The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
36. Sherly: The First Love



Kedua orang yang memiliki ikatan perjanjian darah itu kini sama kondisinya, Evander yang terluka dengan tubuh yang penuh darah dan terikat, sedangkan Sherly mengalami luka, buta sementara dan patah tulang. 


Dengan perjanjian darah itu, mereka merasakan kesakitan satu sama lainnya. Itu menyebabkan kondisi Sherly semakin memburuk. "Wah wah memang benar-benar mantan Raja Ketiga, lukamu hampir pulih sepenuhnya hanya dalam beberapa menit." Celetuk Abian. 


Pria dengan rambut hitam itu mendekat dengan seringaian di wajahnya itu, tangannya menggenggam sebuah tali yang digunakan untuk mencambuk Evander. "Kau mau kulepaskan?" Tanyanya. 


Aneh, pria yang sangat tidak suka di bernegoisasi itu kini menawarkan sebuah tawaran yang cukup menggiurkan bagi siapa saja yang disiksa bukan? "Ada apa denganmu, Abian?" Kekeh Evander keras. 


"Jika kau ingin lepas dari siksaan ini, maka kau harus menyerahkan gadis yang melakukan perjanjian kontrak denganmu padaku." Lanjutnya. 


Mata merah yang semula menatap tajam itu kini terbuka lebar, rasanya tubuhnya terbakar oleh amarah yang besar ketika Abian menyinggung soal gadis bernama Sherly. "Jika aku tidak mau, bagaimana?" Seringainya. 


"Kau akan berada disini selamanya, selamanya kusiksa sampai kau menyerah." Ujar Abian. "Aku tidak takut dengan gertakanmu, Abian. Karena kau itu lemah." Bisik Evander. 


Tangan Abian yang menggengam pedang berwarna merah dan hitam itu terangkat keatas udara, berniat untuk mendaratkannya di batang leher Evander, namun seruan dari seorang prajurit iblis membuat niatnya terurungkan.


"Yang Mulia Abian! Bangsa Manusia menyerang di halaman bagian utara!"


"Bersama dengan Dewi perang dan satu bocah bersamanya." Lanjutnya. Dengan mendengar informasi yang cukup mengagetkan, senyuman terukir di wajah Evander, namun tidak dengan Abian yang terlihat kaget.


Mulutnya bergumam kecil dan tidak terdengar begitu jelas, tapi yang pasti ini sesuatu yang buruk menurut Evander. Dengan Abian yang langsung turun tangan ke medan perang melawan Dewi perang, mungkin saja bisa menang dengan Sherly yang kondisi sehat. 


"Bertahanlah sebentar lagi, Sherly Frydenlund." gumam Evander. 


...~~~...


"Bunuh semua iblis disini!" Seru Sherly membuat para prajuritnya bersorak semangat dan langsung menyerbu gerbang bagian utara dan timur kerajaan iblis. 


Dengan tubuh penuh luka dan patah tulang itu akan membuat situasinya menjadi rumit jika pemimpin bangsa iblis langsung turun ke medan perang.


"Aku harus cepat-cepat memulihkan tenaga, tapi-" Iris mata merahnya itu melirik Conan. 


"Kau butuh darah? Ambil saja darahku, selagi itu membuatmu pulih." Ujar Conan mengerti akan tatapan itu. 


Kedua taringnya ia tancapkan pada lengan Conan yang terbuka, dengan tubuh yang penuh luka dan patah tulang pada kakinya memuat cukup banyak darah jika sembuh total.


Tapi Conan sejak daritadi sudah kelelahan, ia tidak bisa menghisap lebih banyak darah dari ini. 


"Sudah? Kena-" 


"Kau kelelahan, Conan. Aku tidak bisa menghisap lebih banyak darah darimu, itu akan membuatmu tidak sadarkan diri sementara waktu. Dan hal itu akan membuatmu menjadi bebanku disini." Ujar Sherly segera bangkit dan menghunuskan pedangnya. 


Melihat sekumpulan iblis yang mulai berlari kearahnya, ia menghembuskan nafas perlahan. Lalu mengayunkan pedangnya secara horizontal. Bilah pedang yang terayun secara horizontal membuat sekumpulan iblis itu sirna dari hadapannya. 


"Itu Sang Dewi Perang! Tangkap dia demi Raja Abian!" Seru Iblis bangsawan. 


"Conan, dengar! Bangsa Iblis sedikit lebih kuat dari bangsa Vampir, jadi berhati-hatilah. Dan jika dalam situasi berbahaya, lari sejauh mungkin atau tidak bersembunyi." Bisik Sherly dengan kedua kaki yang memasang kuda-kuda serta tangan yang menggenggam erat pedang hitamnya itu. 


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan menerobos masuk dan menyelamatkan Evander, kemungkinan berhasil mungkin hanya 50% tapi aku harus menyelamatkan Evander meski nyawa taruhannya." Sahut Sherly bersamaan dengan tangan yang mengayunkan pedangnya kesana kemari. 


Kedua mata merah itu terbuka lebar, apa saudara kembarnya ini sudah sedikit gila. "Apa?" gumam Sherly. 


"Kau tidak perlu bertarung dan berjuang sendiri lagi, Sherly. Aku saudara kembarmu, kita akan bersama dan berjuang bersama." Ujarnya sembari memegang pundak Sherly.


Kedua anak itu saling memunggungi satu sama lain berguna untuk melindungi bagian belakang dari serangan para iblis itu. "Okeh, kita selamatkan Evander!" Seru Sherly. 


"Tentu saja." 


Tebasan demi tebasan mereka ciptakan, para iblis pun mulai gentar untuk maju menyerang kedua orang yang seolah sudah seperti dewa dan dewi perang. Kekuatan, kecepatan, tenaga yang diciptakan oleh kedua orang itu membuat iblis bangsawan tertarik. 


"Sepertinya kau semakin kuat, Sherly Frydenlund." 


Iris mata Conan melirik seorang laki-laki berambut putih dengan mata berwarna biru gelap itu yang sedang tersenyum manis pada Sherly, saudara kembarnya. Hatinya berkata, bahwa laki-laki itu tidaklah lemah. 


"Sial, aku harus membantu Sherly." Geramnya. 


"Kau!" Seru Sherly begitu merasa tidak asing pada wajah dan suaranya.


"Ya ini aku, Sherly. Cinta pertamamu, Luke Foresvich." Sahutnya dengan mata yang begitu meneduhkan. 


Tubuh gadis itu mendadak kaku dan diam ketika laki-laki yang menyebut cinta pertamanya ini mendekapnya, cinta pertamanya saat berumur 15 tahun. Luke Foresvich, anak kedua dari keluarga Foresvich. 


Keluarga yang mengkhianati keluarga Frydenlund dengan cara menusuk dari belakang, bahkan kabarnya saja Sherly tidak tahu. Ternyata, ia sudah menjadi salah satu dari bangsa iblis. "Kau, bagaimana bisa kau menjadi iblis?" Ujar Sherly terbata-bata. 


"Mudah saja," 


"Aku hanya ingin membalas dendam padamu." Sesuatu yang tajam menusuk bagian perutnya, dengan begitu dengan itu pun terlepas dengan paksaan Sherly. 


Sepasang mata Conan terbuka lebar ketika saudara kembarnya itu terluka setelah pemulihannya tadi, meski saat ini Sherly bukanlah manusia. Rasa sakit pun akan terasa saat menjadi Vampir. "Sherly!" Seru Conan sembari berlari kearahnya. 


Dan mengacungkan bilah pedangnya di depan wajah Luke, wajah datar dengan warna mata biru gelap itu terus menatap Conan yang memasang wajah datar dengan aura kemurkaan tersirat di matanya. 


"Kau siapa?" Dinginnya.


"Aku Conan Frydenlund, saudara kembar Sherly Frydenlund!" Seru Conan. 


Mata biru itu terlihat sedikit kaget, saudara kembar katanya? "Setahuku, keluarga Frydenlund tidak memiliki anak kembar. Bisa kau jelaskan, Sherly." Ujarnya lembut. 


Tidak, Sherly tidak bisa menjelaskan secepat ini. Belum waktunya ia menjelaskan hal yang menjadi rahasia keluarga Frydenlund, terlebih lagi luka yang di ciptakan oleh Luke mulai membesar. "Sherly, apa maksud laki-laki sialan ini." ujar Conan. 


"Siapa yang kau sebut laki-laki sialan, bocah." Tegur Luke.


"Kau lah, bodoh!" Seru Conan. 


Tubuh gadis itu terjatuh dengan kedua tangan yang memegangi perutnya yang berdarah. "Sherly!" Seru mereka. 


Tapi itu hanya sementara, punggungnya mulai mengeluarkan sebuah sayap berwarna hitam dengan segala rintihan yang keluar dari mulut Sherly. "Apa-apaan?" Ujar Conan kaget.


Bersambung...