
Jason membaringkan Malia di kasurnya. Berbeda dengan Isaac, kamar jason terlihat lebih kekinian.
Dengan ranjang dipan minimalis, rak buku, dan tanpa perapian.
Ada jendela kaca berukuran sangat besar dan dua buah kursi yang menghadap ke jendela.
Jason lalu ke dapur untuk mengambil beberapa roti panggang. Saat Jason datang, Malia sedang berdiri didepan jendela menatap sungai masivi yang terlihat sangat tenang
"Udah merasa baikan? π" tanya Jason
Malia mengangguk.
"Jason.. A.. aku.."
"sssshhhh.. its okay, aku ga akan memaksa kamu buat cerita.." Jason meletakkan piring di atas meja lalu Jason membuka jendela kamarnya.
"kamu mau pulang ke london?" tanya Jason duduk di sofa.
"aku akan memikirkannya lagi.. π₯Ίπ"
"kalau kamu mau pulang ke london, bukan tidak mungkin Hierarki akan lebih mudah menangkapmu disana tanpa perlindungan apapun dariku, isaac dan hans.."
"ssstopppp.. π" Mendengar nama Isaac, Malia teringat kembali dengan kalimat penghinaan yang di lontarkan Isaac.
"apa yang salah dengan ucapanku π©?"
Jason merebahkan dirinya di sofa. Jason menggapai laci dibawah meja lalu mengambil sebungkus kantong darah.
"just stop it!"
(aku bilang stop!)
"Okay, okay.."
Jason menuangkan darah tersebut ke dalam gelas lalu berdiri dan berbaring di ranjang lalu menyalakan TV.
Jason meminumnya pelan pelan sambil menonton TV.
Malia membuka jendelanya, menenangkan diri, sesekali Malia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.
Kepalanya terasa pusing, Malia memejamkan matanya.
"Hffffttt, apa harus aku katakan semuanya pada Jason dan Hans soal kejadian tadi malam?" ucap Malia dalam hati
"Jason.." Ucap Malia tanpa melirik Jason
"ho'oh????? π"
"Apa kamu yakin yang bersamaku tadi malam itu Lycan?" Ucap Malia sambil tetap memejamkan matanya.
"Iya, hanya Lycan jantan yang memiliki pheromon setebal itu.."
Jason meliriknya sesekali, khawatir Malia akan menangis lagi seperti tadi pagi.
"Its okay Malia. Kamu sudah dewasa, kamu boleh melakukannya (bercinta).. Maafin kata kataku tadi pagi ya, aku ga bermaksud begitu..π" Jason meminum lagi darah dalam gelasnya.
"kamu tau siapa dia?!" tanya Malia
"aku pernah mencium aroma pheromon itu sebelumnya, tapi aku tidak ingat.." Ucap jason sambil menggonta ganti channel TV.
"itu Isaac..π" ucap Malia lirih, air matanya mengalir dari ujung matanya.
"Ppffff.." Jason sangat kaget hingga menyemburkan darah yang sedang diminumnya.
"did you do really it with him? π³"
(apa kamu benar benar melakukannya dengan dia? π³) Jason terbelalak mendengar ucapan Malia.
"i dont know.. i.. i just.. i just.. π"
(aku tidak tahu.. aku.. aku hanya.. aku hanya..)
"Ma.. Malia kamu.. π₯Ί" ucap jason terbata bata
Malia mulai menangis lagi. Jason berlari dan memeluk Malia.
"im sorry, im sorry for being so bad.. im so sorry.."
(maafkan aku.. maafkan aku karna bertindak buruk.. aku sangat menyesal)
Ucap Malia menangis sesenggukan
"Sssshhhhh.. its okay.. Malia.. jangan salahkan dirimu sendiri.. itu hanya karna heatmu saja, aku tau Malia tidak bermaksud melakukan itu.. Maafin aku ga nganterin Malia pulang, ini salahku.. π₯Ί" Jason mengelus rambut Malia.
"Aku sangat hina, kan? π₯Ί" tanya Malia
"Tidak Malia.. You are The Little Ruby of Seans.."
(Note : Ruby adalah batu mulia berwarna merah sejenis dengan berlian)
"Suatu hari nanti kamu akan menikah dengan seseorang yang kamu sayangi, dengan altar bunga berwarna putih. Aku dan Hans akan menggandengmu ke Altar, dia (laki laki yang kamu cintai) akan menyambutmu, mencium tanganmu dan mengikrar janji sumpah setia didepan Ayah dan Ibumu, Celia Hwa.."
Jason meletakkan kepala Malia di pundaknya.
"Tidakkah kau pikir itu indah?" Jason mengelus lengan Malia.
Air mata Malia mengalir membasahi kaos biru Jason, tapi bibir Malia tersenyum terbayang oleh ucapan Jason.
"kau menginginkannya bukan?"
Malia mengangguk
"Kita akan menemukan ibumu.. dan Melindungimu sampai kamu benar benar menemukan seseorang yang benar benar mencintaimu.. Aku janji" Jason mencium kening Malia
"Dimana kak Hans?" ucap Malia
"Dia ada banyak kerjaan di kantor, jadi memilih ga pulang buat Β±3hari.. Jangan khawatir, ini hal yang biasa.."
Malia memejamkan matanya, tertidur dalam pelukan Jason.
Jason menyandarkan kepalanya, memandang langit langit kamarnya.
"bagaimana mungkin adik yang aku jaga dengan sungguh sungguh, malah dirusak oleh kakakku sendiri π£ aku sengaja menelfon ayah untuk mengijinkan Malia tinggal di London agar aku bisa melindunginya, aku tidak ingin kamu hidup di New york dengan pergaulan bebas dan sex bebas seperti itu.. Isaac, sialan kau biad*b!!!!" ucap Jason dalam hati.
(Note : Jason pikir Malia bener bener udah ga perawan karna Isaac π€£ Jason ga tau, yang tau hanya Malia, Isaac dan author aja π€ͺ)
45 menit kemudian
Hujan turun dengan lebat, udara dingin masuk dari jendela yang terbuka lebar. Malia terbangun. Jason terlihat tertidur juga dengan bersandar di sofa.
Aroma tanah yang basah semerbak di ruangan Jason.
Malia menatap ke luar, ranting ranting kecil bergoyang dan saling bertabrakan karna diterpa tetesan air hujan. Malia bangun dan menutup jendelanya.
"ughhhh.. tanganku kesemutan.. π₯΄" ucap Jason yang juga terbangun.
"Maaf.. π" Ucap Malia pelan
"Telah ditemukan mayat seorang wanita bernama Rebecca Alert di hutan floriq dengan luka sayatan di punggungnya, tampaknya korban dibunuh dengan brutal. korban meninggal dalam keadaan kekurangan darah. Korban diperkiraan berusia 18 tahun.. hingga saat ini belum ada bukti apapun tentang kejadian ini, beberapa pakar menyimpulkan ini adalah perilaku hewan liar dari dalam hutan" salah satu stasiun berita menyiarkan berita terbaru.
Malia melirik tv dengan wajah yang tampak kaget. Jason menatapnya dengan bingung.
"hey, ada apa?"
"bukannya itu temenmu?" ucap Malia menunjuk TV. Jason langsung berlari kedepan tv.
"oh my god, Rebecca.. π§"
(inalillahi wa inalillahi rojiun)
"tidakkah kau berfikir ini ulah Lycan? Lihat lukanya sangat dalam! π€¨" Malia memunjuk tv dengan jarinya.
"Hewan buas tidak akan mempunyai cakar untuk membuat luka sedalam itu, tapi (KRAKKKK, kuku Malia tiba tiba memanjang hingga 5cm) Lycan punya.."
"Argh!!! π«" Jason meloncat menjauh dari Malia karna kaget.
"se.. sejak kapan kamu punya kuku seperti itu! Jauhkan dariku!!! π«"
"Dari dulu aku bisa menumbuhkannya sesukaku, hanya saja milikku terasa lebih rapuh π" Ucap Malia membolak balik telapak tangannya.
"Tentu saja, kamu belum menjadi Lycan sepenuhnya sebelum perubahan pertamamu.." ucap Jason berjalan ke arah lemari.
"dont you think this is cute? π€"
(tidakkah kau pikir ini imut? π€)
Jason memilah baju di lemarinya
"sepertinya aku bisa mewarnainya.." Malia meloncat dan berbaring di kasur Jason dengan menatapi kuku kuku panjangnya.
"Lycan dengan kuku berwarna pink? Serius? π§"
"hahaha.. enggak, aku ga suka pink π"
"hari udah hampir sore, mandi dulu gih.. biar aku ambilin baju di kamar kamu.." ucap Jason karna melihat kaosnya tidak ada yang cocok untuk Malia
"Okay.." Malia berjalan ke kamar mandi.
(Note : Hey guys, maafin autor ya kalau ceritanya terlalu padat dengan konflik βΊοΈ author masih newbie dan masih agak kesulitan untuk mengembangkan cerita, ini pertama kalinya menulis Novel. For your information, Malia dan The Seans itu bukan kakak beradik kandung kok jadi wajar aja perasaan mereka tumbuh saat tinggal bersama dalam satu atap.. Nanti terungkap semuanya.. )
Terimakasih yang sudah membaca π episode selanjutnya akan rilis setiap hari jam 00.00, mohon like, komen dan votenya ya kakak..