
"Memangnya siapa kau memerintahku, Conan Frydenlund. Kau memang adikku, tapi bukan berarti kau bisa memerintahku." Geram Sherly.
Mata merah yang mengintimidasinya itu benar-benar membuat laki-laki yang terduduk di lantai itu berkeringat dingin. Jauh, dirinya dengan Sherly terlalu jauh.
Mata itu membulat seketika saat Sherly menggores pergelangan tangannya, tapi tidak dengan dirinya yang memasang wajah datar ketika dirinya terluka karenanya. "Apa yang kau lakukan?" Seru Conan.
"Conan Frydenlund, aku tahu kau cemas pada kondisiku karena aku terluka. Tapi saat ini aku bukanlah gadis lemah yang berlindung di balik punggung sang ayah, jadi diam dan lihatlah." Ujarnya.
"Lihatlah bagaimana aku melawan mereka, dan tirulah." lanjutnya sembari berlari maju kearah Gavin.
Selagi dia berduel anggar dengan kakak sulungnya itu, mulutnya tidak berhenti memerintah laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, Evander Geino Ignitius. "Kau terlalu fokus pada pelayanmu, Sherly." Bisik Gavin.
Kedua mata merahnya itu terbuka lebar, meski sesaat, Sherly bisa merasakan aura kehangatan dari laki-laki ini padanya. Seseorang yang pernah merawat dan melindunginya. "Apa-apaan, Vampir sepertimu tidak akan menjadi apa yang aku pikirkan." Kekehnya sinis.
"Memangnya Vampir sepertiku tidak akan jadi seperti apa yang kau pikirkan!" Serunya dari balik tubuhnya.
"Tamat sudah, sang Dewi perang!" Kekehnya.
Seringaian dari balik wajahnya yang penuh luka itu, membuat semua keadaan menjadi hening. "Bocah itu masih bisa tersenyum di ujung kekalahannya?" Ujar Seveth.
"Sepertinya kau lupa denganku ya, Tuan Vampir." Celetuk seseorang. Senyuman, mata merah dan rambut coklatnya itu membuat perhatian Gavin terpusat padanya.
Serangannya pun tertahan oleh Evander, pelayan pribadi Sherly. Sang Dewi perang. "Bagaimana bisa?" Gumam Gavin.
"Aku dan Evander adalah dua jiwa yang berada di dalam satu tubuh, artinya dimana pun aku berada, Evander akan mengetahui posisiku. Begitupun sekarang, tuan Vampir." Ujar Sherly.
Kedua orang dengan iris mata yang tajam itu saling membelakangi, sang Dewi perang yang berhadapan langsung dengan Gavin Frydenlund, Evander berhadapan langsung dengan keempat Vampire bangsawan lainnya.
"Apa benar hanya ini kekuatan Vampir? Sepertinya masih lebih kuat kekuatan bangsa iblis." Kekeh Evander.
"Sampai kapanpun kau tidak akan menang melawan sang Dewi perang, tuan Vampir. Tolong camkan itu." Tegas Sherly sembari melirik tajam Gavin yang terduduk di atas lantai setelah kalah berduel anggar.
Meski tubuhnya tidak dalam kondisi yang sehat dan baik, tapi dia berhasil mengalahkan Gavin Frydenlund yang seorang Vampir dan lagi bukanlah Vampire biasa.
"Kau lihat, Conan. Seperti itulah caraku bertarung di dalam medan perang. Jika kau ingin tinggal denganku, besok datanglah ke aula." Titah Sherly mutlak.
"Dan kalian para Vampir, sebaiknya jangan menginjakkan kaki kalian ada lantai rumahku." Geram Sherly. Sampai pada akhirnya mata yang berwarna sama seperti para Vampir itu berubah menjadi semula, sama seperti Conan.
"Evander, bereskan sisanya." Titah Sherly sebelum pada akhirnya pergi dengan tubuh yang di topang oleh laki-laki itu, Conan Frydenlund.
Namun baru saja melangkah, tubuh itu terjatuh lemah keatas lantai yang penuh darah. Darah terus keluar dari mulutnya, bahkan perban yang membalut lukanya pun terbuka. "Tubuh manusia tidak akan kuat mengenai efek samping kekuatan Gavin." Kekeh Lucas.
"Nona!" Seru Evander.
Amarah yang semula mereda kini memuncak begitu melihat Sherly yang terjatuh dengan bersimpang darah di sekitar tubuhnya.
"Kalian para makhluk rendahan beraninya membuat tubuhnya terluka, Vampir yang memakai kekuatannya padanya...tidak akan kuampuni." Ujarnya dengan nada rendah.
Ucapan, kata, kalimat yang dikeluarkan dari mulut Evander mengundang sebuah angin yang datang dari berbagai arah. Angin yang berwarna merah yang mampu mencabik-cabik tubuh yang di anggap lawannya, namun entah kenapa angin berwarna merah kali ini terasa berbeda.
Sepasang mata Conan melirik kedua pelayan wanita yang menatap laki-laki itu dengan tatapan resah. "Apa Evander sering seperti ini?" Tanya Conan.
"Tidak, hanya saat Nona Sherly terluka parah. Yah, mungkin karena Nona Sherly orang yang berharga baginya." Ujar Madam Lynelle.
Mendengar penjelasan singkat dari wanita tua itu, mata Conan melirik saudara kembarnya yang memejamkan matanya dengan nafas terengah-engah. "Hei. Perintahkan Evander untuk hentikan itu, Sherly Frydenlund." Bisik Conan tegas.
"Mana...mungkin, dia sedang marah." Luka itu semakin parah, tapi Sherly mampu menahan itu semua.
"Berhenti sekarang juga, Evander!" Seru Sherly berusaha keras.
Kedua tangan dan kakinya berhenti seketika ketika mendengar seruan Sherly, meski berseru sekeras itu, ia tahu bahwa gadis itu bersusah payah untuk bersuara sekeras itu dengan luka yang ia terima. "Apa? Setelah kau mendapatkan luka separah itu, kau mau aku berhenti?"
"Apa kau yakin?" Suara dan nada yang dikeluarkan Evander benar-benar menunjukkan dirinya berada di ambang kemarahannya.
"Berhenti sekarang atau kita batalkan perjanjiannya, Evander." Tegas Sherly.
'*Perjanjian*?'
Di tengah malam di ruang tidur yang minim cahaya, mata aquamarine itu terbuka secara perlahan. Namun mata itu terlihat sayu, seperti saat ia menghisap darah milik Evander. "Evander." Panggil Sherly susah payah.
Tahu apa yang akan diucapkan selanjutnya, laki-laki itu memberikan gelas berisikan sebuah cairan merah. "Apa kau bodoh? Aku tidak ingin-"
"Ini darah, darahku. Ka- maksud Saya Nona membutuhkan ini, bukan?" Sela Evander.
Tangannya yang lemah berusaha mengambil gelas yang berisikan cairan merah yang berupa darah milik laki-laki itu, tapi karena luka yang diterimanya dari Gavin, kakak laki-lakinya. Ia menjatuhkan gelas itu sehingga membuat saudara kembarnya terbangun.
"Suara apa itu?" Celetuk Conan dengan suara parau.
Sial, dengan mata dan tubuhnya yang seperti ini. Ia tidak akan bisa menyangkal bahwa dirinya adalah setengah Vampir setelah terjadinya peperangan beberapa tahun yang lalu. "Sial." Gumam Sherly.
"Ah Sherly-"
Hanya dalam sekejap mata, Evander membawa tubuh yang lemah itu jauh dari pandangan Conan yang baru saja terbangun. "Sial." Hela Sherly bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh.
Sherly yang sedang menahan betapa sakit tubuhnya itu, sedangkan Evander sedang menggores lengannya menggunakan pisau miliknya. "Nona butuh darah, bukan?" Ujar Evander.
"Sejujurnya, aku tidak ingin jadi seperti ini. Ini seolah membuatku seperti malaikat bermuka iblis. Ini membuatku muak." Sherly terkekeh.
Memuakkan, Evander yang melihat Sherly menjadi lemah tak berdaya rasanya memuakkan. 'Kemana perginya Sherly Frydenlund yang tangguh dan berani?' Saat ini gadis itu seolah kembali ke jiwanya beberapa tahun lalu.
Kedua tangan Evander menekan pundak Sherly sehingga tubuhnya tegap dengan mata merah yang menatap wajah tampan Evander yang disinari sinar bulan yang terang. "Cukup omong kosongnya, Nona. Jangan mengulur waktu, cepat minum dan kembali ke rumah." Tegas Evander.
"Aku membenci Vampir, tapi kenapa malah menjadi salah satu dari mereka?" Gumamnya tidak jelas.
Manik mata merah itu menyala seperti binatang buas yang akan memangsa mangsanya yang sudah ditargetkan. "Kalau kau tidak ingin meminum ini, biar aku yang menghisap darahmu sampai habis." Geram Evander.
"Lakukan sesukamu, Evander. Aku sudah tamat."
Bersambung...