The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
19. Evander: A treacherous Third King



Di hari pagi yang cerah tanpa adanya awan gelap sama sekali, seorang gadis bangun dari tidurnya. Namun dirinya merasa ada yang aneh dalam dirinya, kepalanya begitu pening. "Hei! Kemana pelayanku!" Seru Sherly. 


Tidak lama pintu ruangan itu terbuka lebar menunjukan seorang pelayan perempuan, entah kenapa perasaan ini tidak nyaman padanya. Seperti perasaan yang berbeda, apakah sebelumnya ada pelayan yang ia lupakan? Itulah pertanyaan yang muncul dalam benaknya. 


"Ah Kaylie, apa hanya kau pelayan disini?" Pertanyaan tidak masuk akal itu terucap dengan mudahnya. "Apa Nona Sherly tidak enak badan? Bukankah hanya aku dan madam Lynelle yang selalu melayani Nona. Tidak ada siapapun selain kami berdua, Nona." Ujar Kaylie. 


Tidak ada nada berbohong dari pelayannya itu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Ah tidak, hanya penasaran." Elak Sherly. 




Suasana begitu ricuh sejak kedatangan Rey yang mengikat Evander dengan sihirnya, berbisik bagaimana bisa seorang budak iblis menangkap mantan Raja kekaisaran hanya dengan luka di tubuhnya tanpa ada yang hilang. 



Tidak hanya seorang iblis tingkat rendah, bahkan iblis bangsawan pun terheran dengan seorang budak iblis Abian. "Lihatlah, kalian kalah dengan seorang budak?" Seru Abian. 



"Bahkan budakku saja bisa membawa seorang mantan raja kekaisaran dengan mudahnya." Kekehan dan ejekan itu mulai memenuhi seisi ruangan. 



Suasana yang membosankan ini membuat Evander muak dengan segala bisikan, kritikan serta kekehan yang diciptakan oleh raja para iblis, Abian. "Yo, Abian. Lama tidak berjumpa." Sapa Evander tanpa beban. 



Sapaannya mengundang seruan yang mengandung kata kasar yang tertuju padanya, namun iblis tetaplah iblis. Semua itu tidak berarti baginya yang merupakan mantan raja kekaisaran terdahulu. 



"Lancang sekali kau menyapaku dengan kata-kata itu, Evander Geino Ignitius." Tekan Abian. 



Seringaian tercipta di bibir Evander. "Kau memang Raja, Abian. Tapi tetap saja kekuatanmu masih jauh dibawahku yang seorang mantan raja kekaisaran ketiga. Camkan baik-baik, Tuan penasihat." Kekeh Evander. 



Entah apa yang ada di pikiran Evander, nada kekehan itu membuat api amarah Abian memuncak. Sampai memerintahkan para bawahannya untuk menggiring Evander ke ruang eksekusi bawah tanah. 



"Evander." Gumam seseorang. 



Hanya orang gila yang masuk ruang eksekusi diiringi dengan senyuman miring darinya, entah dirinya telah berniat mati ataupun ada rencana lain. "Kejayaan bangsa iblis karena telah menangkap pengkhianat!" Seru para penjaga ruang bawah tanah. 



Kedua tangan dan kaki Evander terpasung erat, dengan ruang yang minim cahaya mata merahnya itu melihat jelas banyak sekali alat-alat tajam yang digunakan untuk menyiksa. "Evander." Panggil seseorang. 



Ini kali pertamanya dalam hidup Evander ia berkorban hanya untuk seorang manusia yang bahkan ia tidak kenal lama, tapi seorang iblis bangsawan legendaris sepertinya berkorban untuknya. "Kau melamun apa? Menyesal dengan tindakanmu?" Celetuk seseorang. 



"Bocah sialan, lain kali jangan datang tiba-tiba!" Geram Evander. 



"Kau hebat juga bisa tertawa dihadapan yang mulia Raja Abian, kukira kau dengan dirinya tidak saling kenal." Ujar Rey. "Dia penasihat keluarga Ignitius dulu, jadi aku kenal." Jengah Evander. 



Ruangan yang minim cahaya dan hening itu berubah menjadi hidup seolah laki-laki inilah yang membuat ruangan yang penuh aroma darah ini menjadi hidup. "Kau...bisa kunjungi Sherly?" ujar Evander pelan. 



Kalimatnya terhenti, Rey cukup terkejut. "Kenapa kau menyuruhku untuk mengunjungi Sherly?"



"Lupakan, aku hanya asal ngomong tadi." Elak Evander. 



Jika dirinya tidak cemas itu bohong, semua yang terjadi pada gadis itu, entah senang, sedih, terluka atau bahkan sakit. Mungkin membuatnya lupa ingatan adalah hal yang buruk, tapi mungkin dirinya sudah tidak bisa keluar dari kerajaan ini. 



Terutama Abian adalah orang yang saat ini paling berkuasa. "Kau menyesal dengan tindakanmu, kan?" 



Hanya diam. Saat ini Evander tidak bisa menyalahkan laki-laki di hadapannya ini, tidak salah bahwa saat ini dirinya menyesal melakukan hal itu. "Tidak sepenuhnya, setidaknya." Kekehnya. 



"Kalo aku kesana, datang sebagai siapanya?" Rey bertanya setelah berdiam diri.




Entah bagaimana bisa seorang iblis sepertinya begitu yakin dengan ucapannya terhadap manusia yang ia kenal selama beberapa tahun belakangan ini, apa karena perjanjian darah? "Kenapa kau begitu yakin?" Heran Rey. 



"Karena Sherly tidak sekejam yang dirumorkan, dia tetaplah seorang gadis yang membutuhkan teman seperti orang lain." ujar Evander. 



Senyuman laki-laki ini benar-benar misterius, beberapa saat lalu ia tersenyum miring dengan segala keberaniannya pada Abian, namun sekarang yang terdapat hanyalah senyuman yang mengandung beribu kesedihan. 



Sebenarnya apa yang dialami oleh Evander sampai-sampai harus mengkhianati bangsa iblis? 



Rasa penasaran itu perlahan muncul. "Sebenarnya apa yang kau alami sampai-sampai disebut pengkhianat?" Tanya Rey tanpa sadar. 



Hening. 



Ruangan yang semula hidup kini mati, kedua mata Evander terbuka lebar menatap tajam Rey yang bertanya tanpa izin darinya. Bertanya tentang kehidupan dahulunya yang begitu tragis menurutnya.



"Hanya kehidupan biasa yang dipenuhi oleh sampah." Sahut Evander dengan urat-urat yang bermunculan di pelipisnya serta rahang yang mengeras. 



"Sampah yang kau maksud dengan sampah yang kuartikan berbeda, apa sebegitu sampahnya sampai-sampai kau harus mengkhianati-"



"Kau berisik sekali. Kehidupanku tidak ada yang *spesial* untuk diceritakan, jadi berhentilah menanya-nanya tentang kehidupanku, sialan." Evander menggeram. 



Iris matanya itu seolah menyuruh anak itu keluar dari ruangan yang minim cahaya ini, tidak salah bahwa laki-laki itu mengusirnya. Dirinya menanyakan sebuah hal yang sensitif bagi Evander. 



"Rey, lain kali dan dimanapun jangan menanyakan tentang kehidupan. Itu hal tabu." Celetuk Evander sebelum Rey benar-benar pergi. 



"Maaf, tanpa sengaja aku menanyakan hal itu." Rey berucap. 



Sepi dan sunyi, tidak seperti sebelumnya yang suasana sekitar seolah hidup hanya karena sebuah kehadiran dari budak iblis, Rey Rouselle. Anak itu benar-benar sesuatu yang langka. 



Mata lelahnya itu menatap langit-langit ruangan eksekusi itu, sebuah saluran udara yang kecil memperlihatkan sedikit pemandangan langit malam dengan sinar bulan yang memasuki ruangan itu. 



Beberapa kenangan buruk muncul karena pertanyaan beberapa saat lalu, kenangan dimana semua orang terdekatnya di bantai habis oleh satu orang yang benar-benar mengetahui seluk beluk keluarganya. 



"Benar-benar sialan." Kekeh Evander.



Iblis dan manusia memiliki beberapa persamaan dan perbedaan, namun kenapa Evander dan gadis itu memiliki persamaan seolah Sherly adalah reinkarnasinya. Namun dirinya belum tiada. "Pembantaian, pengkhianatan." gumam Evander. 



"Apa yang mantan Raja kekaisaran ketiga lamunkan?" Celetuk seseorang. 



Lirikan mata itu berubah menjadi tajam yang sebelumnya sendu dan penuh dengan perasaan terluka. "Apa yang membuat Yang Mulia Raja datang mengunjungiku yang seorang pengkhianat?" Kekeh Evander. 



Kekehan itu benar-benar membuat Abian yang merupakan Raja iblis sedikit diremehkan oleh laki-laki itu. "Mari kita lihat sampai mana kau bisa tertawa." Bisik Abian. 



Bersambung...