The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
13. Moonlight and the Goddess



"Kau hanya seorang Ratu yang memerintah dan memerintah, kau datang kesini dan tiba-tiba berucap bahwa keluarga Frydenlund tamat. Sedangkan kami kedua anak dari ayah kami masih hidup di depan matamu, yang mulia." Ujar Conan dengan lantangnya. 


Dengan sigap Conan berlari dengan tangan yang menggenggam erat sebuah pedang, Sherly yang melihatnya tentu terkejut. Gadis Vampire itu melepaskan dekapan Evander dengan paksa dan berlari mendekati Conan. 


Laki-laki itu mengayunkan pedangnya kearah gadis berusia 25 tahun, namun seseorang menahan serangannya dengan pedang miliknya sehingga suara itu menyebabkan beberapa orang melebarkan mata mereka. 


Seorang Sherly Frydenlund menahan serangan saudara kembarnya yang menyerang sang Ratu secara terang-terangan. "Apa yang kau lakukan, kakak?" Penekanan di akhir kata itu cukup membuat Sherly merinding. 


Kali pertama melihat Conan yang begitu marah sampai-sampai tidak ada raut wajah yang ia tunjukkan selain datar dan dingin. "Aku memang keluargamu, saudara kembarmu. Tapi jika kau menyerang sang Ratu, aku tidak akan membiarkanmu hidup lagi." Ujar Sherly. 


Tatapan dari anggota Keluarga Frydenlund, iris mata aquamarine milik Conan dan iris mata merah milik Sherly saling menatap dengan tajamnya. Cahaya bulan yang menyinari mereka berdua kian menerang. "Yang mulia! Segera lari lah!" Seru para warga. 


Seruan itu tidak memiliki makna mendalam, tapi merupakan sesuatu yang melindungi. Kedua anggota dari keluarga Frydenlund. Keluarga yang dikenal sebagai pemimpin medan perang itu bertarung di halaman kediamannya, tidak terbayang yang akan terjadi. 


"Tidak, tidak apa. Aku yakin aku masih akan hidup sampai pertarungan mereka selesai, para rakyatku." Sahut sang Ratu. 


Evander yang memandang gadis bernama Sherly jauh dari belakang Conan merasakan sebuah perbedaan yang sangat besar. Perbedaan yang tidak akan bisa ia ubah diantaranya dengan Sherly. "Nona, bahkan disaat satu orang mengkhianatimu. Kau akan tetap melindunginya, benar-benar hati seorang manusia." Seringainya. 


Perlahan demi perlahan, langkah kaki Evander membuat semua orang memusatkan perhatiannya padanya. Perhatian yang semula memusat pada kedua anak Frydenlund, kini teralihkan. 


"Iblis, Vampire, Manusia. Sama-sama naif, terutama kau." Ujarnya sembari menunjuk sang Ratu. 


"Brengsek! Beraninya kau menunjuk sang ratu dengan lancangnya!" Seru para warga. "Bunuh pria itu!" Seru mereka. 


Langkah akhir itu terhenti tepat di hadapan sang Ratu, senyuman miring dan tatapan meremehkan itu tidak juga sirna dari wajah tampan Evander. "Beraninya wanita sepertimu menghina Sherly, hei Abigail Callistaline." Kekeh Evander. 


"Abigail Callistaline? Siapa itu?" Seru mereka. "Ah, aku kasih tau ya. Abigail Callistaline itu salah satu pendamping raja Abian, pemimpin bangsa iblis. Jadi Ratu di hadapan kalian ini bukanlah Ratu yang kalian kenal." Jelas Evander. 


Seringaian mulai terukir di wajah cantiknya itu, wanita yang dikenal sebagai Abigail Callistaline. Salah satu pendamping sang Raja iblis, Abian. "Ah, kau menjadi memihak pada manusia lemah, Evander sayang." Kekeh Abigail. 


"Siapa yang kau panggil sayang? Sopankah kau seperti itu pada Tuan mu yang terdahulu, hei Abigail." Tekan Evander disertai tatapan tajam. 


Dorongan dari pedang Conan membuat Sherly yang berpaling sejenak terkejut, laki-laki itu berlari mendekat ke Abigail. "Wanita brengsek! Beraninya wanita sepertimu menghapus nama Frydenlund dari dunia!" Seru Conan. 


"Heh, manusia lemah sepertimu memangnya bisa ap-" Ucapan yang tak sempat terselesaikan yang dipotong oleh datangnya serangan Conan pada kedua lengannya. Lengan yang sedari tadi ia tunjukkan itu terpotong dengan mudahnya. 


Laki-laki itu mengibaskan pedangnya sehingga darah Abigail yang terdapat di bilah pedangnya itu jatuh ke atas rerumputan halamannya. "Jangan meremehkan keluarga Frydenlund, hei wanita iblis." Geram Conan. 


"Cukup sampai disitu, bocah." Celetuk seseorang. 


"Lama tak jumpa, Jed Light Whitneyvich." Sahut Evander. 


"Evander Geino Ignitius, kurasa kau sudah cukup ikut campurnya. Ini urusan Abigail dan bocah itu. Kau tidak ada hubungan-" 


"Conan dan aku memiliki hubungan yang disambungkan dari saudara kembarnya, Sherly Frydenlund. Gadis yang kau sebut Vampir itu adalah gadis yang memiliki sebuah ikatan padaku, sebuah ikatan yang tidak akan putus kecuali kematian." Sela Evander. 


"Huh, gadis lemah itu memiliki ikatan denganmu yang merupakan raja kekaisaran ketiga? Apa dia telah menyelamatkan dunia sampai-sampai menjadi gadis kesukaanmu?" Kekeh Abigail sinis. 


Keadaan mulai mencekam begitu Sherly datang melangkah mendekat dengan senyuman yang sulit diartikan, tatapan intimidasi dan aura membunuhnya bahkan bisa membuat mereka berdua menundukkan kepalanya. "Jangan menghina keluargaku, dasar iblis." Cetus Sherly. 


"Huh, gadis jelek ini memiliki hubungan dengan seorang pria yang menjadi target cintaku selama ini?" Seru Abigail. 


Saudara kembar itu saling memunggungi berguna untuk saling menjaga satu sama lain agar musuh tidak menyerangnya dari belakang mereka, pedang silver yang bersinar di gelapnya malam itu teracung seolah menantang kedua iblis itu bertarung dengannya. 


"Evander, kau mundur lah. Ini urusan keluargaku." Titah Sherly. 


"Tapi, kau lupa bahwa mereka juga memiliki hubungan denganku. Hubungan sesama bangsa dan orang terdekat, Nona Sherly Frydenlund." Sahut Evander.


"Ini perintah, Evander!" Tekan Sherly. 


Melihat nada dan penekanan kata Sherly, Evander mengalah untuk mundur beberapa langkah ke belakang. Saat ini Sherly tengah marah, suatu perasaan yang jarang sekali ia tunjukkan yaitu amarah terbesarnya. 


"Ya, kau benar jika kau lebih kuat dariku." Sahut Sherly datar. 




Kesana kemari, layangan bilah pedang itu sudah tidak terhitung berapa kalinya mengenai tubuh Abigail. Bahkan Sherly tidak memberikannya celah untuk membalas serangannya sampai ketika Abigail berseru dan membuat tubuh Sherly kaku. "Nona!" Seru Evander.



"Jangan senang dulu, kekuatanku sebenarnya adalah ucapan ini." Kekeh Abigail. 



Memang benar bahwa tubuhnya tidak bisa digerakkan secara bebas. Namun di dirinya ada kekuatan untuk mematahkan kutukan itu. "Aku Sherly Frydenlund memanggilmu untuk bertugas, datanglah kemari," 



"*Suefsvich*." Lanjutnya bergumam. 



Abigail terdiam begitu merasakan aura membunuh gadis di hadapannya ini menguat, terutama aura yang terpancar dari pedangnya itu. "Kau ... Bagaimana bisa bergerak?" Seru Abigail. 



"Iblis sepertimu beraninya menghina keluargaku." hardik Sherly sinis.



Tubuh yang semula mematung karena kekuatan Abigail kini bergerak dengan bebas di hadapannya serta ayunan pedang yang memiliki dampak besar. "Evander! Lindungi yang ada disini." Titah Sherly. 



"Pedang itu ... Manusia sepertimu bagaimana bisa mendapatkan pedang yang semula menjadi milik Reynold!" Seru Abigail. 



"Ya, karena aku mengalahkannya dan mendapatkan pedang yang sudah seharusnya menjadi milikku." Ujar Sherly. 



"Apa ... katamu?" Abigail bergumam.



Wanita itu perlahan-lahan mundur menjauh dari Sherly yang saat ini terlihat seperti seorang Dewi. "Kesalahan besar atas namamu yang telah menghina keluargaku, iblis." Ujarnya.



Gadis yang disinari cahaya bulan dan warna mata yang menyala itu melayangkan bilah pedang itu secara horizontal, sekejap mata tubuh wanita itu terbelah.



"Aku ... pendamping Raja para iblis...kalah dalam satu serangan manusia." Ujar Abigail tidak percaya.



Bersambung...