The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
39. The third king and the tenth king



"Hm, sangat disayangkan. Aku ini orangnya tidak menawarkan untuk kedua kalinya loh." Kekeh Evander. 


Tangan kanannya mengumpulkan auranya yang berwarna merah sampai pada akhirnya aura itu berubah menjadi sebuah pedang dengan bilah pedang yang berwarna merah.


Bilah pedang yang berwarna merah itu mengingatkan Gavin pada pembantaian yang terjadi beberapa tahun lalu pada keluarganya. 


"Tidak usah takut, aku akan melakukannya selembut mungkin." Celetuk Evander. "Sombong sekali kau!" Seru Abian. 


Sherly mulai batuk darah, hal itu membuat saudara kembarnya itu sedikit cemas. Terlebih lagi kondisinya yang parah. "Apa kita tinggalkan Evander dan kembali ke istana?" Ujar Conan.


"Tidak, aku ingin melihat mereka,"


"Untuk terakhir kalinya." Sambung Sherly. 


Mata indah yang menatapnya sayu, setetes darah mulai mengalir keluar dari kelopak matanya itu. Apa Sherly menggunakan kekuatan terlarang dari perjanjian itu? Pikir Conan. "Kau mau tahu sesuatu tentang yang dibicarakan oleh Luke?" 


'Setahuku keluarga Frydenlund tidak memiliki anak kembar.'


Meski hatinya tidak siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh gadis yang saat ini tidak berdaya, tapi ia harus mengetahui semuanya. "Katakanlah." Ujar Conan pelan. 


"Kau anak angkat keluarga Frydenlund, sejujurnya aku tidak memiliki saudara kembar. Tapi ayah dan ibuku mengangkatmu atas permintaanku." 


Sial, rasanya dadanya seperti tertusuk oleh jutaan pisau yang ditujukan pada jantungnya. Sakit sekali rasanya, bahkan laki-laki itu menahan agar air mata itu tidak mengalir.


Mendengar Sherly yang tersenyum tipis dengan wajah yang penuh darah itu membuatnya sedikit sadar. 


Bahwa hanya gadis inilah yang mempercayainya, hanya Sherly yang mempercayai dan menganggapnya bahwa dirinya itu hidup. "Conan, waktuku tidak banyak. Jika aku mati, tolong datang ke alamat ini dan katakan bahwa aku,"


"Aku Sherly Frydenlund, sang dewi perang. Kalah di medan pertempuran, kakekku, Adelard James Frydenlund." Sambungnya dengan air mata yang mengalir deras. Tapi iris mata merahnya itu tidak teralih dari pertarungan antara Gavin dan Evander. 


Conan membenci hal ini, untuk kedua kalinya ia akan ditinggalkan oleh orang didekatnya. Meski dirinya bukan termasuk keluarga Frydenlund, sang pemimpin medan perang.


Entah kenapa ia membenci ketika harus hidup di dunia dengan sendirian tanpa adanya teman. "Tidak bisakah kau hidup?" Tekan Conan. 


"Luka dari iblis tidak semudah luka yang diciptakan manusia, Conan. Menahan luka ini saja membuatku kesakitan, aku tidak bisa bertahan lagi." Sahut Sherly. 


"Kau bisa sembuh dengan menghisap darahku, bukan?"


"Tidak bisa. Aku sudah tidak mempunyai tenaga, Conan." Sela Sherly. 



Seorang Gavin bertepuk lutut dihadapan Evander yang dicap sebagai pengkhianat bangsa Iblis, bangsanya sendiri. "Anak angkatmu lemah sekali, Abian." Kekeh Evander.



Meski laki-laki itu adalah kakak laki-lakinya semasa dulu, iris matanya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan maupun belas kasihan.



Conan terus menatap Sherly tanpa mengalihkan pandangannya, Sherly dan dirinya jauh berbeda. Sherly bertarung tanpa memikirkan siapapun, sedangkan dirinya masih memiliki perasaan ragu. "Kau tidak kasihan pada Gavin?"



"Bagaimana pun juga dia kakak laki-lakimu." lanjutnya.



"Kasihan, apa aku terlihat tidak berbelas kasihan?" Ternyata selama ini gadis ini menyembunyikan rasa belas kasihannya dari balik topeng kejamnya.



Benar-benar gila, bisa-bisanya ia menipu semua orang dengan sikap acuhnya. "Lalu kenapa tidak menolongnya?"



"Ayah dan ibuku tidak akan senang jika aku berbelas kasihan pada seorang pria dewasa di medan perang." Ujar Sherly sembari memandang langit.



"Perasaan itu hanya akan membuatmu kehilangan orang terdekat, itulah kata ayahku, kepala keluarga Frydenlund terdahulu." Sambung Sherly.



Kekehan yang bercampur dengan suara bentrokan bilah pedang dan jatuhnya batu itu mulai mengeras, sepertinya Evander mulai menggila.




Seringaian mulai tercipta bersamaan dengan tubuhnya yang menghindari serangan Gavin dengan mudahnya dan berlari menuju tempat Abian, bilah pedang berwarna merah itu mengacung hingga mengenai batang lehernya. 



Artinya, jika Abian bergerak sedikit saja. Ia sudah tidak akan melihat matahari ataupun menghirup udara lagi. "Beraninya kau berniat menusuk Sherly dari belakang!" Bisik Evander. 



"Evander, seorang ksatria tidak akan meninggalkan pertarungannya hanya untuk melindungi orang lain." Ujar Gavin.



"Bicara apa kau? Bukankah beberapa saat lalu kau memohon padaku untuk melindungi Sherly Frydenlund?" Evander mendelik. 



Melihat raut wajah yang penuh keringat itu, Evander mengalihkan pandangannya. "Kau, kita lanjutkan pertarungan kita. Sesama iblis yang pernah tinggal satu atap, kau sebagai penasihat dan aku sebagai tuan muda." Geram Evander. 



"Evander." Ujar Sherly pelan. "Tenang saja, Nona. Saya akan membereskan hal ini secepatnya." Sahut Evander disertai senyuman manis.



Namun mereka berdua tahu jika di balik senyuman manis yang Evander ukir terdapat perasaan kecewa pada Abian. "Kau tidak bisa membohongi tubuhmu yang terluka akibat serangan anakku, Tuan Ignitius." Seringai Abian. 



"Luka? Dengan kekuatan yang diberikan Sherly padaku, luka itu akan sembuh seketika." Kekeh Evander.



Iris mata Conan melirik salah satu lengan atas Sherly yang mengeluarkan darah, apakah semengerikan ini sebuah perjanjian darah? "Sherly." Bisik Conan. "Tidak apa, ini sudah biasa." ujar Sherly.



Laki-laki itu tidak berhenti bergerak dan menyerang, bilah pedangnya tidak jarang mengenai kulit Abian yang merupakan pemimpin bangsa iblis. Kekehan, ledakan, sayatan, sudah biasa bagi Sherly ketika melihat Evander bertarung. 


"Ada apa? Apa hanya segini kekuatan Raja kesepuluh?" Bisik Evander saat kedua bilah pedang mereka bersentuhan. 


Abian berdecih pelan, sampai pada akhirnya laki-laki itu melakukan hal tidak terduga.


Sebuah tombak berwarna putih menusuk perut Evander dari belakang punggungnya, sang empu pun merintih. "Kau pikir hal ini bisa membunuhku?" Geram Evander.


"Itu memang tidak bisa membunuhmu, mantan Raja ketiga. Tapi di tombak itu terdapat racun iblis." Kekeh Abian.


Lirikan mata merah itu menatap tajam Abian, namun suatu hal terjadi hanya dalam sekejap mata.


Sebuah simbol pada kedua mata merah Evander, hal yang sama seperti apa yang dilakukan Sherly saat ini. "Kalian menyatu?" Tanya Conan kaget.


"Apa yang kau lakukan?" Seru Abian.


Suara kekehan itu bersamaan dengan aura merah Evander yang kian menguat sehingga tombak merah itu hancur sampai berkeping-keping.


"Ini kusebut, Devil union." Kekeh Evander.


"Sialan kau, Evander Geino Ignitius!" Teriak Abian.


Laki-laki bernama Conan Frydenlund menatap dengan mulut yang terbuka lebar, pertempuran antar raja Iblis itu benar-benar membuatnya kejut.


"Hal ini nyata?" Gumam Conan.


Anak itu melamun sampai merasakan sebuah tangan yang mendarat di pundaknya. "Kau mau kemana dengan luka seperti itu?"


"Terlalu berbahaya disini, jarak serangan Evander saat ini terlalu luas." Ujarnya dengan terengah-engah.


Melihat saudara angkatnya yang berjalan dengan susah payah itu, ia berniat untuk menggendongnya secara perlahan.


"Kalau sakit tidak usah di paksakan, minta tolong itu hal wajar bagi semua orang." Celetuk Conan.


Bersambung...