
02.15
Malia sampai di Miracle Clinic by Isaac Sean.
"Sus, Isaac ada disini?" Tanya Malia pada seorang suster di resepsionis
"Dokter sedang melakukan beberapa penelitian Nona, Jam periksa sudah ditutup sejak pukul 18.00 😊"
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanya Malia dengan mata berkaca kaca. Malia tampak gelisah dan panik, tangannya gemetar. Beberapa suster mendekati Malia.
"Nona, apa kamu baik baik saja?"
Mereka mengira Malia adalah korban pemerkosaan karena datang ke Klinik hanya dengan kemeja laki laki tanpa menggunakan celana ataupun dalaman apapun, Kemejanya yang sedikit basah oleh air hujan semakin mempertegas lekuk tubuh Malia yang gemetar.
"Tolong biarkan aku bertemu Isaac 😰 aku mohon" Malia mulai menangis
"Baiklah baiklah Nona, tunggu disini dulu" Salah seorang suster mengarahkan Malia untuk duduk, namun Malia enggan dan memilih untuk berjalan mondar mandir didepan resepsionis.
"Dokter isaac, ada yang mencari anda"
Suster Anie masuk ke ruangan Isaac
"Kalau tidak urgent (darurat) bisa tolong ditangani dokter lain? saya ada janji soalnya"
Jawab Isaac sambil memasukkan barang barangnya ke dalam tasnya dan bersiap untuk pulang.
"Ciee janji sama siapa ni malam malam begini 🤠sepertinya dokter kita sebentar lagi akan berhenti melajang, akan segera tiba hari patah hati nasional ðŸ¤" ucap Suster Rica sedang duduk di ruangan Isaac.
"Dia memaksa untuk bertemu dokter Isaac, dia terlihat seperti korban pemerkosaan 🙄"
"Huft manusia jaman sekarang.." Isaac lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk menemui Malia.
Saat Isaac keluar dari ruang kerjanya dia melihat Malia tengah terduduk didepan resepsionis dengan pakaian yang basah. Isaac berlari menemui Malia.
"Malia! 😧" Isaac segera memeluk Malia, Isaac melepas pakaian putihnya lalu memakaikannya pada Malia.
"Isaac! ðŸ˜" Tangis Malia pecah dipelukan Isaac, Isaac memeluk Malia dengan erat. Tak peduli lagi apa yang akan dikatakan orang lain, yang Malia butuhkan hanyalah sosok untuk mendengarkannya sekarang.
Isaac membopong Malia, beberapa suster berbisik bisik dibelakang mereka.
"Get out! 😤 (Keluar!)" Ucap Isaac pada Suster Anie dan Suster Rika.
Mereka tergopoh gopoh meninggalkan ruang kerja Isaac, Isaac mendudukkan Malia di meja kerjanya.
Isaac menunduk dan melihat wajah Malia.
"Malia.." Isaac memanggil Malia namun Malia masih menangis sesenggukan, Isaac mengusap air mata Malia dengan jemarinya.
"Malia, anak manis.. Kamu kenapa? Apa seseorang melakukan hal buruk kepadamu?" Tanya Isaac dengan suara lembut.
Isaac mengambilkan segelas air hangat untuk Malia. Isaac mengelus punggung Malia dengan lembut lalu mengeringkan rambut Malia dengan handuk kering.
Samar samar Isaac melihat beberapa bekas cupangan dileher Malia, tampaknya Isaac sedikit mengerti kejadian yang baru saja terjadi pada Malia.
"Ayok kita pulang.." Isaac mengelus lengan Malia
"Ti.. tidak Isaac aku ga pengin pulang ke Mansion 🥺" Malia masih enggan untuk bertemu dengan Hans.
"Aku.. aku sudah melakukannya (bercinta) 🥺 aku melakukannya dengan seseorang yang aku cintai, tapi ini tidak seperti yang aku bayangkan. Hatiku terasa sakit, bahkan sikapnya tidak menunjukkan cinta sedikitpun untukku 😔"
Isaac memeluk Malia, sejenak Isaac menarik nafasnya dia tidak ingin terlihat marah ataupun kecewa. Karena Malia suci ataupun tidak bukan masalah bagi Isaac, dibalik sikap tempramennya Isaac tetap mencintai Malia dengan tulus.
"Kenapa kamu kesini malam malam begini, Malia? Apa dia (Hans) melakukan hal yang buruk?"
"I just scared! He was so rough, i was bleeding! 🥺"
(Aku ketakutan! Dia sangat kasar, aku berdarah! 🥺)
Ucap Malia sambil mengusap air matanya.
"😑"
Isaac diam saja mendengar ucapan Malia, Malia tidak bermaksud begitu tetapi cerita "polosnya" membuat hati Isaac bagai terbakar.
Malia mengangguk.
Malia berjalan keluar dari klinik, Isaac merangkulnya dengan erat. Saat melewati resepsionis beberapa suster saling berbisik
"Siapa gadis itu? dia terlihat dekat sekali dengan dokter Isaac. Ga biasanya dokter dekat dengan wanita 🤠tadi aja dokter keliatan panik banget lihat dia dengan keadaan kayak gitu"
"Bukankah dia terlalu muda untuk menjadi kekasih dokter Isaac? dia terlihat masih belasan tahun"
Mereka saling berbisik.
02.45
Isaac memacu mobilnya menuju jalan WhiteSnow, hanya berselang beberapa menit Isaac menghentikan mobilnya. Malia tampak tertidur disamping Isaac.
"Malia.." Isaac membangunkan Malia, Malia membuka matanya.
Isaac membopong Malia menuju apartemennya. Sesampainya diapartemen Isaac mendudukkan Malia diranjangnya.
"Isaac, aku mau mandi dulu" Ucap Malia.
Segera Isaac menyiapkan air hangat di bathub dan memasang aroma terapi. Suara gemricik air terdengar menggema.
Malia menyusul Isaac ke kamar mandi, Malia mencelupkan tangannya merasakan kehangatan air diujung jemarinya.
"Aku akan menyiapkan pakaianmu 😊" Ucap Isaac sambil meninggalkan Malia.
Malia melepaskan kancing kemejanya satu persatu lalu memandangi tubuhnya dicermin, terlihat ada bekas merah melingkar di kedua pergelangan tangannya karena Hans memeganginya terlalu kuat.
Malia masuk ke bathub, sejenak memejamkan matanya.
"Apa yang salah denganku? 😔 Aku telah mendambakan hal ini sejak lama, tetapi saat aku melakukannya dengan Hans kenapa aku malah berlari pada Isaac 😔 padahal aku tahu betul perasaan Isaac padaku. Aku terus berlarian diantara Kak Hans dan Isaac. Aku tahu aku mencintai Kak Hans, tetapi aku menyadari hatiku juga terluka saat Isaac bersama Caroline 😔 Aku ga bisa terus terusan kayak gini.."
Malia menyenderkan kepalanya, aroma terapi itu benar benar membuat Malia rilex.
Tanpa sadar Malia tertidur di bathub, tangannya menjuntai ke bibir bathub.
03.45
Malia tak kunjung keluar dari kamar mandi. Isaac mengetuk pintu kamar mandi.
tok tok tok
"Malia, can i come in?"
(Malia, boleh aku masuk?)
Namun tidak terdengar jawaban apapun dari Malia, bahkan tidak terdengar suara gemricik air.
"Malia, apa kamu baik baik saja?"
Isaac kembali mengetuk pintu kamar mandi, karena merasa khawatir akhirnya Isaac masuk ke kamar mandi.
Isaac melihat Malia tertidur di bathub kemudian segera mengambil handuk dan membopong Malia ke kasurnya. Isaac menyelimuti Malia tanpa memakaikan apapun pada Malia.
Isaac duduk diseberang ranjang Malia, Isaac menyalakan pembersih ruangan kemudian mulai menyulut rokoknya.
Pikirannya berkecamuk, tidak dipungkiri Isaac merasa sedih dan kecewa pada Malia. Namun Isaac menyadari kekecewaannya itu tidak beralasan karena Malia telah mengatakan dari awal bahwa dia mencintai Hans, dan hanya Hans seorang.
Kehadirannya hanyalah untuk menjadi pelarian semata karena Hans tak kunjung mengerti perasaan Malia yang sebenarnya.
Mata Isaac berkaca kaca memikirkan ketidakpastian perasaan Malia. Namun seketika matanya berubah berwarna keemasan, ada amarah yang tersimpan dibalik air mata Isaac.
"Ah, shit!"
(Ah, sial!)
Isaac kemudian mengusak rokoknya dan masuk ke kamar mandi.
Isaac menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang masih terbalut pakaian kerjanya. Berharap air dingin itu bisa mendinginkan hatinya yang terbakar cemburu.