The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
33. Minefields: Who is Evander?



"Ya, sampah." Bisik Dylan.


Dylan mungkin teman Gavin, kakak sulung Sherly. Tapi tugasnya saat ini hanya memenangkan peperangan yang berarti baginya membunuh semua orang yang berada di hadapannya.


Seiring berjalannya waktu, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Itu menandakan ia kekurangan darah. "Sepertinya tuan Vampir telah kelelahan." Kekeh Sherly sinis.


Melihat luka di wajah Sherly yang menyebabkan darah mengalir itu, sedikit menggundah nafsu makannya.


"Kau akan kuhisab habis darahmu itu, manusia." Dylan menggeram.


Kedua taringnya mulai tumbuh keluar dari garis mulutnya. "Sudah bertindak seperti hewan buas, ya?"


Tidak berbohong, bahwa dirinya sudah tidak kuat berdiri. Terlebih lagi lawannya kini berubah menjadi binatang liar, yang menginginkan darah.


"Kau akan menjadi makanannku, Sherly." Seru Dylan.



"Katakan dengan jujur, siapa dirimu?" Alf merasa ada yang aneh dengan laki-laki yang jauh lebih muda di hadapannya ini.



Tubuhnya penuh dengan luka, sedangkan laki-laki ini sama sekali tidak terluka. Tidak, apa dirinya memiliki kekuatan penyembuh?



"Aku Edvard Dagfinn Lounn, iblis reinkarnasi. Sepertinya sebelumnya aku sudah memperkenalkan diriku." Ujar Edvard heran.



Darah dan es, sepertinya pemikiran Alf salah selama ini tentang elemen kekuatan darah. Kekuatan yang diciptakan oleh darah, entah darah lawan maupun darah sang pemilik.



Es melawan elemen seperti itu tidak ada satu persen untuk menang.



Tapi sepertinya, iblis baru ini tidak hanya memiliki satu elemen kekuatan. "Maksudku, apa kau meniru elemen iblis lain?" Tanya Alf.



Hanya senyuman yang menyambut pertanyaan yang sungguh tidak memiliki makna indah bagi Edvard. "Jika kau iblis, kenapa kau berpihak pada manusia."



"Iblis dan manusia tidak bisa hidup berdampingan." Lanjutnya.



Alf Alvishemdall yang semula diam tak banyak bicara, kini berubah drastis. "*What the hell are you talking about*?" Tekan Edvard.



Memang Edvard tidak menyukai manusia, tapi hal itu membuatnya membenci dirinya yang lahir dari seorang manusia. "Diam sialan." Geram Edvard.



Kekuatan iblis ini memang sulit diketahui, meniru, hanya itu yang saat ini diketahui Alf.



Edvard memang kuat, tapi kekuatannya bukanlah meniru. Seperti penyihir, dirinya memiliki grimoire. "Jika kau elemen es, maka aku adalah api." Gumam Edvard. 



Tidak peduli di hadapannya ini, kaisar kedua, Vampire atau bahkan kakaknya. "Edvard, hentikan usaha sia-siamu dan ikutlah bersamaku."



Diam, tangan yang terangkat untuk meluncurkan serangan itu kini menurun dan sejajar dengan tubuhnya.



Entah apa yang membuatnya melukai dirinya sendiri sehingga darah itu terus menerus menetes jatuh ke tanah.



Menetesnya darah membuat perhatian Alf jadi tidak terpusat padanya kesempatan untuk menyerang. "Jawabannya tidak, kau berjalan di jalan yang salah." Bisik Edvard.



Ia terus menyerang, sedangkan Alf terus menerus menghindar dengan beberapa luka yang didapatkannya.



Lagi-lagi dirinya selalu kalah, apakah ini yang disebut salah satu terkuat?



Bertengkar dalam benak pikirannya, sehingga tidak sadar dirinya terjatuh di tanah dengan darah disekeliling tubuhnya.



Satu hal, para Vampir menyukai darah. Itu yang menarik beberapa vampir kearahnya.



Sekumpulan Vampir menyerbu mereka berdua, namun setetes darah Edvard membuat sebuah api tercipta dari lingkaran darah itu.



Meski hanya menahan sekumpulan itu, Edvard harus mencari tempat dimana ia bisa bertarung andil dengan laki-laki yang disebut kakak olehnya.



"Apa kalian kanibal?" Seru Edvard.




"Iblis sepertimu tidak perlu mengetahuinya, pergilah." Ujarnya.



Nada yang begitu datar menginterupsi tubuh Edvard untuk tidak bergerak lari. "Siapa kau memerintahku?" Kekeh Edvard.



Nada kekehan yang keras itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu, semakin darah itu menetes dan menciptakan api dari darahnya, semakin tenaganya terkuras. Butir-butir keringat menetes membasahi pelipisnya. 



"Kenapa kau begitu berusaha keras?" Tanya Alf. 



Dirinya sudah menyerah, entah mati di tangan bangsanya sendiri atau dibunuh oleh Edvard yang terlihat sama sekali tidak ada satupun luka di tubuhnya.



"Karena kau tidak boleh mati sebelum aku yang bunuh." Ujar Edvard tanpa menoleh.



Dylan yang menjadi hewan liar dan buas ini membuat Sherly terpojok sehingga ia masuk ke dalam gua sempit sementara, berguna untuk memulihkan tenaganya.


Darahnya terus menerus menetes, sembunyinya dirinya tidak membuat Dylan pergi. 


Semakin kuat aroma darahnya, semakin buas Dylan menyerang. Saat ini Sherly hanya bisa mengatur nafas sembari berdoa agar Dylan tidak bisa masuk ke dalam gua. "Kenapa kau tidak menerima tawaranku?" Tanya Rafael. 


Gadis yang mengatur nafas dengan punggung yang bersandar lelah pada bebatuan yang terjerat di gua. "Entalah, aku tidak berniat mati cepat." Sahut Sherly. 


"Disini kau rupanya, makananku." Bisiknya.


Suasana menjadi tegang. Butir-butiran keringat mulai tercipta di keningnya. "Kau nakal." Kekehnya.


Entah keberapa kalinya Sherly merasa takut saat ini, Dylan saat ini bukanlah Dylan yang sebelumnya.


Tubuhnya mati rasa. Kedua kakinya lemas tidak bisa digerakkan. "Sherly Frydenlund, kini hanyalah gadis biasa?" Tanya Dylan.


Benar? Sherly yang mengalahkan banyak Vampire dan iblis kini bertekuk lutut di hadapan Dylan.


"Vampir yang sangat kurang ajar." Celetuk seseorang.


"Rafael." Panggil Sherly pelan.


"Sherly, mundurlah." Ujar Rafael.


Meski Sherly tidak tahu Rafael berada dipihaknya atau musuh, tapi satu hal yang tidak bisa di langgar. Rafael terikat dengannya.


"Dylan, akulah lawanmu." Ujar Rafael.


"Apa? Lawanku adalah Sherly Frydenlund." Seru Dylan sembari melancarkan serangan untuk membuat Rafael mundur.


Entah seberapa persentase kekuatan Dylan saat ini sampai-sampai bisa membuat Rafael terpukul mundur.


"Lawanmu Sherly Frydenlund, Dylan. Seorang manusia dari keluarga bangsawan yang memegang penuh atas hak bertarung-"


Belum melanjutkan ucapannya, Dylan memukul Sherly sehingga tubuh lemah itu terpukul jauh sampai-sampai kepalanya mengenai dinding gua.


"Akh!" Rintih Sherly.


Darah mengalir deras dari pelipisnya, kondisi Sherly semakin lama semakin memburuk.


Luka dimana-mana, tenaga terkuras. "Apa ini manusia yang terikat darah dengan salah satu iblis terkuat, Evander?" Seru Dylan.


"E...vander?" Gumam Sherly.


Tatapan mata itu kosong, telinganya mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya.


Mengalirnya darah dari pelipisnya membuat pandangannya kabur. "Evander..." Sherly melirih.


Beberapa kata yang entah siapa yang mengucapkan itu muncul disaat yang tidak tepat.


"Nona, waktunya makan siang."


"Nona yakin bisa menghabiskan mereka?"


"Nona tidak perlu turun tangan untuk Vampir rendahan sepertinya."


"Sherly Frydenlund, gadis perang yang terikat perjanjian darah denganku."


"Baik, nona."


"Sherly, kau terluka. Apa perlu kubunuh?"


"Help me, Sherly." 


"Evander." Sherly terus bergumam tidak jelas, beberapa ingatan tentang Evander iblis yang terikat perjanjian darah dengannya itu muncul.


Suara patah yang menginterupsi mata Sherly untuk tetap terbuka dan membulat begitu melihat kakinya patah. "Dylan!" Seru Sherly.


"Kau sampah, Sherly. Kau lemah." Sarkas Dylan.


Yang hanya bisa Sherly lakukan hanya merintih kesakitan, patah tulang di bagian yang penting.


"Dylan, kau memang Vampir tapi kenapa kau berbicara padaku seolah kau sudah kenal lama denganku." Ujar Sherly.


Ingin berteriak, tapi percuma. Yang bisa dilakukan hanya menahan dan menahan sampai bantuan tiba, bantuan dari siapa uang ia harapkan?


"Kau tidak kenal denganku?"


Bersambung...