
"Kalau aku tidak mau?" Tanyanya dengan wajah yang menyeringai. "Kau akan melihat gadis itu mati di depanmu, mantan raja ketiga." Kekeh Abian pelan.
Kedua mata itu terbuka lebar, terkejut dengan apa yang diucapkan oleh raja Iblis di hadapannya ini.
Sungguh membuatnya marah, menyebalkan. "Kau ini iblis atau manusia, pengkhianat?" Kekeh Evander.
"Siapa yang kau sebut pengkhianat, bocah sialan?" Seru salah satu prajurit.
Pukulan itu mendarat di bagian perutnya, tangan yang memakai senjata itu membuat darah keluar dari mulut Evander.
"Sejak kapan kalian menyiksa Evander?" Suara rendah yang tercipta dari mulut Sherly membuat satu ruangan eksekusi yang minim cahaya itu terasa dingin.
"Sejak peperangan manusia dan Vampire berlangsung, kita para iblis berencana membunuh mantan Raja ketiga. Lalu menyiksanya karena berkhianat pada bangsa iblis." Sahut Abian cepat.
"Begitu kah?" Gumam Sherly dengan seringaian yang jarang ia ukir, entah kenapa auranya berbeda dari sebelumnya.
Hanya dalam sekejap mata, kedua tangan yang di pasung itu terlepas. "Kau tahu Evander tidak akan mudah di bunuh, yang mulia Abian." Bisiknya dengan tatapan tajam yang siapa saja melihatnya sudah pasti akan berkeringat dingin.
Mata merahnya perlahan menatap seluruh tubuh Evander yang dipenuhi luka, entah luka sayatan, pukulan, cambukkan. Meski seorang iblis, sudah seharusnya ia merasakan sakit.
"Ah aku membenci aroma darah diruangan ini, terlalu busuk. Seperti darah kalian." Ujar Sherly dengan nada rendah.
Dari rambut, mata dan kekuatannya semuanya berubah drastis. Bahkan luka yang diciptakan oleh Luke berhasil menutup dengan cepatnya. "Siapa kau?" Seru salah satu Panglima.
"Aku? Aku adalah Sherly Frydenlund, kepala keluarga Frydenlund jika kalian lupa." Kekeh Sherly.
"Lebih tepatnya, aku yang tinggal dalam tubuh gadis ini." Lanjutnya.
Gadis itu mulai berlari kesana dan kemari tanpa bisa diikuti oleh pergerakan lawan, sampai pada akhirnya seseorang datang dan menangkapnya. "Apa yang kau lakukan di ruang ekse-"
"Sherly?" Gumam Gavin.
"Ah, kakak. Kenapa membela musuh kita?" Kekeh Sherly.
Tatapan dan lirikan tajamnya membuat laki-laki itu berkeringat dingin. Kali pertama Gavin takut dengan Sherly, seolah saat ini Sherly adalah seseorang yang berbeda.
Mata merah dan rambutnya yang berubah menjadi putih membuat satu level lebih menyeramkan dari biasanya, seolah melawan seorang binatang liar. "Sherly, kau kenapa?" Tanya Gavin ketika Sherly memberontak.
"Para Iblis harus mati, kakak. Mereka sudah membunuh ayah, ibu, dan menyiksa Evander." Kekeh Sherly. Nada tawaan itu membuat mereka seketika merinding, apakah keluarga Frydenlund tergolong kejam.
"Yah, aku tidak peduli sih dia membunuh ayah dan ibu yang pengkhianat itu. Tapi dia menyiksa orang setia di sisiku, ah tidak kumaafkan. Ya kan, Evander." Ujarnya dengan nada senang.
Melihatnya tertangkap oleh Gavin dan di serang oleh pukulan, cambukan, atau pun sayatan membuat mata merah itu terbuka lebar. Bisa-bisanya para iblis ini membuat api amarahnya membara hanya karena trik murahan seperti itu. "Nona." Panggil Evander.
Senyuman manis hanya milik Evander itu membuat Sherly tersadar, terdiam dengan kedua tangan yang terikat dan tubuhnya yang luka kembali. "Ah merepotkan, kalian akan kubunuh hari ini dengan tanganku." Sergah Abian.
"Bagaimana bisa kau membunuhku? Kau kan lemah." Ujar Evander diakhiri kekehan kecil. Namun siapa sangka, salah satu prajurit yang menjaga ruang bawah tanah itu menusukkan bilah pedangnya pada dada Sherly.
Lirikan mata itu menatap laki-laki yang sedari tadi diam membeku di sudut ruangan, Gavin Frydenlund. "Kau bilang kau ingin adikmu selamat, tapi kenapa diam saja?" Celetuk Evander.
"Usahamu melindungi adikmu itu tidak ada gunanya jika berdiam diri, Bocah bodoh." Geram Evander.
"Kau ini berisik sekali."
Kekehan, kritikan, siksaan, ia sudah muak dengan itu semua. Terlebih lagi orang berharganya disiksa di hadapannya, ini membuatnya merasa bersalah berkali-kali melihat Sherly yang terus-menerus tersiksa.
"Bisakah kau hentikan itu? Itu memuakkan." Ujar Evander dengan nada rendah.
"Eh, kau marah? Aku hanya memberi gadis kurang ajar ini pelajaran kecil."
"Pelajaran kecilmu itu dapat membunuhnya, raja tidak berotak." Geramnya.
Sampai pada akhirnya Abian tersenyum miring, lalu memerintahkan sesuatu untuk dilakukan oleh prajuritnya.
"Kenapa kau diam saja? Kau sedih gadis ini mati?" Kekeh Abian keras.
Darah yang mengalir dari tubuh Sherly membentuk sebuah simbol lambang perjanjiannya di atas lantai yang penuh darahnya dan darah Evander. "Kau masih hidup?" Seru Abian.
"Dia tidak mudah mati, pengkhianat." Geram Evander.
"Atas nama keluargaku, Evander Geino Ignitius. Aku Sherly Frydenlund melakukan perintah terakhirku untuk memusnahkan mereka..." Meski sulit untuk bersuara karena lukanya ini, ini akan menjadi perintah terakhirnya dalam hidupnya.
"Tanpa terkecuali." Ujarnya dengan lirikan mata menatap Gavin.
Seringaian mulai terukir jelas dibalik wajahnya yang penuh luka, sedangkan Gavin hanya bisa terdiam dengan kepala yang menunduk. "Baik, Nona." Sahutnya.
Aura, kekuatan dan tenaga yang sudah terbuang untuk menahan segala rasa sakit dari siksaan kejam Abian itu kini terus bertambah dan bertambah membuat mereka yang berada di hadapannya sesuai perintah Sherly.
"Tapi sebelumnya, bisakah kita keluar? Disini terlalu sempit untuk bertarung." Pinta Evander.
"Sherly!" Seru Conan ketika melihat saudara kembarnya itu di topang oleh kedua iblis dengan luka di bagian dadanya.
Ia pun berlari tanpa memikirkan kedua kakinya yang sudah kelelahan dan tidak bertenaga, sembari berlari, ia mengayunkan bilah pedangnya kepada kedua iblis itu. "Iblis seperti kalian tidak berhak menyentuh saudaraku." Geramnya.
Laki-laki itu mendudukkan tubuhnya dengan tubuh Sherly yang berada di kedua kakinya, andai sepi, ia ingin berseru keras betapa sakitnya kedua kakinya. "Jangan mati, bodoh! Kau mau melanggar janjimu pada orang yang sudah mati? Betapa ke-"
"Ya, sepertinya." Kekeh Sherly dengan nafas yang terengah-engah.
"Kau serius mau melawanku? Bagaimana jika melawan anakku dulu, Gavin." Ujar Abian sembari menatap Gavin.
Laki-laki yang mendadak bisu sedari kejadian di ruang eksekusi, ia pun hanya mengangguk dengan langkah kaki yang melangkah ke depan laki-laki bermata hijau itu. "Jangan-jangan kau takut denganku ya?"
"Gavin Frydenlund, kau serius melakukan ini? Ya tentunya aku sebagai orang setia Nona Sherly akan membunuhmu sesuai perintahnya, tapi aku masih bisa melanggarnya untuk tidak membunuhmu." Tawar Evander dengan senyuman manis.
Nampak jelas bahwa Gavin terlihat berpikir untuk menerima atau tidaknya tawaran itu, memang cukup menggiurkan bagi keselamatan nyawanya.
"Tidak, kau harus bisa membunuhku agar aku bisa menebus semua dosaku terhadap adikku." Ujarnya dengan senyuman yang jarang Conan dan Sherly lihat.
"Sampaikan padanya, bahwa aku tidak dapat membenci mereka berdua meski aku telah menjadi Vampir dan iblis." Finalnya.
Bersambung...