The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
40. The absence of the goddess of war



Pohon yang tinggi dengan daun yang lebat itu melindungi Sherly dan Conan dari hujan, meski tidak terlindungi semua.


Conan terus melihat pertempuran dimana Evander yang menyudutkan seorang pemimpin iblis tanpa memperhatikan saudara angkanya yang sedang menahan sakitnya.


Rasa sakit, luka yang di terima Evander berpindah padanya. "Kekuatan yang dipakai Evander, itulah yang kau maksud?" Celetuk Conan.


"Hal terlarang dalam perjanjian darah, tapi kenapa kau melakukannya?" Tanya Conan.


"Kenapa kau bertanya kenapa? Aku melakukan ini karena merasa hidupku hanya sampai hari ini, jadi apa bedanya?" Sahut Sherly.


"Tapi kau tersiksa!" Tekan Conan.


Hening sesaat sampai senyuman manis Sherly terukir. "Tidak ada yang tidak tersiksa dalam dunia ini, Conan." Ujarnya lembut.


"Dunia itu mengerikan, bahkan aku pun takut jika tidak ada Evander di sisiku." Lanjutnya.


"Tapi...ayah mengajarkanku untuk tidak berbelas kasihan dalam membunuh,"


"Saudara, keluarga, teman maupun musuh, kau harus membunuhnya jika dia berkhianat. Itulah moto keluarga Frydenlund." Ujar Sherly dengan sebelah mata yang terpejam.


'Moto kah?'



Serangan yang di berikan oleh Evander membuat Abian terpukul mundur beberapa langkah hingga dirinya kelelahan. "Apa yang kau lakukan pada tubuhmu? Kemana luka yang kuciptakan?" Seru Abian.



"Kau tidak tahu apa arti *Devil Union*? Itu pernyatuan iblis, artinya aku dan Sherly menyatu." Ujar Evander.



"Luka darimu sudah sembuh sedari tadi, hei Raja kesepuluh." Kekeh Evander.



Di balik kekehan dan senyuman serta kritikan tentang Abian, perasaan cemas dan takut itu mengendalikan tubuh Evander. Bukan takut pada laki-laki di sebrangnya yang sedang mengatur nafas dengan bilah pedang yang mengacung kearahnya, melainkan takut pada Sherly.



Permintaan terakhirnya terlalu nekat, menurutnya. "Apa yang kau pikirkan?" Bisik Abian.



"Jangan sombong, mentang-mentang lebih banyak melukaiku." Tekan Abian.



Pikirannya dipenuhi oleh gadis yang bersandar lemah di batang pohon disana dengan anak laki-laki yang memandang kearahnya, seolah meminta pertolongan. "Kau tahu, aku bertarung dan berniat membunuhmu bukan karena dendamku ratusan tahun lalu." Bisik Evander.



"Tapi karena dendam anak itu padamu, dendam yang ia sembunyikan." Sambung Evander sembari mempersiapkan serangan yang akan ia layangkan pada Abian, penasihat keluarganya sekaligus orang terdekatnya.



"Karena dia dan aku memiliki takdir yang sama, Abian." Ujar Evander dengan senyuman dimana Abian hanya melihatnya ratusan tahun lalu.



Dimana Evander masih kecil.



Sebuah serangan horizontal menebas bagian perutnya sehingga kedua mata Gavin terbuka lebar melihat ayah yang mengangkatnya itu tertebas oleh Evander, sang pengkhianat. "Ayah!" Seru Gavin.



Seruan itu membuat kedua mata Sherly yang semula menutup, kini terbuka lebar. "Evander, musnahkan." Titahnya kesal.



Laki-laki yang menggenggam pedang dan berdiam diri di sebrang Abian dan Gavin itu tersentak mendengar perintahnya, entah karena sakit hati atau dendam yang tak terbalaskan. "Anda yakin?"



"Bunuh semua." Ujarnya setelah sekian lama terdiam.



"Nona..." Gumam Evander tidak percaya.



"*This is an order! my orders are absolute*, Evander." Decit Sherly.



Terdiam.



Kakak laki-lakinya mungkin masih bisa diselamatkan karena Evander ragu untuk membunuhnya, tapi Sherly benar-benar ingin memusnahkannya. "Baik, Nona."



Sebuah lingkaran sihir berwarna merah terukir di bawah telapak kaki Gavin dan potongan tubuh Abian, perlahan-lahan cahaya merah keluar menyinari tubuh mereka.



Sesaat sebelum tubuh mereka berubah menjadi abu, Sherly tersenyum seolah mengatakan. "Maaf." Ujar Sherly pada Gavin.




'*Sherly, kau mau main*?'



'*Sherly, ayo kita ke taman*!'



'*Sherly kau sakit, kau harus minum obat*.'



'*Sherly, pergilah*!'



*Era Sang Dewi Perang...sudah berakhir*.



Beberapa kata yang sering diucapkan oleh Gavin muncul dalam benaknya, namun kakaknya yang membuatnya tersenyum itu telah tiada. Begitu juga dirinya saat ini. "Sherly!" Seru Conan.



"Sialan... Evander!" Panggil Conan.



Laki-laki itu datang dengan kedua tangan yang kosong, raut wajah yang semula datar kini berubah seolah menyiratkan kesedihan melihat tubuh tidak berdaya Sherly. "Sembuhkan!" Titah Conan.



"Tidak bisa," Tolak Evander sembari melangkahkan kakinya mendekat. "Karena Nona Sherly...sudah tiada." Sambung Evander.



Tubuh Conan terjatuh lemas, tiada katanya. Sherly yang satu-satunya saudaranya, sudah tiada. "Apa katamu?" gumamnya tidak percaya.



"Lukaku semua diterima oleh Sherly, itu salah satu syarat dari kekuatan *Devil Union*. Dia akan mati setelah aku selesai memakai *Devil* *union*." Ujar Evander.



Dengan cepat Conan bangkit dan melangkah kearah Evander dengan wajah yang penuh amarah. "Kau membunuhnya!" Geram Conan.



'*Tidak, aku tidak membunuhnya*.'



'*Ini sudah tugasku*,'



'*Untuk terus mematuhi perintahnya, meski itu membunuhnya*.'



Seorang laki-laki dengan pakaian hitam dan sebuah buku di tangannya dengan pandangan yang melihat indahnya langit sore saat itu dengan senyuman tipis yang terukir di wajah tampannya.


"Oi, Evander!" Panggil seorang laki-laki bermata aquamarine.


Mata itu mengingatkan Evander pada seorang gadis yang selalu disisinya meski ia berada jauh darinya, hatinya tetap merasa bahwa gadis itu tetap berada disini, disisinya. "Ya, Tuan Muda?" Sahutnya lembut.


"Sialan kau, babi hutan itu mengejarku dan kau meninggalkanku?" Rengek Conan pada Evander.


"Itu termasuk latihan, Tuan Muda. Sebuah latihan untuk lari dari musuh." Kekeh Evander.


Kedua laki-laki itu bertengkar di dalam perpustakaan kediaman Frydenlund, salah satu ruang kesukaan Sherly saat masih hidup. Dan sudah pasti dirinya masih ada di dalam ruangan itu, meski tidak terlihat sekalipun.


"Brengsek kau, Evander. Awas saja, kau tidak akan kumaafkan!" Seru Conan sembari berjalan keluar dari perpustakaan.


Bersamaan dengan keluarnya Conan, iris mata merahnya itu melihat seorang gadis dengan wajah pucat dan kulit yang sangat putih. "Nona?" Ujar Evander.


"Kau tidak seharusnya menjalankan perintahku lagi, Evander."


Tubuh itu membungkuk seolah Sherly masih hidup, seolah menolak apa yang dilihat olehnya kala itu.


"Tidak, Nona. Sampai kapanpun, saya Evander Geino Ignitius. Akan tetap menjadi pelayan setia, Nona." Ujarnya sembari berlutut pada seorang gadis yang bahkan sudah tidak berada di dunia.


"Sepertinya kau melupakan perjanjian, Evander."


"Tanpa perjanjian, saya akan tetap menjadi pelayan Nona." Sergah Evander.


"Jagalah Conan sampai dia siap berjalan di dalam kegelapan, Evander."


Senyuman terukir lebar di wajah tampannya itu, lalu berkata. "Baik, Nona."


"Kalau begitu, aku sebagai sang Dewi, Sherly Frydenlund. Akan pergi dengan tenang, Evander Geino Ignitius." Ujarnya menjadi pengakhir pembicaraannya dengan Evander.


Tubuh itu masih berlutut dengan air mata yang mengalir deras, seolah menumpahkan rasa sesak di dadanya. "Ya, selamat tinggal..."


"Nona." Sambung Evander.


Bersambung...