The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
26. Necromancer: Rafael



Binatang kecil bertanduk itu mendekat pada laki-laki yang melirik Sherly dengan susah payah, kekuatan yang di gunakan gadis itu benar-benar jauh diatas Edvard. Tekanannya saja sudah bisa membuatnya mematung.


"Kau Necromancer. Tapi masih tergolong lemah." Bisik Rafael. 


Rafael terus mengitarinya dengan senyum yang ia ukir di wajahnya. "Kau Necromancer yang gagal, ya?" Tanya Rafael. 


Hening. 


Seorang iblis tidak berwujud ini berceletuk tentang lemah dan kuatnya Fox, seorang kekuatan yang berdampak luas itu tergolong lemah.


"Lemah, kau bilang?" Geram Fox. 


Sherly hanya diam menatap iblisnya yang berucap tentang kekuatan Fox, kekuatan yang berhasil membawanya ke dunia lain. Kekuatan itu masih tergolong lemah baginya.


"Ya, penyihir tingkat 1 yang kulawan tidak sepertimu. Dia kuat, bahkan sangat kuat sampai-sampai membuatku hampir mati." Ujar Rafael. 


"Kau hanya penyihir tingkat rendah yang mempelajari ilmu Necromancer dari grimoire. Kau benar-benar membuatku muak dengan sikap sombongmu itu, bocah." Ujar Rafael. 


Sialnya, Rafael menuangkan minyak di atas api yang membara. Fox saat ini tengah terdiam terbakar api amarahnya sendiri.


"Hei, makhluk aneh. Akan kutunjukan kekuatan yang kau maksud lemah." Sarkas Fox. 



Sudah berjam-jam Conan dan Keenan membunuh mayat hidup yang tidak ada habisnya, bahkan saat ini laki-laki bermarga Frydenlund terjatuh karena kehabisan tenaga. Kedua tangannya sudah tidak kuat menggenggam bilah pedangnya. 



Butir-butir keringat mulai berjatuhan ke tanah, Keenan berusaha keras untuk membuat pelindung. Namun tetap saja, tubuh dan kekuatannya sudah berada di luar batasannya.



"Sialan, apa yang harus kita lakukan?" Ujar Conan. 



Iris matanya melihat Keenan yang bersusah payah membuat pelindung dan menyerang sekumpulan mayat hidup.



"Kau penyihir, bukan? Buatlah portal untuk ke tempat Sherly berada. Di sampingnya, kita sepenuhnya aman." Titah Conan. 



"Dengan tenaga yang sedikit, mustahil bisa membuat portal."



Kekuatan penyihir tingkat satu benar-benar membuat lawan kelelahan akibat dampak serangannya yang luas. "Kau saja yang pergi, bagaimana?" Celetuk Keenan. 



Tidak ada pergerakan saat Keenan membuka *grimoire* untuk membuka portal.



Seorang penyihir yang satu-satunya berada di pihak Sherly, dimana para bangsa lain mengincar nyawa gadis itu. "Kau masuklah, cepat." Titahnya. 



"Kau bodoh, ya?" 



"Mana mungkin aku meninggalkanmu disini dengan sekumpulan mayat." Lanjut Conan. 



Keenan mungkin telah berpikir gila sampai-sampai merelakan nyawanya untuk menolong manusia yang serakah.



Tangan itu mendorong Conan untuk masuk ke dalam portal yang ia buat. Senyuman Keenan terakhir yang dilihat Conan. Laki-laki itu merasa bahwa Keenan berbeda sedikit dengan laki-laki lain. 



"**Orang bodoh sialan**." hardik Conan. 



Sekejap mata tubuh itu langsung terjatuh tepat di antara Sherly dan Fox bertatapan. Datangnya anak itu benar-benar merubah suasana yang semula tegang berubah menjadi cair. "Kenapa?" Tanya Conan heran. 



Semua mata memandangnya dengan kedua mata mereka yang melebar. "Kenapa kau bisa di sini?" Tanya Sherly. 



"Kembaran sialan, bukannya berterima kasih karena bertahan hidup melainkan tanya *kenapa*." Gerutu Conan. 



Rafael dalam bentuk kecil dan aneh itu mendekat dengan kekehan mengerikan bagi Conan sehingga anak itu melangkah mundur tanpa melihat dimana pijakan berada.




Makhluk itu terus menerus terkekeh sedari tadi. "Rafael." Panggil Sherly. 



Nada dingin yang membuat kekehan itu terhenti, suasana kembali hening dan tegang.



Dimana tekanan aura Fox terus bertambah seiring berjalannya waktu. "Bocah rubah, kukasih tau. Kekuatanmu itu berbahaya jika di pakai terus menerus." 



"Siapa yang mau mendengarkan ucapanmu itu, orang aneh!" Seru Fox. 



"Siapa yang dia panggil rubah?" gumam Conan. 



Mengesampingkan perdebatan Rafael dan Fox, Edvard belum sepenuhnya percaya jika gadis manusia ini di pilih langsung oleh iblis bertipe kekuatan yang sangat langka. Belum lagi iblis itu terlihat sangat kuat sampai-sampai berani berbicara seperti itu. 



"Sebenarnya seberapa kuat iblis ini?" Ujar Edvard pelan. 



Gadis yang menggenggam bilah pedang turun temurun dari leluhurnya mulai kelelahan, terutama terhadap tekanan yang diberikan Fox. "Hei, menurutmu siapa yang akan menang?" Tanya Edvard. 



"Bocah baru sepertimu itu masih belum berpengalaman, tentu saja Sherly akan menang." Sahut Conan. 



"Penyihir selalu saja merepotkan." Decih Rafael .



Entah seberapa persentase kekuatan yang dikerahkan oleh Rafael, bilah pedang yang semula berkilau karena pantulan cahaya matahari itu kini berubah menjadi hitam gelap.


"Jika kau mengaku kuat, maka seranglah tanpa ragu, bocah." Kekeh Rafael. 


Jika tekanan kekuatan Fox menyebabkan hilangnya tenaga, maka tekanan kekuatan milik mereka berdua menyebabkan lelah.


Terlalu kuat sampai-sampai Edvard membuat sebuah kaca pelindung. "Apa kau tidak tahu siapa itu Rafael?" Tanya Conan. 


"Aku tidak kenal dengan iblis tidak berwujud seperti dia." 


"Tapi yang pasti, dia itu berbahaya. Sangat berbahaya sampai-sampai para Raja terdahulu tidak pernah berurusan dengannya." Lanjut Edvard. 


Getaran terjadi di sebabkan kedua kekuatan yang berbanding balik, butir-butir keringat mengalir dan jatuh. Ini pertama kali Sherly merasakan kekuatan bangsa iblis sebesar ini, sebelumnya tidak pernah.


"Ada apa bocah? Keliatannya kau kesulitan menopang tubuhmu." Seru Rafael.


Gila.


Baru tekanan kekuatannya saja sudah sebesar ini, dan aura kekuatannya berwarna hitam. Tingkatan level kekuatan di atas Evander yang memiliki aura berwarna merah. "Hitam? Mustahil!" Seru Edvard. 


"Apanya sih yang hitam?" Ujar Conan tidak mengerti.


"Aura yang dikeluarkan Rafael di tubuh Sherly berwarna hitam, itu tandanya tingkatan levelnya di puncak tertinggi." Desis Edvard. 


Binatang kecil bertanduk yang duduk bersantai di pundak Sherly bertitah dengan kekehan di dalamnya.


"Sherly cobalah untuk mengayunkan pedangmu, tenang saja. Selagi ada aku, kau tidak akan terluka." Ujar Rafael.


Seketika dirinya lupa siapa tuannya disini, dengan mentitah seperti itu. Sherly menurutinya, dirinya sudah tidak bisa berlama-lama disini mengingat bagaimana keadaan temannya itu.


"Hei, aku tidak tahu kau siapa. Tapi karenamu lah tanggung jawabku sebagai seorang Ksatria menjadi rusak." Ujar Sherly pelan. 


Hanya sebentar saja, gadis itu menyamakan kemampuan yang tersisa dalam dirinya untuk beradaptasi dengan kekuatan Rafael. Kemampuan fisiknya memang lemah karena dunia alam bawah sadarnya itu. 


Sesaat gadis itu membaca ucapan yang dikeluarkan Fox sebelum kedua kekuatan itu saling bertubrukan mengakibatkan guncangan keras sehingga aura hitam mengarah langsung pada Fox. 


Ia mengerti sekarang, Necromancer ini bukanlah dalang dari hilangnya jutaan nyawa. Tapi alat yang digunakan untuk mengalihkan perhatian. "Run or die, the goddess." Gumam Sherly.


Satu kalimat yang diucapkan Fox sesaat sebelum tubuh itu hancur lebur terkena serangan Sherly. "Lari atau mati? Apa maksudnya." Geram Sherly. 


Hilangnya Fox yang berubah menjadi abu, hilangnya ribuan mayat hidup yang perlahan menjadi abu yang terhempas angin. "Kita kem-" 


Tubuh itu terjatuh, Sherly telah melewati batasan dirinya. Dirinya kelelahan, terutama tenaganya terkuras habis di dunia bawah sadarnya yang diambang kematian. 


Evander, gadis yang kau banggakan telah membanggakanmu karena menjadi salah satu pilihan yang dipilih oleh semesta untuk menjadi bagian utama Rafael. "Sherly!" Seru Conan. 


Bersambung...