
"Kau ... percaya padaku?" Tanya Edvard tidak percaya.
Bagaimana bisa seorang manusia yang baru saja bertemu dengannya tidak lama benar-benar mempercayainya tanpa cemas sekalipun bahkan khawatir sedikit saja tidak.
"Tentu saja, kau terlahir karenaku. Untuk apa aku tidak mempercayaimu?" Sahut Sherly.
"Tapi kan ... bisa saja aku mengkhianatimu dan menusukmu dari belakang, kenapa kau begitu mempercayaiku?"
"Yah, karena perasaan ini sama seperti sebelumnya. Mungkin dulu aku benar-benar mempercayai Evander seperti kata Conan." Sherly terkekeh kecil.
Kekehan kecil, senyuman tipis, dan wajah cantik yang menunjukkan ketulusan itu benar-benar menghancurkan niat jahat dalam diri Edvard. Niat yang sebelumnya sudah ia susun hancur seketika hanya karena kalimat dari manusia. "Tidak bisa dipercaya, kau mempercayaiku." kekeh Edvard.
"Terima kasih, Nona." Lanjut Edvard.
"Maaf mengganggu acara makannya, Nona. Ada tamu yang ingin menemui Nona di depan." Ujar Kaylie.
Perlahan gadis itu bangkit mengikuti pelayannya. Edvard yang memandangi sarapan gadis itu yang masih tersisa memikirkan betapa bodohnya gadis itu, meninggalkan sesuatu yang penting untuk dirinya hanya karena orang lain. "Bijak tapi bodoh." gumam Edvard.
Baru saja membuka pintu kediamannya, seorang laki-laki menerjang tamunya sehingga kedua laki-laki itu terjatuh dengan Edvard yang mencekik batang leher Keenan yang tersungkur. "Beraninya kau datang menunjukkan wajahmu setelah apa yang aku bilang padamu." Bisik Edvard.
Iris mata merah itu perlahan menyala seperti seorang binatang buas yang siap memangsa siapa saja di hadapannya, namun hal itu terhentikan ketika tangan Sherly menggenggam pergelangan tangannya. "Edvard, dia tamuku." ujar Sherly.
"Tapi dia..."
Melihat raut wajah Keenan yang berkeringat dingin, Edvard tahu bahwa gadis ini tidak mengetahui bahwa laki-laki ini adalah seseorang dari salah satu bangsa di dunia. Yaitu, Bangsa penyihir yang telah punah.
"...dia berbahaya." Lanjut Edvard.
Laki-laki yang tersungkur dengan bekas cekikkan itu terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan iblis yang baru lahir ini. "Dia tetap tamuku." Ujar Sherly tidak berubah.
"Seperti apa yang diucapkan Nona, maafkan saya." Ujarnya.
"Ada apa kau berkunjung ke kediamanku?" Tanya Sherly.
Dengan tatapan membunuh Edvard yang tertuju padanya, bagaimana bisa ia menegakkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Suasana hening sampai ketika gadis itu menghela nafas panjang. "Edvard, bisa tinggalkan kita?"
"Apa? Bagaimana jika nanti Nona terluka?" Teriak Edvard.
"Kau berbicara seolah Keenan seorang penjahat, Edvard." gumam Sherly.
Tanpa pikir panjang, anak laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan Sherly dan Keenan di taman belakang.
Entah apa yang dipikirkan Sherly sampai-sampai menyuruhnya pergi. "Ya, pertanyaanku tadi. Apa jawabannya?" Singgung Sherly.
"Aku hanya penasaran, kau kenal orang yang namanya Evander?" Celetuk Keenan tanpa sadar. Rasa penasaran ini selalu mengganggu pikirannya setiap saat setelah Conan menyinggung.
"Evander? Tidak, aku tidak memiliki kenalan bernama Evander. Atau bahkan bangsawan yang kukenal tidak ada yang bernama Evander." Keenan menghembuskan nafas lega.
"Tapi rasanya nama ini tidak terasa asing di telingaku, jadi rasanya seperti pernah- ah bukan maksudku sering dengar namanya." Lanjutnya.
"Ke-"
Suara ledakan itu menghentikan kalimat yang akan diucapkan oleh gadis cantik itu, ledakan di halaman depan kediamannya itu menarik perhatian para penghuni kediaman Frydenlund. Mendengar suara ledakan yang besar, kemungkinan vampir atau iblislah yang berkunjung.
Namun semua ekspetasi itu sirna, bukanlah bangsa vampir ataupun iblis yang datang berkunjung. Hanya sekumpulan mayat hidup yang menyerang halaman depan kediamannya. "Apa-apaan makhluk ini? Menjijikkan." Ujar Conan.
"Mayat hidup. Aroma tubuh mereka membuatku mual." Celetuk Edvard.
Tidak diduga, sekumpulan mayat hidup.
Siapa yang melakukan hal sekeji ini? Seorang mayat tidak mungkin di bangkitkan kembali, meski itu terjadi. Bagaimana cara membunuhnya? "Jadi bagaimana membunuhnya?" Tanya George, seorang Panglima perang.
Laki-laki itu dengan cerobohnya menerjang sekumpulan mayat hidup dengan sebilah pedang biasa tanpa tahu apa yang akan terjadi ke depannya. "Bodoh!" Gertak Edvard.
Mayat hidup itu dengan cepat menyerbu Conan yang merupakan manusia dengan jiwa yang hidup, anak itu benar-benar diserbu sekumpulan mayat hidup.
Tidak ada tanda ataupun pergerakan bahwa Conan akan menyerang, sampai pada akhirnya Edvard menyerang sekumpulan mayat yang menggunung itu dengan sekali serang.
"Adakah laki-laki bodoh sepertimu yang menerjang mayat hidup dengan satu pedang?" Geram Edvard.
"Bagi kami, sang penjaga negara. Apapun akan kami lakukan bahkan jika itu taruhannya adalah nyawa." Sahut Conan.
Urat mulai menonjol di kening Edvard, rahang tegasnya mengeras. "Seorang penjaga tidak akan menyerang dengan ceroboh, bocah idiot." Hardik Edvard kesal.
"Mayatnya bangkit lagi. Sepertinya tidak akan habis." Ujar Sherly.
"Nona Sherly, seekor burung dengan kertas di kakinya memberitahu, bahwa sekumpulan mayat hidup sedang menyerang kota." Seru George.
Sebuah kalimat yang memancing amarah seorang Dewi perang sekaligus seorang iblis sebenarnya bangkit. "Apakah masih ada yang selamat?" Ujar Sherly pelan.
"Saya tidak yakin jika masih ada yang hidup dengan serangan mayat hidup seperti ini, Nona." Sahut George.
"Keenan, sepertinya kita akan bekerjasama kali ini. Mohon bantuannya." Ujar Sherly disertai senyuman.
Senyuman yang menandakan bahwa dirinya murka, negara yang dibawah lindungannya itu hancur karena mayat hidup yang entah sejak kapan menyerang. "Edvard, Kaylie, Conan, Madam Lynelle, George dan Keenan. Kita akan berperang dengan sekumpulan mayat hidup, pertaruhkan nyawa kalian." Sherly tersenyum.
Seseorang yang biasanya datar dan dingin, kini tersenyum manis dengan kedua mata yang terpejam. "Baik, Nona!" Serunya.
"Edvard, apa kau tahu siapa dalang dari semua ini?" Ujar Sherly.
Pertama kali Sherly melihat Edvard menggenggam sebuah bilah pedang berwarna hitam dengan tanduk di dahinya. "Jika mayat hidup itu tidak mati dan bangkit terus, satu-satunya yang bisa melakukan ini adalah seorang Necromancer." Sahut Edvard.
"Itukah kekuatan aslimu?" Tanya Conan.
"Kau bodoh ya? Ini hanya penampilan dari banyak penampilan yang bisa kubuat, ini masih level 1. Kekuatan asliku tidak akan kukeluarkan hanya untuk sekumpulan mayat yang bahkan tidak memiliki jiwa." Jengah Edvard.
satu dari banyaknya penampilan, memiliki arti dari satu dari banyaknya penampilan dengan level kekuatan yang berbeda di setiap penampilan yang di gunakan oleh anak itu. Salah satunya saat ini, kekuatan level 1. "Necromancer katamu? Bukankah itu penyihir?"
"Secara singkatnya iya, tapi mungkin berbeda." Edvard melirik Keenan dengan tatapan datar.
Tatapan yang seolah membuatnya merasa bersalah, ribuan atau bahkan jutaan nyawa melayang karena perbuatan salah satu orang dari bangsa penyihir. "Penyihir? Ada orang seperti itu di dunia?" Kekeh Conan tidak percaya.
"Kau tidak percaya setelah diserbu puluhan mayat?" Edvard berseru kesal.
Necromancer, seorang penyihir yang bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal dan mengendalikan tubuh kosong tanpa jiwa. Benarkah ini lawan Sherly kali ini? Bahkan dirinya saja terlihat tidak memiliki kekuatan spesial.
"Kau kenapa? Takut?" Tanya Edvard.
Tubuh Sherly memang diam mematung, entah kenapa kali ini dia benar-benar berada di antara ambang kemurkaan dan ketakutan yang melandanya. "Tidak."
"...harus mati." bisik Sherly dengan berubahnya iris matanya.
Bersambung...