
Sesuai apa yang diinginkan Evander kemarin, Rey datang ke kediaman Frydenlund sebagai temannya. Entah apa yang akan pertama kali Sherly katakan saat bertemu dengannya. "Kau siapa?" Celetuk seorang wanita tua.
Dengan tindakan yang mengendap-endap seperti orang aneh, tentu akan memusatkan perhatian orang asing pada dirinya. "Ah, saya Keenan temannya Nona Sherly." Ujar Keenan.
Berpikir mudah, wanita tua itu tidak segera masuk ke dalam kediaman Frydenlund. Wanita itu hanya memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Ah, maaf jika tindakan saya ini terlalu lancang. Hanya saja, Nona Sherly sama sekali tidak memiliki teman luar."
"Dan ini kali pertama temannya berani datang ke kediamannya secara langsung." Lanjut wanita tua itu.
"Saya Lynelle, pelayan disini. Kau bisa memanggilku Madam Lynelle, mari masuk." Kekehnya.
Frydenlund, seperti yang dirumorkan sekumpulan orang yang kejam dan sadis bahkan diberitakan tidak memiliki perasaan pada orang lain. Tapi siapa sangka saat berinteraksi dengan Sherly, ia sama sekali tidak merasakan aura membunuh.
Hanya merasakan betapa kesepiannya gadis itu, ia bertanya-tanya apakah Frydenlund semenyeramkan itu? "Nona Sherly sedang ada sedikit urusan di ruang pribadinya, nanti saya kabari jika ada yang mencarinya." Ujar Lynelle.
Tanpa menunggu balasan dari laki-laki itu, wanita tua yang menyebut dirinya sebagai pelayan itu meninggalkannya sendiri di ruangan yang sepi dan dipenuhi sebuah bingkai foto yang besar dan diukir dengan cantiknya.
"Foto keluarga?" gumam Keenan.
"Lancang sekali kau menyentuh benda berharga Frydenlund!" Seru seorang laki-laki.
Seruannya itu membuat bingkai foto itu terlepas begitu saja dari genggaman tangannya, bingkai foto yang terjatuh membuat serpihan kaca berserakan di lantai. Hal itu membuat kedua mata Conan terbuka lebar dengan rahang yang mengeras.
"Sialan apa yang kau lakukan?!" Gertak Conan.
"Ah maaf. Aku benar-benar tidak sengaja!" Ujarnya. Namun laki-laki itu mendorongnya agar menjauh dari foto keluarga itu. "Brengsek!" Seru Conan.
Laki-laki terdiam mematung mendengar umpatan Conan, meski laki-laki ini sering kali mengumpat padanya. Entah kenapa rasanya kali ini berbeda. "Sherly maaf, foto ke-"
"Keenan, foto itu memang berharga. Tapi tidak apa-apa, karena harga itu telah dimusnah dengan adanya pengkhianat." Kekeh Sherly.
"Sherly, aku tahu kau kepala keluarga Frydenlund saat ini. Tapi,"
Laki-laki itu mengacungkan bilah pedangnya di depan kepala keluarganya saat ini, dengan air mata yang mengalir. "Kau bisa-bisanya begitu tenang!" Gertak Conan.
"Padahal kau sendiri yang bilang bahwa mereka pengkhianat." Ujar Sherly jengah. Gadis itu dengan lihainya menarik senjatanya dan menahan bilah pedang milik Conan di hadapan wajahnya.
"Eh? Kenapa kalian yang sesama saudara saling menyerang?" Seru Keenan.
Dan sialnya, seruannya itu sama sekali tidak ada gunanya bagi Frydenlund bersaudara yang sedang menyerang satu sama lain, beginikah kehidupan seorang bangsawan? "Sesama saudara saling menyerang itu adalah hal lumrah, kenapa kau yang heboh?" Tanya Sherly.
Serangan keduanya berhenti, gadis itu berdecih begitu melihat kemampuan saudara kembarnya yang meningkat pesat. "Darimana kau belajar kemampuan seperti itu?" Tanya Sherly.
"Dan tempat ini terlalu sempit untukku." Decihnya.
"Apa yang kau katakan sih. Kemampuanku ini kan diajari olehmu dan Evander sialan itu." Ujar Conan.
Laki-laki yang berdiri dengan kedua kaki yang gemetar itu membuka matanya lebar-lebar, kekuatan sihirnya sudah menghapus ingatan tentang laki-laki iblis itu. Tapi mengapa anak ini tidak melupakannya? "Evander? Teman barumu?" Tanya Sherly.
Iris matanya itu menunjukkan tatapan tidak percaya, gadis yang sangat dekat dengan laki-laki iblis itu bisa-bisanya tidak mengingat laki-laki yang selalu mendampinginya. "Apa-apaan kau? Sepertinya otakmu itu sedikit bergeser ketika kau tidur ya, sialan." Geram Conan.
"Evander itu bukan kenalanku, aku saja tidak ingat." Ujar Sherly.
Hening menyingsing. Conan dan Keenan hanya terdiam menganga melihat gadis itu dengan tatapan tidak percaya. Berbeda dengan Keenan yang menatap Conan dengan herannya. "Evander itu orang terdekatmu, bodoh. Hal gila apa yang membuatmu tiba-tiba melupakannya." Decih Conan.
"Ah sudahlah, hari ini aku sedang marah. Jangan mengajakku berbicara." Ujarnya sebelum pada akhirnya pergi.
Berbeda dengan Sherly, laki-laki bernama Evander yang merupakan iblis legendaris itu merintih kesakitan setiap detiknya.
Entah cambukan, pukulan, sayatan yang ia terima selalu menciptakan sebuah rintihan darinya. Seolah rintihan itu sebuah lagu yang indah bagi Abian. "Eh, kau bisa merasakan sakit juga?" Kekeh Abian.
Darah terus menerus mengalir deras dari luka yang diciptakan oleh laki-laki iblis di hadapannya ini, seolah psikopat, dirinya terus tertawa geli melihat mangsanya sudah tidak bertenaga.
"Tidak mungkin kan hanya ini kekuatan mantan Raja kekaisaran ketiga." Kekeh Abian.
Ia hanya merintih kecil tanpa ekspresi kesakitan, seolah rintihannya itu hanyalah rekayasa.
"Kekuatan kekaisaran? Kurasa kau terlalu meremehkan kekuatanku, sang Raja kesepuluh." Ujar Evander pelan.
Eksekusi Evander terhenti begitu saja tanpa alasan, Abian yang merupakan raja para iblis saat ini pergi meninggalkan ruang eksekusi dengan darah Evander dimana-mana.
"Hanya ini kekuatan Raja kekaisaran? Mana mungkin hanya ini, ini semua karena Kaisar pertama." Kekeh Evander.
Beberapa ingatan masa dimana dirinya masih tidak peduli dengan tahta menjadi raja yang memimpin bangsa iblis.
Sampai sang ayah melatihnya, itulah saat-saat dimana Evander tidak sekalipun tahu bahwa sang ayah menyegel separuh kekuatannya.
**Masa pemerintahan Raja Kekaisaran Pertama**.
Aciel Geino Ignitius, seorang iblis legendaris dengan kekuatan yang langka. Laki-laki itu juga merupakan Raja pertama bangsa iblis, seorang ayah yang sangat dibanggakan oleh Evander. "Putra sulungku, kekuatanmu benar-benar menakjubkan."
Kali pertama, anak berusia 5 tahun itu mendapatkan pujian langsung dari sang Ayah. "Karena terlalu langka, kekuatanmu itu ayah segel." Lanjutan dari ucapannya itu benar-benar mematahkan semangat yang membara dalam hati Evander.
"Kenapa? Kenapa ayah menyegel kekuatanku? Bukankah ayah menginginkanku untuk menjadi raja?"
"Kekuatanmu itu memang langka, karena suatu hal yang tidak perlu anak kecil sepertimu ketahui, maka dari itu kekuatanmu ayah segel."
Kata terakhir yang Evander dengar setelah latihan terakhirnya dengan ayahnya, setelah mendengar kekuatannya disegel, ia sama sekali tidak memiliki jiwa semangat latihan.
Dengan kekuatannya yang disegel, impian menjadi Raja pun sama sekali tiada.
Namun semua itu sirna ketika sekumpulan wanita menusuk ayahnya, semua perasaan yang dikubur hidup-hidup oleh ayahnya kini bangkit.
Menjadi raja bukanlah karena ayahnya, tapi karena balas dendam keluarganya.
**Kembali keadaan saat ini**..
"Penasihat sialan itu." kekeh Evander. Kedua mata itu terpejam sejenak, luka-luka disekujur tubuhnya perlahan menutup seiring berjalannya waktu, namun baru melakukan penyembuhan saja rasanya usianya itu terus berkurang. Apakah ini efek samping dari segel Aciel? Atau memang karena kekuatannya itu?
'*Benar seperti inikah seorang raja yang menghancurkan bangsaku*?'
Bersambung...