
......Hans Sebta Sean......
Lelaki 28tahun dengan perawakan tinggi kekar berkulit putih, dengan gaya rambut messy-nya yang berwarna abu abu. Dia adalah sosok pria dewasa yang gagah, siapa yang tidak jatuh cinta padanya π Dia juga CEO perusahaan Sean. Hans Sebta Sean adalah kakak pertama Malia. Bagi Malia Hans adalah cinta pertamanya, bahkan jauh sebelum Malia mengerti tentang apa itu cinta.
Hans sering datang ke london untuk urusan bisnis dan dia adalah satu satunya kakak yang paling sering bertemu dengan Malia.
15.10
Hans dan Malia keluar dari pesawat. Terlihat Isaac tengah menunggu mereka.
Isaac tertegun memandang Malia yang sangat ayu dan klasik.
"Malia..π€© " Ucap Isaac
Malia tersenyum, menunduk memberi hormat pada Isaac.
Isaac membawakan koper pink Malia lalu merangkul pundaknya dengan ramah.
Hans berjalan pelan menggiring kedua adiknya.
15.50
Suasana kota saat itu tengah hujan gerimis.
Mereka sampai di mansion Sean, mansion tua yang ditinggali keluarga Sean turun temurun.
Malia tampak tertegun melihat pemandangan mansion itu yang bernuansa kayu dan amat sangat megah. Tempatnya pun berada di tepi kota. Ada sungai besar Masivi di dekat mansion tersebut.
"Ayokkk.." Isaac menggandeng Malia mengantarkan Malia ke kamarnya.
Saat masuk ke mansion tersebut Malia melihat sebuah perapian di ruang tengah, ada sepasang sofa besar di depan perapian tersebut. Dinding, lantai dan atapnya semuanya terlihat seperti kayu. Dengan cahaya lampu berwarna kuning remang remang membuat suasana mansion terasa sangat damai dan tenang.
Kamarnya berada di lantai dua. Malia dan Isaac menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Malia melihat ada satu ranjang besar dengan empat tiang kayu jati besar di setiap sudut ranjangnya. Ada perapian tepat 3m di depan ranjang Malia, sofa kecil dan jendela di samping ranjang.
Isaac membuka koper Malia, memasukkan baju baju Malia ke lemari. Malia berdiri didepan jendela, udara dingin berhembus menerpa rambut Malia yang terurai.
"Aku pikir kamu gak suka dingin.. jadi aku minta orang untuk membuatkan perapian π"
Isaac memandangi tubuh adiknya yang diterpa angin, gaun tipisnya menjiplak lekuk tubuhnya. Aroma tanah basah semerbak mengisi seluruh ruangan kamar Malia.
"Emmm.. aku suka kok.. π"
Dari jendela tersebut Malia bisa melihat hutan lebat di seberang sungai Masivi.
"Wow 36B.. π€£" ucap Isaac memegang bra Malia
"Arrrgggghhhh.. Kakak! π‘" Malia berlari merebut bra-nya dan menggerutu sambil menendang nendang kaki Isaac. Isaac tertawa terbahak bahak.
"Baiklah.. maaf maaf maaf.. π"
"Setiap pagi nanti mbak wily datang buat masak dan bersihin rumah. Kamar kakak ada di samping kanan kamar Malia dan kamar Hans ada di samping kiri kamar Malia, kalo butuh apa apa panggil aja ya.."
Isaac tersenyum dan mengusap rambut adiknya lalu berjalan ke luar kamarnya.
Hari mulai gelap, Malia menutup jendela kamarnya
03.15
Malia yang tertidur di kamarnya tiba tiba bangun dan merasa kehausan. Dengan hanya memakai gaun putih tipis dengan tali pundak Malia berjalan keluar kamar, lampu di seluruh mansion ini mati kecuali di kamar Malia. Malia merasa heran mengapa mereka mau tinggal di mansion tua ini padahal mereka adalah keluarga Sean yang kaya raya. Malia merasa mansion ini sedikit ANEH.
Malia berjalan menuruni tangga menuju dapur, lalu menggapai saklar yang ada di ujung tangga
Klikkk
"Aaaarrrrrgggghhhh π©" Malia berteriak keras melihat Jason yang sedang telanjang bulat dengan handuk kecil di rambutnya dan meminum sebungkus darah segar bertuliskan PMI. Malia menutupi matanya.
"Pffff" Jason menyemburkan minumannya karena kaget melihat Malia
"SIAPA KAMU!!!!" Teriak Malia.
Jason berjalan mendekati Malia, Malia mundur pelan karna ketakutan. Matanya terpejam erat.
"Jadi kamu ini makan malam Hans, atau Isaac? Biasanya mereka tidak keberatan berbagi makan malam denganku..π"
"hiks.. hiks.. tidak.. jangan..π₯Ίπ«" Malia berlari menaiki tangga, Jason dengan cepat mengejar Malia lalu memepetnya di dinding.
"Sssshhhhh.. kalau kamu nurut aku janji ga akan sakit.. kenapa merem begitu? Apa aku menyeramkan?" tanya Jason sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang runcing.
Jason mengembuskan nafas hangatnya di leher Malia. Dengan penuh gairah Jason meraba paha Malia.
"Tidak!!!π«" Malia memberontak namun tangan kiri jason langsung memegangi kedua tangan Malia dan meletakkannya di atas kepalanya.
Tubuh Malia bergetar Malia menangis ketakutan, mengapa hal sehina ini terjadi di rumah kakaknya sendiri.
Tiba tiba
Hans menendang Jason hingga terpental menabrak kulkas.
Hans tampak sangat marah, bola matanya berubah menjadi hitam.
"Grrrrr!" Hans menunjukkan taringnya pada Jason.
Semacam insting untuk menunjukkan kemarahannya
"Ugggghhhh!!!!" Jason memegangi perutnya
"Sudah aku bilang, hilangkan kebiasaan burukmu itu.. π€" ucap Hans
Malia menangis sesenggukkan.
Hans menutupi mata Malia dan mendekap Malia di dadanya. Hans bertelanjang dada dan kulitnya terasa sangat dingin.
"Pacarmu π?!" Tanya Jason cuek sambil meletakkan handuk di pundaknya lalu membuka kulkas dan memakan sepotong kue redvelvet dengan santainya.
"Tutupi kemaluanmu, bodoh! Ini Malia, dia adikmu.."
"Pffff, uhukkkk!!!!" Jason terbatuk
"Malia Hwa?! π€¨" Tanya jason dengan sepotong roti di bibirnya.
Jason kemudian mendekati Malia dan mengendus pundak Malia. Malia bergidik ketakutan. Mata Jason memandangi wajah Malia.
"Adikku? Baunya bahkan berbeda dengan kita.."
ucap Jason berjalan menaiki tangga meninggalkan Hans dan Malia.
"Hey, Malia.. ini aku.. buka matamu.." Hans membelai pipi Malia.
"π₯Ί" Wajah Malia tampak sembab
"Ayok kembali ke kamar, nanti biar kakak yang ambilkan air.. βΊοΈ" Hans menggandeng Malia ke kamarnya.
Malia duduk di ranjangnya, Hans memberikan segelas air. Malia terlihat masih sangat shok melihat pemandangan tidak wajar yang baru pertama kali dia lihat.
"Rilex.. Itu Jason, kakak ketigamu.. Malia sebaiknya jangan keluar kamar setelah jam 11, Jason punya kebiasaan buruk seperti itu.."
(NOTE: kamar Jason ada di lantai bawah)
ucap Hans sambil membuka jendela kamar Malia dan menyalakan sebatang rokok.
"Malia.. suatu saat Malia akan mengerti semuanya.. satu hal yang harus Malia tau lebih awal...."
Hans menghisap rokoknya
Malia diam saja
"Kita semua Vampir, Malia.. π" Hans melirik Malia, Malia terlihat kaget matanya berkaca kaca dan bibirnya menganga.
Hans mendekati Malia, tatapan Malia tampak nanar memandang ragu mendapati kenyataan bahwa kakak yang selama ini dia kagumi adalah makhluk yang berbeda.
Hans membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Malia.
Tiba tiba asap merah menyelimuti Hans, bola mata Hans berubah menjadi hitam. Telinganya meruncing. Hans menatap tajam ke arah mata Malia. Hans menunjukkan dirinya yang sebenarnya
Malia ketakutan, air matanya mengalir dari ujung matanya. Tubuhnya gemetar melihat taring runcing Hans.
"ka.. kakak.. hiks.. hiks.. π₯Ί"
Hans membelai pipi Malia, lalu wujudnya berubah seperti semula.
"Malia.." Hans menenangkan Malia.
Malia menundukkan kepalanya menutupi wajahnya dengan tangan. Malia menangis sesenggukkan.
"Jangan takut.. Aku masih Hans, Kakakmu.. βΊοΈ"
"Malia ingin pulang.. hiks.. hiks.. Malia mau Ayah.. π₯Ί"
"Ssssshhhhh.. rilex.. Malia pikirkan dulu baik baik.. Aku, Isaac dan Jason adalah orang orang yang paling berani untuk melindungi Malia.. sama seperti Ayah.. maafkan perbuatan Jason ya.. π₯°"
Hans mengelus elus pundak Malia. Hans mencium kening Malia
Malia diam saja, Hans bangun dan berjalan ke jendela memberi waktu Malia untuk menerima semua kenyataan ini.
Malia berbaring di ranjangnya, perasaan takut berkecamuk dalam hatinya. Mana mungkin keluarganya adalah Vampir, apakah itu juga yang membuat Hans terlihat sangat awet muda.
Malia memejamkan matanya erat erat, berharap semua ini hanya mimpi dan saat bangun nanti semuanya telah kembali normal.
(Note : Vampir bisa melihat jelas dalam kegelapan, itulah mengapa lampu di mansion sean jarang dinyalakan)
Episode selanjutnya akan rilis setiap jam 00.00 π₯° Terimakasiiihhhh π₯°