
"Kau itu siapa sih? Aku itu tidak mengenalmu, yang kutahu adalah para Vampir dan Iblis itu membantai semua kerabatku." Ketusnya.
"Tapi, aku ini-"
Sherly, gadis itu menarik kembali bilah pedang yang berhasil menembus tubuh dari Gavin, salah satu Vampir terkuat di antara salah satu kubu yang paling ditakuti, yaitu Vampir. "Argh." Rintih Gavin kesakitan.
"Hei, hentikan majikanmu itu. Gavin ... dia tidak boleh mati." Bisik Ethan.
Senyuman lebar mengembang di wajah tampannya yang penuh luka itu, lalu berkata. "Aku tidak memiliki hak untuk menghentikan majikanku, karena itu tergerak karena hatinya bukan karenaku." Kekehnya.
Decihan terdengan samar di telinga Evander, matanya membulat ketika melihat semua para Vampir bangsawan itu datang mendekat kearah Sherly dan Gavin. "Nona, larilah!" Seru Evander.
Namun di luar dugaan Evander, gadis muda nan cantik itu tidak melarikan diri atau bahkan merasa takut. Evander bisa merasakan itu, karena darah yang menetes itu sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut sedikit pun.
"Hei, Nona Frydenlund. Hebat sekali kau tidak lari ketika kami mendekat kearahmu." Celetuk Margareth. Tatapan tajam dari matanya yang merah itu membuat semuanya terkejut, terkecuali Gavin.
"Jika aku takut, bagaimana bisa aku membalaskan dendamku 5 tahun lalu?" Seringainya.
"Sherly, sampai kapanpun kau tidak akan bisa membalaskan dendammu pada Vampir bangsawan. Karena mereka lebih dari yang kau pikirkan." Sahut Gavin.
Rahang kecilnya mengeras, mata merah dengan sebuah simbol di kedua matanya itu melebar hendak menyerang para Vampir itu. Namun sebuah tangan menghentikan langkahnya. "Tenanglah, Nona." Tahan Evander.
"Kau berjanji padaku untuk mewujudkan keinginanku, Evander!" Geram Sherly. "kau sekarang sedang terluka, bagaimana bisa mengalahkan mereka?" Ujar Evander.
Kelima Vampir itu pergi meninggalkan mereka berdua, Sherly dan Evander. Senyuman perpisahan yang Gavin berikan disaat mereka terbang dengan mudahnya. "Sampai jumpa lagi, Sherly." Ujarnya lembut.
Mata merah itu memadam ketika mendengar nada lembut yang sangat tidak asing di telinganya, suara dan nada itu sangat ia kenal. Namun ia tidak ingat. "Maaf, Nona."
"Sudahlah, kita beristirahat dulu. Kau bersihkan semuanya, aku benci berantakan." Titahnya sembari memegangi kepalanya yang sakit.
'*Sampai jumpa lagi, Sherly*.'
Suara dan nada yang tidak asing itu terngiang-ngiang di kepalanya sehingga menyebabkan rasa sakit. "Anda belum tidur? Ini sudah tengah malam, Nona." Celetuk Evander.
"Kau berisik, aku tidak bisa tidur." Ujarnya kecil.
"Maaf, Nona. Tapi saya daritadi diam disini sambil nunggu Nona terlelap." Elak Evander. "Pokoknya kau berisik!" Seru Sherly. Pada akhirnya, pria itu mengalah dengan helaan nafas pelan.
Bisa-bisanya gadis berusia 20 tahun ini berseru padanya yang berusia lebih dari ribuan tahun. "Apa perlu kubacakan dongeng-"
Sebuah bantal tidur melayang dan mendarat di wajah tampannya itu, kekehan kecil keluar dari mulut pria itu. "Saya bercanda, Nona."
"Vampir rambut hitam itu," Kalimat yang terhenti itu membuat pria mata merah itu menajam. "Apa aku mengenalnya?" Gumamnya merasa tidak asing dengan wajah dan suaranya.
Tanpa izin, pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan kedua tangan yang menyatu. "Siapa yang-"
"Anda tidak mengenalnya, Nona." Sela Evander.
Tubuh ringkih itu berusaha untuk bangkit dan bersandar pada punggung ranjangnya. "Kenapa kau bisa tau?" Tanyanya curiga. "kau tidak menyembunyikan apapun kan, Evander."
"Tentu tidak, Nona." Sahutnya setelah sekian lama terdiam di ruangan yang minim cahaya itu. "Anda harus tidur, Nona." Ujarnya usai hening beberapa detik.
Hati dan pikirannya merasa aneh dengan semua jawaban dan sahutan pria ini, sedikit tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.
Gadis itu pun mulai memasuki dunia alam bawah sadar, dirinya berada di sebuah taman dengan seseorang yang berada di tepi sungai. Seolah piknik keluarga.
Ia yang masih memakai gaun tidur itu mencoba menghampirinya. "Kalian..." Gumamnya.
"*Berhentilah membalas dendammu, Sherly Frydenlund*."
"Nona!" Seru pria berseragam serba hitam itu. Dengan rasa kejut, ia membuka matanya disertai nafas yang terengah-engah.
"Hah?"
Keringat dan air mata yang mengalir, terlebih lagi detak jantung yang berpacu cepat, Evander menajamkan penglihatannya. "Nona mimpi buruk?" Tanyanya.
"Tidak, hanya mimpi aneh." Elaknya.
Mata merah itu melirik tajam kearah gadis yang sedang memandang ke luar jendela. "Hari ini Nona mendapatkan banyak surat undangan." Ucap Evander sembari merogoh saku celananya.
"Undangan apa?"
"Undangan ulang tahun Putri keluarga Gvrilltenn." Balasnya. Gadis itu menajamkan pendengarannya, apa kata pelayannya itu? "Ulang tahun? Kenapa keluarga Gvrilltenn yang musuh bebuyutan keluarga Frydenlund mengundangku?" ujarnya bertanya kembali dengan nada sinis.
Suara derapan kaki menuju kamar gadis cantik itu kian mengeras di telinganya, pintu kamarnya yang siapapun tidak berani membukanya kini terbuka tanpa izin darinya. "George, kau-"
"Nona, Kaylie hilang!" Seru George. Mata *aquamarine* yang terlihat kantuk itu membulat seketika, pelayan wanita satu-satunya yang ia punya hilang? "Apa kau yakin?"
Mta gadis itu kian menajam melirik pelayannya yang berdiri tegak di belakang tubuhnya ini. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" Seringai Sherly.
Tubuh semampai itu membungkuk hormat dengan berkata, "Tentu, Nona Sherly."
Sesuai dugaan Sherly, ulang tahun Putri keluarga Gvrilltenn benar-benar sangat meriah. Banyak yang diundang ke kediamannya ini, Putra Mahkota kerajaan Lawrence, bahkan Yang Mulia Ratu pun datang hanya untuk ulang tahun Putri keluarga Gvrilltenn, sang kriminal negara.
"Kenapa, Nona? Anda iri jika Yang Mulia Ratu datang ke acara ulang tahun anak keluarga musuh bebuyutan keluargamu? Sedangkan ulang tahunmu Yang Mulia Ratu tidak datang." Bisik Evander.
"He,hei Evander, kata-katamu itu kurasa terlalu..."
Ucapan George terpotong oleh langkah kaki Sherly yang terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan mereka berdua. "Acara ulang tahun hanyalah untuk anak kecil, dan kau benar, Evander. Ratu tidak pernah menganggap keluarga Frydenlund masih hidup, dia menganggap keluarga Frydenlund sudah mati di medan peperangan puluhan tahun lalu." Kekeh Sherly sinis.
"Jadi kau tidak salah bahwa aku memang iri pada Putri keluarga Gvrilltenn." Ujarnya pelan.
"Oh, kau datang! Kau datang, Sherly." Seru Sang Putri senang. Sehingga tanpa sadar ia menarik tangan gadis itu ke tengah-tengah kerumunan para bangsawan lainnya. "Apa Nona baik-baik saja jika kita tinggalkan?" Tanya George.
"Dia akan baik-baik saja, karena dia seorang Dewi perang." gumam Evander.
"Sherly? Maksud Putri dia adalah Sherly Frydenlund, anak bungsu keluarga Frydenlund? Bukankah keluarga mereka musnah ketika kejadian pembantaian oleh para Vampir itu?" Celetuk seseorang dengan mudahnya.
Kepala yang sedari tadi menatap dengan iris mata tajamnya itu, kini menunduk dengan mata yang membulat dengan rasa dada yang tertusuk ribuan pisau. Jadi selama ini dirinya tidak di anggap satu-satunya keluarga Frydenlund yang hidup dari pembantaian beberapa tahun lalu?
"Kenapa memangnya jika penerus keluarga Frydenlund masih hidup? Bukankah selama ini keluarga Frydenlund yang melindungi kalian dari serangan Vampir dan Iblis? Mana rasa terimakasih kalian!" Seru George yang menerobos kerumunan para bangsawan itu.
Sedangkan gadis berambut brunette itu masih terdiam karena shock dengan kalimat para bangsawan itu katakan, usaha dan perlindungan keluarganya sama sekali tidak di pandang. Keluarganya yang sudah rela berkorban demi melindungi kalian.
"Kenapa kita harus berterimakasih dengan keluarga kotor seperti keluarga Frydenlund? Itu sudah tugasnya sebagai keluarga perang, bukan? Hei Dewi Perang." Kekeh seorang pria tua dengan sebuah cangklong di tangan kanannya.
Kekehan, ejekkan, kritikan, hinaa yang keluar dari mulut mereka semua terdengar jelas di telinga Sherly. Ia masih memaafkan jika dirinya yang dihina, tapi ini usaha dan keluarganya. "Ada apa, Sherly? Sepertinya lelucon Tuan Star terlalu kasar untuk Sherly." Ujar Sang putri.
"Maafkan mereka ya-"
"...kan kumaafkan." Gumam Sherly tidak jelas. "Kau bicara apa, Sherly?" Tanya Sang Putri.
Perlahan-lahan kepala itu mendongkak dengan mata merahnya, namun kali ini mata merah itu tidak dihiasi simbol kontraknya. "Tidak akan kumaafkan kalian yang menghina keluargaku." Ketusnya terdengar sangat dingin.
"Wah wah, apa Dewi perang marah dengan lelucon kami? Kalau begitu, maafkan kami." Kekeh pria buncit.
"Kukira kalian para bangsawan inggris tidak tuli atas ucapanku tadi, ucapan yang berbunyi bahwa aku tidak akan memaafkan kalian yang menghina keluargaku." Ucap Sherly sinis.
"Evander Geino Ignitius, apa yang kau lakukan? Kemarilah." Ujarnya pelan.
Sebuah kain hitam menerpa wajah sang putri sehingga kedua pipinya tersipu malu melihat wajah tampan pria itu. "Maaf, Nona. Saya membebaskan Kaylie terlebih dahulu di ruang bawah tanah." Kekehnya secara tiba-tiba sudah berada di samping Sherly dengan membawa tubuh Kaylie yang tidak sadarkan diri.
"Kau terlambat-"
"Sherly, siapa dia?" Serunya dengan mata yang berbinar. "Dia pelayanku, Chloe Gvrilltenn." Sahutnya dingin.
"Salam kenal, Nona Gvrilltenn." Ujar Evander sopan sehingga sirat merah semakin memerah di kedua pipinya. "Tuan! Jadilah pelayanku, akan ku gaji 10 kali lipat dari Sherly." Ajaknya dengan penuh semangat.
Melihat Chloe, musuh bebuyutannya itu memandang senang kearah pelayannya membuatnya berdecih kesal. "Apa yang kau lakukan, Evander?" Bisik Sherly.
"Maaf, Nona Gvrilltenn. Nona Sherly membayar saya dengan apapun yang tidak bisa di beli di dunia ini." Tolaknya halus.
"Ah begitu, kalau begitu aku terpaksa menggunakan cara kasar." Serunya kesal.
"George, kau bawa Kaylie keluar. Aku dan Evander akan menyusul nanti setelah urusan disini selesai." Titah Sherly sembari meraih pisau kecil yang ia simpan dari balik gaunnya itu.
Bersambung...