The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
24. Necromancer: Demons and corpse handlers



"Kau bilang apa?" Tanya Conan.


Kepala yang menunduk itu perlahan terangkat dengan perubahan raut wajah dan iris mata yang berbeda.


Raut wajah yang menunjukkan kemurkaan serta iris mata merah yang tersirat aura kebencian. "Wah, Sherly kau terlihat menyeramkan." Kekeh Edvard.


"Ini kali pertama Sherly marah sampai seperti ini, apa karena jutaan nyawa melayang?" Ujar Conan pelan.


Dengan perasaan amarah yang memuncak, gadis itu melangkah keluar dari kawasan kediamannya.


Mengingat apa yang diucapkan George tentang jutaan nyawa yang hilang, dirinya yang merupakan penjaga negaranya tidak akan tinggal diam dengan kedua kaki yang bergetar ketakutan.


"Edvard pergi denganku, Conan dan Keenan pergi ke sisi lain. Dan kalian bertiga tahu apa yang harus dilakukan, bukan?" Tanya Sherly pada ketiga orang tersisa. George, Kaylie dan Lynelle.


"Tentu." Seru mereka.




Entah sudah berapa lama iblis dan Sherly melangkah mengelilingi kota yang mati. Semua rumah rusak dan tak berpenghuni, tidak ada tanda-tanda kehidupan.



"Sepertinya tidak ada yang selamat." Celetuk Edvard.



Insiden pertama kali Sherly rasakan setelah berkelana di medan perang, ini kali pertama ia merasakan betapa marah dirinya.



"Sherly." Panggil Edvard. Namun gadis itu tetap menundukkan kepalanya dengan kepalan tangan yang terkepal sempurna.



"Disana ada yang berteriak, kau dengar kan?" Ujar Edvard.



Sherly tidak menggundah sama sekali, ia terus berjalan dengan kepala yang menunduk. "Mau sampai kapan kau terbakar, sialan." Seru Edvard.



Seruan yang menyeruak keras diikuti dengan tegaknya kepala Sherly. Iblis itu menarik kerah pakaian Sherly. "Hei, manusia. Amarahmu tidak akan membuat jutaan nyawa ini kembali." Bisik Edvard.



"Jadi tenanglah." Tekannya.



Edvard Dagfinn Lounn, seorang iblis yang lahir darinya. Berbeda dengan Evander yang lemah lembut padanya, Edvard adalah orang yang berbanding balik.



"Necromancer itu tidak selemah yg kuduga, bisa-bisanya membuat mayat hidup begitu banyak." Gumam Edvard.



Seorang anak kecil terisak diantara puing-puing bangunan yang runtuh, di samping itu, ada seseorang yang tertimpa balok.



"Hei, Bocah!" Seru Edvard.



Dengan penampilan seperti iblis itu, mana mungkin anak itu menghampirinya. "Cih, aku penyelamatmu." Gertak Edvard.



Selangkah pun anak kecil itu tidak ingin menghampiri sampai ketika Edvard merasakan kekuatan yang besar sedang menghampirinya.



"Sial, Sherly!" Seru Edvard.



Namun gadis itu berada entah dimana, beban yang ia tanggung semakin berat. Belum lagi seorang iblis sepertinya harus menyelamatkan manusia.



"Kau itu iblis yang dirumorkan, bukan? Seorang anak baru yang kuatnya melebihi Raja terdahulu." Celetuk seseorang.



Seorang laki-laki dengan sebuah buku yang di genggamnya, diduga sebuah *grimoire* miliknya. "Kau pelakunya kan? Necromancer." Ujar Edvard.



"Ya memang, tapi aku memiliki satu tujuan. Dimana Sherly Frydenlund?" Tanyanya.



Senyuman yang diukir Edvard seketika luntur begitu nama gadis itu terucap oleh mulut yang entah siapa namanya.



"Sebelum itu, bagaimana jika kau perkenalkan namamu." Kekeh Edvard.



Perlahan tangannya menurunkan tudung jubah yang ia gunakan, wajahnya tersirat aura yang sulit dibaca olehnya. "Namaku, Fox Archille. Seorang penyihir tingkat 1, Necromancer." Sahutnya cepat.



"Kembali pada pertanyaanku, di mana Sherly Frydenlund." Ujar Fox.



Laki-laki penyihir tingkat 1 itu terlepas dari pergerakan Edvard yang merupakan iblis baru lahir. Meski penyihir tingkat 1, tingkatan kekuatannya itu masih jauh di bawah Edvard. "Kabur?"



"Cih, ini yang di bilang kuat-"



Sebuah bilah pedang menyerangnya dari sisi kiri, entah apa yang dilihatnya. Laki-laki itu menangkisnya, meski kulit tangannya tergores. "Jadi kau punya *empty eyes*." Decih Edvard.



Empty eyes, mata yang bisa memprediksi beberapa detik ke depannya. Tidak disangka penyihir tingkat 1 memiliki mata yang langka itu.



Jika Fox memiliki kekuatan yang tidak ada habisnya, maka Edvard memiliki tingkatan kekuatan yang berbeda di setiap penampilannya.




Sedangkan Edvard hanya menggunakan darah sebagai kekuatannya, sejauh ini dirinya belum mengetahui kekuatannya. Selain menyerang dengan brutal. "Kau tahu, kekuatanmu itu menjijikan." Seru Edvard.



"Jika menjijikan, cobalah untuk menghentikannya." Kekeh Fox.



Mayat hidup yang menyerangnya tidak ada habisnya, bahkan seorang iblis reinkarnasi Raja keempat direpotkan hanya karena penyihir.



Seperti yang dirumorkan, bangsa penyihir adalah rival alami dari bangsa Iblis. Sayang sekali, beberapa ratusan tahun lalu Evander gagal menghancurkan satu bangsa yang dibencinya.



Anak kecil yang merupakan bangsa Iblis itu mengeraskan rahangnya dengan iris mata yang berubah. "Kenapa penyihir seperti kalian tidak mati saja?" Gertak Edvard.



Gertakkan yang membuat Fox menciptakan sebuah pohon yang besar dan tinggi dengan tulang kepala manusia yang di gantung. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main dengan bocah sepertimu."



Pohon mayat. Jika kepala itu jatuh, maka mayat tercipta dari dalam tanah, hal seperti ini tiada habisnya.



Perlahan tenaga Edvard terkuras terlalu banyak. "Kau mencariku?" Celetuk seorang gadis.



Kedua mata merah yang pekat itu perlahan memudar mendengar suara dengan nada dingin dan tegas tersirat kemurkaan di dalamnya.



"Bodoh! Dia bukan lawan yang-"



"Oh kau seperti yang dirumorkan, cantik tapi kejam." Kekeh Fox.



Fox berbicara seolah Edvard tidak ada di hadapannya, tekanan yang membuat tanah pijakan mereka bergetar.



Edvard merubah penampilannya, mungkin tingkatan kekuatan level 1 memang tidak bisa menang mudah dari penyihir tingkat 1.



"Hei, langkahi dulu mayatku jika ingin berbicara dengan Sherly." Tekan Edvard.



Tekanan itu terus bertambah sampai Sherly merasakan, inikah kekuatan seorang iblis?



Bahkan dirinya saja tidak pernah merasakan kekuatan yang begitu membuat jiwanya bergetar ketakutan. "Ed ... vard." Lirih Sherly.



Iblis itu menghalangi pandangan mata Fox pada Sherly. "Kau terlalu cepat meremehkan orang lain, Penyihir sialan." Geram Edvard.



"Jika kau bertambah kuat, maka lawanlah mereka." Titah Fox.



Tulang kepala yang bergantungan di pohon yang besar itu mulai berjatuhan dan menciptakan sebuah pasukan mayat hidup.



"Sial, aromanya benar-benar membuatku mual." Gumam Edvard.



Iblis itu menutup indra penciumannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebilah pedang yang di ciptakan dari darahnya.



"Ada apa, Tuan iblis?" Kekeh Fox.



Sial, aromanya benar-benar membuat kedua kakinya melemah. Entah karena mual atau memang terdapat kekuatan di dalamnya.



"Kau tidak mencium aroma busuk?" Tanya Edvard secara tiba-tiba. "Tidak."



Jika gadis di belakangnya ini tidak mencium aroma mayat, hanya ada satu hal yang terjadi. Aroma ini hanya berpengaruh pada iblis.



"Apa kau benar-benar kuat seperti yang dirumorkan bangsa Vampir?" Celetuk Fox.



Mata merahnya berubah menjadi lebih pekat dan tajam seperti mata kucing.



Tekanan kekuatan yang memudar itu kini terus menambah dengan kepekatan yang sempurna. "Kekuatan apa ini?" Gumam Fox.



Butir-butiran keringat mengalir dari keningnya, tekanan yang membuat merinding seketika.



Seolah menjadi target dari binatang buas. "Penyihir tingkat 1, Necromancer kalah dengan iblis baru."



"Mana mungkin." Lanjut Fox tersenyum miring.



Bersambung...