The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
21. Evander: A newborn demon



"Erl Herleif, pemimpin ras penyihir?" Gumam Evander di tengah kesadarannya. Roh yang di hadapannya ini tersenyum sendu dengan kedua tangannya yang menyentuh pipinya Evander.


'Kau benar-benar lelah hidup ya? Evander.'


Sebuah tatapan sendu dan senyuman sendu benar-benar membuat Evander mengingat kenangan bersama wanita ini. "Aku hidup lebih dari 900 tahun jika kau lupa."


Roh itu tertawa dengan suara kecil, melihat raja kekaisaran ketiga begitu pasrah dalam menghadapi musuh. Tentunya, ini kali pertama ia melihatnya. Laki-laki yang menghancurkan bangsanya ini begitu terlihat lemah di hadapannya. 


Berhentilah berpura-pura. Kau tidak selemah ini.


Nada tegas dari roh ini mungkin dapat memicu jiwa semangatnya kembali, namun yang didapatkan hanyalah sebuah senyuman dengan iris mata merah yang memicing seolah memangsa. "Apa sih yang kau katakan? Aku lemah? Apa dunia sebercanda itu, Erl." Kekeh Evander sinis. 


Luka yang terbuka lebar itu perlahan menutup tanpa meninggalkan bekas apapun, hal inilah yang membuatnya tampak mustahil dibunuh. 


'Kau punya kekuatan penyembuh, tapi kenapa ayahmu tidak.'


Memang benar bahwa ayahnya yang merupakan raja pertama bangsa iblis ini sama sekali atau bahkan tidak ada kekuatan penyembuh sepertinya. "Itu karena dia lemah." Sahutnya singkat. 


Ia sangat benci pada ayahnya, terlalu terlena dengan wanita sampai-sampai mati dibunuh oleh salah satu makhluk kesukaannya. Sungguh ironis. "Lalu kenapa kau disini? Ganggu pemandangan saja." 


Roh itu terkekeh kecil dengan tubuh yang menyingkir sedikit dari pandangan mata Evander. Ruangan yang penuh darahnya ini yang disebut pemandangan, benar-benar gila. 


'Ini yang kau bilang mengganggu pemandangan?'


"Jika tidak ada yang penting-"


'Kau tahu, bahwa ada iblis yang akan lahir nanti. Kudengar kekuatannya tidak jauh beda darimu, apa kau tidak khawatir terhadap Tuanmu?'


Iblis? Tentu saja ia akan menduga hal itu, namun siapa sangka akan secepat ini. Terlebih lagi saat ini Sherly tidak tahu mengenai apapun tentang iblis. "Aku sudah tahu akan ada iblis yang akan lahir, tapi apa kau lupa. Bahwa Tuanku lah yang menyingkirkan salah satu pendamping Abian. Dan juga membuat seorang Raja Vampir ketakutan." 


Sejenak kalimat itu terhentikan dengan sebuah senyuman yang tercipta di wajahnya. "Dengan kata lain, Sherly telah melampauiku, Erl Herleif." Kekeh Evander. 


"Meski aku tidak ada sekalipun, kekuatan iblis akan tetap tinggal dalam diri Sherly. Karena dialah iblis sesungguhnya." Desis Evander.




Sesuai permintaan Keenan yang meminta Sherly untuk mengikutinya, dan entah dimana dirinya berada saat ini. Seperti saat di acara beberapa hari lalu, dirinya merasa senang. "Bazar?" Tanya Sherly. 



Namun Keenan menggelengkan kepalanya, langkah kaki itu melangkah ketempat yang lebih terhindar dari sinar matahari sore. Di bawah pohon rindang, laki-laki itu menggelar sebuah kain dengan keranjang piknik yang tersedia. "Nama acaranya adalah piknik. Sama seperti yang lain, mereka piknik bersama orang tersayang dan terdekatnya." 



"Karena melihatmu begitu suram tadi, aku ajak saja." Kekeh Keenan canggung. 



"Aku baru pertama kali merasakan acara seperti ini, sebelumnya dulu kecil aku tidak diperbolehkan untuk keluar dari mansion. Sekali pun keluar harus didampingi, benar-benar merepotkan." Kekeh Sherly.



Matahari terbenam, sesuatu hal yang langka bagi Sherly untuk melihatnya setelah ia terus berkelana di medan perang. "Jangan bilang ini juga kali pertamamu melihat matahari terbenam." 



"Menurutmu? Apa komandan dan kepala keluarga Frydenlund sepertiku ini memiliki waktu luang untuk menyaksikan matahari terbenam? Tentu tidak, bahkan sejak masa kecilku pun hanya diisi dengan latihan pedang, menembak dan cara bagaimana bertarung di medan perang." 



"Keluargaku tidak memberiku izin untuk bermain-main seperti anak kecil pada umumnya, seorang bangsawan sepertiku mana mungkin memiliki waktu untuk bersenang-senang." Lanjutnya sembari menatap kedua tangannya. 



Usai matahari terbenam, gelap menyising. Entah kenapa gadis itu merasakan sesuatu yang tidak biasanya ia rasakan dalam tubuhnya. Rasanya seperti terbakar dari dalam. Rasa panas itu membuat butir-butir keringat mengalir dari keningnya. "Sherly, kau tidak apa-apa?" Tanya Keenan. 



"Ya, hanya saja tubuhku rasanya seperti terbakar." Ujar Sherly. 



Rasa terbakar itu terus menerus membesar sehingga tulangnya terasa seperti meleleh, berniat ingin merintih namun dirinya tidak ingin terlihat lemah dihadapan para rakyatnya. "Sherly..." 



'*Jadi kau seorang manusia*?'




'*Jadi aku terlahir untuk melayani anak manusia*?'



'*Yah, tidak buruk juga*.'



Suara itu terhenti begitu juga dengan kedatangan seorang laki-laki dengan tubuh anak dibawah 10 tahun, wajahnya terlihat marah dengan iris matanya yang merah. Senyuman perlahan terukir di wajahnya. "Selamat malam, Nona." Sapanya. 



"Kau siapa?" Gumam Sherly heran. 



"Edvard Dagfinn Lounn, seorang iblis yang lahir dari mu." Satu kalimat yang terucap begitu mudah dari anak kecil yang mengakui bahwa dirinya adalah iblis yang baru saja dilahirkan. 



Hening. 



Sherly terkekeh geli sembari memegangi kepalanya yang sedari tadi terus menerus terasa sakit seolah ingin pecah. Dan seenaknya anak ini berkata demikian mudahnya, entah kenapa sapaannya terasa tidak asing baginya.



"Ah sepertinya aku mulai berhalusinasi, mana mungkin iblis lahir dari manusia?" Kekehnya geli. 



Kedua laki-laki itu terheran dengan seorang gadis yang memiliki gelar bangsawan ini, seorang dewi perang dan seseorang yang menaklukan banyak medan perang. "Kau kenapa?" Tanya Keenan. 



"Kau siapanya?" Geram Edvard. Langkah kakinya mendekat, mata tajamnya menatap Keenan dengan tatapan menilai. "Kau penyihir?" Bisik Edvard. 



Iris mata merahnya itu menyala seolah bertemu dengan mangsanya. "Dengarkan baik-baik, Penyihir. Jangan mendekatinya lagi jika kau masih sayang nyawamu." Ancamnya dengan nada tegas. 



"Keenan, sepertinya aku tidak sehat. Bisa kita pulang-" 



Ucapan itu terhenti begitu saja ketika iris mata Sherly tidak menemukan Keenan yang sebelumnya berada di hadapannya. "Laki-laki itu sudah pulang lebih dulu, nona. Biarkan saya yang menemani Nona, sampai akhir hayatmu." Ujar Edvard. 



"Tidak sudi aku ditemani oleh makhluk dari salah satu bangsa yang membantai keluargaku?" Gertak Sherly. 



Gertakkan itu sedikit menyentak anak itu sehingga tangan yang terulur itu ia tarik kembali dengan aura amarah yang menyeruak keluar dari tubuhnya. "Nona, saya memang dari bangsa iblis. Tapi bukan berarti anda harus melampiaskan dendam anda pada saya,"



"Manusia seperti kalian kan tidak akan bisa paham kan?" Tekan Edvard. Tekanan yang dikeluarkan anak ini benar-benar membuat Sherly yang merupakan kepala keluarga Frydenlund berkeringat dingin. 



"Baiklah, Nona. Karena ini perintah yang kudapatkan dari Raja kekaisaran bangsa iblis untuk tidak menyakitimu, maka akan kulakukan. Yah, sedikit merepotkan." Hela Edvard. 



Anak dengan rambut putih itu memimpin jalan seolah meninggalkan gadis yang berkeringat dingin itu. "Apa yang dipikirkan Yang Mulia Evander sampai-sampai menjalin kontrak dengan manusia ini." Gerutu Edvard. 



Bersambung...