
...Isaac Sean...
(note : dibaca is-hak)
Kakak kedua Malia adalah sosok lelaki dengan perawakan tinggi kekar seperti Hans namun dengan warna kulit agak gelap. Rambutnya panjang sepundak dan terurai. Dia senang mengenakan pakaian kasual seperti kemeja dan celana jeans yang robek robek, siapa yang menyangka Isaac adalah seorang dokter terkenal di london. Dibandingkan Hans, isaac adalah seorang yang lebih kasar. Dia sering kali membawa pulang wanita yang tidak jelas.
07.11 pagi
Malia menyiapkan sarapan bersama mbak wily, Jason turun dari tangga dengan kaos singlet berwarna coklat dan celana pendek selutut dan menghampiri Malia di meja makan
"Malia.."
Malia meliriknya tanpa menjawab perkataan Jason.
"Maaf soal tadi malam aku pikir kamu tidak akan berteriak begitu melihatku.. ๐"
Malia diam saja
"Kamu sudah dewasa, Bagaimanapun kamu seharusnya sudah biasa dengan tubuh laki laki, ya kan?! Tidak perlu menangis seperti tadi malam kamu membuatku merasa sangat brengsek๐ฅด"
Ucap Jason menatap Malia, Malia diam saja sambil menata piring di meja
"Tidak perlu munafik dengan didepanku. Diluar sana banyak wanita rela mengantri seumur hidupnya hanya untuk mendapatkan sebuah ciuman dariku.. ๐"
Malia diam saja
"Atau........ kamu masih perawan ya?!"
Malia hanya melirik Jason
"Eh, beneran masih perawan??? ๐ณ"
Malia melemparkan lap piring ke wajah Jason lalu berlari menaiki tangga dan Malia masuk ke kamarnya.
Brakkk
Jason menendang pintu kamar Malia hingga terbuka
"JASON!๐ก jaga tingkahmu!!" Malia tersentak
Malia yang sedang berdiri didepan jendela merasa kaget dengan ulah urakan Jason
"MALIA, I DONT CARE!๐"
(MALIA, AKU TIDAK PEDULI!๐)
Jason langsung berbaring di kasur Malia dan mengambil boneka teddy bear kecil di samping bantalnya.
"Kamu masih main boneka?!๐"
Tanya Jason melirik Malia yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna soft pink bertuliskan DAMAGE with LOVE dan hotpants pendek berwarna hitam, sangat matching dengan kulit Malia yang putih bersih.
"Kembaliin!๐ก" Malia berusaha merebut boneka di tangan Jason
Jason memegangi tangan Malia
"Malia, aku minta maaf soal tadi malam.. dan soal tadi.. dan tadi lagi" Jason mencium tangan Malia
"Yaudah.." Malia memalingkan wajahnya mencoba menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya masih belum bisa menerima semua kenyataan ini.
"Hey, besok malam ada camping para pengurus penerima mahasiswa. Kamu ikut ya?! Hanya dua malam"
"Lho.. aku kan bukan pengurus..๐"
"Gapapa, biar kamu punya temen juga.."
"Kamu yakin aku ga akan mati kalau pergi sama kamu?" Tanya Malia karena kesal
"bhahaha, Malia.. Sejelek apapun kamu, tetap adikku.. ๐" Jason tertawa terbahak bahak
"Yaudah, nanti aku tanya kak Hans dulu.."
08.30
Malia duduk sarapan bersama Hans, Isaac dan Jason. Isaac terlihat sesekali melirik wajah ayu Malia. Ulah Jason seringkali membuat Malia tertawa terbahak bahak.
"Kakak, aku boleh ikut camping?๐ฅบ" Tanya Malia.
"Camping? Berapa lama?" Hans terlihat kurang senang.
"Dua malam.. ๐" ucap Jason.
"Baiklah, kalau ada apa apa kepalamu taruhannya!๐๐ป" Ucap Hans menatap Jason.
"Dek, aku ke kantor dulu ya.." ucap Hans mencium kening Malia.
"Pergi cari uang yang banyak ya..๐" Malia tersenyum mencoba mengubah mood Hans yang terlihat kesal.
Setelah sarapan Isaac duduk di sofa ruang tengah sambil membuka laptopnya. Malia kembali ke dapur untuk membantu mbak wily bersih bersih dapur.
Terlihat Malia sibuk mondar mandir di dapur. Tepung dan bubuk coklat berhamburan ke lantai.
Isaac memandangnya sesekali, terdengar suara tawa Malia menggema. Lama sekali rasanya mansion ini tidak merasakan kehadiran seorang wanita.
Isaac kembali fokus menyalin data data ke laptopnya.
"Kak Isaac.." Malia datang dengan membawa sepiring kukis coklat dan segelas kopi hitam tanpa gula kesukaan isaac.
"Coba kukisnya, Malia yang bikin lhoo..๐ค" Malia memeluk lengan isaac sambil mencoba melihat ke laptop isaac
"Uhhhh.. data data seperti ini membuatku pusing.. ๐ฅด" ucap Malia menyandarkan kepalanya di pundak isaac.
Isaac mengunyah kukis tersebut sambil tetap fokus ke laptopnya.
"Jauhkan 36B-mu itu.." ucap isaac menggoda Malia
"Akh, kakak!" Malia meloncat menjauhi isaac sambil menutupi dadanya.
"Hahaha.. Kamu ini, seperti anak kecil saja.." Ucap Isaac
"Hoaaammmmhhh.. Apa kak isaac tidak bosan? Berdiam didepan laptop seharian.."
Malia merebahkan kepalanya di ujung sofa dan menaikkan kedua kakinya di paha kanan Isaac.
"Apa ini?!" Malia menggapai sebuah botol klasik berisi minuman merah sekental darah, dengan sebuah cangkir kecil di sampingnya.
"Eeewwwwhh.. ๐คฎ"
"Jangan dibuat mainan.. ya?! โบ๏ธ" ucap Isaac
15 menit kemudian Malia tertidur pulas. Isaac meliriknya, tanpa sadar Isaac merangkak ke atas tubuh Malia. Tubuh Malia mengeluarkan aura yang sangat menggoda hasrat jantan Isaac. Tubuh gadis muda nan segar berada di bawah tubuh Isaac, Isaac mencium telinga dan leher Malia. Mengendus setiap helai rambut Malia, Malia merintih pelan dalam tidurnya.
(NOTE: Hanya vampir atau Hybrid yang bisa mencium pheromon dengan jelas, Hybrid adalah Lycan setengah Vampir)
Tiba tiba Isaac tersadar
"Ah, sial!"
Isaac membopongnya membawanya ke kamarnya. Isaac merebahkan Malia di ranjangnya.
Isaac kemudian menelfon Hans
"Hallo.. Hans.."
"Ya, isaac.."
"Sepertinya masa heat pertama Malia sudah hampir terjadi, pheromonnya sangat mengundang."
(Heat cycle \= masa kawin biasanya datang dua atau tiga kali dalam setahun, dimana lycan betina dewasa biasanya mengeluarkan pheromon/aura yang mengundang lycan jantan agar membuahinya, kemudian lycan betina akan ditandai sebagai PASANGANNYA.)
"Bukankah seharusnya masih 3-4 tahun lagi?!"
"Entahlah, aku takut pheromonnya menarik wolfpack atau vampire lain"
"Berikan dia serbuk daun oak putih, semoga itu bisa membantunya menyamarkan aromanya" ucap Hans.
(Oak putih \= Pohon berusia ribuan tahun yang bisa menghilangkan jejak makhluk supranatural. Seluruh mansion Sean terbuat dari kayu Oak putih)
"Baiklah, aku akan membuatkannya.."
Isaac lalu mematikan telfonnya lalu bergegas pergi ke kliniknya.
22.30
Diluar sedang hujan, suasananya terasa dingin.
Malia berlari menuruni tangga sambil tertawa. Jason mengejarnya.
Brukkk
Malia menabrak seorang wanita yang baru saja masuk. Wanita itu datang dengan isaac, tapi isaac sedang memarkirkan mobilnya.
Seorang wanita berpakaian sexy, dengan rambut hitam ikal sepinggang.
"Awwww.. ๐ฉ" mereka berdua jatuh berbarengan
"Ma, maaf.." Malia membantu wanita itu untuk berdiri.
"Hey, Caroline..๐" ucap Jason berlari menghampiri Caroline
"Oh.. Jason kecilku sekarang sudah besar ya.."
Jason memeluk Caroline
"Kamu tetap cantik seperti dulu.. gimana? Apa aku udah layak jadi pacarmu? Hahaha..๐ "
Caroline mencubit pipi Jason.
"Aku tidak berkencan dengan anak kecil sepertimu, haha.."
Mereka berdua tampak akrab.
"Kamu pasti Malia Hwa ya?! Aku Caroline ๐" Tanya Caroline
"Iya.. kak caroline.."
"Tidak usah sungkan, dulu aku pernah datang ke new york bersama Hans.. saat itu kamu hanyalah gadis kecil yang lucu.. ๐"
"Emmm.. benarkah? Aku tidak mengingatnya ๐ "
"Uh, anak jaman sekarang benar benar pelupa.."
Mereka berbincang bincang di depan pintu, Isaac lalu masuk ke mansion.
Isaac tampak kacau, rambutnya sedikit berantakan dan bibirnya terlihat agak pucat.
"Lanjutkan mainnya, tidak usah pedulikan kami.." ucap Isaac tampak agak badmood.
Isaac berjalan menuju kamarnya, Caroline mengikutinya dari belakang.
Jason memandangi Caroline
"Dia menakjubkan, kan? Dia cinta pertamaku.. hhh, aku menyukainya sejak aku kecil.. bagaimana menurutmu?!" Tanya jason
"Hhhhh.." Malia duduk di ruang tengah.
Jason membuatkan Malia coklat panas.
"Nih.. minum dulu..๐" Jason memberikan cangkir itu pada Malia yang sibuk membaca majalah
"Kak Hans pulang jam berapa?" Tanya Malia
"Kalau ga lembur biasanya jam 7 juga udah dirumah.. kalau lembur kadang pulang jam 1, kadang juga sampai dua hari baru pulang.. kenapa tanya tanya Hans?" Ucap Jason sambil menyalakan perapian
"Huffffttttt jam satu? ๐ต" Malia memukulkan majalah ke wajahnya
"Malia, aku ada janji sama temen.. kamu gapapa dirumah sendirian? Apa mau ikut?"
"ya gapapa lah Jason.. aku bukan anak kecil.." Ucap Malia menyandarkan kepalanya di sofa.
Jason masuk ke kamarnya, lalu keluar dengan mengenakan jaket tebal..
"Malia, aku pergi ya.. ๐ฅฐ" Jason berjalan menuju pintu
"Iyaaa.."
Malia masuk ke kamarnya lalu menyalakan perapian. Hujan diluar sangat lebat, kaca jendela bahkan terasa sangat dingin. Malia merasa sendirian, sasananya sangat sepi sehingga suara kayu yang dibakar terasa menggema di ruangan.
"Ah, aku harus terbiasa dengan keadaan begini.. bagaimanapun mereka semua punya kehidupan masing masing.. ๐" ucap Malia sambil naik ke ranjangnya.
(NOTE : Lycan memiliki warna mata keemasan saat merasa birahi ataupun marah)