The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
14. Locked in a world of darkness



"Abigail kalah dengan gadis manusia itu?" Gumam Jed tidak percaya.


"Kalian para iblis yang menyombongkan diri pantas mati." Ujar Conan.


Nada tekanan itu, Senyuman Sherly kian melebar. Namun meski tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan gerakan aneh, mata merah itu tidak juga berubah. "Apa kau baik-baik saja, nona?" Tanya Evander.


Entah terlalu lelah atau memang ada alasan lain, mata itu terpejam dengan tubuh yang perlahan jatuh. "Nona!" Panggil Evander.


Wajah yang diciptakan gadis tidak sadarkan diri membuat Evander memasang wajah cemas, sisi Vampir Sherly benar-benar membuat gadis ini kelelahan. Laki-laki itu berpikir bahwa sisi Vampir nya hanya mengambil alih tubuhnya disaat-saat tertentu. 


"Sekarang, bagaimana Conan bisa mengalahkan Jed." Kekeh Evander. 


Laki-laki dengan mata aquamarine yang disinari cahaya bulan di gelapnya malam, seolah mata itu menyala membuat Jed sedikit memundurkan langkahnya. Ia berpikir, untuk apa ia takut kepada manusia biasa. "Kau hebat, bocah." Puji Jed. 


"Terima kasih atas pujianmu, tuan Whitneyvich. Kau orang pertama yang memujiku." Sahut Conan. 


Raut wajah anak itu sama sekali tidak berubah sejak keluar dari kediamannya. Tidak heran jika keluarga Frydenlund terkenal menyeramkan, baru saja berdiri di hadapannya saja sudah merasakan aura kematian dari anggota Frydenlund. "Apa yang kau pikirkan? Bukankah kita sedang bertarung." Bisik Conan. 


Entah sejak kapan anak itu sudah berada di belakangnya dengan bilah pedang yang diayunkan kearahnya, tidak ada waktu untuk menghindar. Jed menahannya dengan tangan kanannya sehingga tangan itu terputus dan menyebabkan darahnya mengalir deras mengotori rumput halamannya. 


"Ah, harusnya kau tidak membiarkan darahmu mengotori halaman rumahku, Tuan Whitneyvich." Tukas Conan. 


"Itu karena salahmu, bocah. Kenapa menyalahkanku?" Tekan Jed. 


"Jed!" Seru Evander yang sedang menonton di bawah pohon rindang. Seringaiannya tidak juga sirna dari wajahnya itu, senyuman yang menandakan sesuatu yang buruk. "Selamat menanti kematian oleh seorang bocah." Kekeh Evander. 


Rahang tegas itu mengeras. Gertakan mulai terdengar dengan samar-samar, Jed berseru keras. "Mana mungkin aku akan kalah dari seorang bocah yang berusia 18 tahun?" Seru Jed. 


"Kau berusia 869 juga masih muda, bodoh." Gumam Evander. 



Suara gaduh yang diciptakan oleh Conan dan Jed membuat gadis yang semula tidak sadarkan diri itu siuman dengan mata *aquamarine* seperti sebelumnya. "Conan?" Tanya Sherly. 



Sakit, pertama kali yang ia rasakan. Pening di kepala dan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuhnya, entah ini karena kekuatan Abigail atau karena apa. "Anda pingsan, sebaiknya anda masuk ke dalam, Nona." Ujar Evander.



"Tapi-"



"Nona tidak usah cemas, saya akan membantu Conan." Sela Evander.



Dengan perasaan amat sangat terpaksa, gadis itu meninggalkan halaman dimana saudara kembarnya tengah bertarung serius dengan seorang salah satu pendamping Raja iblis, Abian. Sedangkan, laki-laki yang tengah bertarung itu memasang raut wajah seolah tidak peduli dengan sekitarnya dan menghancurkan apapun yang menghalanginya. 



Satu kata untuk Conan, gila. Laki-laki itu saat ini tengah berada di ambang kewarasannya. "Ternyata manusia seperti ini ketika menyangkut hal tabu." Gumam Evander. 



Laki-laki itu terus menyerang secara membabi buta, bahkan Jed saat ini tersudutkan oleh manusia yang dianggapnya remeh. "Hm, tidak mungkin Jed selemah ini. Apa yang Abian latih dengan pendampingnya." Evander terus menerus bergumam tidak jelas. 



"Pendampingku jadi selemah ini ketika memihak pada Abian." Kekeh Evander. 



Serangan Conan berhenti membabi buta begitu nafasnya terengah-engah, dirinya lelah. Tapi semua perkataan, kritikan dari seseorang terus bermunculan di dalam benaknya dan membuatnya tidak bisa berhenti. 



Ia benci akan hal itu, benci ketika dirinya direndahkan oleh orang lain. Terutama orang asing yang datang ke dalam kehidupannya secara tiba-tiba. 



'*Apa kau benar-benar keturunan Frydenlund*?'



'*Kau lemah, Conan*.'



'*Terus lah bermimpi*.'



'*Kau itu pecundang, dasar lemah*.'




Butir-butir keringat mulai mengalir dari keningnya, matanya yang menyala seolah menyinari gelapnya malam itu kian meredup. "Sialan." Umpatnya. 



"Wah, sepertinya kau kalah Jed." Seru Evander. 



Jed yang terbaring lemah di bawah Conan itu sudah tidak memiliki tenaga untuk membantah itu semua, terlebih lagi laki-laki yang tengah menatap tajamnya itu siap memenggal kepalanya kapan saja. 



"Tidak kusangka, pendampingku terdahulu kalah oleh seorang bocah. Sepertinya kekuatanmu semakin melemah, bagaimana jika kau ikut denganku?" Tawar Evander. 



Lirikan matanya itu serta senyuman tipis menghiasi wajahnya yang penuh luka dan darah miliknya. "Heh, untuk apa aku ikut dengan seorang pengkhianat sepertimu, Evander Geino Ignitius." 



"Lebih baik jika aku mati-" 



Bunyi suara itu adalah suara kepala yang terpisah dari tubuhnya sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, jawaban yang sama seperti jawaban Jade. Seketika ia merasa seperti dikhianati oleh orang terdekatnya. "Akan kukabulkan." Tekan Evander. 



Takut, rasa takut yang menyebar ke seluruh tubuhnya saat ini. Melihat Evander yang berdiri tegak dengan mata merah yang menyala seolah memangsa mangsanya membuat Conan takut. "Berdirilah, jangan sampai membuat Sherly cemas." Ujar Evander lembut. 



Namun melihatnya dari bawah, tetap saja iris matanya itu menunjukkan bahwa laki-laki itu tengah dalam amarah yang besar. Baru saja ingin segera bangkit, tapi kedua kakinya sudah tidak bertenaga. 



Sampai pada akhirnya, Evander bertekuk lutut membelakanginya. "Naiklah, hujan akan turun." Titahnya. "Ah, Ya." Sahut Conan. 



Seperti seorang kakak yang menggendong adiknya yang sedang terluka, seperti itulah Conan dan Evander saat ini. Seperti kata Evander, hujan turun disaat mereka berjalan menuju kediaman. 



Butir-butir air hujan itu membasahi tubuh mereka bahkan membasuh bersih darah yang terdapat di tubuh Conan. "Kau tidak lemah." Celetuk Evander singkat. 



"Apa yang kau maksud?" Gumam Conan. "Kau tidak lemah. Buktinya, kau bisa mengalahkan salah satu pendamping raja yang terkenal lebih kuat dari iblis bangsawan." Sahut Evander. 



"*I don't care about that, idiot*." Bisik Conan. 



Bohong. Apa yang ia katakan itu bohong, sejujurnya ia sangat memikirkan bahwa dirinya itu lemah dan tidak pantas berdampingan dengan Sherly yang selalu mengalahkan Vampir dan Iblis. Sedangkan dirinya hanya diam menunggu aman jauh dari Sherly. 



"*You little liar*." Tukas Evander setelah menatap wajah lelah Conan.



Di satu ruangan yang minim cahaya dan suara gaduh air hujan menciptakan sebuah keheningan tak berujung, terlebih lagi Sherly hanya diam memandang wajah lelah saudara kembarnya yang tertidur lelap di ranjangnya. 


"Tuan Frydenlund baik-baik saja, Nona. Se-" 


"Apa dia mengalahkan iblis itu?" Sela Sherly. 


Selaan yang menciptakan keheningan untuk kesekian kalinya, namun laki-laki itu berjalan melangkah mendekati jendela ruang tidur Conan yang memperlihatkan hujan di malam hari. "Ya, saudara kembar anda mengalahkan Jed." Sahut Evander dengan senyuman manis. 


Senyuman manis itu terlalu manis daripada sebelumnya, sampai-sampai Sherly mengernyitkan dahinya. "Kau marah?" Tanya Sherly. 


"Mana mungkin, Nona. Saya tid-" 


"Yang ngebunuh itu kau, kan?" Lagi-lagi Sherly menyela tanpa memikirkan perasaannya. 


Bersambung...