
Matahari mulai menyingsing, Malia terbangun dari tidurnya.
"Bangun, pemalas.. kamu udah tidur seharian, sekarang buatkan aku sarapan.. π" Jason menarik selimut Malia.
Kemudian Jason membuka tirai jendela Malia. Suasana dingin udara gerimis menyapa kulit Malia.
"pheromon apa ini.." Jason mengendus ngendus udara di sekitar Malia.
"ih, apasih.. Jason π pheromon gimana.."
"aroma pheromonmu, seperti tercampur dengan pheromon Lycan lain, aku ga tau aroma siapa ini.. habis bercinta sama siapa kamu? π§" tanya Jason sambil menghisap rokoknya.
"Bercinta gimana!!!! π€ aku tidur sendirian semalaman" Malia memukul lengan Jason.
Jason bangun dan berdiri didepan jendela.
"tuh, liat dilehermu ada bekas cupangan.. auramu sudah tercampur begini pasti kamu bercinta dengannya, dimana dia??? tidak usah mengelak lagi π€ aku ga bodoh!!"
Malia bergegas bangun dan bercermin.
Jason terlihat marah.
"gausah pura pura bingung, kalo kamu mau berkencan sama orang pastikan dia minta ijin sama aku, aku kakakmu!! hah, Apalagi dia seorang lycan! π€ jangan jadi wanita murahan, Malia!!!" Jason berteriak
Jason menendang sofa karna amarahnya, lalu keluar dari kamar Malia.
BRAKKK
Jason menutup pintu kamar Malia dengan kasar
"Uggghhhh.. π" Malia mengerutkan alisnya, kepalanya terasa sakit.
Samar samar Malia mengingat kejadian tadi malam. Mengingat wajah gagah Isaac yang berkeringat, tubuh hangatnya yang memeluk Malia dengan lembut, setiap hembusan nafas Isaac, dan setiap helai ujung rambut isaac yang menyapu kulit Malia.
"ga.. ga mungkin π₯Ί hiks.. bagaimana mungkin aku melakukan hal sekotor itu.. hiks hiks.. π’ menggoda kakakku sendiri π"
"A.. apa yang terjadi padaku.. π’"
Malia duduk terjatuh, menangisi tindakannya tadi malam. Malia merasa sangat bersalah pada Isaac karena menggoda Isaac.
"Tapi, apa maksud perkataan Jason? seingatku hanya kak Isaac yang masuk ke kamarku tadi malam.. tidak ada orang lain, apalagi Lycan.." ucap Malia dalam hati
Β ---------------
Β
Jason turun ke ruang tengah, Isaac ada disana sedang membaca koran.
"kenapa?" tanya Isaac melihat Jason membanting pintu kamar Malia
Jason diam saja
"jangan terlalu keras pada Malia, dia adikmu.."
"dia baru saja bercinta dengan seseorang, dia bahkan tidak mengatakannya padaku! π aku berusaha selalu ada untuknya, bagaimana bisa aku bahkan tidak tau laki laki itu π"
"Pffff.. bhahahaha.. dia itu sudah dewasa, apa dia harus melapor padamu sebelum dia bercinta dengan kekasihnya? bhahaha, konyol.. π€£"
Isaac tertawa terbahak bahak berpura pura tidak tau tentang kejadian tadi malam.
"tapi dia bercinta dengan lycan jantan.." ucap Jason sambil menaikkan kakinya ke senderan sofa
"bagaimana kamu tau?" tanya Isaac
"Aku merasakan pheromonnya.. Vampir ataupun manusia tidak memiliki pheromon sepekat itu.. jelas yang tadi malam bersama Malia adalah lycan jantan, Tapi siapa dia π€π€π€"
Isaac diam saja menyadari Jason sudah curiga dengan jatidirinya yang sebenarnya.
"aku akan ke klinik pagi ini.. aku memiliki bisnis trip (perjalanan bisnis) untuk beberapa hari, aku akan pulang minggu depan" ucap Isaac sambil berjalan menaiki tangga.
"bagaimana dengan rencana prom dance?" tanya Jason
"Kau dan Hans bisa menanganinya.."
"Argggghhhh bagaimana aku melindungi Malia dari Lycan sedangkan dia sendiri malah bercinta dengan Lycan π΅" ucap Jason dalam hati.
Β
09.11
Malia membuka pintu kamar Isaac, kamarnya sangat gelap hanya diterangi oleh api di perapian, gorden jendelanya bahkan belum terbuka. Ada sebuah ranjang besar dengan kaca besar yang berada tepat didepan ranjangnya. Didekat jendela ada meja kerja dan rak buku yang terlihat sangat besar. Sebuah sofa berwarna hitam.
Ada sebuah kaos putih, jaket di sudut kamarnya. Di kaos tersebut tampak banyak bercak darah.
Terlihat banyak sekali botol alkohol di atas meja kerjanya, dan beberapa bungkus kantong darah yang telah kosong berserakan di lantai dekat ranjangnya.
"kak Isaac.." Malia melangkahkan kakinya, jantungnya berdebar debar.
Suara langkah kaki Malia seolah menggema di seluruh ruangan.
"Ada apa?" Ucap Isaac sedang memilih pakaian di lemarinya. Isaac menengok ke arah Malia.
Malia hanya mengenakan kaos oblong berwarna ungu tua dengan hotpants pendek berwarna hitam.
"A.. aku.. aku minta maaf soal tadi malam.. aku.. aku tidak bermaksud begitu.. π₯Ίπ£" Malia terbata bata, kepalanya tertunduk.
"hhh.." Isaac melepaskan kaosnya, lalu kembali memilah milah baju yang ada di lemari.
"aku pasti sudah gila.. aku, aku merasa sangat hina π₯Ί aku menyadari sepenuhnya aku hanyalah seorang binatang liar yang bahkan tidak tahu cara mengendalikan diri.. hiks.. hiks.. aku minta maaf kak Isaac" ucap Malia, air matanya menetes.
"its okay Malia.. itu natural, kamu hanya mengikuti instingmu.. tidak perlu canggung denganku, aku mengerti keadaanmu.." ucap Isaac
"yang tidak aku mengerti adalah perasaanmu pada Hans πͺ bagaimanapun, kamu dan dia berbagi darah yang sama (saudara se-ayah)"
Malia menunduk, air matanya menetes ke lantai.
Isaac berjalan ke arah ranjang lalu duduk di ranjang sambil menunggu jawaban Malia.
"Lalu kamu sebut apa perasaanmu padaku?!" tanya Malia menatap mata Isaac
"heh π€¨" Isaac mendekati Malia lalu memepet Malia ke dinding.
Wajahnya tersenyum masam, Malia seperti tidak mengenali Isaac lagi.
"Jangan samakan perasaanku denganmu, Malia.. Suatu saat nanti kamu akan memohon padaku untuk menyentuh lubang basahmu itu.. Aku tidak masalah berbagi lubang dengan vampir itu (Hans)"
Mata Isaac berubah menjadi keemasan π₯Ί bibirnya tersenyum renyah.
PLAKKKK
Malia menampar Isaac dengan keras
"sial!!!" Isaac mengelap darah yang menetes dari ujung bibirnya.
Β Malia berlari
"bagaimana bisa kakak mengatakan hal seperti itu? dimana kak isaacku yang dulu π₯Ί" ucap Malia dalam hati.
Malia menangis, berlari menuruni tangga dan berlari menuju pintu.
Jason yang kaget dengan kehadiran Malia lalu berlari mengejar Malia.
"Malia!" Jason menggapai tangan Malia
"Tidak! Lepaskan!!!! π" Ucap Malia berteriak sambil menangis
"Tenang, tenang dulu! kamu kenapa? terus mau ke mana?"
"Lepaskan aku!!! π" Malia mengibas tangan Jason lalu berlari ke luar rumah.
Jason mengejarnya lalu memeluknya dan menjatuhkannya di lantai.
Malia jatuh telentang, Jason memegangi kedua tangannya.
"Relax.. relax Malia.."
Malia menangis sesenggukan π Jason tidak pernah melihat Malia menangis sekeras ini.
"arrrgggghhhh Lepaskan!!!!" Malia berteriak, emosinya meledak ledak, matanya berubah menjadi keemasan.
"sssshhhhh.. its okay.. aku ga akan bertanya lagi.. relax.. tenang ya.."
"hiks hiks hiks.. ππ₯Ί"
"ssshhhh.. its ok baby girl.." Jason memeluk Malia.
"Take me home.. please.."
(tolong.. bawa aku pulang..) ucap Malia lirih
"I want daddy, only daddy.."
(aku ingin ayah, hanya ayah..)
"iya iya nanti kita ke new york sama sama ya.. Aku minta maaf soal tadi pagi, okay.. aku ga bermaksud kasar begitu.. sekarang kita masuk, kita sarapan dulu ya.." Jason mencium kening Malia.
Jason membopong Malia, saat di tangga Jason berpapasan dengan Isaac. Isaac sama sekali tidak melirik Malia.
Tubuh Malia gemetar ketakutan. Malia membenamkan wajahnya di dada Jason.
"Are you okay?"
(apa kamu baik baik saja?)
Malia mengangguk pelan.
"can i stay in your room for a while? aku ga mau balik ke kamar dulu.." (bolehkah aku stay di kamarmu untuk beberapa saat? aku ga mau balik ke kamar dulu..)
"oh, okay.. kamu boleh stay selama yang kamu mau π" Ucap jason.
Episode selanjutnya akan rilis setiap jam 00.00 π Jangan lupa like, komen dan votenya ya kakak π