The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
Prologue



Di tengah badai salju, peperangan antara manusia, iblis dan vampir terus berlanjut tidak peduli adanya salju, banjir, gempa, atau bahkan tsunami melanda.


Peperangan tetaplah peperangan, hal itu adalah sesuatu yang penting untuk dimenangkan. 


Di tengah badai salju yang tidak mereda sama sekali, sekumpulan manusia bersembunyi sejenak untuk menyembuhkan luka dan memulihkan tenaga yang mereka pakai untuk melawan vampir dan iblis kelas rendah itu. 


"Nona, bagaimana ini? Vampir dan iblis itu terus-menerus membantai kaum kita." Ujar salah satu panglima perang. 


"Jika sudah takdir maka kita akan mati di sini tanpa di kenal oleh siapapun." Gadis dengan wajah ternodai oleh darah itu menoleh dan tersenyum dengan mata terpejam.


Tidak hanya dirinya yang mengalami kegelisahan berkepanjangan, melainkan prajurit lainnya pun sama.


Takut, gelisah, khawatir dan cemas pada hidupnya setelah peperangan ini. 


Hanya ada dua hal tentang kehidupan setelah pulang dari peperangan ini, mati atau selamat bersama para ksatria yang lain.


Hanya itu, sederhana namun membuat gelisah. "Jangan panik, kita harus tetap-" 


"Eh, kalian di sini? Ternyata kaum manusia begitu lemah sampai-sampai bersembunyi di tengah-tengah peperangan." Celetuk seseorang sembari mempertunjukkan gigi taringnya.


Sekumpulan manusia yang berada di gua itu seketika berlarian untuk menghindari vampire yang menyiduknya. 


"Vampir bangsawan?" Tanya seorang gadis berambut brunette-nya dengan nada kejutnya.


Mereka berlari keluar dari persembunyian, terus berlari dengan napas yang tersumbat. Mereka lelah, berlari dari bangsa yang berkali-kali lipat lebih kuat dari manusia adalah hal mustahil.


"Bagaimana bisa vampir bangsawan ikut serta dalam peperangan ini? Bukankah perjanjian kontrak itu sudah di tanda tangani oleh Raja Vampir untuk tidak melibatkan vampir bangsawan?" Seru panglima. 


Pemimpin perang itu hanya bisa tersenyum dengan tangan yang terkepal. "Makhluk seperti mereka tidak dapat dipercaya, kau tahu? Jadi wajar saja." Kekeh gadis itu.


 "Tapi, Nona.."


Langkah kakinya berhenti diikuti oleh pasukannya. "Satu kemungkinan habis ini adalah," 


"Kematian." Sambungnya dengan senyuman tipis di wajah cantiknya. 


Senyuman di wajah cantiknya itu adalah senyuman kesedihan. Mata indahnya menatap langit yang turun serpihan salju kecil.


Di udara yang dingin seperti sekarang, ia harus berjuang membela bangsanya. Di usia yang cukup dini, ia seharusnya sedang duduk di depan perapian dengan sebuah coklat hangat.


"Setelah ini kita akan mati, apa kalian siap?"




Warna merah darah yang membasahi salju itu membuat kekehan para vampir dan iblis itu mengeras, kekehan meledek itu membuat telinga dan hatinya panas.




"Sialan..." lirih lemah gadis itu. 



Kedua tangan yang penuh darah itu menggenggam erat dengan sebelah mata yang menatap tajam kearah langit malam. "Sial sial sial!" Seru gadis itu. 



"Apa kau ingin balas dendam atas kecurangan yang kau dapatkan, Nona Sherly Frydenlund." Celetuk seseorang dari balik kabut salju yang melebat itu. 



"Si,siapa?" Suara gadis itu melemah, namun kedua mata *aquamarine* itu melihat senyuman miring yang terukir indah di wajah tampan yang terhalang kabut salju itu. "aku?" 



Perlahan wajah itu mendekat kearahnya sembari berbisik, "Aku adalah seseorang yang akan membuat keinginanmu terwujud, bagaimana, Nona?"



"Apa kau ingin membalas dendam pada Vampir dan iblis rendahan itu? Jika iya maka genggam tangan saya."



Tuhan mendengar kalimat permintaannya.



Tanpa ragu gadis cantik itu menggenggam tangan pria yang putih seputih salju itu, namun saat ia menaruh tangannya di dalam genggaman itu. 



Rasa sakit menusuk jantung dan paru-parunya, darah dari tangannya mengalir deras dan menodai salju yang bersih sebersih bayi yang baru lahir.



Rasa sakit menusuk jantung dan paru-paru teralih pada bagian mata yang sakit seolah diukir sesuatu yang tajam. Sebuah simbol terukir, simbol seperti bintang dengan tulisan yang tidak ia mengerti tertera di dalam.



"Ini perjanjian darah kita, saya akan mewujudkan keinginan anda sampai terwujud. Dan membunuh semua makhluk rendahan seperti mereka untuk anda, Nona Sherly." Ujarnya. 



bersambung...