The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
06. Revenge (Gvrilltenn)



"Ada apa kepala keluarga Gvrilltenn datang ke kediamanku yang kumuh ini?" Seru Sherly dengan kekehan kecil.


Memang terlihat wajah amarah dan tatapan balas dendam yang tersirat dari pria dengan cangklong di tangannya. "Sherly Frydenlund. Kenapa kau membunuh adikku Chloe Gvrilltenn?" Tukasnya.


Mata aquamarine yang meneduhkan itu menatap tajam sang kepala keluarga Gvrilltenn yang berdiri jauh di hadapannua dengan sebuah pedang berada di pinggangnya.


"Seseorang pengkhianat tidak bisa dimaafkan, Tuan Gvrilltenn." Sahutnya. "Tapi Chloe adalah teman masa kecilmu, Sherly!" Serunya.


"Dulu mungkin iya, tapi tidak setelah tindakan pembantaian kalian yang menggunakan Vampire untuk menyerbu kediamanku." Geramnya sembari menarik keluar pedangnya itu.


Bilah pedang hitam dengan pantulan cahaya matahari sore membuat pria itu menghela nafas. "Kau mau dengan cara kasar, gadis kecil?" Kekehnya.


"Kau akan menyesal." Lanjutnya. Langkah kaki yang cepat itu membuat Sherly memasang kuda-kuda, iris mata aquamarine itu terus mengikuti pergerakan kepala keluarga Gvrilltenn sehingga pergerakan itu hilang dari pandangannya. 


"Sepertinya kau tidak cukup kuat, Nona Sherly." Bisik di belakangnya. 


Tidak sempat berbalik, bilah pedang kepala keluarga yang bersinar itu terlalu dekat dengan lehernya. Jika bergerak sedikit, ia pastikan kepalanya akan terpisah dari tubuhnya. "Kalian borgol dia dan jangan sampai lepas." Titahnya. 


"Dan kau Nona, sebaiknya ikut denganku dengan baik jika tidak ingin mati." Kekehnya. 


"Licik sekali kau, Damian Gvrilltenn." Decih Sherly. 


"Apapun kulakukan demi membalas dendam adikku yang kau bunuh bersamaan dengan acara ulang tahunnya." Geram Damian. 


Kereta kuda itu melanjut cepat, keluar dari wilayah kediaman sang pemimpin medan perang, yaitu Frydenlund. Sehingga pada akhirnya, Evander dan George mencari keberadaan Sherly. "Dimana Nona?" Celetuk Kaylie. 


"Sepertinya dia diculik oleh Damian Gvrilltenn." Cetus George. 


"Damian Gvrilltenn? Siapa?" 


"Kakak sulung dari keluarga Gvrilltenn, kepala keluarga Gvrilltenn saat ini." Jelas Kaylie. "Kalian pergilah cari Nona, biar aku yang menjaga disini." Ujar Kaylie dengan mata emasnya itu. 


"George, kau jaga disini bersama Kaylie. Biar aku yang mencari Nona Sherly." Titah Evander sebelum pada akhirnya berlari keluar dari gerbang kediaman Frydenlund. 


Pria itu terus berjalan mengikuti jejak roda dari kereta kuda, dengan tanpa ragu ia berlari menelusuri jejak kereta kuda itu. Namun di pertengahan jalan, tubuhnya terjatuh bersamaan pandangannya yang mulai kabur. 


"Apa ini? Efek samping?" gumamnya sembari menggelengkan kepala berupaya untuk menjernihkan kembali pandangan mata merahnya itu. 



"Hukuman apa yang pantas untukmu ya, Nona Sherly?" Ujarnya berpikir dengan tangan yang menumpu dagunya. 



"Mati, cepat bunuh aku, Damian Gvrilltenn." Kekeh Sherly sinis. 



Ia sedikit ragu jika menggunakan kekuatan kontraknya setelah kejadian aneh di paviliun milik keluarga Gvrilltenn, kontrak itu tidak berjalan meski darahnya mengalir. "Ah tidak tidak, aku berniat untuk menyiksamu lalu membunuhmu. Ah sepertinya menyenangkan." Serunya senang. 



"Psycopath kau, Damian." Umpat Sherly. 



Tangan pria itu mendarat di pipi mulusnya yang berhasil menciptakan lebam merah disana, kedua mata itu membulat dengan gertakan giginya. "Sadarlah, kau lebih psycho dariku!" Bisiknya. 



"Sampai tengah malam tiba, kau bersenang-senanglah dan mengingat kenangan semasa hidupmu sebelum kau kusiksa perlahan. Lupakan tentang kenangan yang pernah kita jalani." Ujarnya sebelum pada akhirnya mengunci pintu itu dan meninggalkan gadis cantik itu di ruangan yang gelap gulita. 



"Sejak kau mendapati gelar kepala keluarga, kau menjadi sadis dan kejam ya, Damian Gvrilltenn." Kekehnya kecil. 



Meski kakinya di pasung, kepala itu bersandar dan mendongkak menatap sinar bulan yang terlihat dari ventilasi penjara itu. "It turns out that fighting someone you love is tougher."



Waktu terus berjalan dengan gadis yang masih terpuruk dengan keadaan, beginikah lemahnya tanpa adanya cahaya? Bukankah dirinya sudah hidup di dalam kegelapan sejak kecil. "Hah, mati dengan cara hina seperti ini? Memuakkan." Ujarnya pelan dengan mata aquamarine yang memandang kakinya yang di pasung. 




"Hei gadis gila, ini sudah malam berhentilah tertawa seperti itu. Kau membuatku takut!" Celetuk sang penjaga. "Ah kau takut hanya karena menjaga di ruang bawah tanah? Kau lemah, pak tua." Kekehnya geli. 



"Apa katamu, Gadis kecil?!" Geramnya kesal. 



"Kau lemah, pak tua. Apa kurang jelas?" Kekeh Sherly. 



Kekehan itu semakin membesar begitu tau dirinya sudah tidak bisa melarikan diri lagi, apalagi setelah kejadian pada Chloe. Ia tidak bisa menggunakan darahnya itu, ah benar-benar hari yang sial. "Ah sialan, masa aku akan mati disini." Gumamnya disertai kekehan kecil. 



"Damian brengsek." Umpatnya. 



Giginya itu mengigit bagian dalam bibir bawahnya berguna untuk menahan rasa sakit pada tubuhnya yang terluka karena disiksa oleh mantan kekasihnya ini, Damian Gvrilltenn. "Bagaimana, mantan kekasihku?" Seringainya. 


"Kau kena penyakit mental, Damian." Kekeh Sherly mulai melemah. Terutama pandangannya mulai kabur, namun jika ia memejamkan matanya dua kemungkinan terjadi, kematian atau hidup. 


"Kekuatan Dewi perang hebat, bertahan meski tubuhmu penuh luka? Menyenangkan." Serunya senang. 


'Evander!'


'Evander!'


'Evander!'


Batinnya terus menerus memanggil nama dengan darah yang mengalir deras dari beberapa luka yang disayat oleh Damian menggunakan pisau.


Siksaan ini benar-benar melebihi perkiraannya, ia kira hanya di cambuk nyatanya tidak hanya itu. "Kau mulai kelelahan, Sherly?" Tanya Damian. 


Panggilan pada Evander kian memanjang bersamaan dengan sayatan yang di lakukan pada Damian. "Apa yang kau lakukan pada Nona?" Tegas seseorang.


Suara yang tidak begitu asing di telinga Sherly, ia mengukir senyuman di wajahnya yang penuh sayatan. 


"Kau siapa? Jangan ganggu waktuku yang sedang mengeksekusi Sherly." Ujarnya seolah tidak bisa di ganggu gugat. 


Mata merah yang menyala dalam ruang eksekusi yang gelap seolah tiada cahaya yang masuk, hanya hal sederhana itu Damian memundurkan langkahnya. "Kau sudah melukai Nona, kira-kira apa hukuman yang setimpal ya?" Kekeh Evander. 


"Apa kubunuh saja-" 


"Sampai kau bunuh dia, kau duluan yang kubunuh, Evander Geino Ignitius." Sela Sherly dengan mata merah itu. Mata merah dengan simbol perjanjian di kedua mata merahnya. 


Helaan nafas itu terdengar jelas, langkah kaki jenjangnya menghampiri gadis yang kedua tangan dan kakinya sedang di pasung dengan luka yang menghiasi tubuhnya itu.


Melihat Tuan-nya terluka, tentu ia marah. "Damian Gvrilltenn, kepala keluarga Gvrilltenn. Apa motifmu untuk melukai Nona?" 


"Dendam. Aku harus membalas dendam adikku, Chloe." Sahutnya tanpa berpikir panjang. 


"Lihatlah, Nona. Kau dilukai oleh musuh bebuyutanmu dan kau memerintah untuk tidak membunuhnya? Sepertinya jalan pikirmu telah rusak, Nona." Bisik Evander. 


Dengan nafas terengah-engah itu, Sherly menggeram rendah ketika direndahkan oleh pelayannya sendiri. "Jaga ucapanmu, Evander."


"Saya tahu kenapa Nona tidak memerintah untuk membunuhnya, apa karena dia mantan kekasihmu dulu?" Tepat sasaran, itulah alasannya mengapa Sherly tidak memerintahnya untuk membunuh Damian yang penuh darahnya itu berdiri dekat peralatan penyiksaan. 


"Cinta itu membuat seseorang melemah, Nona Sherly. Kau tidak akan bisa membunuh dengan perasaan menjijikkan itu." Bisik Evander. 


"Cukup, Evander. Orang sepertimu tidak akan mengerti orang sepertiku." Mata merah itu menatap mata merah dengan kedua simbol perjanjiannya di kedua iris matanya. 


"Cepat lepaskan lalu kembali." Titahnya. "Baik, nona." Patuh Evander. 


"Apa yang kau bicarakan, Sherly? Kau tidak akan kulepaskan dengan mudah setelah kau membunuh adikku, Sherly Frydenlund!" Seru Damian. 


Bersambung...