
Tidak terhitung sudah berapa jam Evander masih menunggu seorang gadis yang terbaring di atas ranjang dengan mata yang terbuka lebar.
Dengan ruangan yang minim cahaya, Sherly menatap langit langit kamarnya dengan beribu pertanyaan di benaknya.
"Perkataanmu tadi," sedikit jedaan pada kalimatnya, menginterupsi Evander untuk mendekat.
"Apa maksudnya?" Lanjut Sherly.
Dengan sinar dari lilin kecil yang di genggam Evander, senyuman kecil tercipta membuat suasana sekitar menjadi tegang.
"Perkataan yang mana yang dimaksud anda, Nona?" Tanyanya dengan lembut.
"Tidak usah bertanya lagi. Kau tahu apa yang kumaksud, kan? Jawablah." Ujar Sherly.
Namun entah kenapa di setiap perkataannya itu, sedikit mengandung nada perintah. "What if you were my countrymen?" Bisik Evander disertai kekehan kecil.
Bersamaan dengan kekehan kecil itu, Sherly mendorong tubuh Evander yang mendekat. "Evander, kau-"
Melihat reaksi dan lirikan mata itu, membuat kekehan Evander mereda dan tergantikan dengan senyuman tipis. "Saya bercanda, Nona." Hela Evander.
"Tapi sebaiknya berhati-hati lah, karena bisa kapan saja kekuatan itu lepas dari kendali." Ujar Evander. Kali ini terdengar nada serius di kalimatnya, ia tidak bercanda.
Raut wajah datar tidak juga tergantikan, sehingga laki-laki itu menyerah dengan helaan nafas yang bersambut.
"Matikan lilin itu dan pergilah." Ujar Sherly.
"Istirahatlah, jangan berjaga hari ini." Lanjut Sherly.
Entah kenapa di kalimat itu, Evander mengartikan dengan arti yang berbeda.
Tidurlah, terima kasih untuk hari ini.
Seperti itulah yang Evander dengar.
...~~~...
Tiada satu jam gadis itu memejamkan mata, sebuah suara yang memanggil namanya terdengar secara perlahan-lahan. Panggilan itu terus menerus memanggilnya sehingga tubuhnya bergerak dengan sendirinya.
Dengan angin malam yang dingin, gadis itu keluar melalui jendela kamarnya. Dan tentunya ia masih menggunakan gaun tidur. "Akhirnya sang dewi milikku." Kekeh seseorang. Laki-laki dengan sebuah topeng yang menutup wajahnya itu menarik Sherly ke dalam dekapannya.
Terlihat samar namun jelas bahwa iris mata tajam milik Sherly telah tergantikan dengan tatapan kosong seolah terkendali. Mereka pergi meninggalkan kastil keluarga Frydenlund di tengah gelapnya malam.
'Evander.'
Entahlah, mungkin itu satu kata terakhir dari Sherly sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran dan akal sehatnya.
...~~~...
"Nona, saatnya membersihkan di- Nona?" Evander terheran dengan ketiadaan Sherly di ranjang.
Apa sudah bangun dan pergi mandi? Atau pergi ke aula untuk latihan? Atau bahkan ke ruang kerjanya? Begitu banyak hal yang berada di dalam benaknya.
Namun indra penciumannya mencium sesuatu yang asing, sesuatu yang beraroma seperti gas tidur. "Sial, gadis itu hobi sekali di culik!" Umpat Evander.
Tanpa menunggu lama, laki-laki itu melompat melewati jendela kamar Sherly yang terbuka.
Mengikuti aroma itu hingga ke tempat yang cukup jauh dari daerahnya, ke tempat yang bagi siapapun yang kesana akan tertidur. "Teritori kah? Salah satu pendamping Raja?" Gumam Evander begitu melihat tempat itu di kelilingi oleh asap dan ilusi.
Ilusi, ia lupa mengatakan bahwa saat ini dirinya berada di dalam ilusi yang diciptakan oleh seseorang. Sebuah ilusi bagi siapapun yang terperangkap tidak ingin keluar bahkan taruhannya nyawa sekalipun.
"Murahan sekali caranya, sialan." Geramnya.
Dengan menampilkan sebuah ilusi dimana sebuah keluarga harmonis tercipta, dan tak lupa dengan dirinya yang tersenyum lebar disana. "Damn, whoever creates this illusion will be tortured." Gertak Evander.
Mata merahnya itu seolah siap memakan mangsa yang siapa saja berada di depannya. Iris mata yang menunjukkan kemurkaan. "Siapa kau? Ini teritoriku, bagaimana bisa kau menginjakkan kakimu disini?" Celetuk seseorang.
Rambut putih dengan mata biru yang pudar, ia berceletuk tanpa melihat siapa lawannya kali ini. "Dimana Sherly?" Tanyanya.
"Sherly? Siapa itu? Disini tidak-"
"Katakan dimana Sherly Frydenlund?" Sela Evander.
"Ah sudahlah. Siapapun kau, karena kau sudah menciptakan ilusi sialan itu dan mengambil Sherly dariku."
"Maka hukumannya adalah kematian." Ujar Evander pelan.
Perlahan ia mengumpulkan energi merah yang berada di tangannya untuk membentuk sebuah pedang. "Evander Geino Ignitius, itu namaku. Jika tidak ingin mati maka minggirlah." Titah Evander.
"Maaf sepertinya tidak bisa." Kekehnya. "Entah siapapun kau, mau kau raja, ataupun seorang Dewa. Sherly saat ini sudah menjadi milikku." Lanjutnya.
"Lancang sekali kau ingin bersaing denganku!" Gertak Evander.
Gertakan yang diiringi gerakan cepat untuk menebas lawan itu terlalu gegabah, bahkan saat ini dirinya saja tidak mengetahui lawannya itu manusia ataupun tidak.
Namun, saat mendekat untuk menyerangnya. Aroma disekitar laki-laki itu perlahan menyeruak masuk ke dalam hidungnya. "Kau ini apa?" Tanya Evander setelah sekian lama berpikir.
Tatapan yang sendu dan senyuman tipis yang dilihat olehnya membuatnya melihat dirinya sendiri saat melawan sebangsanya beberapa tahun lalu.
Inilah yang membuat dirinya tidak ingin memiliki perasaan, tapi karena gadis bernama Sherly itulah yang membuatnya berperasaan.
Jadi, ia harus berterima kasih atau tidak? "Entahlah, aku tidak tahu aku ini apa. Jika Tuan besar memanggilku budaknya, maka sekarang aku adalah budak iblis."
Senyuman yang diperlihatkan pada Evander seolah berkata,
Tolong.
"Aku harus menuruti apa yang diperintahkannya, termasuk melawanmu. Mantan Raja kekaisaran." Ujarnya.
Meski laki-laki ini terlihat sangat percaya diri untuk melawannya, tapi tetap saja perasaan ragu tidak akan hilang dari penciumannya. "Namamu, siapa namamu?" Tanya Evander.
"Rey Rouselle." Laki-laki itu menjawab.
Meski manusia, Evander tidak melihat senjata apapun yang akan digunakan oleh Rey. "Kau penyihir? Masih ada ras penyihir di zaman sekarang?" Kekehnya sembari mengayunkan bilah pedangnya.
"Sepertinya dulu aku semakin lemah karena gagal menghancurkan 1 ras yang paling kubenci." Kekeh Evander.
Suara ledakan akibat serangannya itu berdekatan dengan Rey. Tapi kenapa dirinya masih bisa berdiri tegak.
Satu hal yang ia tidak sukai saat melawan ras penyihir adalah, tidak bisa memasuki wilayah yang dilindunginya. Bahkan saat ini pedang yang selalu ia pakai semasa Raja kekaisaran itu tidak bisa menyentuh satu inci daerahnya karena pelindung yang ia gunakan.
"Damn witch race." Umpat Evander.
Serangan itu terus menerus mengenai area jangkauannya sampai perlahan-lahan pelindung itu retak dan hancur berkeping-keping, melihat kesempatan itu, Evander maju untuk menyerangnya.
Namun seseorang lagi-lagi menghalanginya untuk membunuhnya. "Sialan, siapa lagi-"
Rambut panjang dengan mata biru, ia mengenali siapa itu. Itu adalah Sherly Frydenlund.
Namun mata aquamarine yang sering kali ia lihat dan pandangi itu sedikit berubah, mata itu hanya berisi tatapan kosong. Seolah dirinya tidak hidup seperti mayat.
Manik merah Evander membesar, seluruh tubuhnya kaku tak bisa digerakkan dengan bebas. 'Apa semua ini ulah Rey?' pikir Evander. "Apa ini?" Geram Evander.
Bersambung...