auranya berubah drastis dari pertama kali datang. 



Aura yang mencekam, berbeda dengan yang tadi. "Malaikat bermuka dua itu memuakkan." Lanjutnya dengan kerutan di dahinya. 



"Conan." Panggil Sherly begitu tahu adiknya tidak bisa mengendalikan amarahnya. "Ah maaf-maaf, nah paman main yuk!" Ajaknya dengan senyuman manis itu. 



"Nama saya Evander Geino Ignitius, Tuan Muda." ujar Evander.




"Seperti yang diduga, anggota keluarga Frydenlund memang penuh misteri." Ujar Evander dengan tubuh yang membungkuk. 



"Untuk Tuan Muda Frydenlund, maaf. Tapi saya masih ada urusan dengan Nona Sherly." Tolaknya halus. 



"Apa?" Seru Conan. 



Sherly hanya bisa menghela nafas lelah ketika melihat adik kembarnya berteriak tidak terima pada pelayan pribadinya ini, ia sedang terluka bisakah memberi waktu istirahat satu hari saja? Ia benar-benar lelah. 



Gadis itu pun tertidur dengan posisi terduduk sembari bersandar di headboard ranjang sampai pada akhirnya Evander memberi isyarat pada Conan agar tidak berisik. "Astaga, kau ini bodoh atau apa sih? Hanya demi meneruskan tujuan utama keluarga kita kau sampai mengabaikan waktu istirahatmu." Hela Conan. 



"Andai kak Gavin masih hidup, mungkin kakak ga harus merasakan jahatnya kegelapan di dunia. Terutama saat di medan peperangan." Ujarnya pelan. 



Aura yang ceria itu kini berubah menjadi aura penuh amarah seperti aura Sherly, gadis itu penuh amarah dan balas dendam. "Dryas dan Abian brengsek itu sudah memanfaatkan Sherly dengan mudahnya, bangsa sialan." Geram Conan. 



Manik merah Evander membesar mendengar nama seseorang yang tidak asing di dirinya. Seseorang yang pernah dekat sebelum dirinya pergi. "Abian? Maksudmu Raja para iblis, pemimpin salah satu bangsa yang memerangi bangsa manusia?" 



"Tentu saja, dulu ketiga bangsa itu sangat hidup berdampingan sampai pada akhirnya Ratu, Raja Vampir dan Raja Iblis itu membuat kesepakatan pada ketiga bangsa itu." ujar Conan dengan nada pelan.



"Dan pada kesepakatan itulah perang mulai terjadi, sampai pada akhirnya semua anggota keluarga Frydenlund tewas secara mengenaskan oleh bangsa Vampir dan Iblis. Dan tersisa hanya aku dan Sherly." Conan melanjutkan ucapannya.



Iris mata yang menatap sendu gadis yang tengah tertidur dengan perban yang menutupi wajah serta tangan gadis cantik itu berkata. "Evander, berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkan Sherly dalam keadaan apapun. Aku tidak ingin dia kehilangan seseorang lagi." Ujarnya tanpa menoleh. 



"Tanpa kau katakan itu, aku sebagai pelayan pribadinya akan selalu menemaninya sampai maut memisahkan." Sahut Evander dengan lantangnya. 



"Bagus jika begitu, tapi jika kau berbohong. Aku sebagai Adik bungsu keluarga Frydenlund tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Camkan itu." Tegasnya. 



"Evander! Ada beberapa Vampir mengepung rumah ini!" Seru Kaylie. Kedua mata mereka membulat seketika. 



"Apa katamu? Beraninya mereka mengganggu waktu istirahat Sherly. Tidak akan kubiarkan." Geram Conan sembari mengambil sesuatu di balik jas hitamnya. 



"Kaylie, kau jaga disini. Jangan sampai Sherly tersadar dari istirahatnya dan kau Evander, ikut aku." Titah Conan mutlak. 



"Huh, memangnya siapa kau memerintahku? Tanpa kau perintah akan ku bunuh semua Vampir itu." Ujar Evander tidak suka. 



Kedua laki-laki itu berjalan melangkah di dalam lorong yang penuh dengan bingkai foto leluhur Frydenlund. "Kenapa anak itu masih menyimpan foto pengkhianat?" Gumamnya. 



"Pengkhianat?" Evander bertanya.



Anak laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke depan. "Tidak, maksudku foto leluhur terdahulu." Elak Conan dengan iris mata yang terlihat amarah yang besar. 



'*Pada akhirnya, aku Conan Frydenlund memasuki dunia kegelapan*.'



Bersambung...