
"Sherly, kau mau kemana pagi-pagi buta seperti ini?" Tanya Conan begitu dirinya baru saja keluar dari kamar tidurnya dengan piyama yang masih melekat erat di tubuhnya.
Sedangkan Sherly, terlihat sangat cantik dengan gaun yang ia pakai. Tidak seperti biasanya yang memakai pakaian perang seperti baju zirah. "Oh kau sudah bangun? Aku hanya ingin jalan-jalan, hari ini tidak ada latihan. Jadi istirahat lah." Ujar Sherly.
Melihat punggung yang mulai menjauh dari pandangannya itu membuat dirinya merasa bahwa dirinya telah di tinggalkan, entah itu dengan Sherly ataupun bibi angkatnya yang mengasuhnya saat ini. "Aku ikut!" Seru Conan.
Sebuah acara sederhana yang diselenggarakan oleh para rakyat biasa, di situlah Sherly dan Conan berada. Hanya untuk melihat dan menghibur diri mereka yang sudah lelah bertarung dan berperang hanya untuk melindungi rakyat yang sama sekali tidak menganggap keluarganya itu ada.
"Jadi ini acara sederhana yang kau bilang, Conan?
"Ya, namanya bazar. Di bazar, biasanya banyak para pedagang yang dagang makanan, benda-benda antik. Jadi-"
Gadis yang baru saja melihat acara sederhana itu mendelik tidak suka, meski dirinya sama sekali tidak pernah menapakkan kakinya di perumahan rakyatnya. Tetap saja ia tahu hal sepela macam itu. "Aku tahu itu hanya dengan melihat sekali saja, Conan Frydenlund." Sherly mendelik.
"Ah kau Nona Sherly?" Celetuk seorang anak kecil dengan mahkota dari karangan bunga. Cantik, seperti putri kerajaan.
Seorang wanita tua berlari kearahnya sembari berseru keras dengan butir-butir keringat di keningnya. "Sherra, jangan lancang seperti-"
"Tidak apa, Nyonya. Saya suka anak kecil, dia cantik seperti ibunya." Ujar Sherly lembut. "Ah. Terima kasih atas pujiannya, Nona Sherly. Tapi putri saya tidak secantik apa yang diucapkan oleh Nona Sherly." Ujar wanita itu menundukkan kepalanya.
Gadis itu terdiam, detik berikutnya gadis itu menyamakan tingginya dengan tinggi anak kecil itu sehingga membuat wanita tua itu terkejut. "No,nona!" Seru wanita tua itu panik.
"Putri anda beruntung, Nyonya. Sekecil ini masih merasakan kasih sayang orang tua, berbahagialah." Ujar Sherly. "Sherra. Nama yang mirip denganku." Kekeh Sherly.
"Maafkan saya, Nona."
"Kenapa kau meminta maaf, aku tertawa karena aku senang." Ujar Sherly heran.
Wanita tua itu melebarkan matanya, seorang dewi perang tidak sekejam dan sedingin yang seperti apa dirumorkan. Itu hanya rumor yang berisikan kritikan untuk gadis yang berusia 18 tahun.
Gadis yang seharusnya menikmati masa muda, dan bukan menikmati bagaimana pemandangan saat peperangan. "Ah maaf, saya harus pergi. Sampai jumpa Sherra, Nyonya." Ujar Sherly.
"Ah tidak apa-apa, Nona. Suatu kehormatan bagi saya berbicara pada Nona Sherly." Sahut wanita tua itu sembari membungkukkan tubuhnya.
Punggung kecil yang di dampingi kedua orang laki-laki itu mulai menjauh dan terhalang oleh banyak orang yang berkunjung. Sampai pada akhirnya wanita tua itu tersenyum manis pada putrinya yang memegang kepalanya.
"Syukurlah, Sherra." Ujar wanita itu.
"Sherly, kau mau kemana sih? Kita sudah keliling taman ini sebanyak 5 kali, aku lelah." Rengek Conan.
Sherly berdiri tepat di samping Conan yang mendudukkan dirinya yang lelah berjalan selama 2 jam tanpa istirahat. Sedangkan Evander hanya diam berdiri tegak di belakang Sherly. Banyak sepasang mata yang menatapnya kagum.
"Disini ada kue desa kan? Aku akan membeli dulu, kau tunggu disini saja."
"Tapi Nona..." Evander menentang. Namun terlambat, Sherly sudah berjalan dan tenggelam di antara banyaknya pengunjung. "Biarkan saja lah, Sherly sudah dewasa sudah seharusnya bisa jaga diri." Cetus Conan.
"Bukan itu yang saya khawatirkan, Tuan Frydenlund. Tapi-"
"Para iblis itu tidak akan menyerang dengan mudah di banyaknya manusia, Evander." Sela Conan.
"Atau jangan-jangan kau takut jika Sherly tertarik sama salah satu laki-laki?" Kekeh Conan keras.
Lirikan mata merah yang tajam sehingga Conan tidak dapat menatapnya kembali, sialnya mata itu terus menatapnya secara mengintimidasi. "Untuk apa kau marah jika itu tidak benar? Pelayan tidak seharusnya tertarik pada tuannya, tugas pelayan itu membiarkan tuannya bahagia." Ujar Conan terus terang tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.
"Untuk apa saya menyukai Sherly? Dia majikan saya, dan saya pelayannya yang tidak akan pernah menyukainya. Sepertinya kau salah paham, Conan Frydenlund." Kekeh Evander.
Sherly terus berjalan tanpa tahu arah, sampai pada akhirnya tubuhnya itu terus menerus terdorong oleh laki-laki bertubuh besar di sekitarnya itu. "Sialan." Geramnya.
Sehingga sebuah tangan menarik lengannya untuk keluar dari kerumunan itu, mata aquamarinenya itu memandang dari bawah sampai ujung rambut, seorang laki-laki dengan rambut coklat dan warna mata seperti biru pudar. "Syukurlah kau tidak apa-apa." Hela laki-laki itu.
Entah sudah berapa lama Sherly tidak merasakan hal seperti ini, sebuah hal yang mendebarkan jantungnya. "Nona? Apa kau baik-baik saja?" Tanya laki-laki itu sembari melambaikan tangannya di depan wajahnya.
Satu kata untuk laki-laki ini, tampan. Hanya kata itu yang muncul dalam benak Sherly. "Ah, ya. Aku tidak apa-apa. Tapi siapa kau?" Tanya Sherly dengan kedua pipi yang memerah.
Hal langka untuk dilihat bahwa Sherly terlihat malu menatap lawan bicaranya. "Saya Keenan Rauntbent, nona."
"Sherly Frydenlund, itu namaku." Sahut Sherly.
Tangan yang jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali di sentuh oleh laki-laki asing dan tidak dikenal, kini di genggam dengan erat. Dan bahkan dirinya sama sekali tidak menolaknya, sampai pada akhirnya seseorang berceletuk. "Lepaskan." Celetuk seseorang.
Iris mata merah yang mengintimidasinya dan tatapan tajam darinya membuat laki-laki itu dengan tidak sengaja menghempaskan tangan Sherly begitu saja. "Evander, berhentilah menatapnya." Hela Sherly.
"Kau siapa berani sekali mendekati kakak ku?" Tekan Conan.
"S,saya Keenan Rauntbent." Sahutnya dengan gugup. Bagaimana tidak, kedua laki-laki yang berdiri tegak di kedua sisi Sherly menatapnya dengan tatapan menyalang. "Keenan? Aku baru mendengar nama itu, sepertinya tidak ada dikeluarga bangsawan manapun. Apa kau rakyat sini?" Tanya Conan.
Dan entah kenapa Sherly merasa itu hal yang sensitif untuk ditanyakan pada seseorang yang bahkan baru kenal saat itu juga. "Conan Frydenlund, dimana sopan santunmu?" Tekan Sherly.
"Apa? Aku hanya bertanya padanya." Geram Conan.
"Tidakkah kau sadar bahwa pertanyaanmu itu adalah hal sensitif baginya? Minta maaf." Ujar Sherly dingin.
Nada dingin Sherly cukup membuat laki-laki di sampingnya itu membeku, kali pertama Sherly berbicara dengan nada sedingin ini padanya. Bahkan hanya karena seorang pria tidak dikenal? "Maaf, aku salah." Ujar Conan.
"Ah, tidak seharusnya Nona Frydenlund melakukan hal itu. Terlebih lagi sampai menyuruh adiknya meminta maaf pada saya." Ujar Keenan tidak enak.
"Kau...ngapain di sini?" Tanya Sherly terbata-bata.
Nada bicara yang semula dingin itu berubah menjadi lembut bahkan terdengar malu, satu pertanyaan terlintas di benak Conan. Apa Sherly mencintai pria ini? "Ah, saya tadinya mau membeli aksesoris buat adik sepupu saya yang ulang tahun sabtu ini, Nona Frydenlund."
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Sherly.
"*What the hell, Sherly. That is not*-"
Bahkan saat ini saudara kembarnya itu menanyakan suatu hal yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya, ada apa dengan gadis ini. "Em ... perempuan." Sahutnya.
"Kalau begitu, kau pasti bingung hadiah seperti apa yang cocok untuk seorang gadis." Tawar Sherly.
Tidak masalah bagi Keenan untuk menerima tawaran dari seorang Dewi perang yang terdengar kejam dan dingin, tapi bagaimana dengan kedua laki-laki yang disisinya sedari tadi diam membeku. "Saya tidak masalah dengan hal itu, tapi-" Ucapan yang terhenti karena lirikan matanya yang menatap Evander dan Conan.
"Mereka tidak apa, ayo." Ajak Sherly.
Dengan cepatnya mereka berdua pergi tanpa memikirkan bagaimana kacaunya perasaan Conan dan Evander saat ini juga. "Sherly..."
"Dia...mengajak laki-laki pergi? Aku tidak percaya hal ini terjadi, ini pasti mimpi buruk." Geram Conan tidak menyangka.
Sedangkan Evander hanya diam dengan lirikan mata merah yang menatap tajam laki-laki yang pergi dengan Sherly tanpa membiarkannya ikut. "Sial." gumamnya.
Bersambung...