
Conan menampar keras sang kakak kembarnya itu, senyuman manis di tengah medan perang dan juga tubuhnya yang penuh luka.
"Apa yang kau pikirkan?!l" Gertak Conan.
"Apa yang aku pikirkan? Aku hanya ingin mati, Conan." Ujarnya dengan mata aquamarine yang menatap langit sore.
Rahang tegas pria itu kian mengeras, terlalu muak dengan semua yang diucapkan saudara kembarnya. "Aku hanya ingin kau terbebas dari dunia yang penuh kegelapan, Conan."
Tangan yang penuh darah itu ia angkat keatas udara. "Aku memerintahkan kau, Evander Geino Ignitius untuk membunuh semua musuh yang menghalangiku." Titahnya.
Mata merah yang seharusnya berisi simbol perjanjian darahnya itu tidak kunjung datang, meski darahnya terus mengalir sampai padang rumput ini ternoda. "Evander?" Tanya Conan.
"Sepertinya kekuatan itu tidak bisa digunakan saat ini, ah sepertinya kita akan mati bersama, Conan Frydenlund."
Raut wajah itu berubah menjadi menyeramkan, lirikan mata aquamarine itu melirik tajam kearah saudara kembarnya.
"Apa katamu? Aku tidak ingin mati, Bodoh!" Serunya. Senyuman lelah itu tercipta, senyuman yang mewakili bagaimana lelahnya Sherly.
"Kalau begitu pergilah, aku sudah terlalu lelah untuk hidup, Conan." Ujarnya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kalau begitu matilah." Celetuk Conan pelan bersamaan dengan jatuhnya air mata.
"Wow, ada apa denganmu?" Kekeh Sherly.
"Katanya kau mau mati, matilah. Aku akan disini menemanimu sampai Evander datang." Sahutnya.
Melihat saudara kembarnya yang lebih muda darinya hanya beberapa menit, ia menghela nafas lalu berusaha bangkit. "Tidak untuk sekarang, aku harus menyelamatkan Evander."
"Melihat posisinya tadi, dia pasti diculik bangsa Iblis." Ujarnya dengan kaki yang tertekuk sedikit karena patah.
"Kondisimu parah sekali, yakin tidak mau beristirahat?" Cetus Conan.
"Patah tulang, luka-luka itu sudah hal yang biasa di medan perang, Conan. Kau pemula makanya tidak tahu, bocah." Kekeh Sherly.
Tapi jujur, ini sangatlah sakit. "Ya ya, wanita tua." Ledek Conan.
Suara pukulan, sayatan, cambukan itu terus memenuhi ruangan gelap di bawah tanah. Sang empu pun hanya diam tanpa ada niatan untuk membuka suara.
"Evander Geino Ignitius, anak sulung leluhur ketiga. Iblis legendaris terdahulu, berani-beraninya mengkhianati bangsamu sendiri?" Gertak sang Raja Iblis, Abian.
Seringaian terukir di wajah tampannya yang penuh dengan darah dari luka sayatannya. "Abian, Ini salahmu." Ketusnya dengan mata merah yang menyala.
Mata merah biasanya hanya dimiliki oleh bangsa Vampir sedangkan Iblis bermata biru gelap, tapi mata merah dari leluhur terdahulu adalah menunjukkan standar kekuatannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Abian dengan sinisnya.
"Belum saatnya kau tahu, Abian." Kekeh Evander.
Pukulan langsung di layangkan dari pria itu, meski pukulan itu menciptakan luka baru di sudut bibirnya. Seringaian pada wajah Evander tidak juga pudar.
"Beraninya kau, Evander! Bunuh pengkhianat itu!" Titahnya mutlak.
"Pengkhianat? Keluarga Ignitius tidak berkhianat, kaulah yang berkhianat pada masa jayanya keluarga Ignitius, Abian." Sela Evander.
"Beraninya Iblis rendahan sepertimu mengkhianati keluargaku dan memecah belas ikatan keluargaku hanya untuk membantainya."
"Dan kau juga memanfaatkan kekuatan ayahku, Aciel Geino Ignitius. Raja pertama bangsa Iblis." Kekeh Evander sinis.
Rahang tegas pria yang menjabat sebagai Raja Iblis itu mengeras, ia tidak menyalahkan argumen Evander yang merupakan mantan Raja Iblis ketiga.
Tapi apapun yang dikeluarkan dari mulut prngkhianat tidak akan pernah dipercaya. "Ah Aciel? Ayahmu memang kuat, bahkan sangat kuat untuk kukalahkan saat menjabat sebagai penasihatnya."
Mata merah di ruangan yang minim cahaya itu kian menyala, membuat para penjaga semakin waspada dengan mengacungkan senjatanya.
"Tapi ayahmu terlalu bodoh jika urusan wanita, begitu wanita itu bermain-"
"Menjijikan." Sela Evander dengan tatapan menyalang.
"Apa katamu?" Seru Abian.
"Menjijikan, yang mulia. Kau menjijikan sampai-sampai menggunakan wanita kotor untuk membunuh ayahku." Kekeh Evander.
Mata hijau itu menatap tajam kearah Evander yang kedua tangan dan kakinya di ikat di dinding ruangan itu. "Kau akan mati, Evander." Bisiknya.
"Sang raja tidak akan mati mudah, Abian. Aku raja ketiga jika kau lupa, mantan Raja ketiga melawan raja kesepuluh sama sekali tidak ada bandingannya." Kekeh Evander geli.
Mata yang penuh kekejian itu meninggalkan Evander yang masih menyeringai dikala kesakitannya. "Bisa-bisanya Iblis rendahan seperti Abian membuatku menolak perintah gadis itu, sialan." Geramnya.
"Sepertinya kekuatanku mulai melemah." Kekehnya keras.
"Kau Gavin Frydenlund? Setengah Vampir dan iblis." Kekehnya.
"Kenapa? Aku bisa saja tertangkap, bahkan orang kuat sekalipun." Lanjutnya.
"Bagaimana dengan adikku? Kau yang menjaganya." Ujar Gavin datar.
"Entahlah, mungkin sedang berada di ambang kematian." Ujar Evander asal.
Kedua tangannya itu mengenal sempurna. "Apa katamu?" Geramnya. "Aku tidak tahu, aku tahunya bahwa kedua adikmu itu sedang sekarat." Sahutnya.
"Kedua adikku? Aku hanya memiliki satu adik, yaitu Sherly." Tangan itu terulur di depan wajahnya yang penuh luka, niat Gavin hanya menolong.
Tapi berbeda dengan Evander yang berpikir bahwa Gavin meremehkannya. "Conan bukanlah adik kandungku, ia hanya anak angkat Frydenlund." Lanjut Gavin.
Netra merahnya melirik tajam sehingga kaki itu melangkah mundur, seorang anak dari Raja iblis merasakan takut pada musuh yang bahkan berada di bawah genggaman mereka.
"Ada hubungan darah atau tidak, saudara tetap saudara." Tekan Evander.
Mengelak dari perkataan Evander, laki-laki yang merupakan anak angkat Abian itu menawarkan sebuah hal yang cukup menggiurkan.
"Aku akan membebaskanmu tapi sebagai gantinya kau harus membebaskan adikku dari dunia kegelapan, bagaimana?" Tawarnya.
"Aku menolak, memangnya siapa kau bisa memerintahku?"
"Aku Gavin Frydenlund, anak angkat Raja Abian. Panglima Vampir." Sahutnya.
Seringaian mulai terukir, matanya menatap Gavin dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi bagi Gavin, itu adalah tatapan meremehkan.
"Dan aku adalah Raja kekaisaran ketiga bangsa Iblis."
"Aku tidak menerima perintah manapun kecuali perintah Sherly Frydenlund." Hela Evander.
Mata merah Gavin kini menatap datar pria didepannya yang penuh darah di tubuhnya. "Apa karena perjanjian darahmu dengan adikku?"
"Dia bukan adikmu setelah pembantaian puluhan tahun lalu, Gavin."
"Ya, itu karena kau menghapus ingatan adikku. Itu salah satu syarat menerima perjanjian darah, Evander." Geram Gavin cepat.
Tidak kaget jika Gavin mengetahuinya, apalagi setelah beberapa kali ia berkunjung ke kediamannya sebagai Vampir.
"Sudahlah, pergi sana. Bocah baru sepertimu menganggu waktuku." Usir Evander.
"Aku tau kenapa kekuatanmu tidak keluar, apa karena sering Sherly menghisap darahmu? Tapi itu menyebabkan segel di dalam tubuhmu itu perlahan pecah." Ujar Gavin.
"Aku tidak peduli, sana pergi." Geramnya.
"Tunggu, dengan kakimu yang patah. Kau masih yakin untuk datang ke wilayah bangsa Iblis, Sherly?" Ujar Conan sembari menopang tubuh saudara kembarnya.
"Kenapa kau ragu? Kita harus menyelamatkan Evander, dia tidak menjawab perintahku. Kemungkinan dia sedang terluka atau sekarat." Tukas Sherly dengan mata yang menahan kantuk.
Meski tubuhnya kini berada di atas tubuh Conan, rasa sakit pada tulang kakinya yang patah tetap saja terasa.
Apalagi mata kirinya yang terluka karena terkena bentrokan pedang saat melawan vampire bangsawan tadi.
"Kau masih kuat menggendongku?" Tanya Sherly.
"Ini tidak seberapa dengan semua usahamu, dibanding denganmu, aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu harus mengarah kemana." Sahutnya.
Sepanjang perjalanan, hening menyingsing. Tiada yang membuka suara, sampai pada akhirnya sebuah darah menetes mengenai punggung tangan Conan.
Ia hanya berpikir, ia tidak terluka, itu artinya darah ini milik saudara kembarnya. "Sherly, kau baik-baik saja?"
Tiada sahutan apapun darinya, membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia pun berhenti di tengah perjalanan hanya untuk melihat bagaimana kondisi saudara kembarnya itu.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, aku bisa bertahan." Lirihnya kesakitan.
Matanya yang terluka, kakinya yang patah, belum lagi luka di perutnya. "Kau benar-benar berniat mati, huh?" Kekeh Conan sinis.
"Conan, lanjutkan saja. Aku tidak akan mati sebelum bertemu Evander." bisik Sherly.
"Jika kau seperti ini, kita yang akan mati, kau tahu." Ujar Conan.
Bersambung...