
Dini hari, dimana matahari belum juga menunjukkan sinarnya. Disitulah Sherly bersiap-siap memakai baju zirahnya dengan pasukannya yang sudah siap berperang untuk beberapa hari kedepannya tanpa istirahat.
Mengingat lawannya bukanlah sesama manusia, latihan mereka sudah matang menurut sang Komandan.
"Dengar! Kita akan berjuang mati-matian, jika masih ada yang takut silahkan pergi meninggalkan barisan!" Seru George.
Beberapa orang keluar dari barisan dengan meninggalkan barisan yang berantakan karenanya, keluarnya beberapa orang tidak membuat raut wajah Sherly berubah.
Pasalnya, dirinya tidak pernah sekalipun kalah dalam peperangan setelah beberapa tahun lalu yang menyebabkan nyawanya hampir saja melayang.
"Ini peperangan, bukan ajang permainan. Kita tidak akan tidur sampai hari dimana kemenangan tiba, siapa saja yang tidak sanggup silahkan keluar dari barisan." Nada ketus dari Sherly membuat beberapa orang bergetar.
Dan disaat itu juga sekitar 10 orang meninggalkan barisan, pasukannya yang berkurang seiiring berjalannya waktu. "Kau ikut?" Seru Conan.
Keenan, orang yang rela mengorbankan nyawanya hanya untuk satu orang nyawa yang bahkan tidak ia kenal baik.
Karena peristiwa mayat hidup itulah, Keenan dan Conan semakin dekat. "Ya, hitung-hitung latihan untuk membuatku kuat." Kekeh Keenan.
"Ini perang, Bocah. Bukan latih tanding dengan bangsa Vampir, bagian mana yang kau sebut latihan?" Celetuk Rafael.
Tahu, Keenan tahu jelas bahwa ini adalah perang besar yang menyangkut banyak nyawa.
Tapi disinilah kemungkinan ia akan melewati batasan dirinya sebagai penyihir, bukan budak iblis. Ia akan mencoba untuk terlepas dari kutukan itu.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?" Keenan mendesis.
...~~~...
Setetes darah mengalir dari pipi kirinya, sudut bibirnya terluka ketika mengatupkan rahangnya begitu Abian memukulnya karena membantah perintahnya.
Hari ini, tepat pada pukul 4 dini hari. Perang antara Vampir dan manusia telah dimulai sebentar lagi, dan saat itulah Abian berencana untuk membunuhnya.
"Kau tahu hari apa ini?" Kekeh Abian.
Dengan lirikan netra merahnya, Abian sedikit tersentak. Aura yang berbeda dari yang sebelumnya, rasa takut itu mulai menyelimuti tubuhnya.
Dingin, apa ini aura dari kaisar terdahulu. "Hari dimana aku terbebas, kan?" Kekeh Evander geli.
"Ya, terbebas dari jeruji alias kematian yang akan menjemputmu." Sahut Abian.
"Yakin sekali, sang Kaisar kesepuluh." Kekeh Evander.
Bohong jika Abian tidak takut dengan tatapan mata itu, tatapan yang seolah ingin memangsanya. Tidak menutup fakta, Evander adalah salah satu iblis yang tidak memiliki kelemahan menurut orang yang di lawannya.
Wanita, gadis, keluarga, atau bahkan teman, itu semua tidak akan menjadi ancaman bagi Evander. Wanita yang mendekatinya bahkan langsung di bunuh, teman yang mengkhianatinya bahkan langsung tiada.
Keluarga? Siapa yang berani mengancamnya menggunakan keluarganya? Salah satu keluarga yang terkenal kuat bahkan sampai di beri gelar tiada kelemahan.
"Jangan terlalu sombong karena kau menduduki gelar terkuat saat ini, Evander." Geram Abian.
"Aku sang Legenda, sang legenda tidak akan pernah bisa dikalahkan." Dengan luka yang mulai menutup dan senyuman miring, membuatnya terlihat seolah dialah yang jahat disini.
"Kau bilang kematian akan menjemputku? Kata ayahku, Aciel. Laki-laki yang kau bunuh, aku tidak akan mudah mati." Ujar Evander. Nada dan tatapan matanya yang kosong sedikit membuat laki-laki itu terkejut.
Netra merahnya bukanlah seperti beberapa hari lalu, ini sudah seperti seorang monster yang akan memangsa targetnya.
"Karena akulah yang memegang dunia bawah, Nether magic. Itulah kekuatanku yang sebenarnya." Lanjutnya.
"Kekuatan yang disegel oleh Aciel. Bersyukurlah karena kekuatan itu disegel, aku tidak akan membunuhmu dengan cepat." Perlahan Evander menjauh dari Abian yang terdiam membeku dengan raut wajah pucatnya.
"Are you scared?" Bisik Evander.
...~~~...
Vampir adalah makhluk licik yang tidak mengenal aturan, jika seperti pada umumnya perang akan di nyatakan mulai ketika kedua kubu bertemu. Namun sebelum bertemu, vampir biasanya pun sudah menyerang pasukan Sherly secara membabi buta.
"Loh kan belum sampai ke tempat?" Seru Conan.
Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kekehan, rintihan, isak tangis, umpatan itu sudah menjadi alunan lagu di gendang telinga Sherly. "Jika tidak ingin mati, maka bunuhlah." Titah Sherly.
Sebagian besar mati kering dengan darah yang dihisap habis, gadis itu mungkin sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.
Tapi ia melupakan saudaranya yang kali pertama ia ikut berperang. "Yah, Nona Frydenlund selalu saja mengagumkan." Seru seseorang.
"Siapa?" Ingatan Sherly memang tidak bagus, dan itu menyebalkan. "Dylan." Sahutnya.
Terlihat jelas sekilas wajah seseorang berada di dalam benaknya, entah siapapun itu. Tapi yang pasti, orang ini sangat berpengaruh pada dirinya.
"Eh, sepertinya laki-laki iblis itu tidak ada di sampingmu. Kemana dia?" Dylan mulai melompat turun dari salah satu ranting pohon.
Melangkah mendekat pada petinggi pasukan, yaitu Sherly, Conan, George, Edvard dan Keenan. "Kemana Evander?" Bisik Dylan.
Namun tidak ada satu menit mata merah itu menatap netra aquamarine milik Sherly, tubuhnya sudah terdorong mundur oleh Edvard yang memegang senjata yang diciptakan dari kekuatannya.
Dan tentunya disertai tatapan tajamnya. "Sekali lagi kau melangkah mendekati Sherly, kau tidak akan selamat seperti saudaramu minggu lalu." Tekan Edvard.
"Saudara? Jangan samakan aku dengannya, dia itu lemah." Kekeh Dylan.
Sekejap Dylan menghilang dari pandangan mata Edvard, sempat terkejut ketika merasakan aura membunuh darinya yang berasal dari samping tubuhnya.
Pergerakan Dylan memanglah lebih cepat dari Vampire bangsawan yang ia bantai beberapa minggu lalu, namun pergerakan Edvard jauh lebih cepat.
"Kau terlalu meremehkanku, hei vampir." Geram Edvard.
Tubuhnya memanglah anak kecil seusia 5 tahun, tapi tidak Dylan sangka iblis yang bahkan baru lahir ini bisa merubah wujud manusianya menjadi seusia 20 tahun.
"Seperti yang dikatakan rumor, kau kuat." Kekeh Dylan.
Semua mungkin tengah disibukkan dengan Vampir yang menyerbu secara tiba-tiba, dan hanya pemimpin perang lah yang saat ini telah bertemu langsung dengan pemimpin pasukan bangsa Vampir.
"Ya, sepertinya kita akan berperang kali ini." Sapa Seveth.
Kedua saudara kembar itu menghunuskan pedangnya dengan tubuh yang saling menjaga antara depan dan belakang serta pandangan mata yang menatap lawan yang berada di arah sebaliknya.
"Kita lakukan, kau bisa?" Bisik Sherly.
"Heh, tentu saja." Kekeh Conan.
Edvard melihat sekeliling sampai kedua matanya bertemu dengan sosok yang terlihat kuat namun sedikit pendiam. Seorang laki-laki dengan rambut coklat dan mata merahnya, seringaian terukir.
Sekejap ia bergerak, sudah berada di depan mata vampir yang menjadi incarannya. "Ya, kita bertemu lagi,"
Mata yang semula terpejam untuk memberi sapaan pada laki-laki yang terlihat tidak asing baginya, kini terbuka secara perlahan. "Alf Alvishemdall." Sapa Edvard.
Bersambung...