The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
11. Devil: The anger of the former King of the Demon race



"Apa ini?" Sentak laki-laki itu. 


Belum juga ia menarik kembali nafasnya itu, tapi Evander sudah membuatnya berdarah pada bagian hidungnya. Sebenarnya seberapa benci Evander dengan bangsanya sendiri. "Kau itu siapa?" Seru laki-laki itu. 


"Fred, jaga ucapanmu pada mantan Raja Kekaisaran ketiga." Celetuk seseorang. 


Laki-laki muda itu tertegun cukup lama setelah mendengar apa yang diucapkan oleh sang kakak sulungnya, Jade.


"Mohon maaf atas sikap adik bungsuku, Raj Kekaisaran ketiga, Evander Geino Ignitius." Ujarnya sopan serta tubuh yang membungkuk. 


"Oh tak kusangka kau memihak pada Abian, Jade Vàn Cardelio." Seringai Evander.


Dulunya, Jade Vàn Cardelio adalah pendampingnya yang paling setia, pria dari keluarga Cardelio ini seseorang yang kuat bahkan Evander pun mengakuinya. 


Tapi setelah kejadian itu, Evander ditinggalkan oleh pendampingnya ini. Entah kemana Jade pergi, tapi yang pasti ia saat itu sangat kesepian sampai pada akhirnya Evander menemui Sherly.


"Maafkan saya, tuan Ignitius. Tuan Ignitius bukanlah Raja sekarang, jadi aku tidak perlu sungkan," 


"Untuk menyerangmu." Lanjut Jade.


Senyuman miring itu tidak juga sirna dari wajah Evander, bahkan saat Jade menyerangnya dari belakang. "Jade, kau ingat saat kau berlatih di halaman belakang kediaman Ignitius?" 


Nada ceria dan senyuman itu memang membuat Jade cukup ragu menyerangnya, terlebih lagi tatapan yang tersirat dari iris mata merah Evander. "Hanya ada kekosongan disana, apa ini karena diriku?" pikir Jade.


"Kau sangat gigih berlatih setelah aku berkata jika kau mau jadi pendampingku, kau harus menang melawanku." Kekeh Evander.


"Tuan-Evander, berhentilah berbicara. Kau sendiri yang katakan padaku untuk tidak mengajak lawan berbicara." Tekan Jade. 


Evander mundur. Ia mengulurkan tangannya kepada Jade sembari tersenyum. "Jade, bagaimana jika kau ikut denganku. Aku akan membuatmu jadi lebih kuat dari sekarang." Tawar Evander.


Penawaran yang sangat menggiurkan bagi siapa saja yang mencari kekuatan besar, terlebih lagi seorang Tuan Muda dari keluarga Ignitius yang legendaris itu. Siapa yang tidak menerimanya, kecuali Jade.


"Aku menolak! Evander, kau menawarkan hal ini sama saja meremehkanku." Geram Jade. 


"Hahahaha, Jade. Sejak kapan kau menggeram di hadapanku?" Kekeh Evander keras. 


"Sepertinya Evander sedang ada urusan sebangsanya, terlebih lagi orang itu sepertinya orang terdekat Evander." Ujar Sherly pelan. "Iblis sialan, kau mau kemana?" Seringai Conan. 


Aura hitam yang dikeluarkan oleh Conan benar-benar menakutkan bagi para iblis itu, siapa yang tidak lari jika ada pembunuh yang mengejar. "Kalian harus tanggung jawab pada kakiku!" Seru Conan. 


Hanya Conan yang turun tangan, prajurit iblis itu musnah dengan cepatnya. Sungguh mengejutkan. "Nona, apa tidak apa jika membiarkan tuan muda Frydenlund mengamuk?" Tanya George. 


"Jika cemas, kau hentikan saja." Kekehnya. 


"Saat ini yang aku cemaskan bukanlah Conan, tapi Evander. Jika hilang kendali maka urusannya tambah besar, George. Biarkan Conan melakukan apapun yang dia mau." Ujar Sherly serius. 


Keheningan antara Jade dan Evander, tatapan menyedihkan dari Evander sungguh membuat hati Jade terkikis perlahan-lahan. "Hentikan perasaan ragumu itu, kau tidak perlu menganggapku sebagai tuanmu lagi." 


"Karena saat ini kita adalah musuh." Sambung Evander. 


Musuh? Memang benar, tapi kenapa rasanya sakit ketika mendengar fakta jika dirinya bermusuhan dengan tuannya, seseorang yang membuatnya kuat. "Kenapa kau berpihak pada keluarga Frydenlund?" 


"Kenapa kau bertanya kenapa, Jade? Tentu saja karena aku dan Sherly itu sama." Bisik Evander. 



Suara ricuh yang diciptakan dari pertarungan Jade dan Evander membuat orang yang berada di lokasi memusatkan perhatiannya sampai Sherly pun tidak menyadari bahwa Conan telah selesai membunuh semua iblis itu. 



"Evander marah sampai seperti ini?" Kekeh Conan canggung. 



Kekuatan yang Evander kerahkan terlalu besar sampai membuat beberapa pohon tumbang, apa Evander semurka ini sampai harus mengerahkan sebagian kekuatan miliknya. "Nona, terlalu berbahaya disini. Lebih baik-" 



"Diam lah, aku tidak akan kemana pun sampai pertandingan Evander selesai." Sela Sherly. 



Dalam pertandingan kali ini, tidak menutup kemungkinan jika Evander marah dan kecewa pada seseorang yang pernah menjadi pendamping setianya dulu kala.



"Jade, sampai kapanpun kau tidak akan bisa mengalahkanku. Berhentilah memihak Abian dan ikut denganku." Ujar Evander mencoba tenang. 



"Apakah saya kelihatan gila akan kekuatan, Evander?"


Manik mata Evander memerah, semua api kemarahan sontak terus membakarnya hingga berada di ambang batas kemarahan.




"Kau membuatku muak, Jade. Ini adalah pertama kali aku mengerahkan kekuatan sebesar ini hanya untuk melawanmu, Jade."



"Tapi kau hanya melawan ku dengan kekuatan kecil? Kau meremehkanku." ujar Evander.



Sebelum sesaat Evander membunuh pendamping setianya itu, tatapan serta senyuman manisnya ia ukir di wajahnya yang penuh luka kecil itu. "Selamat tinggal, Jade-" 



"Brengsek, jangan kau bunuh kakakku!" Sergah laki-laki itu. 



Melihat air mata yang mengalir itu, Evander berdecih kesal. Lalu meninggalkannya begitu saja tanpa mengeluarkan satu kata pun.



"Maaf membuatmu menunggu lama, Nona. Kita bisa pulang sekarang." Ujarnya dengan tubuh yang membungkuk. 



"Lukamu-"



"Saya tidak apa, Nona. Sebaiknya kita segera pulang sebelum matahari terbenam." Sela Evander.



Senyuman yang Evander ukir itu adalah senyuman yang menutupi api amarahnya selama ini.



'*Evander...sampai kapan kau memakai topeng*.'



Iris mata Sherly melirik Jade yang tersungkur dengan darah di sekitarnya, serta adik laki-lakinya yang duduk di samping tubuhnya. "Keluarga kah?" Gumam Sherly.



"Aku masih keluargamu, Sherly." Sahut Conan keras. Nadanya itu membuat Evander dan George memusatkan perhatiannya padanya.



"Kau berbicara hal yang tidak kumengerti!" Tekan Sherly.



Langit sore yang terlihat cukup gelap seolah hujan akan turun, sepanjang perjalanan kereta kuda sama sekali tidak ada satupun suara terkecuali suara tapal kuda yang berjalan. Sherly ingin berceletuk, namun takut menyinggung Evander. 


Terutama masalah Jade, laki-laki yang baru saja bertarung melawannya. "Nona, ada apa?" Celetuk George. 


"Ah, tidak ada." Elak Sherly. 


"Nona terluka karena dampak kekuatan saya?" Ujar Evander dengan raut wajah cemasnya. "Tidak! Aku tidak apa." Kekeh Sherly. 


Karena pertama kali lihat Evander marah, entah kenapa rasanya menjadi asing di dekatnya. Rasa takut yang menyelimutinya ini sungguh membuatnya berkeringat dingin.


"Anda tidak perlu takut dengan saya, Nona. Selagi ada perjanjian itu, saya tidak akan melukai Nona." Bisik Evander. 


Sepanjang perjalanan itu, Sherly terlamun memikirkan perkataan Evander pada setiap kalimatnya. Berbeda sekali dengan Conan yang sudah terlelap karena lelah. "Nona, kita sudah sampai." Ujar George menyadarkan lamunan Sherly. 


Pikirannya kalut, sampai tidak sadar bahwa langkah kakinya menapak pada tangga yang salah sehingga ia terjatuh. Namun George, sang panglima perang segera menangkapnya. "Hati-hati, Nona." Tukas George. 


"Ah, terima kasih." Ujarnya. "Nona, apa benar tidak terluka? Setelah pertarungan Evander, sepertinya nona lebih banyak diam." Ujar George. 


"Aku baik-" 


"Sepertinya Nona terkena efek samping kekuatanku, sebaiknya nanti tunggu di ruang perpustakaan saja." Sela Evander sembari mendekatkan wajahnya. 


Bersambung...