The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
22. Evander: A sadistic newborn demon



"Siapa yang kau bawa?" Tanya Conan. 


Rambut yang putih seputih salju dengan warna mata yang merah, siapapun yang melihatnya juga mengetahui bahwa anak ini bukanlah warga Kekaisaran. Dan siapapun yang mengetahui kebenarannya pun tidak akan percaya. "Dia iblis yang baru dilahirkan." Sahut Sherly. 


"Iblis baru lahir? Apa iblis itu akan jadi penjagamu seperti Evander sebelumnya? Sepertinya kau benar-benar disukai iblis ya, Sherly." Kekeh Conan. 


Namun kekehannya itu tidak berlangsung lama dengan Edvard yang mengulurkan tangannya dengan kuku yang panjang itu seolah ingin menusuk batang leher Conan. "Lancang sekali kau menyebut nama Raja kekaisaran." Geram Edvard. 


"Evander Geino Ignitius, pelayan sekaligus guru yang mengajariku berpedang. Dia juga yang menyuruhku untuk menyebutkan namanya langsung." Tutur Conan.


"Lagipula saat ini bangsa iblis telah mencapai Raja kekaisaran kesepuluh, Evander bukanlah yang memimpin." Lanjutnya. 


"Dengan kata lain, kau telat lahir beberapa abad... mungkin?" Kekeh Conan. 


Pertama kalinya Sherly melihat wajah memerah dari seorang iblis, salah satu bangsa yang membantai keluarganya beberapa tahun yang lalu. Seolah hatinya menolak untuk berpikir jahat bagi anak ini. "Edvard, namamu bukan? Kau hari ini tinggal di kediaman Frydenlund sebagai penjagaku, Sherly Frydenlund." Ujar Sherly dengan nada tegas. 


Mata yang memancarkan tekad seorang gadis yang begitu besar sampai-sampai anak itu seolah melihat seorang gadis cantik dari balik tubuh gadis itu, dan tidak lain roh yang berada di belakang tubuh Sherly adalah pemimpin penyihir terdahulu. "Elf Herleif?" Gumam Edvard. 


Sepertinya dirinya tahu alasan apa yang membuat Evander menjalin kontrak dengan gadis ini. "Baik, Nona." Sahut Edvard. 



Tepat tengah malam dimana bulan purnama mencapai puncaknya, saat itu jugalah sekumpulan vampir menyerang kediaman Frydenlund. Mendengar Evander telah di eksekusi oleh Abian, siapa sangka bangsa Vampir kembali menyerang dengan satu vampir bangsawan yang memimpin. 



Namun dengan tidak adanya Evander, bukan berarti Sherly akan tamat. Edvard Dagfinn Lounn, seorang iblis yang baru lahir dan merupakan salah satu reinkarnasi dari iblis legendaris. "Hm, ternyata Nona Sherly terkenal di hadapan para Vampir. Sepertinya aku harus hati-hati," 



Gerakan dan langkah vampire itu terhenti ketika mendengar suara anak kecil dari balik pohon, mungkin penampilannya memang terlihat anak kecil yang berusia 5 tahun. Tapi siapa sangka dirinya itu reinkarnasi dari Raja kekaisaran keempat, Mike Nills Halvdan. Seseorang terdekat Evander. 



"Sebegitu cantiknya Nona Sherly sampai-sampai bangsa Vampir mengincarnya. Aku harus menjaganya dengan lebih ketat lagi." Kekeh Edvard. 



"Kau? Seorang iblis yang diramalkan akan lahir hari ini? Seorang yang telah diramalkan menjadi reinkarnasi dari Raja Mike!" Seru salah satu vampire. 



"Lalu? Mau aku reinkarnasi dari Raja Evander, Raja Aciel atau bahkan Raja Mike, aku tidak peduli. Tapi yang pasti kalian telah mengincar nyawa Nona Sherly." Ujar Edvard di sertai kekehan kecil. 



Siapa sangka anak ini lebih cepat dari seorang Vampir Bangsawan, bahkan Vampir lainnya hanya diam dengan kaki yang bergetar ketakutan. "Jika kalian ingin mengambil Sherly dari sini, kalian harus melewatiku terlebih dahulu." 



Anak kecil itu bersenang-senang dengan para Vampir yang terlihat begitu tersiksa karena sifat monsternya melebihi Evander, bagaimana bisa seorang iblis baru saja lahir begitu kuat sampai-sampai membunuh dengan sadisnya. 



Bahkan tubuh vampir lainnya sudah tidak terbentuk sehingga mereka tidak bisa beregenerasi lagi. Dengan tubuh yang penuh darah dan mata yang menyala itu, Edvard melangkah mendekati vampire bangsawan. "Kau yang terkuat diantara mereka, bersiap dan lawan aku." 



"Aku memang reinkarnasi dari Raja Mike, tapi aku membunuh tidak selembut dirinya. Jadi berhati-hatilah, Tuan Vampir." Kekeh Edvard. 



Anak yang diduga sebagai reinkarnasi Raja iblis terdahulu itu bergerak secepat cahaya, sampai-sampai vampir bangsawan itu tidak bisa melihat pergerakannya.



Satu kata untuknya, **monster**. Anak itu benar-benar membunuh seperti binatang buas, tidak ada jeda, tidak ada celah untuk membalas, tidak ada belas kasihan. 




Dirinya terus menerus menyerang tidak peduli dengan kerusakan halaman kediaman Frydenlund saat ini, dirinya hanya peduli bagaimana rasanya menikmati acara senang-senang. 



Suara gaduh dari pertarungan antara vampire bangsawan dan iblis yang baru saja lahir benar-benar mengusik gendang telinga Sherly yang tengah tertidur pulas. "Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat." gumam Edvard. 



"Hei, Tuan Vampir. Bagaimana jika kau diam dan biarkan aku membunuhmu?" Geram Edvard. 



Tentu untuk seorang Vampir bangsawan sepertinya tidak akan menyerahkan diri begitu saja pada iblis yang bahkan baru saja lahir ke dunia. "Kau terlalu meremehkan kekuatan bangsawan, Bocah." Kekehnya. 



Namun saat matanya terbuka, anak itu tidak ada di hadapannya. Melainkan di belakangnya yang sudah siap kapan saja memenggal kepalanya. "Oh ya? Kalau begitu, mari kita tunjukkan. Kekuatan siapa yang lebih besar. Kekuatan seorang bangsawan vampir atau kekuatan iblis yang baru saja lahir." Bisik Edvard. 



Cairan berwarna merah keluar dari dadanya, sebuah lubang terbuka dengan sebuah tangan disertai kuku yang tajam mencuat keluar.



Tangan itu menembus jantung seorang vampir bangsawan dengan mudahnya, inikah kekuatan seorang iblis yang bahkan baru saja lahir ke dunia. Iblis dari reinkarnasi Raja kekaisaran keempat, Mike Nills Halvdan. 



Bahkan jika dilihat, kekuatan ini satu level di atas Evander yang jarang sekali memakai kekuatan miliknya. Apa karena selama ini Evander menahan diri untuk tidak melukai? "Jadi berantakan deh, merepotkan." Gerutu Edvard. 



"Mana mungkin hanya segini kekuatan bangsa Vampir, ini benar-benar lemah. Bahkan aku belum mengeluarkan separuh kekuatanku." gumam Edvard. 



Iris mata yang semula menyala itu meredup seketika begitu melihat begitu banyak darah yang menempel di pakaian serta wajahnya dan tidak lupa tanaman di halaman. Belum lagi tubuh para vampir yang terbaring lemah. "Siapa yang memimpin bangsa vampir sampai-sampai begitu lemah menghadapi anak yang baru lahir beberapa jam lalu?" Geram Edvard. 



"Siapa yang memotong tanaman kesukaanku di halaman depan?" Tekan Sherly. Suasana ruang makan menjadi hening dengan nada tekanan yang menggaung di ruangan.


"Aku tidak tahu, aku kemarin tertidur pulas." Sahut Conan. 


Orang bodoh mana yang berani sekali memotong tanaman kesayangan dari seorang kepala keluarga Frydenlund sekaligus seseorang yang sudah menaklukan banyak medan perang.


"Maaf, kemarin ada sekumpulan vampir. Karena terlalu banyak darah di tanaman Nona jadi saya potong." Sahut Edvard dengan santai. 


"Vampir? Ada urusan apa bangsa vampir ke kediamanku?" Tanya Sherly serius. 


Kekesalan perihal tanaman tergantikan dengan rasa penasaran tentang penyerangan kemarin malam, dimana semua penghuni kediaman Frydenlund tertidur. Mata merah itu menatap Sherly dengan senyuman di wajahnya.


"Bagaimana jika aku bilang, mereka mengincar nyawamu." Ujar Edvard dengan senyuman miring. 


"Dari dulu aku memang selalu diincar dua bangsa, tidak heran juga." Ujar Sherly tenang. 


Reaksi dan ekspresi Sherly benar-benar di luar dugaannya, ia tidak menduga jika gadis ini menjawab dengan nada yang tenang seolah tidak ada hal bahaya yang melanda. "Kenapa kau begitu tenang? Nyawamu terancam." 


"Karena ada kau. Bukankah kau penjagaku? Untuk apa aku takut." Sahut Sherly. 


'Manusia ini ... benar-benar mempercayaiku?'


Bersambung...