
"Em, Nona Frydenlund." Panggil Keenan. Namun gadis itu tidak menggundahnya dan malah memusatkan perhatiannya pada salah satu aksesoris di salah satu pedagang yang mereka kunjungi.
"Panggil Sherly aja, anggap saja kita saat ini temanan. Aku sudah muak dengan statusku yang sebagai Nona bangsawan." Ketus Sherly.
Meski sudah mendapatkan perintah ataupun izin dari sang empu, bagaimana bisa dirinya yang merupakan kasta rendah memanggil nama seorang keluarga bangsawan ternama di inggris. Terlebih lagi salah satu anggota keluarga Frydenlund yang sangat berjasa bagi para rakyat. "Mana mungkin saya begitu lancang terhadap anggota Frydenlund." Kekehnya canggung.
"Kalau begitu anggap saja margaku bukan Frydenlund. Aku hanya ingin berteman seperti orang lainnya, bukan mencari pelayan ataupun bawahan." Ujar Sherly dingin.
Terdiam membungkam.
Nada yang begitu dingin tidak seperti sebelumnya, namun entah kenapa gadis yang berada di hadapannya tidak seperti bangsawan lainnya yang sering kali menindasnya karena kotor dan rendah.
"Baiklah, Sherly." Sahut Keenan begitu lembut.
Sial, nada yang lembut mengusik telinganya itu sukses membuat kedua pipinya menciptakan sirat memerah. "Baiklah! Nih hadiah untuk keponakan(?)" Saking gugupnya, ia salah mengucapkan satu kata.
"Adik sepupu, Sherly." Koreksi Keenan.
Dan entah apa alasannya, saat laki-laki ini memanggilnya dengan nama aslinya. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya, dampaknya sangat merepotkan baginya. "Anu, Keenan." Gumam Sherly.
Laki-laki yang melangkah di depannya sejenak menghentikan langkahnya, lalu menolehkan kepalanya. "Ya?"
"Boleh...aku ikut?" Tanyanya dengan gugup.
"Ikut kemana?" Celetuk seseorang yang secara tiba-tiba di belakang Sherly.
Seorang laki-laki yang memiliki tubuh melebihi tinggi tubuh gadis bangsawan itu, dengan tatapan intimidasinya yang cukup menekan kepala Keenan untuk menundukkan kepalanya. "Nona Sherly mau ikut kemana dengan laki-laki ini?" Nada yang penuh penekanan.
Entah sejak kapan Evander menjadi seketus dan sedingin ini, apa karena Evander tidak menyukai keramaian. "Kau kenapa sedari tadi ketus seperti itu?" Tanya Sherly tidak suka.
Dengan lancangnya, Evander merangkul pundak Sherly ke dalam dekapannya. "Saya hanya tidak suka jika Tuan saya begitu akrab dengan orang asing." Desis Evander.
"In short Evander is jealous of you, Sherly." Jelas Conan singkat.
Keadaan Hening mendatang, seorang gadis bernama Sherly dan laki-laki bernama Keenan tidak cukup mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Conan. Bagaimana bisa seorang iblis cemburu pada tuannya. "Apa katamu? Cemburu?" Tanya Sherly.
"Tanpa kau lihat juga sikapnya itu menunjukkan bahwa dia itu cemburu, Sherly." Tekan Conan merasa gemas pada saudara kembarnya itu.
Merasa kesal, Sherly melepaskan dekapan itu dengan keras. Tatapan penuh amarah ditujukan pada Evander. Menyadari perlahan mata gadis itu berubah, Evander menundukkan kepalanya. Iris mata itu seolah mengatakan bahwa,
Kita hanya kedua orang yang terikat dalam sebuah perjanjian darah, tidak lebih. Seperti itulah sebuah kalimat yang disiratkan pada iris matanya itu. "Maaf, Nona." Ujar Evander pelan.
"Harusnya kau tahu batasan, Evander." bisik Sherly.
"Sudahlah, Sherly. Dia kan kekasih mu, bukankah itu hal yang-"
Mendengar sebuah kata yang tabu baginya, perasaan yang sebelumnya senang dan terlepas bebas itu sirna. Dan tergantikan oleh perasaan amarah yang besar. "Evander bukan kekasihku, dia adalah pelayan pribadiku." Sela Sherly.
Usai berkeliling di acara bazar itu, Sherly mengurung diri di dalam ruang perpustakaan miliknya. Entah karena perasaan senangnya hancur atau karena pekerjaannya yang begitu menumpuk. Semua itu mereka biarkan sampai pada akhirnya, Evander datang dengan membawakan secangkir teh.
"Permisi, Nona. Saya membawakan dokumen serta secangkir teh untuk anda." Ujar Evander. Namun tidak ada sahutan apapun dari gadis itu, Sherly hanya diam dengan sebuah buku tentang sejarah dunia di masa lalu.
Dengan ruang yang hanya di cahayai oleh cahaya lilin dan sinar bulan tak menghentikan pergerakan iris mata yang terpusat pada setiap kalimat di buku tebal itu. "Katakan." Titah Sherly.
"Dokumen kerajaan sebrang berisikan tentang peperangan yang akan diselenggarakan beberapa bulan kedepan, perihal tentang peperangan, itu dipicu oleh konflik yang beredar beberapa hari lalu."
Sherly hanya diam di kursinya dengan mata yang masih terpusat pada buku itu dan kedua telinga yang terpusat mendengar perkataan Evander. "Konflik yang berupa pengkhianatan kepercayaan, beberapa hari lalu berita tentang putri Frydenlund yang menjadi Vampir itu beredar luas sampai ke sebrang."
"Tanda tangani dokumen itu, persetujuan dariku itu yang memulai peperangan bukan?" Tanya Sherly.
Tidak ada pergerakan dari tangan laki-laki itu, dirinya tidak bisa menandatangani dokumen ini. Peperangan antar manusia dan antar kerajaan yang dahulu sangat dipercayai bukanlah hal yang biasa. "Non-"
"Jika tidak ada yang penting, kau boleh keluar." Sela Sherly.
Meski selaan kalimat Sherly itu mengandung perintah bagi Evander, tapi dirinya tidak juga beranjak pergi dari ruangan ini. "Ini perintah!" Tekan Sherly.
"Maaf tapi,"
Langkah maju sedikit lebih dekat dengan sisi satu meja itu sampai-sampai gadis yang tengah membaca buku sejarah itu diharuskan untuk mendongkak agar bisa menatap matanya itu. "Saya tidak menerima perintah seperti itu." Lanjutnya.
"*What the hell are you saying*?" Geram Sherly. "Kau mau melanggar perjanjian?" Lanjut Sherly.
"Bagaimana jika saya beritahu bahwa ada sisi tersembunyi di dalam tubuh anda, Nona." Bisik Evander.
Gertakan serta perubahan iris mata gadis itu membuat suasana hening di ruangan yang minim cahaya, kedua tangannya mengepal bersamaan dengan terciptanya urat siku-siku di dahinya. "*This is an order! My orders are absolute*." Tekan Sherly.
Bersamaan dengan terucapnya kalimat itu, iris mata merahnya menyala menatap tajam Evander yang tidak jauh dari hadapannya. Memang benar bahwa ia bukan bawahannya, tapi itu sudah tertulis jelas di perjanjian.
"*As you promised, until I achieve my dream of revenge*." Sherly berucap.
Dengan matanya yang penuh aura intimidasi itu, laki-laki di hadapannya tidak bisa membantah apa yang diucapkan gadis ini.
Meski gadis ini adalah sumber kekuatannya selama ini. "Baik, Nona." Final Evander.
Bersambung...
PS : Tingkatan gelar bangsawan inggris
\*Emperor, King, Duke, Prince, Marquis, Count, Earl, Viscount, Baron.