The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
30. Minefields: Hidden wounds



"Sherly?" Gumam Conan tidak percaya.


Anak itu bangkit menyamakan tinggi tubuhnya dengan Evander. "Astaga, Evander. Kau itu dilupakan, bodoh." Conan menatap Evander dengan tatapan jengah.


Mungkin benar apa yang dikatakan Conan, tapi Sherly yang saat ini itu adalah salah Evander.


Laki-laki yang hanya berdiam diri itu maju selangkah dengan tangan yang terulur untuk mengusap lembut kepala Conan. Namun tidak ada semenit, tangannya itu menepis kasar. "Apa maksudmu?" Gertak Conan.


"Sherly melupakanku itu salahku, karena hidupku sudah tidak lama lagi, Conan." Ujar Evander.


Tidak, ini bukanlah Evander yang Conan kenal. Evander yang ia kenal itu seseorang yang sombong dan kurang ajar dengannya.


Evander yang saat ini di depan matanya terasa sangat asing, perasaan, tatapan mata yang sendu dan senyuman. "Apa yang sebenarnya kau bicarakan?" Umpat Conan.


Langit yang cerah sebelumnya kini tergantikan oleh gelapnya awan. Hujan mulai turun secara perlahan-lahan.


Sekilas teringat dimana Evander berbisik sembari menggendongnya. "Kau tidak dicari Sherly?"


"Hujan loh."


"Sherly? Sepertinya aku juga akan pergi jauh." Ujarnya berbisik.


Berguna supaya Evander tidak mendengar, namun itu hanyalah ekspetasinya yang bodoh itu. "Kalau kau sampai pergi, kubunuh kau." Geram Evander.


"Kalau begitu bunuhlah." sahut Conan.


Beberapa nada, satu kalimat, tiga kata, sedikit namun memiliki makna yang berbeda bagi Evander. Andai saja ia benar-benar datang menemui Conan, mungkin sudah habis dipukuli Evander.


Evander yang datang dalam kondisi prima berbeda dengan Evander yang berada di ruang eksekusi. "Ingat ini. Lusa kalian berperang, mungkin disaat itulah aku mati."


"Abian merencanakan sesuatu untuk membuat Sherly bahaya, jadi lindungilah dia." Lanjut Evander.


Perlahan tubuh itu menghilang seiring berhembusnya angin. "Sialan." Geram Conan.


"Ah ternyata kau belum pulang?" Seru seorang gadis.


Kepala yang tertidur di antara kedua lutut itu mulai mendongkak menatap seorang gadis dengan mata biru. "Ah, Vegard? Kau ngapain di sini, hujan loh." Ujar Conan.


"Kau sendiri ngapain disini? Hujan-hujan, nangis?" Entah tebakan atau memang ia tahu, tapi itu benar.


"Tidak, aku lagi berteduh." Elak Conan.


Namun Vegard bukanlah manusia, sekedar mengingatkan, dia adalah iblis berdarah penyihir. Bekas air mata terlihat sangat jelas di kedua pipi Conan.


Tidak melihat adanya Ask, laki-laki itu pun bertanya. "Ask dimana? Kau sendirian?"


"Ask pergi karena ada urusan sebentar, jadi aku menyusulmu. Takut jika ada iblis yang datang menyerangmu karena berjumpa pada kaisar terdahulu." Ujar Vegard.


Kepala itu terjatuh bersandar di dahan pohon yang besar dan tinggi. "Takut? Kenapa?" Bisik Conan.


Mendadak membisu, Vegard tidak tahu kenapa ia begitu cemas pada laki-laki ini yang jelas berhasil melukainya cukup banyak.


"Ini...perintah Ask." Mungkin terdengar tegas, tapi terdengar sedikit nada gugup di dalamnya.


"Perintah?" Gumam Conan.


"Pergilah, katakan padanya. Aku aman sekarang." Senyuman yang dibicarakan Ask sebelum ia menyuruh Vegard menyusul anak ini.


Senyuman yang penuh kepalsuan. Kenapa manusia suka sekali tersenyum seperti ini? Memuakkan. "Kau adalah manusia bodoh yang pernah aku temui." Ketus Vegard.


"Kau baru tahu? Ya baguslah, lagipula bukan hanya kau yang mengatakan itu." Ujar Conan santai.




Tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, sedangkan Conan sudah terlelap dengan kepala yang terjatuh keatas pundak Vegard. "Bukan itu maksudku." Ujar Vegard pelan.



Conan memang bukan orang yang memiliki segudang bakat, tapi dia berbakat jika memasang senyuman manis dengan berbagai luka tersembunyi.



Itulah yang dirasakan Vegard saat bersentuhan kulit dengannya, rasa sakit yang bahkan tidak ada satu orangpun tahu. 



"Kau bermesraan sementara aku berkeliling dengan tubuh yang basah." Geram Ask yang secara tiba-tiba sudah berada di sampingnya. 



Pakaian yang putih itu basah karena derasnya hujan, tidak hanya itu, rambut singa Ask kini turun karena terlalu berat menanggung beban. "Bermesraan? Inikan kau yang suruh." Ujar Vegard. 



"Athalla?" Tanya Vegard. 



Mengingat temannya itu merencakan diri untuk datang ke tempat dimana Evander berada, sempat terkejut dengan kondisinya.



Salah satu iblis bangsawan terkuat kini tidak berdaya. "Tidak tahu." Sahut Ask.



Athalla, adik dari Mike, kaisar keempat. Seorang teman terdekat Evander, dengan keberaniannya, ia datang ke tempat dimana Evander terkapar dengan kondisi yang kurang baik. 



Namun di dalam kondisinya itu, ia masih saja bisa tersenyum dengan nada kekehan yang pelan. Tidak ada yang mengetahui jika Evander yang merupakan kaisar ketiga ini memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka. 




Gadis dengan rambut putih dan netra merahnya itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Evander yang terduduk lemah di lantai dengan kaki yang dipasung.



"Kakakku bilang, kau itu kuat. Bahkan sangat kuat untuk bisa dikalahkan, tapi kenapa kau berakhir disini?" Tanya Athalla. 



"Mike? Darimana orang itu mengetahui aku ini kuat?" Sekuat tenaga kedua kaki itu bangkit dan menopang tubuhnya yang memiliki banyak bekas luka sayatan dan cambukkan. 



Laki-laki itu mulai melangkah menjauh dari gadis berambut putih dengan netra merahnya.



Ia duduk di sebuah kayu dengan rantai yang menopangnya. "Mike sudah mati, kah?" Celetuk Evander setelah sekian lama berdiam diri. 



"Ya, dia mati disaat masa kepemimpinannya sebagai kaisar keempat setelah kau." Sahut Athalla.



Cukup membuat Evander terkejut. Namun laki-laki itu menutupi rasa terkejutnya dengan sebuah lirikan mata merahnya. 



"Siapa? Siapa yang membunuhnya?" Tanya Evander. Athalla tahu, bahkan sangat mengetahui jika Mike adalah seseorang terdekatnya selain ayahnya, Aciel yang telah mati di bunuh oleh iblis wanita. 



"Abian, kah?" Celetuk Evander ketika Athalla tidak kunjung menjawab. 



Menurut pandangan Evander, tebakannya itu tepat sasaran. Kedua netra merah gadis itu membulat dengan wajah pucat.



"Kalian kaisar yang memimpin bangsa iblis jauh di atas masa kepemimpinan Abian, tapi kenapa kalian takut?" Geram Evander. 



"Pada rapat kaisar beberapa hari lalu, Abian memberitahu bahwa dirinya telah berhasil menangkap kau yang disebut sebagai pengkhianat. Dan memberitahu pada kami, jika ada satu orang yang menolong Evander, ia akan di hukum mati saat itu juga." 



"Bagi kami kaisar iblis terdahulu, saat ini adalah iblis biasa yang berada di dalam genggaman Abian." Lanjut Athalla. 



Kedua tangan itu terkepal, api amarahnya berada di puncak. Mike, Aciel, tidak tahu sudah berapa banyak korban yang berjatuhan hanya karena ambisi Abian untuk menjadi kaisar bangsa iblis. "Jadi kau sudah siap mati?" ujar Evander. 



"Aku sudah hidup lebih dari 600 tahun, mati saat ini tidak ada penyesalan apapun." Sahutnya. 



"Tapi bagiku, mati sekarang sama saja menyerah pada genggaman Abian. Siapa yang akan kalah dengan iblis rendahan sepertinya," 



Seringaian mulai tercipta di wajah Evander yang penuh luka itu, seiiring terbentuknya seringaian itu, luka yang sebelumnya terbuka kian menutup.



"Jika kalian lupa, aku adalah iblis terkuat kedua setelah ayahku, Aciel Geino Ignitius. Akulah yang memegang penuh atas hak dunia bawah, dunia kematian." Kekeh Evander sinis. 



"Jika ayahku memegang penuh atas kehidupan, maka aku sebagai anaknya memegang penuh atas kematian." 



Tidak salah jika Evander menyebut dirinya adalah iblis terkuat kedua di bangsa iblis, dirinya memang memegang penuh atas dunia bawah atau dunia kematian.



Dan itulah kekuatan yang tersegel oleh Aciel. "Kau memang yang terkuat saat ini, tapi dengan kondisi seperti itu-"



"Kau meragukanku? Bahkan kakakmu dulu tidak pernah meragukan kekuatanku ini, Athalla Nills Halvdan." Sela Evander. 



Tekanan kekuatan yang membesar seiiring berjalannya waktu, bahkan bisa saja jeruji besi ini hancur karena tekanan kekuatannya yang keluar dari tubuhnya.



Namun ia menarik semua itu kembali. "Aku akan tetap di sini sampai perang antara Vampir dan manusia berlangsung." Ujar Evander. 



"Saat itulah Abian akan bergerak." 



Bersambung...