The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
10. Devil: Wrath of a legendary Devil



"Lakukan sesukamu, Evander. Aku sudah tamat." 


Satu kalimat yang pendek itu cukup berhasil membuat laki-laki dihadapannya ini terdiam cukup lama dengan kedua mata yang terbuka lebar, senyuman tipis dan tatapan sayu membuatnya muak. 


Tangannya menekan kepala belakang Sherly berguna agar kepala itu terangkat dan mendekat kearah lehernya, ia tahu saat ini Sherly menahan semua rasa sakit pada jantung, tubuh, terutama kedua tangan dan kakinya. "Apa yang kau lakukan?" Seru Sherly. 


"Saya lakukan ini agar Nona bisa menggapai keinginan anda, jangan mati, Nona." lirih Evander. 


Mendengar lirihan yang begitu menusuk hatinya, dengan teramat terpaksa, Sherly menancapkan kedua taringnya itu pada batang leher Evander. Meski terasa sedikit nyeri, rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang di terima oleh Sherly. 


Sejenak Evander memejamkan matanya dengan dahi yang mengernyit, sampai pada akhirnya kedua taring itu terlepas dari batang lehernya. "Kenapa sedikit sekali?" Tanyanya tanpa sadar. 


"Tidak, segitu sudah cukup." Ujar Sherly.



Di ruangan yang luas dan hening serta keda suara, seorang laki-laki menumpu tubuhnya dengan kedua tangan dan lututnya itu mengambil nafas dalam-dalam setelah menghadapi saudara kembarnya, Sherly Frydenlund. "Apa hanya segini kemampuanmu, Conan?" 



"Ah, kau ini kejam sekali!" Seru Conan. 



"Di dalam perperangan, tidak ada hal belas kasihan antar saudara, Conan. Kau harus lepaskan itu semua jika ingin menang." Sahut Sherly cepat. 



Dengan tubuh yang penuh luka sejak kemarin, tenaganya tetap tiada tandingannya. Inilah sang Dewi perang Sang, pemimpin medan perang, Sherly Frydenlund.



"Lemahkan dirimu sedikit, dengan kekuatanmu saat ini mana mungkin aku menandinginya, bodoh." Gerutu Conan. 



Sekali lagi, laki-laki itu mengacungkan pedangnya pada wajah Sherly yang memasang seringai tipis. "Kau itu memang berbakat, Conan. Aku tahu itu, jadi tirulah."



"Matamu itu, aku yakin kau sering meniru bela diri seseorang." Lanjut Sherly. Memang benar, bahwa Conan tidak pernah latihan bela diri saat ayah dan ibundanya masih berjaya. Ia hanya meniru bela diri Gavin dan Sherly lalu mempraktekkannya sendiri. 



Senyuman mulai tercipta di wajah tampan dan datar Conan, ia mulai menggerakkan bilah pedangnya itu secara brutal. Entah sisi kiri lengan atas Sherly atau pipi kirinya yang terkena bilah pedang itu, Conan benar-benar meniru tekniknya. 



"Ah Sherly, maaf." ujar Conan saat pertarungan berakhir.



"Maaf sebelumnya, Tuan Frydenlund. Anda diharapkan untuk tidak menyakiti Nona Sherly." Ucap Evander sopan. "Apa? Tapi inikan pertarungan!" Seru Conan. 



"Tetap saya tidak terima jika Nona Sherly terluka." Ujar Evander.



"Pria brengsek..."



Melihat kedua laki-laki yang bertarung dengan segala rengekkan yang keluar dari mulut Conan sedikit membuatnya mengulas senyuman tipis, masih terlalu dini untuk menyerah. "Berhentilah bercanda, kita harus keluar. Ada sesuatu untuk Conan yang ingin kuberikan." Lerai Sherly. 



"Untukku? Kau mau memberiku cinta-" 



"Bukan Cinta! Tapi senjata untukmu bertarung bersamanya di medan perang." Sela Evander begitu tahu apa yang akan dilanjutkan oleh laki-laki ini. 




"Tentu saja, saudara kembar tidak seharusnya dipisahkan." Sahut Sherly lelah. 



Kedua orang yang berada di belakang Sherly terus bertengkar hanya karena perkara hal di aula. "Kalian mau sampai kapan bertengkar, huh?" Geram Sherly. 



"Maafkan saya, Nona. Tapi anak kecil ini benar-benar sudah kurang ajar pada anda, Nona." Ujar Evander sembari membungkukkan tubuhnya. 



"Apa katamu? Aku saudara kembarnya, Sherly! Bukankah itu wajar?" Ujar Conan tidak terima. Conan terus berseru kesal dan merengek sampai tidak sadar bahwa dirinya di tinggalkan oleh Sherly dan Evander. 



"Sialan kau, Evander. Bisa-bisanya kau membuatku berlari mengejar kereta kuda ini." Geram Conan. 


Dengan keringat yang mengalir dan juga nafas yang terengah-engah membuat panglima kerajaan memberikannya sebuah sapu tangan padanya. "Untuk Tuan, keringat anda banyak sekali." Ujar George. 


"Tidak usah, George. Harusnya dia lah yang bertanggung jawab." Tekan Conan. Aura amarah milik anak itu benar-benar menyeruak keluar dan terpusat pada Evander yang saat ini memasang wajah tenang dan santai. 


"Berlari mengejar objek, salah satu bagian dari-" 


Sebuah guncangan yang membuat kereta kuda itu harus berhenti di antara kedua hutan yang berada di kedua sisi mereka. "Sialan, baru saja aku duduk." gumam Conan berkeringat.


Mereka pun turun dari kereta kudanya, melihat sekeliling kereta kudanya yang terkepung oleh bangsa iblis membuat Evander berdecih pelan sehingga tidak ada satupun yang mendengar. "Bangsa iblis?" Tanya Conan. 


"Kenapa, kau takut?" Kekeh Evander. "Mereka harus membayar karena membuatku berdiri lagi setelah baru saja duduk." Geram Conan. 


Aura amarah yang memuncak membuat Evander merasa bersalah pada saudara kembar Sherly ini. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda. Terlebih lagi di hadapan puluhan iblis dengan salah satu iblis bangsawan. 


"Ini kawasan bangsa iblis, ada urusan apa manusia kesini?" Celetuk seseorang laki-laki yang duduk di ranting pohon.


"Kecuali kau, pria bermata merah dengan pakaian hitam disana." Lanjutnya menginterupsi. 


Melihat Evander, laki-laki itu turun mendekat kearahnya dan berkata dengan lirikan tajamnya. "Kau itu iblis, kenapa memihak pada manusia?" Bisiknya.


Mendengar bisikan serta geraman rendah dari laki-laki di depannya ini tidak membuat rasa takut itu muncul, hanya tersenyum dan berkata. "Memangnya kau siapa?" Ujarnya. 


Kali ini, Evander benar-benar marah. Hanya saja, saat ini ia menutupinya dengan raut wajah yang tenang dan senyuman yang manis. "Aku memihak pada siapapun itu hakku, bukan hakmu, bocah." Bisik Evander.


Reaksi datar laki-laki ini membuat keadaan hening dan sunyi sampai laki-laki itu berseru keras. "Mereka mencurigakan! Serang dan tangkap untuk Yang Mulia Abian!" Serunya. 


"Abian? Dia masih hidup?" ujar Evander keras.


"Lancang sekali memanggil nama Yang Mulia!" Seru laki-laki itu. 


Sekejap mata, tangannya itu mencengkram batang leher laki-laki ini. Iris mata merahnya itu seolah menyala dan membuat laki-laki itu sedikit takut. "Sampaikan padanya, Evander Geino Ignitius menunggunya." 


"Untuk mengantarnya ke neraka." Lanjutnya dengan kekehan sinis di akhir kalimatnya.


Beberapa pasang memandang Evander yang menatap laki-laki di depannya dengan tatapan sulit diartikan. "Dia kenapa, Sherly?" Tanya Conan heran. 


Senyuman lebar mulai terukir di wajah cantiknya, raut wajah dinginnya membuat beberapa prajurit milik laki-laki itu mundur beberapa langkah.


"Hei, para iblis. Kalian harus tanggung jawab karena membuatku berdiri setelah sekian lama berlari mengejar kereta kuda ini. Aku belum sempat duduk, sialan." Umpat Conan. 


"Bicara apa kau, bocah?" Seru salah satu prajurit itu. 


Dan dengan cerobohnya, mereka menyerbu Conan secara bersamaan. Sherly yang terluka itu hanya bisa memandang dari jauh dengan senyuman tipis yang terukir. "Nona, apa nona sengaja lewat jalan ini?"


"Bicara apa kau, George. Aku tidak tahu jika bangsa iblis akan menyerang kita, jadi ini adalah salah satu latihan Conan." Ujar Sherly dengan iris mata yang sesekali melirik Evander. 


"Apa ini akan berlangsung baik-baik saja?" George bergumam dengan perasaan ragu.


Bersambung...