The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
29. Minefields: The Former Empire



"Evander itu orangnya kuat, sombong. Tapi ia juga tidak suka di kekang, kemungkinan besar, ia akan berniat melepaskan diri." Ujar Conan.


Memang benar faktanya Evander orang yang seperti itu, tapi melihat tubuhnya yang penuh darah dan luka, kepercayaannya pun menurun.


"Ya, itu mungkin benar. Tapi Evander tidak ada istirahat untuk memulihkan kekuatannya,"


"Apa maksudmu?"


"Evander, kekaisaran ketiga terdahulu dieksekusi oleh Abian." Lanjut Vegard.


Terkejut. Ia sungguh tidak menyangka, seseorang yang melatihnya berpedang kini dieksekusi oleh raja bangsa Iblis.


Conan memang tidak tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki Evander, tapi berita ini sungguh suatu kebohongan baginya. "Kau yakin?"


"Apa aku terlihat berbohong?" Kekeh Ask.


Wajah dingin dan datar itu kini tersenyum lebar dengan deretan gigi yang rapi, Conan memang membenci bangsa Iblis, tapi kini ia tersadar dengan sikap Evander.


Bahwa tidak semua iblis jahat, ada yang baik dan ada yang jahat. "Kalian...mau melatihku untuk perang melawan bangsa Vampire?" Tanya Conan tanpa sadar.


Berlatih dengan kaisar terdahulu mungkin bisa meningkatkan kekuatan dan melewati batasan dirinya yang mudah lelah. "Kenapa kau ingin berlatih dengan kami?" Tanya Vegard.


"Kalian kuat. Aku harus bertambah kuat agar bisa melepaskan Evander." Nada tegas dan tekad yang tersirat dari mata aquamarinenya membuat kedua saudara albino itu sulit untuk menolak.


Ask adalah kekaisaran keenam setelah masa kepemimpinan Fred, kekuatannya memang terdengar sepele, tapi tidak saat menghadapinya.


Bahkan Evander saja mengakui kekuatannya itu memang tidak lah lemah. Manipulasi mineral dan kristal. "Baik jika itu maumu, akan kulatih kau sampai kuat." Kekeh Ask.


Ini kali pertama Vegard, adik perempuannya melihat kakak laki-lakinya terkekeh geli hanya karena seorang manusia. "Ini kali pertama aku melihat iblis bermata biru, Evander tidak pernah memberitahuku bahwa ada iblis bermata biru." Ujar Conan.


"Aku dan adikku darah campuran Iblis dan penyihir, ayahku iblis dan ibuku penyihir." Sahut Ask.


"Selain biru, merah, ada iblis bermata lain yaitu hijau. Hijau berarti iblis yang tidak termasuk gelar bangsawan. Itu adalah Abian."


"Dia satu-satunya raja kekaisaran bermata hijau." Lanjut Ask.


Mereka berdua berbincang sampai melupakan Vegard yang berjalan di belakang mereka. Sampai di tempat dengan lapangan yang luas dan sepi, hanya ada pepohonan yang mengelilingi tempat ini. "Kita akan berlatih dengan cara apa?" Tanya Conan.


"Latih tanding." Seru Ask.


"Tanding?! Tanding dengan kaisar terdahulu, kau gila?!" Seru Conan.


Ia tidak sekuat saudara kembarnya, melihat serangan Sherly ditahan dengan mudah oleh Ask membuat kepercayaan dirinya berkurang sedikit. "Kenapa? Latih tanding tanpa kekuatan, jadi ini unggul padamu." Tukas Ask.


Ask adalah tipe seorang yang humoris, berbeda dengan adiknya Vegard. Mungkin dia sedikit pemalu, tapi entah kenapa gadis itu selalu melirik ke arah Conan.


"Kau latih tanding dengan Vegard. Jika kau ahli berpedang, maka Vegard tidak jauh darimu." Kekeh Ask.




Memang hal gila yang membuat Vegard yang seorang kekaisaran terdahulu untuk berlatih tanding dengan seorang manusia yang bahkan baru saja menginjakkan kakinya di medan perang. 



Tapi kenapa manusia yang baru saja menginjakkan kakinya di medan perang begitu lihai, bahkan sampai membuat Vegard terluka cukup banyak. "Frydenlund, sepertinya bukan manusia biasa." gumam Ask. 



Pertarungan itu terhenti ketika mereka berdua terjatuh dengan bertumpu dengan pedangnya, Conan benar-benar membuat Vegard terluka cukup banyak. "Kau yakin hanya seorang manusia?" Tanya Ask. 



Vegard mungkin kekaisaran sembilan yang baru saja terlepas dari masa kepemimpinannya, tapi itu baru beberapa bulan lalu, tapi anak ini dengan mudahnya membuat Vegard terluka cukup banyak. "Apa yang kau bicarakan, aku ini 100% manusia dari lahir." Ujar Conan sembari mengatur nafas. 



"Tidak, maksudku. Apa kau tidak merasa aneh, Vegard itu kaisar kesembilan dan kau dengan mudahnya melukainya." Ujar Ask. 



Hening menyising. 



Berbeda dengan pemikiran Vegard dan Ask, anak bungsu Frydenlund itu bangkit dengan perasaan kesal dan mengacungkan bilang pedangnya pada Ask. "Kau mengataiku lemah?" Seru Conan. 



Tidak. Ini bukan perasaan amarah yang besar, tapi anak ini berseru dengan nada anak kecil sehingga kedua bersaudara albino itu terkekeh geli. "Apa kau benar-benar berusia 18 tahun?" 



Entah kenapa, raut wajah kesalnya berubah. Ask tidak tahu dimana perkataannya yang menyinggung hal pribadi anak ini, ia hanya menanyakan hal umum. "Aku selalu bersikap kekanak-kanakan, Ask."



"Mungkin Sherly bersikap tegas dan aku sebaliknya, dan banyak yang berbicara bahwa aku bukanlah anak dari Frydenlund karena tidak tinggal di kediaman itu."



"Yah, aku bersikap seperti ini karena menjadi dewasa itu membosankan." Kekeh Conan. 




"Sebenarnya Ask, aku benar-benar iri dengan hubungan saudara antara kau dan Vegard." Seru Conan jauh disana. 



Hilangnya Conan membuat Aska tercengang. "Iri?" Gumam Ask.



"Manusia bodoh memasang senyum palsu untuk menutupi keadaan." Rahang tegas itu mengeras.



Conan memanglah kekanak-kanakan dan Berisik, tapi siapa sangka ia menunjukkan sisi lemahnya pada orang yang bahkan baru saja ia jumpai tidak lama ini.



Bahkan saudara kembarnya saja tidak mengetahui sisi lemahnya. "Adik Sherly?" Celetuk seseorang.



Langkah kaki itu sempat terhenti sejenak, namun ia malas meladeni orang lain saat ini. "Hei, Bocah sialan! Kau tidak ingin tahu apa yang terjadi pada Sherly?" Gertaknya.



"Sherly? Maaf, mungkin kau salah orang." Ujarnya menoleh sejenak.



Bukan tidak peduli, mungkin ia lebih tidak ingin membicarakan tentang saudara kembarnya.



Bisa di bilang, ia sedikit iri dengan kehidupan Sherly. Memiliki seseorang yang melindunginya, entah Evander, Edvard ataupun Rafael.



Tiba di pohon yang cukup rindang untuk nya berteduh sejenak dari panasnya matahari.



Entah angin atau butiran debu yang masuk ke matanya, air mata itu turun seketika.



"*Huh? Kau menangis*." Kekeh seseorang.



Suara yang terdengar tidak asing, namun tidak ada satu orang pun di tanah yang luas dan lapang ini.



"*Are you stupid? It's me Evander*."



Memang tidak terlihat berwujud, Evander saat ini terlihat seolah yang datang hanyalah roh nya saja. "Kau mati?" Celetuk Conan.



"*Bukan, aku berbicara denganmu ini menggunakan kekuatanku*." Evander menghela.



"*Dua albino menemui*?" Tanyanya.



"Maksudmu, Ask dan Vegard? Iya, mereka menemuiku untuk memberitahu keadaanmu." Hela Conan.



Mungkin Conan tidak setegar Sherly yang terus memerintah dan berlatih, dia hanya menginginkan sebuah keluarga.



"Kau gila ya, Evander? Apa yang kau pikirkan sampai membuat dirimu ditangkap?" Seru Conan.



Kedua netra *aquamarine* nya menyala, dirinya benar-benar dalam keadaan yang kesal. "Ini semua kulakukan untuk saudara kembarmu, Sherly."



Bersambung...