The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
02. Wounded Goddess of war



"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya George dengan cemasnya.


Evander menaruh tubuh yang penuh darah dan bekas cambukan itu di atas ranjangnya, tenaganya habis hanya untuk menahan rasa sakitnya. "Apa yang kau pikirkan, George? Tentu Nona sedang kesakitan." Sahut Evander.


Mata hijau yang penuh kecemasan dan keteguhan itu membuat Evander cukup heran, "apakah George menyukai Nona Sherly?" pikir Evander. "Evander, apa yang kau lakukan? Panggil Kaylie kesini untuk obati lukaku." Celetuk Sherly setelah sekian lama hening.


Pria itu membungkuk hormat sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan George dan Sherly berdua di dalam kamar yang minim cahaya itu.


"George, jika kau memiliki banyak waktu untuk berdiam disitu lebih baik kau pergi bersihkan dan obati lukamu." Titah Sherly tanpa menoleh.


Memang tidak bisa di bilang ringan, luka yang di alami olehnya tidaklah ringan. Meski tidak separah luka yang di alami oleh gadis berambut brunette itu. "Maaf lama, Nona. Kaylie sudah disini." Ujar Evander dengan membungkukkan tubuhnya.


"Keluar dan tutup-"


Namun dengan santainya pria bertubuh semampai itu menyela dan memotong pembicaraan darinya. "Tidak bisa, Nona." Sela Evander.


"Apa katamu?" Ketus Sherly. Sedangkan Kaylie hanya bisa terdiam dengan kedua pipi yang tersipu malu.


Mata merahnya menatap mata aquamarine yang meneduhkan, tidak seperti tadi. "Baiklah, jangan melihat!" Titah Sherly.


Tentu, ia hampir lupa bahwa di tubuh yang terhalang pakaian serba hitam itu terdapat tanda dari perjanjian kontraknya dengan laki-laki itu. "Tentu, Nona."



Melihat tangan, pipi, dan dahi milik Sherly yang diperban itu membuat George dan Evander merasa bersalah. "Maaf atas kelalaian saya menjaga Nona." Ujar George. Sherly yang sedang membaca kertas dokumen itu mengerjapkan matanya berkali-kali.



"Kau tidak usah minta maaf, George. Ini semua sudah rencanaku." Sherly berujar.



"Rencana?" Gumam George tidak mengerti. "Kau boleh keluar jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi." Ujar Sherly.



"Ah tapi-"



"Maaf, panglima George. Saya dan Nona Sherly masih ada urusan yang harus kami selesaikan." Sela Evander.



Pria itu mendorong tubuh George, sang panglima perang secara paksa sehingga tubuh panglima itu terdiam ketika pintu ruang kerja milik Sherly di tutup keras oleh pria itu.



"Tubuh anda sudah tidak apa-apa?" Tanya Evander. Punggung lemah itu tersandar begitu saja di punggung kursinya, sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup matanya.



Evander, pria itu menghampiri majikannya yang diduga sedang menahan segala keluh kesah miliknya. "Aku lelah." Gumam Sherly.



Sebuah tangan yang memegang kepalanya itu ia tepis dengan raut wajah yang kaget. "Nona?" Tanya Evander heran.



"Ah maaf, Evander." Ujarnya pelan. Namun tatapan pria ini sama sekali tidak merasa kesal ataupun marah, melainkan hanya tersenyum manis.



"Tidak apa, Nona. Saya yang lancang." Ujarnya.



Tubuhnya tegak kembali begitu ingat apa yang harus ia bicarakan pada pelayannya ini. "Lalu bagaimana dengan misimu kemarin? Apakah berhasil?" Tanya Sherly.



"Tentu, Nona." Kedua mata merah itu terpejam karena senyuman manisnya yang siapa saja bisa terpesona melihatnya.



"Seperti kata Nona Sherly, para Vampir rendahan itu menculik manusia untuk jadi bahan eksperimennya." Ucapan itu terhenti ketika ia mengingat seseorang yang tidak bisa ia katakan.



Lirikan mata *aquamarine* itu terlihat penuh kesedihan, kesepian dan balas dendam. "Lalu? Lanjutkan, Evander." Titahnya.



"Salah satunya anggota yang ikut perang oleh Nona beberapa tahun lalu." Lanjutnya dengan ragu.



Seperti yang diduganya, raut wajah yang sedari tadi datar dan dingin kini terkejut dan terlihat terkejut mendengar hal itu. "Apa kau bilang? Eksperimen? Prajurit perang?" Gumamnya tidak jelas.



Kursi yang diduduki gadis itu jatuh begitu ia mendorongnya dengan kuat, lalu tangan itu menarik kerah seragam Evander dengan kuat.




"Anda tenang dulu, Nona-"



Suara tamparan yang keras itu membuat pria itu terkejut. "Tenang kau bilang? Manusia dijadikan eksperimen untuk membunuh bangsa manusia, bagaimana bisa aku bisa tenang?"



"Kita kembali ke kerajaan-"



Suara kaca yang pecah itu membuat gadis cantik itu membeku, namun tidak dengan Evander.



Pria itu mengangkat tubuh gadis itu dan berlari ke tempat yang aman. "Ada apa?" Bisik Sherly.



Dimalam hari dengan bulan purnama yang menyinari gelapnya malam, mata merah itu menyala dengan senyuman miring di wajah tampannya. "Sepertinya ada tikus yang mampir kesini, Nona." Ujarnya tetap dengan senyuman yang menunjukkan bahwa dirinya marah.



Baru saja tangan itu berniat untuk membuka perbannya, tangan putih dan lentik milik Evander menahannya. "Kau tidak perlu melakukan itu, Nona." Halangnya.



"Baiklah, Evander. Lakukan sesukamu, bunuh semua." Bisiknya pelan.



Bunyi langkah sepatu yang menginjak lantai beralas karpet merah itu menginterupsi gendang telinga makhluk bermata merah yang berdiri berjauhan.


Tentunya dengan lima Vampir bangsawan yang duduk di plafon rumah milik keluarga Frydenlund. "Suatu kehormatan bagi kami kedatangan tamu bangsawan seperti kalian." Ujar Evander sopan sembari membungkukkan tubuhnya.


"Apakah dia pelayan Nona Sherly yang bisa membuat Raja luka?" Celetuk salah satu vampire bangsawan berambut pirang.


"Kurasa kau bukan manusia, Wahai pelayan. Mata merahmu yang berbicara padaku." Seru seorang gadis berambut coklat.


Diam dan mendongkak. Evander, laki-laki itu sama sekali tidak berniat untuk menjawab satu kata pun mengenai identitas aslinya.


"Namamu siapa?"


"Hanya seorang makhluk yang datang ke kehidupan Nona Frydenlund." Sahutnya cepat.


Senyuman manis dengan mata terpejam itu terus menerus diukir seolah tidak bosan, sedangkan para Vampir yang berada di bawah perintah kelima orang itu terus menerus mencari ke seluruh sudut ruangan.


"Dimana majikanmu? Katakan pada kita dan nyawamu selamat." Titah seseorang berambut hitam.


Kelihatannya ialah yang terkuat dari kelima orang yang sedari tadi mengajukan banyak pertanyaan.


Orang itu turun dari plafon rumah Sherly dengan melompat santai. "Gavin!" Seru Seveth, laki-laki berambut pirang.


Namun sayang sekali, kelihatannya Gavin ini tidak memerdulikan seruan ataupun kekhawatiran teman sebangsanya itu.


"Dimana Sherly?" Bisiknya dengan penuh penekanan.


Jujur, Evander merasa sedikit cemas dengan tatapan amarah dari Gavin dan nada suaranya itu.


Terutama kegigihannya yang tersirat di iris mata merahnya itu. Terutama ketika pria ini menarik kerah seragamnya dan berkata, "Katakan dimana Sherly Frydenlund. Aku tau dia ada dirumah ini."


"Mohon maaf sebelumnya, Tuan Gavin. Hak anda menanyakan Nona Sherly itu apa?" Tanya Evander sembari merapikan kembali kerah seragamnya.


"Kau..."


Hendak menarik kembali kerah seragam itu, seruan dari teman sebangsanya membuat dirinya menarik kembali tangan itu. "Gavin!" Seru seseorang berambut abu-abu.


"Tuan pelayan, bisa katakan dimana Sherly? Atau kau akan mati." Ancam Dylan, laki-laki berambut abu-abu.


Kepala itu menunduk dengan seringaian yang terukir indah di wajahnya, dalam sekejap mata, ia sudah berada di samping Dylan.


"Jika saya tidak mau, bagaimana?" Kekehnya.


'Cepat!'


Dylan membatin dengan kedua mata merahnya yang membulat. "Sudah kuduga, kau bukan manusia." Kekeh Dylan.


"Yang bilang bahwa saya manusia siapa? Tidak ada, Tuan Dylan." Bisiknya.


"Kau!"


"Ah! Anda Tuan Gavin!" Celetuk seseorang.


Bersambung..