
Sherly lepas kendali sisi iblisnya dikarenakan marahnya Rafael dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Luke. Kejadian yang tidak inginkan oleh Rafael itu sendiri.
Amarah Rafael yang membuat kekuatannya mengambil alih tubuh Sherly.
"Hei, bocah." Bisik Luke. Tentu Conan yang dipanggil dengan sebutan untuk anak kecil itu meliriknya dengan tajam. "Siapa yang kau-"
"Sejak kapan saudara kembarmu itu iblis?" Sela Luke.
Mata serta akses bicaranya terbuka lebar mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Luke, Sherly iblis? Jadi selama ini Sherly adalah setengah vampir, iblis dan manusia? Pantas saja tenaga dan kekuatannya itu tidaklah normal. "Aku saja baru tahu, bodoh!" Sahut Conan dengan tatapan kecewanya.
"Kau kecewa?" Celetuk Luke begitu anak itu melangkahkan kakinya mendekati Sherly yang masih merintih kesakitan.
"Tentu saja, dia menyembunyikan ini semua dariku." Kekehnya. Luke tahu jika di balik tawaannya itu tersirat rasa sedih dan kecewanya. Tapi kenapa anak ini menyembunyikan hal yang sama seperti Sherly.
"Kau juga kenapa menyembunyikan rasa sakit, takut, sedihmu? Kau egois, bocah." Tukas Luke sembari berjalan berdampingan dengannya.
Pedang yang berwarna silver itu terhunuskan, pedang dengan sedikit corak merah di bilah pedangnya membuat mata Conan tidak teralihkan dari corak itu. "Apa yang kau tunggu! Hunuskan pedangmu! Jangan menjadi bodoh hanya karena itu saudaramu!" Seru Luke.
Dengan perasaan ragu dan tangannya yang bergetar, ia menghunuskan pedangnya yang berwarna biru gelap itu kearah Sherly.
"Dengar! Saudaramu itu saat ini dalam kendali iblisnya, kau bicara pun tidak ada gunanya. Jadi bunuh tanpa ragu." bisik Luke.
"Tapi, tapi dia kakakku! Bagaimana bisa aku membunuh satu-satunya keluargaku!" Cetus Conan.
Sebuah tamparan keras yang diterima Conan membuat air mata itu terhenti sejenak, lebam di pipinya sedikit membuatnya kaget. "Perasaan ragu tidak akan membuatmu menang dalam pertarungan! Buang rasa ragumu!" Seru Luke.
"Di dalam pertarungan tidak ada yang namanya belas kasihan antar saudara, bocah! Kau harus lepaskan itu semua jika ingin menang." Gertak Luke. Dan entah kenapa perkatan dan kalimatnya itu membuatnya teringat pada Sherly yang mengucapkan hal yang sama.
Tangannya menggenggam erat pedangnya itu, apapun yang di ucapkan oleh Luke itu benar. "Dengar, bocah. Sherly tidak dapat mengendalikan sisi iblisnya itu, kemungkinan setelah sisi iblisnya habis. Sherly tidak sadarkan diri karena tenaganya terkuras." bisiknya.
"Kau ini terus menerus memanggilku bocah, namaku Conan, bodoh!" Tegur Conan.
Senyuman tipis terukir di wajah tampan Luke dengan kepala yang menunduk itu, Conan tidak mengetahui jika Luke tersenyum dengan kegigihan dan rasa kekeluargannya. Berbeda dengan para saudaranya. "Kau beruntung, Sherly. Memiliki saudara yang menyayangimu." Ujarnya pelan.
"Dan kau masih menginginkan kematian? Betapa tidak bersyukurnya kau, Sherly." gumamnya bersamaan dengan berubahnya warna matanya menjadi hitam.
"Oi, ayo! Untuk apa kau berdiam disana seperti orang bodoh, jangan bilang kau ragu membunuh Sherly hanya karena dia cinta pertamamu." Seru Conan.
Mata hitam itu terbuka lebar, sedikit benar apa yang diucapkan oleh conan. Ia masih sedikit ragu untuk membunuh perempuan yang menjadi cinta pertamanya. "Tentu saja tidak, dasar bocah gila." Kekeh Luke.
Sekuat tenaga Luke menancapkan bilah pedangnya pada perut Sherly sehingga tubuhnya tertusuk berbagai tombak yang keluar dari tubuh Sherly, ia tidak peduli dengan nyawanya. Ia hanya ingin Sherly kembali, kembali menjadi manusia yang ia inginkan.
"Oi, kau gila! Lepaskan pedangmu, kau bisa mati!" Seru Conan dari belakangnya.
Seolah tuli, Luke terus mendorong bilah pedangnya itu hingga benar benar menusuk perutnya hingga menembus ke bagian belakang perutnya.
"Sherly, sadarlah...kumohon." bisik Luke.
Tubuh laki-laki itu terjatuh dengan darah yang mengalir deras dari berbagai lubang di tubuhnya, hal itu membuat air mata dari gadis itu mengalir keluar bersamaan dengan hilangnya sayap hitam itu. "Lu..ke?" gumamnya ketika melihat tubuh laki-laki itu terjatuh.
Tubuh gadis itu terjatuh dengan kedua lutut yang menumpunya, bersamaan dengan langkah kaki Conan yang mendekat. "Kau lemah, Sherly."
"Kau lemah sampai-sampai membiarkan sisi iblismu mengambil alih tubuhmu." Kekeh Conan dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kenapa kau menyembunyikan tentang sisi iblismu padaku? Aku masih keluargamu, kan?"
Pertanyaan itu terus menerus keluar dari mulut Conan, sedangkan Sherly tiada niatan untuk menjawab satupun pertanyaan itu. "Kenapa Sherly?" Serunya.
"Lalu, sejak kapan kau mendapatkan sisi iblismu itu?" Ujar Conan pelan.
"Sejak aku diserang Necromancer itu." Ujarnya dengan senyuman tipis.
"Kalian larilah, para iblis lainnya tidak akan membiarkan kalian lari." Ujar Luke dengan susah payah.
Melihat darah yang mulai keluar mengalir dari mulut Luke membuat kedua tangan Sherly mendekapnya, lalu berkata. "Kau mau aku hidup kan?" bisiknya.
"Tentu...saja." Ujarnya dengan senyuman manis.
Sebagai perpisahan, mereka menyatukan bibir mereka dengan air mata yang masih mengalir membasahi kedua pipi mereka. "Bertahan hiduplah, Sherly." Kekeh Luke sampai pada akhirnya mata itu menutup.
"Ya, ten-"
"Mana mungkin kita membiarkan kalian lari!" Kekeh para iblis.
Sebuah rantai mengikat kedua tubuh mereka tanpa aba-aba, dengan tenaga yang besar, para iblis ia menarik rantai itu dengan cepat ke dalam kerajan iblis. "Hehehe, aku akan naik pangkat." Kekeh geli salah satu iblis prajurit itu.
Dengan luka yang diciptakan oleh Luke dan rantai yang masih mengikat tubuh serta kedua tangannya. "Jangan memberontak jika masih ingin hidup."
"Licik." Ujarnya pelan.
Wajah datar dan luka di perutnya itu membuat langkah kakinya melambat, sampai pada akhirnya gadis itu satu ruangan dengan pria yang di carinya.
"Evander." Gumamnya tidak percaya. "Selamat sore, Nona." Sapa Evander dengan senyuman manis di wajah yang penuh luka.
"Satu pasangan yang ditakdirkan satu ruangan."
"Ruangan eksekusi." Abian terkekeg geli.
Mata hijaunya itu membuat Sherly muak, mata merah milik Evander melirik darah yang keluar dari perut Sherly.
Api amarah yang semula mereda, kini mulai membaca seperti semula. Abian benar-benar membuat Evander marah besar.
"Tunggu sampai malam bulan purnama ya, Nona Sherly Frydenlund." Kekeh Abian sembari mendekatkan wajahnya.
"Raja macam apa yang berkelakuan sampah?" Kekeh Evander.
Hening.
Suasana menjadi hening begitu Evander terkekeh geli, mata merah milik Sherly dan mata hijau milik Abian menatapnya dengan heran.
"Kau benar-benar cari mati ya, Raja ketiga." Geram Abian.
Abian mulai meraih tali yang berpermukaan kasar, hanya dalam sekejap mata tali itu mendarat di tubuh Evander dan menyebabkan lebam.
"Evander!" Seru Sherly.
"Wah ternyata ini kekasihmu, Evander?" Kekeh Abian.
Dengan nafas yang terengah-engah, seringaian tetap tidak sirna dari wajah tampannya yang penuh luka. "Lemah sekali. Raja Iblis macam apa yang menyiksa tahanan menggunakan senjata manusia." Ledek Evander.
"Tutup mulutmu, Evander Geino Ignitius." Ujar Abian dengan nada rendah.
Bersambung...