The Unfulfilled Wish

The Unfulfilled Wish
The Unfulfilled Wish ; The End



London, 12 october 1675


Sudah 1 tahun setelah peperangan besar-besaran terhadap ketiga bangsa yang menentang adanya perdamaian, yaitu Vampir, Iblis dan Manusia.


Tidak terhitung berapa banyak nyawa yang hilang, tapi bangsa Manusia berhasil merebut kembali kemenangan mereka setelah di rampas paksa oleh kedua bangsa itu.


Sejak kematian sang dewi perang, kepala keluarga Frydenlund terdahulu yaitu Adelard James Frydenlund menjadi kepala keluarga Frydenlund hanya untuk kurun waktu sementara.


Hanya sementara sampai Conan Frydenlund siap menjadi kepala keluarga Frydenlund.


Anak laki-laki yang sama sekali tidak bisa bertarung, manja dan cengeng, pendiam, serta dijauhi oleh para warga karena memiliki kekuatan yang berbahaya.


Semua itu sudah sirna, tiada kata apapun di dalam diri Conan kecuali kesedihan dan luka.


Laki-laki itu melalui banyak kenangan bersama saudara tirinya itu, ia tidak merasa marah ataupun kesal ketika mengetahui kebenaran dalam semua hubungannya dengan Sherly.


Ketakutan saat berjalan sendirian itu mulai sirna saat ini juga, saat dimana ia menjadi kepala keluarga Frydenlund.


"Sebagai kepala keluarga Frydenlund terdahulu, saya Adelard James Frydenlund melantik Conan Frydenlund, anak bungsu keluarga Frydenlund menjadi penerus satu-satunya keluarga Frydenlund untuk selanjutnya." Seru James.


Dalam upacara suci yang berlangsung secara singkat di depan mata para warga, Evander tersenyum bangga pada laki-laki yang terus menerus merengek manja pada tuannya, yaitu Sherly Frydenlund.


"Sesuai perintah terakhirmu, nona. Saya akan terus menemani Conan hingga akhir hayat saya sebagai pelayan setia nona, Sherly Frydenlund." Ujar Evander singkat.


Nampak jelas bahwa Evander tengah berlutut pada seorang laki-laki yang memakai mahkota, laki-laki itu tersenyum. "Saya Evander Geino Ignitius akan menjadi pelayan setia Conan Frydenlund sebagaimana yang diperintahkan oleh Sherly Frydenlund." Ujarnya.


"Saya Conan Frydenlund akan mengangkat Evander Geino Ignitius menjadi pelayan pribadiku sampai dimana hari akhirku tiba." Sahut Conan.



*London, 25 Desember 1705*



Seorang gadis berlarian di lorong yang sepi dan sunyi itu, sehingga gadis kecil itu menabrak kaki seorang laki-laki dengan iris mata merahnya yang mengerikan. Orang itu adalah pelayan setianya Sherly, Evander.



"Paman Evander, apa paman melihat ayah?" Tanya seorang anak perempuan dengan rambut yang dikuncir.



Anak yang berkisar 5 tahun itu mendekap sebuah boneka beruang dan dengan cerobohnya berlarian di lorong yang baru saja ia bersihkan. "Maksud nona Kana, tuan Conan? Tuan Conan sedang beristirahat di ruang tidurnya, Nona muda." Sahut Evander.



Anak kecil itu berlarian menuju pintu yang mengingatkan Evander pada gadis yang telah meninggalkannya selama 30 tahun lamanya, Sherly Frydenlund.



"Ayah!" Seru Kana. Anak perempuan yang merupakan anak bungsu keturunan Conan Frydenlund.



"Paman Evander! Kak Cèan! Kak Jeannè!" Mendengar seruannya itu, Evander datang tanpa disadari oleh ketiga bersaudara Frydenlund itu.



Cairan bening dari iris mata mereka mengalir tanpa diduga, seorang saudara yang sangat berbeda daripada anggota Frydenlund terdahulu.



Air mata yang mengalir menandakan 2 hal yang berbeda, menandakan orang terdekatnya pergi dan menandakan rindunya terhadap orang terdekatnya.



Namun air mata dari ketiga bersaudara itu bukan merupakan tangisan kerinduan, tapi tangisan perpisahan.



Conan Frydenlund, kepala keluarga Frydenlund saat ini tengah menghadapi mautnya di hadapan ketiga anak dan Evander.



Namun tidak dengan istrinya yang sudah meninggalkannya beberapa tahun yang lalu akibat penyakit yang di deritanya.



"Ocèan, kau anak sulung keluarga Frydenlund. Lindungilah kedua adikmu dan jangan ingkar janjimu pada ayah, Nak." Suara lirihan itu tidak membuat air mata Ocèan berhenti.




Anak yang berusia 15 tahun itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menggenggam tangan dingin sang ayah.



"Evander, kita akan berpisah. Maaf meninggalkanmu, Pelayan bodoh!" Ujar Conan diakhiri kekehan kecil dan juga senyuman yang sangat jarang ia ukir.



Senyuman yang saat puluhan tahun ia selalu ukir di hadapan Sherly, senyuman manis dan tulus dari seorang anak kecil.



"Ya, kita berpisah. Selamat tinggal," Suara itu tercekat begitu melihat tubuh Conan yang terbaring di ranjang tidurnya itu sudah tidak di huni oleh roh maupun jiwanya.



"Bocah kurang ajar." Lanjut Evander dengan iris mata merah yang menyiratkan kesedihan.



'*Lagi-lagi aku*,'



Tangisan ketiga bersaudara itu kian mengeras sehingga membuat para pelayan datang mendekap anak itu, meski Evander sama sekali tidak mengeluarkan air mata seperti kepergian Sherly.



Ia turut bersedih atas kehilangan saudara tiri dari Sherly Frydenlund, orang kesayangan tuannya.



'*Ditinggal sendirian untuk kesekian kalinya*?'



Usai acara pemakaman kepala keluarga Frydenlund, yaitu Conan Frydenlund. Evander pergi untuk menyendiri menenangkan pikirannya yang saat ini sedang kalut. Langit yang semula cerah itu kini berubah menjadi gelap seolah menandakan hujan akan turun.


Di tempat yang luas dan sepi tanpa ada penghalang apapun, laki-laki itu terjatuh dengan kedua lutut yang menumpu beban tubuhnya. Kedua tangannya menutup kedua matanya dengan kepala yang mendongkak keatas langit yang gelap.


Suara seruan dan teriakkan yang diciptakan oleh Evander menciptakan angin yang cukup besar menghempaskan bebatuan bekas terjadinya perang puluhan tahun lalu.


"Kenapa tidak aku saja yang mati?" Serunya terdengar cukup frustasi.


Ditinggalkan oleh seseorang di dekatnya untuk kesekian kalinya, entah dikhianati ataupun meninggal. Ia hanya ingin seperti orang-orang pada biasanya yang bisa memiliki hari akhir, tidak seperti dirinya yang abadi.


Tidak heran dia terlihat begitu frustasi, dirinya telah kehilangan dua orang yang selalu bersamanya sejak dulu.


Sherly dan Conan, dua orang yang selalu tersenyum dan tertawa bersamanya tanpa memandang manusia atau iblis. "Kenapa aku abadi?" Geramnya.


'Evander Geino Ignitius, putra sulungku.'


Suara yang terdengar tidak asing di telinganya, suara yang telah berbisik sejak ia lahir ke dunia. Suara yang terus mendukung dan memberinya semangat. "Ayah..."


'Tidak ada yang abadi di dunia, Evander.'


Roh yang disinari itu berdiri tepat di hadapan Evander yang jatuh dengan kedua lutut sebagai tumpuannya, serta air mata yang mengalir dari iris mata merahnya. "Tapi....tapi kenapa-"


'Kau hanya belum mendekati hari akhirmu, Evander.'


Senyuman manis dengan tatapan sendu yang diciptakan Raja pertama dari bangsa iblis itu tidak membuat tangisan Evander berhenti, melainkan kian mengeras.


'Sudahlah, Evander.'


'Hentikan tangisan memalukanmu itu, apa ini orang bodoh yang kukenal?'


Kekehan dari seorang laki-laki yang sangat ia kenali berdiri di hadapannya, tepat di samping sang ayah. "Diam kau, Bocah bodoh."


Benar, menangis tidak ada gunanya saat ini. Ia bukanlah seorang dewa yang mungkin saja bisa menangis untuk menghidupkan kembali seseorang atau seekor hewan.


"Kalian," Ucapan itu sedikit terjeda dengan tindakan Evander yang secara tidak diduga langsung berlari dan memeluk kedua orang itu.


"Benar-benar jahat.." Lanjutnya.


...THE END...